31 January 2015

Dua Ibu Karya Arswendo Atmowiloto

Dua Ibu


Dua Ibu - Sebuah kisah tentang 9 anak yang diasuh oleh seorang Ibu yang membuat mereka selalu merasa bersyukur. Sang Ibu yang sangat mencintai dan menyayangi anak-anaknya dengan tulus serta memberi didikan yang baik membuat kesembilan anaknya berjuang dan mencintainya tanpa pamrih. Di antara mereka ada yang bercita-cita tinggi demi menaikkan derajat sang Ibu.

Kisah mereka yang berawal dari keluarga yang cukup, kemudian sedikit demi sedikit bergeser hingga kekurangan sampai seluruh perabotan di rumah tersebut berkurang satu demi satu. Mereka hidup seadanya, makan dua kali sehari kecuali dua anak paling kecil. Sang Ibu tidak bekerja tapi selalu mengusahakan agar anak-anaknya tetap makan. Meski lelah, Ibu tak pernah terlihat mengeluh, hanya menangis sesekali di dapur.

BUDAYA


Pada beberapa novel yang ditulis Arswendo, selalu menyertakan budaya yang kental dari Jawa, yaitu Solo kampung halaman om Arswendo. Inilah yang selalu membuat saya tertarik meski saya bukan orang Jawa. Dalam novel Dua Ibu yang berlatar Indonesia yang tampaknya masih dipimpin oleh Pak Karno.

Kebaya masih menjadi pakaian sehari-hari dan masih sedikit yang mengenakan pakaian rok. Dari segi pakaian ini sendiri, sudah terbaca kalau setting waktu pada novel Dua Ibu mengambil jarak yang lampau. Apalagi banyak anak-anak yang belum memiliki sepatu, terkadang masih 'nyeker' jika ke sekolah. Seragam hanya satu terkadang harus ditunggui agar segera kering dan dipakai ke sekolah.

Hal lain yang mungkin sering terdengar yaitu istilah dalam bahasa jawa, yakni Tirakat. Dimana Ibu dalam novel ini sedikit makan, sedikit tidur dan tidak sampai pulas juga mengurangi kegemarannya. Dalam artian secara luas yaitu kondisi seseorang yang menjauhi hal-hal yang merupakan kegemaran dan kebutuhan tapi hanya sedikit memberi porsi untuk tetap memenuhi kebutuhan tersebut. Setiap ada hajat atau keinginan atau sesuatu untuk anak-anaknya, Ibu melakukan tirakat. Dan dari sudut pandang Mamid pembaca diajak mengenal bagaimana Tirakat sang Ibu.

Untuk 'besek' atau hantaran untuk tetangga ketika selamatan menggunakan daun pisang yang dibentuk melengkung hingga dapat menutupi isinya berupa Nasi, daging (ayam dan sapi), kedele hitam, sambel goreng, rambak, sayur, dan telur. Enak bukan? Kalau zaman sekarang bingkisan selamatan biasanya menggunakan kardus, jadi kebiasaan daerah seperti itu rasanya lebih menghemat karena menggunakan daun pisang, serta tak begitu banyak sampah.

Timbal balik, dalam hal ini yaitu kebaikan dari orang lain atau tetangga di sekitar harus diingat. Jadi, misalnya ketika mengadakan selamatan kemudian ada salah satu orang yang memberikan bantuan atau kebaikan, ini dalam kebiasaan harus dibalas dengan bantuan atau kebaikan serupa. Dan hal ini juga yang dilakukan Ibu yang diceritakan melalui sudut pandang Mamid.

Juga ritual ketika Mamid di sunat. Ibu menggendong Mamid hingga tempat tertentu, dengan makna bahwa kesulitan, rasa sakit dan derita Mamid biar dibebankan pada Ibu.

MASA LAMPAU


Di sini selain menceritakan perjuangan seorang Ibu demi 9 orang anaknya. Juga menceritakan bagaimana orang-orang di sekitar mereka melakukan kebiasaan sehari-hari. Misal seperti sikat gigi menggunakan odol yang dibuat sendiri atau keramas juga menggunakan ramuan yang dibuat sendiri. Sehingga saat Mamid di Jakarta, dia belum terbiasa mandi menggunakan sabun dan shampo.

Ada juga Mbok Grambul yang memiliki profesi sebagai pedagang rambut cemara. Pedagang rambut cemara? Jadi Mbok Grambul akan berkeliling dari rumah ke rumah untuk membeli rambut-rambut perempuan di kampung tersebut, dan hanya membeli rambut yang kusut. Nantinya Rambut tersebut akan diurai kembali dan disusun hingga menyerupai cemara yang kemudian akan dijual kembali.

Surat menyurat yang masih dilakukan dalam novel ini justru menjadi kisah tersendiri. Sosok lain yang diceritakan melalui cerita tokoh lain. Saling memberi tempat pada setiap cerita. Dan surat-surat dari anak-anak pada sang Ibu inilah yang membuat saya terdiam beberapa lama. Betapa mereka mencintai dan berusaha menjaga kerinduan mereka dengan tetap saling berbagi kabar. Meski melalui surat yang datangnya terkadang memakan waktu. Surat panjang yang ditulis Solemah dan Ratsih pada Ibunya saja yang mendapat bagian khusus, sementara surat dari Mamid hanya sedikit dikisahkan.

Kalau mengirim uang dari mana? Pasti kalau zaman sekarang menggunakan transfer antar bank. Tapi zaman dahulu, pengiriman uang masih menggunakan wesel pos. Dan wesel pos masih bisa dilakukan sampai saat ini.

Kesulitan hidup keluarga Ibu dan kesembilan anaknya, membuat mereka menjual barang-barang yang ada di rumah. Sampai jarik (kain khas jawa) di jual, baju di jual, seng di jual, hingga terkadang perangko dan kertas di jual.

TOKOH CERITA


Kisah Awal diceritakan bagaimana sosok Ibu melalui narasi dari Mamid. Bagaimana seorang Ibu yang tak merasakan kepedihannya demi membebankan penderitaan anaknya di bahunya. Dikisahkan Ibu yang berjuang keras bisa mengadakan pesta pernikahan untuk anak-anaknya, meski pontang panting. Dan bahkan menolak dibantu anak-anaknya karena takut mereka akan kesusahan. Ibu tidak pernah memarahi apalagi memukul mereka semua, tapi kasih sayangnya dirasakan adil bagi kesembilan anaknya.

Mamid, anak nomor 7, yang lebih sering terkena marah Kak Mujanah, seakan tidak pernah akur mereka berdua, Mamid menceritakan bagaimana galaknya dia. Apalagi setelah menikah. Mamid anak yang baik, sangat mencintai Ibunya, juga tak sungkan untuk berbagi pada kakak-kakak dan adiknya. Mamid yang memiliki cita-cita menjadi Jendral untuk membahagiakan Ibunya. Dari Mamid jugalah pembaca diajak berkenalan dengan Solemah.

Solemah, yang digambarkan Mamid sebagai kakak yang baik. Kebiasaan yang lucu diceritakan oleh Mamid yaitu setiap mengirim surat, isi suratnya tidak begitu panjang. Tapi tambahannya 'NB' itu bisa panjang melebihi isi surat.

Kemudian Ratsih, yang sudah dua tahun tidak naik kelas. Yang senantiasa membantu Ibu mencuci dan mengurus adik-adiknya. Ratsih pendiam yang pemalu. Dia mengenakan kacamata dan masih sangat lugu. Karena belum pernah mengenal lelaki. Juga anak yang sangat sabar menghadapi adik-adiknya, terutama Herit.

Jamil, kakaknya Mamid, yang kalau bicara cukup pedas. Tapi dia termasuk sangat menyayangi adik-adiknya. Perhatian pada nasib mereka dan berusaha juga untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak adik-adiknya. Jamil pernah bercita-cita menjadi petinju, itu yang diingat Mamid. Dan Jamil juga yang menolong masa depan Mamid.

Adam, salah satu anak yang sangat teramat pendiam. Saking tidak banyak omong, bahkan terkadang keberadaannya jarang disadari. Tapi, meski begitu, Adam ringan tangan dan sangat setia pada Ibu. Yang bersikukuh menemani Ibu. Yang selalu membantu Ibu saat keadaan semakin susah :(.

Herit, anak ini kerasnya bukan main. Dia juga sering membuat Mamid kesal. Apalagi dengan kakak-kakaknya, jangan ditanya. Bahkan setiap hari dia bisa bertengkar dengan Ratsih. Herit anak yang mencintai Ibunya, memiliki kata-kata yang pedas minta ampun sehingga banyak orang yang tidak berani dengannya. Selalu memanfaatkan setiap kesempatan sesempit apa pun itu. Seorang anak yang bisa dikatakan paling pemberontak dan nekat, apalagi kalau mengambek atau marah. Hanya saja, alasannya itu masuk akal dan bukan asal ngambek.

Sementara itu Mujanah, yang sering membuat Mamid kesal, kakaknya yang juga keras seperti Herit. Galak dan suka memerintah Mamid. Namun, semua tetap menyayangi Mujanah, juga Mujanah mencintai Ibu dan selalu menjadikan Ibu sebagai tempat curahan hatinya. Apalagi Mujanah tinggal bersama dengan Ibu. Suka mengejek Mamid dan kalau diminta menceboki Mamid, dia menggunakan kakinya karena jijik :))).

Priyadi kakaknya Prihatin, kedua anak paling kecil ini tidak memiliki banyak kisah. Hanya dua atau tiga kali keberadaannya dipastikan. Yang pasti, kedua anak inilah yang mendapat jatah makan dua kali sehari dibanding kakak-kakaknya, karena mereka berdua sering sakit-sakitan.

Ada lagi Pak Mo yang dikabarkan dekat dengan Ibu. Tante Mirah dan Oom Bong yang selalu merindukan Mamid. Juga Mamine dan Marga yang merupakan saudaranya Mamid. Kemudian Frans yang menjadi sahabat Jamil. Tokoh-tokoh tersebut mendapat bagian-bagian tertentu dalam cerita. Juga dari narasi mereka, memberi bagian lain juga untuk tokoh lainnya. Sehingga seakan saling melengkapi satu sama lain.


HUBUNGAN ANTAR TOKOH


Bapak dan Ibu yang mengasuh sembilan anak awalnya hidup bahagia. Tapi, Jamil satu-satunya anak yang pernah merasakan rahim dari Ibu. Pernah merasakan berenang di perut Ibu. Loh, yang lain bagaimana?

Mamid ini seharusnya adalah cucunya Ibu. Karena Mamid anak dari Tante Mirah dan Oom Bong. Hanya saja mereka harus meninggalkan Mamid dari bayi untuk merantau demi pekerjaan yang layak. Dan Tante Mirah juga anak yang diasuh oleh Ibu.

Solemah juga sama, dia sudah tahu kalau dirinya bukan anak Ibu tapi anak orang lain yang masih dekat juga.

Sementara Mujanah dan Herit ini kakak adik. Oleh sebab itu mereka berdua memiliki watak yang hampir mirip.

Kemudian Adam yang juga satu darah dengan Priyadi dan Prihatin, ketiganya dititipkan pada Ibu karena orang tua mereka tidak mampu mengurus.

Dan, terakhir Ratsih yang tidak pernah mengenal orang tuanya.

Mereka semua meski hanya dididik oleh Ibu yang tidak melahirkan mereka tapi memiliki bakti yang luar biasa besarnya. Hingga selalu mengikutsertakan Ibu pada setiap hal, ketika mereka mengalami kesulitan yang mereka panggil yaitu Ibu. Untuk menguatkan hati mereka dan agar tetap bertahan dalam hidup.

Keikutsertaan Ibu pada kehidupan anak-anaknya tergambar jelas melalui surat-surat Solemah dan Ratsih. Solemah sering bercerita tentang anaknya, suaminya dan tetangganya dan sering menanyakan bumbu masakan. Kalau Ratsih dari awal sudah sering bercerita tentang malam pertama, tentang adiknya sampai keinginannya untuk punya anak.

"Kita tidak akan mati karena kelaparan, kalau kita sabar Tuhan tak pernah tidur." (Pg 48).

@ipehalena

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.