Dear Kitty Sebuah Kenangan Dari Anne Frank Dan Jejak Sejarah Yang Tak Terlupakan

October 31, 2017

Dear Kitty Sebuah Kenangan Dari Anne Frank Dan Jejak Sejarah Yang Tak Terlupakan



Dear Kitty Anne Frank



Saya akan menuliskan ulang kata pengantar yang ditulis oleh penerbit Atria dari buku Dear Kitty karya Anne Frank ini. Buku catatan harian ini pertama kali diterbitkan pada 1947 di Belanda oleh penerbit Contact, Amsterdam, dengan judul Het Achterhuis.

Het Achterhuis, judul bahasa Belanda buku ini, mengacu ke bagian gedung yang dipakai sebagai tempat persembunyian kedua keluarga yang menghuninya antara tahun 1942 hingga 1944. Achter berarti "di belakang" atau "di bagian belakang dari" dan huis bermakna "rumah". Di bangunan-bangunan tua di Amsterdam, ruangan yang menghadap taman atau pekarangan mungkin terpisah dari ruangan yang menghadap jalan. Oleh karena itu, ada dua ruangan yang terpisah di dalam tempat tinggal yang sama. Het Achterhuis atau "rumah di belakang" terletak di atas Prinsengracht, salah satu kanal kota.

Anne menulis catatan hariannya sejak 12 Juni 1942 hingga 1 Agustus 1944. Saya akan sedikit bercerita tentang buku ini, sebuah memoar yang tentunya sudah banyak dibahas dan dijadikan penelitian di beragam bidang. Karena buku ini merupakan bukti nyata genosida besar-besaran yang pernah terjadi.


Kartu Tanda Buku

Judul : Dear Kitty || Penulis : Anne Frank || Halaman : 411 || Cetakan I : Mei 2013 || Versi : Buku || Bahasa : Indonesia || Penerbit : Penerbit Atria || Rating : 5/5 || ISBN : 9789790243989



Kertas Lebih Sabar Daripada Orang ~ Anne Frank (Hal 9)



The Diary of Anne Frank


Buku harian yang dimulai pada tanggal 12 Juni 1942 hari Jumat hanya berisi beberapa kalimat. Dimana di sini dibuktikan bahwa pada mulanya, Anne ingin menjadikan buku catatan hariannya ini sebagai tempat untuk mencurahkan segala macam hal yang meresahkannya. Semacam tempat yang menjadi sumber penghiburan dimana dia bisa berbagi cerita.

Masuk ke lembar berikutnya tanggal 20 Juni 1942 hari Sabtu, Anne menuliskan terkait kisahnya yang harus pindah ke Belanda pada tahun 1933 karena mereka keluarga Yahudi. Dirinya mengisahkan bahwa keluarganya banyak yang terkena dampak penuh peraturan anti-Yahudi yang dijalankan oleh Hitler. Hingga kemudian pada tahun 1938 setelah terjadi serangan biadab terhadap kaum Yahudi, kedua pamannya kabur ke Amerika Serikat.

Lambat laun setelah Mei 1940, dampak anti-Yahudi tersebut menyebar bukan hanya di wilayah Jerman. Tapi, di seluruh tempat yang menjadi pilihan untuk berlindung diri para orang Yahudi, hingga kemudian mereka diwajibkan mengenakan bintang kuning. Pemerintahan Jerman di Belanda juga memerintahkan semua orang Yahudi mengenakan bintang kuning bersudut enam di pakaian mereka yang harus terlihat jelas sebagai pembeda dengan warga lainnya.

Dampak ini meluas, tidak hanya mereka diharuskan mengenakan bintang kuning, tapi anak-anak Yahudi hanya dibolehkan bersekolah di sekolah khusus orang Yahudi. Kemudian hanya boleh belanja di toko-toko tertentu khusus orang Yahudi. Hingga dikenakan peraturan jam malam bagi orang Yahudi. Siapa yang nekat akan terkena akibatnya. Inilah awal dari pembatasan ruang gerak kaum Yahudi di beberapa tempat.

Bukan salah orang Belanda kami begitu menderita, kata ini tertulis pada halaman 17, yang menjadikan saya berpikir bahwa di usianya, Anne sudah mampu melihat permasalahan dengan sangat jelas. Alih-alih menyalahkan semua orang yang berada di sekitarnya dan yang memperlakukan dirinya serta keluarganya sedemikian rupa, dirinya justru bisa memberikan sudut pandang yang lebih positif terhadap gerakan anti-Yahudi ini.

Bukan hanya ruang gerak yang dibatasi, tapi kepemilikan juga mulai dibatasi. Dimana orang Yahudi dilarang memiliki sepeda. Sementara itu mereka juga hanya diizinkan naik feri dan hanya satu feri yang dibolehkan. Bahkan untuk pergi ke dokter, mereka juga tidak boleh sembarangan meminta pertolongan terhadap penyakit pada sembarangan dokter. Karena hanya tersedia di beberapa tempat saja yang khusus untuk orang Yahudi.

Sekitar bulan Juli 1942, Anne menuliskan kondisi sang Ayah yang sudah mulai banyak menghabiskan waktu di rumah. Kawan baiknyalah yang mengambil alih posisinya. Ini berkaitan dengan semakin gencarnya gerakan anti-Yahudi dimana banyak dari mereka yang harus masuk ke kamp pengasingan atau diasapi. Beberapa kali sang Ayah juga berbicara pada Anne membahas terkait persembunyian.

Jangan mengkhawatirkannya, kita akan mengatur semuanya. Manfaatkanlah kehidupan masa mudamu yang bebas selagi masih bisa. ~ Otto Frank (Hal 23)



Masih di bulan dan tahun yang sama, Anne menuliskan tentang kondisi yang menegangkan dimana mereka diminta untuk masuk ke kamar sementara kedua orangtua mereka tengah berbicara dengan Van Daan terkait persembunyian. Tidak lama kemudian, semua terjadi begitu cepat, Anne diminta untuk memasukkan barang-barang yang paling penting ke dalam kopernya. Kemudian keesokan harinya, pagi-pagi sekali, mereka diharuskan untuk keluar dari rumah menuju tempat persembunyian mereka.

Kepergian Anne Frank dan keluarganya lebih cepat dari perkiraan, merupakan keputusan yang tepat. Beberapa orang mengatakan ada orang pemerintah yang mengunjungi rumah mereka, apalagi surat khusus tersebut merupakan sebuah peringatan. Karena perencanaan yang baik dan bagus, serta kerjasama dengan sahabat baiknya Otto Frank, akhirnya keluarga mereka memiliki cukup barang yang bisa digunakan selama mereka bersembunyi.

Bahkan di kamar milik Anne, Otto menempelkan koleksi gambar miliknya agar tempat tersebut memiliki kesan lebih hidup. Di buku hariannya ini Anne pun menuliskannya pada halaman 35, Tidak bisa kuceritakan kepadamu betapa beratnya tidak pernah bisa keluar, di samping itu aku juga sangat takut kami ketahuan dan ditembak. Prospek itu sama sekali tidak menyenangkan. Kami harus berbisik dan berjalan dengan sangat pelan sepanjang hari, kalau tidak orang di gudang mungkin akan mendengar kami.


Saya akan mempercepat ke beberapa lembar berikutnya yaitu pada hari Jumat, 9 Oktober 1942. Anne menceritakan bahwa banyak teman-temannya sesama Yahudi telah ditangkap. Oleh Gestapo, mereka diperlakukan secara tidak manusiawi, diangkut dengan truk ternak, dikirim ke Westerbork, kamp besar Yahudi di Drente. Dimana hanya terdapat satu bilik untuk seratus orang dan jumlah kakus yang tidak memadai. Antara tempat tidur lelaki, perempuan dan anak-anak tidak dipisah. Bahkan gadis-gadis yang tinggal di sana selama beberapa waktu mulai mengandung. Dimana sangat mustahil untuk melarikan diri.


Beringsut maju ke halaman berikutnya pada hari Rabu tanggal 13 Januari 1943, Anne menceritakan kondisi di sekitarnya yang dapat dia intip dari balik jendela yang harus selalu tertutup tirainya agar tidak tampak terlihat dari luar. Banyak orang yang mulai diseret pergi tanpa membawa apa-apa. Keluarga mereka tercerai-berai, beberapa anak ada yang pulang dan mendapati kedua orangtua mereka tak ada lagi dirumah.

Orang Belanda juga sama gelisahnya, putra-putra mereka dikirim ke Jerman. Semua orang didera ketakutan yang mencekam. Setiap malamnya ratusan pesawat terbang di atas Belanda dan pergi ke kota-kota di Jerman. Banyak orang terbunuh, terlantar di jalan terkena bom. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh mereka, selain menunggu hingga perang usai.


***


Kekayaan bisa hilang, tapi kebahagiaan di dalam hatimu bisa tertutupi cadar dan masih bisa memberikan kebahagiaan selama kau hidup. Selama kau bisa menatap langit tanpa rasa takut, selama kau tahu bahwa jiwamu murni, kau akan selalu bisa menemukan kebahagiaan. ~ Anne Frank (Hal 227)



Dalam buku hariannya ini, tampak jelas bahwa Anne selalu berusaha untuk memiliki harapan, bahwa ketika Perang Usai, keluarganya akan baik-baik saja dan dia akan segera melihat dunia dengan tampilan yang berbeda. Selain itu, dia memiliki mimpi-mimpi untuk berkumpul kembali dengan teman-temannya. Anne juga sosok gadis yang kritis, dia memiliki pemikiran yang berbeda jika dibandingkan dengan anak seusianya pada masa saat ini.

Kebiasaan yang membuat saya berdecak kagum adalah dirinya sudah terbiasa membaca buku yang tebalnya minta ampun sejak masih gadis. Entah itu membaca buku-bukunya Goethe atau buku-buku lain yang termasuk dalam karya sastra klasik. Selain itu, meski dalam pengasingan, Anne tetap belajar baik matematika maupun belajar bahasa dan juga Steno.

Setiap hasil belajarnya dinilai oleh seorang guru yang hanya tahu bahwa itu adalah hasil kerja dari orang lain. Mereka harus bersembunyi di balik bayang orang lain demi keselamatan mereka. Tapi, jangan ditanya, karena kemampuan Anne pada bahasa dan Steno sangat baik, kecuali matematika, dirinya mengatakan tidak menyukai matematika.

***

Meski hanya dua tahun, buku harian ini berisi banyak hal. Mulai dari keseharian keluarga Frank dan Van Daan. Sampai bagaimana pertengkaran antara Ibu-Anak dan Kakak-Adik sering terjadi. Anne sendiri, memang dikenal sebagai gadis yang cerewet, meski sebenarnya dia tak hanya sekadar cerewet tapi juga kritis. Dia sering menyampaikan pemikiran-pemikirannya yang kritis namun justru membuat banyak orang dewasa memberikannya label sebagai Anak Tak Tahu Diri dan Anak Nakal.

Banyak sekali curahan hatinya terkait rasa sakit dan sedihnya ketika bertengkar dengan sang Ibu. Selain itu, juga berisi perkembangannya dari gadis kecil kemudian beranjak dewasa. Mulai dari kesiapannya menghadapi menstruasi sampai bercerita ciuman pertamanya.

Dalam buku hariannya juga, kita sebagai pembaca bisa mengetahui, pada masanya terdapat buku-buku yang dilarang untuk dibaca sebelum para gadis memasuki usia tertentu. Bahkan ada juga beberapa buku yang tidak mengizinkan anak lelaki membacanya. Karena berisi cerita terkait sistem organ manusia sampai kisah romansa, yang membuat banyak orangtua khawatir anak mereka akan dewasa sebelum waktunya.

Alih-alih Anne menjadi anak yang terlalu cepat dewasa dan membuat orangtuanya kecewa. Justru karena telah membaca karya tersebut di usianya yang belum mencapai 17 tahun, dirinya sudah siap secara mental tentang apa yang akan dihadapinya nanti. Bahkan dia selalu menyelami pemikirannya sambil berbagi dalam buku hariannya yang dipanggil Kitty ini.

Perubahan demi perubahan beranjak gadis tampak jelas dalam tulisan Anne. Beberapa peneliti mengatakan adanya perubahan bentuk tulisan saat Anne masih gadis kecil dengan Anne yang beranjak remaja. Namun, tidak hanya itu, tapi isi dalam buku hariannya juga sejalan perkembangannya sebagai perempuan. Seperti yang saya kutip dari halaman 184, Walaupun aku tidak mudah tersipu-sipu, hal-hal lain dalam tulisan itu cocok sekali untukku. Secara garis besar, tulisannya seperti ini - seorang gadis pada masa puber berubah menjadi pendiam di dalam hati dan mulai memikirkan tentang keajaiban yang terjadi di dalam tubuhnya. Kurasa yang terjadi padaku ini luar biasa, dan bukan hanya dari apa yang tampak pada tubuhku, tapi semuanya terjadi di dalam.


***


Di tahun 1944, buku harian Anne berisi lebih banyak lagi berita tentang politik yang didapat dari mendengar radio bersama para 'sesepuh'. Selain itu, memang cerita tentangnya dan Peter masih beberapa kali mewarnai kisah hidupnya. Namun, tulisannya sekarang lebih panjang dan rinci, sehingga pembaca bisa mendapatkan detil yang bisa memberikan gambaran terkait masa mencekam saat itu.

Beberapa kali kehidupan mereka terasa menegangkan akibat baku tembak yang terjadi di sekitar tempat tinggal mereka. Atau ketika momen-momen menakutkan saat terdengar suara dobrakan dari bawah. Mereka sempat berpikir kalau itu adalah tentara yang akan menyeret mereka keluar dari persembunyian.

Namun, dari itu semua, isi buku harian yang membuat Anne memiliki keinginan untuk menerbitkan buku hariannya terdapat pada halaman 272 di hari Rabu tanggal 29 Maret 1944. Bertuliskan, Bolkstein, seorang Anggota parlemen, sedang berbicara di Dutch News di London dan katanya mereka harus mengumpulkan buku harian dan surat-surat setelah perang. Tentu saja, mereka semua langsung teringat buku harianku. Bayangkan, betapa menariknya kalau aku menerbitkan kisah asmara di "Het Achterhuis". Judulnya saja sudah cukup buruk membuat orang-orang menyangka itu kisah detektif.


Pada bulan April 1944, kalian akan memasuki bagian yang menegangkan lainnya. Anne menceritakannya dengan sangat detail hingga tanpa terasa saya membacanya dengan kondisi ikut berdebar. Betapa keadaan saat itu sangat menakutkan sekaligus menegangkan yang memang terbukti bisa membuat perut meliuk-liuk dan perasaan mulas datang. Namun, hipotesa dari Anne berdasarkan laporan bahwa itu merupakan kelompok pencuri.


***

Pada Agustus 1944, buku harian Anne Frank berakhir. Pada pagi hari 4 Agustus 1944, setelah bersembunyi selama 25 bulan, berdasarkan informasi yang diberikan oleh informan Belanda, Gestapo menggerebek tempat persembunyian keluarga Frank di Prinsengracht 263. Mereka antara lain seorang sersan SS berseragam lengkap dan tak kurang dari tiga orang polisi Belanda yang bersenjata, tapi berpakaian sipil.

Keluarga Frank dan Van Daan serta Pak Dussel dikirim ke kamp di Westerbork. Pada Oktober 1944, Anne, Margot dan Bu Van Daan termasuk ke dalam sekelompok perempuan paling muda dan kuat yang dipilih untuk dipindahkan ke kamp Bergen-Belsen di dekat Hannover, Jerman. Bu Frank di tinggal sendirian, tidak mau makan dan meninggal di barak rumah sakit Auschwitz pada 6 Januari 1945.

Otto Frank sendiri yang terpisah dari keluarganya bersama Van Daan dan Peter, tinggal di kamp khusus laki-laki. Dia melihat Pak VanDaan di bawa ke kamar gas. Sementara Peter dibawa pada 16 Januari 1945 saat musim dingin untuk melakukan "perjalanan maut" ke barat. Pemuda itu meninggal dunia pada 5 Mei 1945. Bagi yang ingin tahu siapa sosok Peter, dia merupakan anggota keluarga yang bersembunyi bersama keluarga Frank.

Pada akhir bulan Februari atau awal Maret 1945, Anne sudah sakit saat itu, berdasarkan pernyataan seorang penyintas. Namun Margot lebih dahulu meninggal dunia akibat tifus. Dan tak lama setelah itu dia pun meninggal dunia dengan damai, saat itu usia Anne belum genap 16 tahun.

Dan hanya Otto Franklah yang selamat, kumpulan tulisan Anne diserahkan kepadanya dari pemerintah Belanda. Dan beberapa orang mendesaknya untuk menerbitkan tulisan milik anaknya itu. Pada mulanya, Otto sempat mengubah beberapa bagian agar tampak tidak terlalu menonjol. Hingga beberapa kali mengalami perubahan saat terbit. Namun, keputusan untuk mengembalikan isi asli dari buku harian Anne-lah yang membuka mata dunia terhadap genosida terbesar dalam sejarah umat manusia.

***


Apa yang saya rasakan setelah membaca buku ini? Tentunya, saya sering mengatakan kalau sampai saat ini saya masih menulis di buku harian. Meski tidak rutin seperti ketika saya masih duduk di sekolah dasar. Namun, membaca buku harian Anne membuat saya semakin semangat untuk terus menulis, karena ini merupakan sebuah usaha untuk menolak lupa. 

Kalau pernah menonton film Inside Out, pasti mengetahui cara bekerja pikiran dalam menyimpan memori. Ada satu bagian dalam kinerja pikiran yang merupakan tempat sampah, dimana jika sudah masuk ke dalam tempat tersebut maka akan menghilang selamanya. Untuk itulah, agar saya bisa menjaga agar ingatan itu masih bisa saya nikmati meski telah hilang, saat itu saya memulai menulis buku harian.

Tentunya, setelah membaca karya Anne, saya semakin semangat untuk menulis apa saja kondisi dan situasi yang terjadi di sekitar saya. Berita terbaru tentang apa, karena bisa saja ini menjadi jejak sejarah yang saya catat, semacam catatan dalam buku sejarah.

Dibalik semangat saya untuk terus menulis, saya pun mendapat banyak hal setelah membaca buku harian Anne. Dia seorang gadis yang penuh dengan harapan, meski kondisinya terbatas. Saya kemudian teringat juga dengan R.A Kartini yang tetap menulis dalam keterbatasan. Atau Pramoedya Ananta yang juga menulis meski mengalami keterbatasan. Hingga L.M Montgomery, yang juga menulis kisah Garland for Girls saat dirinya berada di pengasingan, dimana ini merupakan keterbatasan dalam ruang geraknya.

Dari mereka semua, saya belajar banyak, terutama untuk terus menulis dan membaca, karena dengan begitu tulisan kita bisa bermanfaat untuk masa depan. Apalagi banyak juga naskah-naskah penulis legendaris yang ditemukan dalam bentuk tulisan tangan, bahkan masih terus bisa kita nikmati hingga saat ini.

Saya menyematkan juga tayangan dari National Geographic berjudul Last Day of Anne Frank. Sebuah kisah penggerebekan keluarga Frank. Memoar perang dari orang-orang yang berada di pengasingan.




  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.