The Golem's Eye by Jonathan Stroud

October 25, 2017

The Golem's Eye



"Aku serius. Golem dikendalikan manuskrip yang dimasukkan ke mulutnya. Jika kau mendekat dan menyambar kertas itu, si golem akan kembali pada masternya dan rontok kembali menjadi tanah liat. Aku pernah melihatnya sekali, di Praha." ~ Bartimaeus (Hal 541)


Dalam kisah The Golem's Eye kali ini, Nat dihadapkan pada satu kasus yang lumayan membingungkan. Pasalnya, sebuah bangunan hancur berkeping-keping, tanpa diketahui penyebabnya. Apalagi bangunan tersebut merupakan milik seorang yang sangat dikenal di kalangan penyihir. Ditemukan sebuah lubang yang teramat besar di gedung sebelahnya, dilansir lubang tersebut merupakan lubang masuk sang makhluk.

Namun makhluk apakah itu? Yang membuat Nat akhirnya putus asa, karena dia mendapat tugas untuk menginvestigasi, apa gerangan penyebab hancurnya bangunan tersebut. Sementara spehere-spehere berkeliaran setiap malam. Bahkan, dari detektor plane milik sesosok Jin pun tidak mampu mengenali, makhluk apa gerangan yang dapat membuat kerusakan sebesar itu.

Kali ini, Nat dihadapi pada sesosok makhluk bernama Golem. Yang bekerja berdasarkan mantra berbentuk manuskrip, dimana dapat menyebabkan kerusakan parah. Apalagi Golem ini termasuk dalam tentara pada peperangan zaman Goldstone.



Kartu Tanda Buku

Judul : The Golem's Eye || Penulis : Jonathan Stroud || Halaman : 624 || Versi : Buku || Bahasa : Indonesia || Penerbit : Gramedia Pustaka Utama || Rating : 4/5 || ISBN : 9786020303901



Sosok Nathaniel Yang Mengubah Nama Menjadi John Mandrake


Akibat kelalaiannya saat masih bersama sang Master pada buku pertama, nama asli Nathaniel akhirnya bisa diketahui oleh Bartimaeus. Sosok Jin yang berada pada level tingkat tinggi, apalagi track record Barti tidak main-main, dia pernah melayani seorang yang sangat terkenal di masanya hingga masa kini. Namanya sudah sangat dikenal, dan dengan terkejutnya dia dipanggil oleh seorang penyihir muda demi satu tujuan yang dianggapnya aneh.

Jalinan Master dan Budak antara Nat dan Barti pada buku pertama cukup lucu memang, singkat namun tetap beresiko. Tapi, tidak diragukan lagi kesetiaan sang budak - Barti - pada Nat yang membantunya lepas dari jeratan sang Master dan sebelum berpisah, Barti pernah mengatakan bahwa dia akan diasuh oleh seorang Master dan menjadi orang yang sukses.

Demikianlah di buku kedua ini, Nat sudah mendapat nama samaran yang merupakan kewajiban bagi seorang penyihir. John Mandrake adalah nama yang dipilih olehnya, sebuah nama yang pernah dipakai berabad-abad yang lalu, oleh seorang penyihir yang tidak begitu terkenal. Memang itu tujuan Mandrake, tidak mau terlalu dikenal terlebih dia pernah mendapatkan ketenaran pada waktu masih muda dulu.

Namun, di pemerintahan, nama Mandrake akhirnya mencuat karena dirinya diminta untuk menangani kasus yang demikian sulit ini. Karena tidak ada jejak yang bisa dikenali olehnya, bahkan Jin pelacak milik para penyihir yang ikut mengecek keadaan pun tidak mendapati apapun. 



Nathaniel Kembali Bekerja Sama Dengan Bartimaeus


Setelah kasus ketika Nat masih muda dulu, keduanya berjanji untuk tidak saling bekerja sama. Karena itulah Mandrake harus ikhlas mempekerjakan Imp yang tidak kompeten. Kalau dibandingkan memang lebih baik Barti kemana-mana, karena dia penuh dengan pertimbangan yang justru bisa menyelamatkan Nat. Tapi, Barti bukan sosok Jin yang bisa bekerjasama dengan waktu yang cukup lama, karena dia lebih baik memilih untuk menjadi sosok yang bebas di dunia lain.

Tapi, kali ini, dengan sangat terpaksa Mandrake kembali mempekerjakan Barti. Seperti ekspektasi saya, Barti kembali dan bahkan kemunculannya saja sudah membuat saya tertawa! Iya, selera humor Barti memang tidak diragukan lagi. Dia sosok Jin yang bahkan memiliki tingkat kepandaian yang sangat baik. Kini, ketika perjanjian sudah terikat, dia harus kembali mencari tahu tentang keberadaan makhluk apakah dan siapa dalang di balik ini semua.

Setiap saya membaca bab-bab yang berisi pemikiran Barti, itulah bagian yang menjadi favorit saya. Dia selalu memberikan nasihat bijak dengan cara yang sinis namun tetap mengandung humor yang sarkas. Sudah tentu hal ini bukan rahasia lagi, namun jika ditarik kembali ke pengalaman Barti menjadi pelayan para penyihir yang terkenal, tentunya dia tidak asal bicara dan membuat keputusan. Dia selalu mempertimbangkan banyak hal, tidak seperti Nat yang sering ceroboh.

Nah, pada bagian favorit inilah, saya bisa melihat bagaimana tersiksanya Barti saat harus mengerahkan energi untuk mengubah bentuk. Ini memakan energi yang cukup banyak bagi Barti sang Jin. Sama seperti teori bahwasannya Jin jika mengubah bentuk menjadi makhluk hidup yang nyata, membutuhkan energi yang sangat banyak, bahkan tidak jarang ini menguras tenaga mereka meski rentang waktu penampakan cukup singkat.



Pihak Resistance Dan Bagaimana Kitty Bergabung Dengan Kelompok Tersebut


Seperti yang sudah diceritakan pada buku pertama, ada sebuah kelompok yang dikenal sebagai pemberontak yang juga pencuri, bernama Resistance. Mereka adalah kumpulan anak-anak remaja yang ditugaskan untuk mencuri artefak-artefak berharga milik pemerintah atau umum yang nantinya akan digunakan untuk menyerang pemerintahan.

Kenapa mereka berbuat demikian? Pada buku kedua ini, mereka menginginkan sebuah Revolusi. Dimana keberadaan commoner tidak hanya sebagai pelengkap yang dianggap menyusahkan. Juga mendapat posisi yang sama seperti para penyihir. Di sini, para penyihir memang cenderung sombong, angkuh bahkan menganggap remeh kaum commoner.

Pada buku pertama di ulasan sebelumnya, saya pernah menyematkan tentang Nat yang mengemukakan pendapat dari apa yang dia pelajari melalui sang Master. Bahkan sejak masih kecil, para penyihir ini sudah memiliki pemikiran bahwa para Commoner tidak akan menjadi apa-apa tanpa bantuan penyihir.

Karena ini pula akhirnya terbentuk Resistance yang bekerja secara diam-diam. Memang, banyak kerusakan yang timbul akibat ulah mereka. Karena itulah, kehancuran gedung milik seorang penyihir menjadi penyebab pemerintah dan kepolisian menuduh ini akibat ulah kaum Resistance. Dan Mandrake bertugas mencari tahu siapa dalang di balik komplotan Resistance.


Kau lihat, masalahnya dengan Pennyfeather adalah dia terlalu mirip para penyihir sendiri, bukan? Tamak, suka memaksa. Ingin membiarkan semuanya aman dan tersembunyi, untuk dirinya sendiri. Tidak heran kalian hanya dapat merekrut sebelas orang. Jika kau ingin revolusi, usulku adalah cari pendukung. Segala peledakan dan pencurian itu takkan membawa kalian kemana-mana.  ~ Barti (Hal 538)


Di buku kedua ini, kita akan diajak mengeksplorasi bukan hanya dari dua sudut pandang, tapi tiga, yaitu : Kitty, Nat dan Barti. Ketiganya membentuk bingkai cerita yang dijalin dengan sangat rapi sehingga tampak berjalan dengan mulus alurnya. Pada bagian Kitty, kita bisa mengetahui bagaimana awal mulanya dirinya masuk bersama komplotan Resistance.

Sewaktu Nat masih muda, dia pernah bertemu dengan Kitty karena pernah dipertemukan tanpa sengaja di jalanan bersama mereka. Apalagi di kelompok Resistance, terdapat beberapa orang yang bisa mengetahui keberadaan makhluk yang tak tampak - seperti Jin, Afrit bahkan Imp. Namun, hanya Kitty yang bahkan tampak tidak memiliki keahlian, selain menyebunyikan diri.

Namun, siapa sangka jika Kitty mengalami kejadian yang sangat mengerikan. Bahkan terungkap juga, sosok masa lampau yang merupakan keturunan Kitty. Melalui penuturan si tengkorak yang memiliki tongkat ajaib, dapat dikatakan reinkarnasi Kitty-lah yang membuat mereka semua bisa bertemu kembali, seolah nasib mereka akan selalu sama meski telah ber-reinkarnasi.



Pertarungan Yang Hebat Dengan Sosok Golem


Kini waktunya berkunjung ke sebuah tempat dimana banyak mencatat sejarah tentang peperangan dengan penyihir, tempat yang juga sangat berkesan bagi Barti yaitu Praha. Mereka harus mencari tahu dan mempelajari terkait Golem's Eye ini di Praha. Karena di sanalah, biasanya masih tersimpan artefak yang amat berbahaya.

Aku? Menyelamatkanmu? Please deh - jangan sampai seseorang yang kukenal mendengarnya. Tidak. Sihirku takkan mempan pada golem itu, ingat? Aku duduk menonton saja. ~ Bartimaeus (hal 588)


Memang, bahkan sihir Barti tidak mempan melawan sang Golem. Ini membuktikan kenapa pada masa peperangan Goldstone, Golem dijadikan tentara. Karena dia tidak mempan dengan sihir bahkan dari Jin yang berlevel tinggi seperti Barti. Kasus terkait siapa yang berada di balik peng-aktif-an Golem tersebut terpecahkan.

Namun, di sini ada semacam kerjasama yang sangat aneh terjadi. Sebuah pemandangan yang tampaknya mustahil namun tetap terjadi. Dan segalanya menjadi masuk akal karena banyak alasan, apalagi Nat sempat dikira meninggal akibat serangan Golem.


***


Bagi saya pribadi, novel fiksi fantasi ini bukan sekadar kisah fiksi yang dibalut dengan fantasi serta imajinasi saja. Tapi juga memuat unsur politik juga sejarah yang cukup kompleks. Pemberontakan demi pemberontakan yang disusun dengan apik, tampak seperti tidak bercelah, karena saya pernah membaca beberapa buku bertema pemberontakan. Motivasi mereka tidak kuat, sehingga membuat saya merasa tidak logis menjadikan alasan sepele sebagai pencetus pemberontakan.

Sementara dalam novel ini, sungguh sangat logis, apalagi kondisi saat itu sangat teramat kacau. Dominasi penyihir atas commoner yang menjadi pencetus, dimana dominasi ini bukan sekadarnya tapi juga hak commoner yang tidak kuat sehingga mereka seolah dipaksa untuk tunduk pada penyihir dan tetap menjadi sosok terbuang.

Saya tidak sabar ingin sekali membaca buku ketiganya. 

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.