7 Buku Yang Dibaca Tahun 2017 - Mini Review #1

July 06, 2017

7 Buku Yang Dibaca Tahun 2017 - Mini Review


Mini review 2017


Ini tulisan saya semenjak hiatus beberapa saat yang lalu. Pasalnya, saya hanya ingin menikmati membaca buku tanpa memikirkan apa yang akan saya tulis di blog. Tapi, lama-kelamaan saya merasakan rindu dengan blog bacaanipeh ini. Sebagai permulaan, sambil pemanasan juga, mini review ini saya tulis untuk menyimpan beberapa kenangan tentang buku yang telah saya baca namun belum sempat saya tuliskan di sini.

Siapa tahu, suatu saat nanti saya ingin mengingat kembali apakah benar-benar pernah membaca sebuah buku atau belum. Hihi, maklum, ingatan manusia kan ada batasnya, ya. Kalau kalian berteman di akun Goodreads saya, tentu sudah mengetahui beberapa buku yang telah saya baca. Sejauh ini saya sudah mencapai 43 buku dari 60 buku yang saya niatkan untuk dibaca. Itu pun belum termasuk beberapa buku fisik yang terus menumpuk.

Alhasil, belakangan ini saya berusaha untuk mengurangi belanja buku kecuali buku-buku cetak ulang yang memang bagus untuk saya miliki. Pasalnya, saya sudah tidak memiliki tempat lagi untuk buku di rak. Sedih juga karena sebagian besar sudah mulai menguning, bahkan ada juga yang terkena jamur. Huhuhu, apalagi ada juga yang keriting akibat terkena banjir beberapa bulan yang lalu. Itulah sebabnya saya memutuskan untuk membeli bacaan versi ebooknya saja. Selain mengurangi tumpukan secara nyata, mudah dibawa kemana-mana juga. Meski untuk harga tidak jauh berbeda, sih.

Nah, di daftar 7 buku yang sudah saya baca dalam mini review, di antaranya ada juga berbentuk ebook. Nanti saya berikan keterangannya, ya. Silakan disimak, buku apa saja sih yang sudah saya baca.



1. Kumpulan Cerita : Sahabat Bumi


Sahabat Bumi



Judul : Kumpulan Cerita Sahabat Bumi || Penulis : DK. Wardhani, Watiek Ideo || Halaman : 96 || Terbit : Januari 2015 || Versi : Ebook I-Jak || Bahasa : Indonesia || Penerbit : Gramedia Pustaka Utama || ISBN : 9786020312460 || Rating : 4/5


Saya membaca ebook ini melalui aplikasi I-Jak, terima kasih saya ucapkan teruntuk Tim I-Jak karena sudah menciptakan aplikasi yang membuat saya benar-benar bahagia karena membaca buku yang bagus seperti ini. Buku ini termasuk buku untuk anak-anak yang bisa dibaca oleh semua kalangan, mau orangtua pun bisa membaca buku ini. Disertai dengan ilustrasi berwarna-warni yang membuat betah membacanya sampai habis.

Isinya? Tentang segala hal yang bisa dilakukan dalam menghemat energi demi mencintai dan menyayangi bumi. Seperti kisah para mahasiswa yang datang ke sebuah desa, kemudian mengenalkan listrik di desa tersebut. Dengan berbekal alat seperti sepeda yang berguna untuk mengisi daya pada kumparan yang nantinya bisa digunakan sebagai penyalur listrik untuk menerangi rumah dan desa.

Atau kisah tentang anak-anak di sebuah kampung yang tidak memiliki lahan untuk bercocok tanam. Kemudian mereka bersama-sama membuat sebuah terobosan dengan menanam tanaman menggunakan media pot yang bisa digantung di rumah-rumah. Sehingga kampung tersebut tidak lagi gersang, juga tetap terjaga keasriannya karena banyak tanaman yang tumbuh subur meski di dalam pot.

Cara penyampaian ceritanya enak dan mudah diikuti dengan alur yang cukup, dikarenakan merupakan cerita pendek tapi tidak ada kesan terburu-buru. Selain itu bobot tema yang diangkat oleh penulisnya ini termasuk keren. Memberikan pengetahuan tanpa membuat pembaca menjadi bosan. Selain itu tema yang diangkat sesuai dengan kondisi saat ini, yaitu mengajak untuk mencintai bumi dan menjaga agar lingkungan tetap terjaga.




2. Elegi


Elegi




Judul : Elegi || Penulis : Dewi Kharisma Michellia || Halaman : 172 || Terbit : Januari 2017 || Versi : Buku Fisik || Bahasa : Indonesia || Penerbit : Grasindo || ISBN : 9786023759095 || Rating : 3/5




Buku ini saya dapat dari acara Blogtionship bersama penerbit Grasindo di Jakarta beberapa waktu yang lalu. Berhubung acaranya tentang buku, jadilah souvenir yang kami dapat sebagai peserta juga berupa buku dan voucer belanja buku! Surga banget memang. Apalagi acaranya juga cukup berbobot sehingga saya tidak merasa rugi bela-belain datang ke acara tersebut.


elegi/ele·gi/ /élégi/ n syair atau nyanyian yang mengandung ratapan dan ungkapan dukacita (khususnya pada peristiwa kematian) - Sumber Website KBBI


Sesuai dengan asal kata Elegi, novel ini berisi kumpulan cerita yang bertemakan kematian dalam beragam bentuk. Kebanyakan karya-karya dalam buku ini pernah muncul di media cetak, mungkin ada beberapa yang pernah membaca karya kak Mimi berbentuk cerpennya, siapa tahu tersimpan di buku ini juga. Ada 19 cerita di dalamnya, dan cerita pertama sebagai pembuka berjudul Pantai Cermin. Tentang pantai yang dikunjungi sang tokoh, dimana pada airnya orang-orang bisa bercermin di sana, di sana dia ingin menikmati kesendiriannya dengan memancing.

Sementara seorang gadis pernah hilang di pantai ini. Saya pun mungkin akan mati di laut ini suatu saat nanti [Hal 5]. Dia senang dengan Pantai Cermin yang unik ini, dimana selain menyendiri  ia bisa Menatap permukaan air laut dan merenung [Hal 5]. Orang-orang selalu bisa bercermin di pantai ini [Hal 6]. Pada cerpen ini, kematian yang dikisahkan melalui kondisi seorang gadis bernama Pala. Seorang gadis yang lincah dan sudah dikenal dengan baik dengan keluarga si tokoh utama.

Mimi termasuk penulis konsisten, dalam hal penyajian tema dan pengembangannya ke dalam cerita. Ini terbukti dengan pemilihan judul Elegi dengan tema secara keseluruhan tentang kematian. Yang di dalam buku ini semua memang membahasnya, tapi lebih ke "Bagaimana Cara Salah Satu Tokoh Mati." Di cerpen lain misalnya, ada salah satu tokoh yang menghadapi kematian dengan membakar rumah. Dan segala macam bentuk kematian yang bisa kalian gali lagi di sini.

Untuk alur, karena memang ini cerita pendek, saya rasa temponya sesuai. Tidak terlalu cepat apalagi kelambatan, juga tidak ada kesan dipaksakan untuk selesai. Sementara untuk gaya penulisannya tidak membosankan, bisa mengajak pembaca mengikuti jalan cerita, namun buku ini termasuk buku yang KAYA akan kosa kata baru bagi saya.






3. Kisah-kisah Dari 5000 Tahun Sejarah Cina



Sejarah Cina




Judul : Kisah-kisah Dari 5000 Tahun Sejarah Cina || Penulis : Liu Dan Cao || Halaman : 418 || Terbit : April 2014 || Versi : Buku Fisik || Bahasa : Indonesia || Penerbit : Gramedia Pustaka Utama || ISBN : 9786020303406 || Rating : 4/5


Kejayaan masa pemerintahan Kaisar Wen dan Kaisar Jing dari Dinasti Han Barat (206 M-25M) yang dikenal dengan sebutan Tahun Tahun Kemakmuran Wen-Jing tak bisa dipisahkan dari jasa Li Guang, panglima besar yang dijuluki "Sang Jendral Terbang".

Li Guang terkenal piawai memotivasi pasukannya, terutama ketika mereka terdesak serta kalah dalam hal jumlah prajurit dan persenjataan dibanding lawan mereka. Dengan kecerdikan, keberanian dan kelihaiannya dalam taktik perang, Li Guang berkali-kali menggagalkan serangan bangsa Xiongnu. Pada suatu pertempuran, sang Jendral yang terluka parah berhasil kabur dari tawanan pasukan Xiongnu setelah membunuh penjaganya dan merebut seekor kuda gagah. Ia memacu kuda itu secepat angin, sambil duduk membelakangi arah larinya dan melesatkan puluhan anak panah mematikan ke arah para pengejarnya.

Konon, peradaban Cina itu termasuk dalam peradaban tua dimana kebudayaan Cina bisa didapati di berbagai tempat di Asia. Dari kisah turun-temurun yang ditulis dalam buku ini, sebab munculnya Dinasti yang berawal dari kisah Kaisar Kuning hingga perebutan kekuasaan dan seterusnya menaklukan banyak tempat di daratan Cina. Pada masa itu, sistem yang mereka buat sesuai dengan pengetahuan yang mereka miliki. Hingga seterusnya mengikuti perkembangan jaman dan mengalami kemajuan.

Buku ini merupakan jilid pertama yang berisi kisah sejarah Cina. Dengan terjemahan yang lumayan bisa diikuti, sementara berisi bab-bab yang mengisahkan pergerakan Cina dari tahun ke tahun. Bagi saya, hal yang paling sulit saya hadapi ketika membaca buku ini adalah menghapal nama-nama yang disebutkan di dalamnya. Sungguh banyak sekali, bahkan akhirnya saya memilih untuk membacanya saja tanpa ikut menghapal nama tokoh sejarah ini apalagi menghapal tahun-tahunnya. Bagi yang ingin membaca buku ini, bisa mendapat wawasan baru terkait sejarah Cina.



4. Flame in the Mist



Flame in the mist



Judul : Flame in the Mist || Penulis : Renee Ahdieh || Halaman : 292 || Terbit : May 2017 || Versi : Ebook Playbook || Bahasa : English || Penerbit : G.P. Putnam's Sons Books for Young Readers || ISBN : 9780399171635 || Rating : 3/5



Karena suka dengan cerita-cerita terkait Jepang apalagi samurai, alhasil saya ikut serta dalam event Read Along bersama beberapa teman di klub pembaca. Pertama kali membaca novel karya Reene, saya menyukai gaya penuturannya, mudah diikuti dan tidak membuat pusing. Penataan alurnya juga tidak membingungkan meski beberapa kali flash back. Dari satu bingkai peristiwa ke bingkai peristiwa lainnya dirajut dengan rapi dan halus, sehingga perpindahannya tidak begitu terasa kasar.

Namanya juga genre Young Adult, di dalamnya juga memuat kisah cinta, meski porsinya tidak begitu banyak. Hanya terjadi di beberapa bab menjelang akhir. Karena ini merupakan cerita serial, bisa dipastikan selanjutnya kisahnya tidak akan jauh-jauh dengan percintaan antara Mariko dan Ookami serta bagaimana nasib Black Clan selanjutnya.

Siapa Black Clan? Jadi, Mariko ini merupakan anak seorang yang terpandang, dia akan dinikahkan dengan anak seorang Daimyo, demi alasan politik. Ibaratnya, Bapaknya Mariko ini numpang tenar dengan posisi jabatan calon besannya. Karena kehidupan Mariko yang sering diajarkan untuk menerima apa saja sesuai didikannya. Akhirnya, Mariko yang sebenarnya enggan untuk mengikuti keinginan sang Ayah, pasrah diri.

Ketika dalam perjalanan menuju kediaman calon suaminya, rombongan Mariko harus melewati Hutan Junkai dimana konon, jika melalui hutan tersebut saat malam hari, maka tidak akan selamat. Dan lagi, keberadaan Black Clan yang banyak meresahkan rombongan Mariko, membuat sang Jendral berniat untuk beristirahat di luar Hutan Junkai. Tapi, Mariko berkeras untuk tetap masuk ke dalam hutan dengan pemikiran bahwa rombongan akan tetap selamat karena membawa wanita dan anak-anak.

Malang tak dapat ditolak, tidak berapa lama mereka masuk ke dalam hutan, rombongan Mariko dihadang oleh anggota Black Clan. Mereka dibunuh, beberapa bahkan dibakar di dalam tandu. Sementara asisten Mariko yang usianya tidak berbeda, juga ikut meninggal dalam penyerangan tersebut. Tinggallah Mariko yang terjebak dalam situasi yang menakutkan tersebut, dimana saat dia mendengar dari salah satu anggota Black Clan, mereka harus memastikan telah membunuh Mariko.

Siapa yang menginginkan kematian Mariko? Terbitlah pertanyaan ini dalam dirinya. Seseorang benar-benar berniat mengakhiri hidupnya. Dalam cerita ini, juga mengikut-sertakan peran Youkai atau kalau di Indonesia dikenal dengan hantu aka dedemit. Di sini peranan Youkai tersebut tidak bisa dianggap remeh, hingga akhir cerita. Sayangnya, awal ketika saya membaca novel ini tidak tahu kalau ternyata ini merupakan buku pertama dari serial cerita Mariko dan Black Clan.

Alhasil, saya harus memaksa diri saya bersabar menanti lanjutan ceritanya. Apalagi saya termasuk orang yang suka enggak sabaran. Kadang lebih baik menanti buku tersebut selesai sebelum saya mulai membacanya.



5. Mastering The Art of Japanese Home Cooking



Japanese home cooking


Judul : Mastering The Art of Japanese Home Cooking || Penulis : Masaharu Morimoto || Halaman : 290 || Terbit : November 2016 || Versi : Ebook Playbook || Bahasa : English || Penerbit : Harper Collins || ISBN : 9780062344397 || Rating : 4/5



Siapa tak kenal dengan Masaharu Morimoto? Saya pun baru kenal usai membaca buku ini, hahahahaha. Serius, awal mulanya saya memang penasaran dengan cara memasak orang Jepang. Dari mulai penataan yang rapi pada makanan rebusan bernama Shabu Shabu. Atau bagaimana cara membuat Sushi dan jenis ikan apa saja sih yang bisa dihidangkan untuk menu Sashimi. Dari rasa penasaran inilah akhirnya saya berakhir menemukan buku ini di Playbook.

Menyesal? Tentunya tidak. Karena memang membahas apa saja yang saya butuhkan. Bahkan semacam peraturan dasar dalam memasak dari nasihat turun-temurun. Pada halaman awal buku ini akan dihidangkan semacam glosarium. Seperti apa sih Dashi itu? Ternyata Dashi merupakan sejenis kaldu yang bisa dari rumput laut atau dari ikan. Karena orang Jepang itu termasuk masyarakat yang gemar dengan makanan laut. Jangan heran jika hidangan yang mereka sajikan tidak jauh-jauh dari Ikan, udang atau makanan laut lainnya.

Ada juga istilah White Fish termasuk ikan yang mengandung omega lebih tinggi dari makanan lainnya. Beberapa jenis ikan ini sering dihidangkan sebagai Sashimi. Yaitu ikan Tuna, Mackerel, Salmon dan Sardine. Jangan salah, saya bukan menyebut nama merk. Tapi benar-benar itu nama ikan, karena membaca buku inilah saya jadi tahu bedanya merk P dan B yang suka ada tulisan Mackerel dan Sardine itu ternyata jenis ikan yang ada di dalamnya, ya (mungkin).

Buku ini enggak hanya memuat resep juga wawasan terkait makanan serta cara memasak ala Jepang. Tapi juga menyematkan gambar resolusi tinggi yang bikin pembaca doyan makan seperti saya : ngiler. Yang patut diketahui, meski mereka gemar makan ikan, tapi yang namanya sayuran merupakan kewajiban bagi orang Jepang. Selain itu, Ramen pun merupakan sesuatu yang khas dari Jepang. Jadi, banyak makanan yang bukan sekadar hidangan, tapi juga identitas diri seseorang.



6. The Graveyard Book



The graveyard book


Judul : The Graveyard Book || Penulis : Neil Gaiman || Halaman : 320 || Terbit : September 2008 || Versi : Ebook Playbook || Bahasa : English || Penerbit : Harper Collins || ISBN : 9780061972652 || Rating : 3/5



Ini salah satu buku yang masuk dalam wishlist saya. Akhirnya tahun ini bisa membaca buku ini meski melalui Playbook. Kebetulan mood saya sedang ingin membaca ebook, jadilah saya membelinya di Playstore. Oke, ini termasuk ke dalam karya Gaiman yang menjadi favorit saya. Tapi, jangan ditanya kenapa saya hanya memberikan 3 bintang saja.

Cerita ini dikemas dengan sangat unik, meski terinspirasi dari novel The Jungle Book dimana seorang anak dirawat oleh para binatang kemudian terbiasa dengan kehidupan di hutan. Dalam cerita ini pun, Bod - nama aslinya Nobody Owen - seorang anak yang memiliki keistimewaan. Ketika malam-malam mencekam dimana seorang lelaki membunuh keluarganya, dia berhasil melarikan diri tanpa bisa dibayangkan dalam dunia nyata.

Saat itu, Bod memang masih mulai merangkak, dia masih sangat kecil ketika diburu oleh seorang lelaki. Dan saat pembunuh tersebut mengincar Bod, ternyata dia selamat! Namun, Mrs. Owen yang menemukannya ternyata adalah sosok hantu. Mereka tinggal di pemakaman yang terkenal, dekat dengan rumah Bod. Setelahnya, bisa ditebak memang, Bod dirawat oleh para hantu di sana. Namun, bagaimana cara memberi Bod makan? Inilah ciri khas ketidak-logis-an karya Gaiman yang selalu mengobrak-abrik logika saya, ahahaha.

Salah satu hantu terkenal di sana bernama Silas. Dialah sosok penjaga bagi Bod yang senantiasa mengajarkannya banyak hal. Bahkan Silas juga mengajari Bod membaca, cara merawat dirinya dan segala hal yang bisa membuat Bod tetap hidup. Satu yang tidak boleh dilanggar oleh Bod, dia tidak diperkenankan keluar dari pemakaman. Keistimewaan Bod tak hanya menyelamatkannya dari ancaman pembunuh. Tapi, dia juga bisa menyelinap hingga tampak tak kasat oleh mata manusia lainnya.

Ini pernah terjadi ketika seorang anak perempuan bermain bersama Bod. Kemudian diajak mengunjungi tempat-tempat yang bahkan Bod sendiri belum pernah kunjungi, masih di lingkungan pemakaman. Akibatnya, orangtua anak perempuan tersebut mencarinya kemudian meminta bantuan polisi. Berkat keahliannya menyelinap, Bod tetap seperti teman khayalan bagi anak perempuan tersebut.

Jika cerita ini diperuntukkan bagi anak-anak, mungkin sebaiknya diberikan bagi anak yang bukan penakut. Karena, saya saja yang membaca buku ini sempat berdecak kagum. Karena unsur mistik dan misterinya sangat kuat, meski tokoh di dalamnya adalah seorang anak-anak. Berbeda dari serial Ghoosebump, yang ketika saya baca lagi saat ini, sedikit memudar rasa terancamnya. Sementara itu, ketika mencapai klimaks ketika Bod berada dalam masalah, saya pun merasakan kepanikan.

Karya Gaiman memang tidak diragukan lagi. Dia bukan penulis asal-asalan, dirinya punya keunikan dan ciri khas yang kuat. Serta pengemasan cerita yang unik, meski kalau dilihat secara garis besar, cerita-cerita dengan tema tersebut sudah pernah diangkat.



7. Press Play


Press Play



Judul : Press Play || Penulis : Veronica Latifiane || Halaman : 220 || Terbit : Februari 2016 || Versi : Buku Fisik || Bahasa : Indonesia || Penerbit : Grasindo || ISBN : 9786023753383 || Rating : 2/5



Tidak ada keanehan dalam buku ini. Bisa diselesaikan dalam satu kali duduk. Tema cerita yang ringan. Kisah percintaan yang sering kita dapati. Juga alur cerita yang lumayan cepat, tapi dikemas dengan baik sehingga tidak terasa seperti ingin cepat selesai. Sayangnya, tokoh cerita di dalamnya tidak kuat. Saya bisa mendengar suara tokoh perempuan ketika membaca dialog dari tokoh lelaki, begitu sebaliknya. Seolah semuanya melebur menjadi satu.

Tentang kisah seorang mahasiswi Psikolog yang sering dijadikan tong curhat oleh kawan-kawannya. Kemudian memulai kegemarannya tersebut menjadi sebuah video yang kemudian diunggah di Youtube. Betul, perempuan bernama Salma ini merupakan seorang Vlogger. Dia membahas kisah cinta orang lain yang mengirimkan email kepadanya, disertai beberapa tips dan nasihat.

Hingga suatu ketika, datanglah sebuah ajakan dari kawan lamanya. Serta pasien baru yang meminta bantuan agar bisa Move On. Salma tidak pernah punya pacar apalagi pacaran, sejak dia merasakan pengkhianatan cinta. Heh? Gimana bisa dikhianati kalau pacaran aja belum pernah? Hayooo.

Kemudian pasien barunya inilah yang menarik banyak viewers, banyak para fansnya yang penasaran dengan sosok pasien ini. Hingga suatu ketika Salma berada dalam masalah. Justru dialah sosok yang menjadi pasien untuk dirinya sendiri. Dan bukan hal yang mudah, karena dokter saja butuh bantuan dokter lain untuk mengobati sakitnya, apalagi Salma yang akhirnya membutuhkan bantuan orang lain untuk menyelesaikan apa yang sudah dia mulai.

Yang membuat saya gregetan dan akhirnya patah hati adalah sosok Salma. Entah kenapa saya tidak sabaran ingin menyelesaikan buku ini secepatnya ketika berhenti pada satu titik dimana Salma terlalu lemah. Bagi saya, ini sesuatu yang melelahkan jika mengikuti kelemahan sosok karakter di dalam buku. Huhhuhu, soalnya saya jadi gedeg sendiri dan berharap akan diberikan twist yang membuat saya kembali bersemangat. Nyatanya, tidak. Hingga cerita berakhir.



***


Cukup menyenangkan rupanya, membuat mini review sampai 7 buku seperti ini. Setelah sebelumnya saya sempat menuliskan juga tapi hanya 3 buku. Kebetulan saat ini saya tengah membaca buku Malaikat Jatuh karya Clara Ng. Jika kondisinya saya mulai kendor lagi semangatnya untuk menuliskan ulasannya secara penuh, mungkin saya akan kembali menulis mini review tahap selanjutnya.



Happy Reading, ya!



















  • Share:

You Might Also Like

1 comments

  1. Kamu ngingetin saya....kalau saya ga pernah baca buku kek gini setahun terakhir huhuhu

    ReplyDelete

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.