Belajar Menulis Ulasan Buku Dengan Cerita Fiksi Di Buku Being Henry David

July 13, 2017


Being Henry David



Menulis ulasan atau resensi buku, kadang memang sangat tricky karena sebagai pembaca, kita tidak diizinkan untuk menceritakan isi buku secara keseluruhan meski saat itu kita sangat - teramat antusias membahasnya. Terlebih, beberapa orang berpendapat, sebuah resensi juga menyematkan opini dari pembacanya dalam bentuk apapun itu. Mau itu menuliskan tentang kemampuan gaya penulisan, pengemasan cerita atau kritik untuk penulisnya? Bebas, karena memang itu haknya si penulis ulasan/resensi.

Nah, bagaimana kalau kita belajar mengulas buku, bahkan spoiler sebuah buku tanpa membuat pembaca mengamuk? Memang bisa, ya? Saya juga baru sadar setelah membaca novel Being Henry David karya Cal Armistead ini, loh. Sepertinya sudah banyak yang membaca tulisan dari pembaca buku lainnya, berkaitan dengan buku ini, tentang seorang anak yang hilang ingatan ketika dia bangun di tengah-tengah keramaian stasiun.

Satu-satunya yang tersisa yaitu sebuah buku yang bahkan tidak berisi tanda pengenal apapun di dalamnya. Sedikit demi sedikit, si tokoh lelaki dalam buku ini, mengumpulkan ingatannya melalui setiap perjalanan yang dia tempuh demi mencapai apa yang dia cari. Pengemasan ceritanya ini menarik, karena mengikut-sertakan peran sebuah buku, dari karya Henry David Thoreau, yang menuntunnya untuk menemukan serpihan ingatan pada setiap pertemuan dengan orang-orang yang baru.


Kartu Tanda Buku


Judul : Being Henry David || Penulis : Cal Arminstead || Halaman : 256 || Cetakan pertama, September 2016 || Versi : Buku Fisik || Bahasa : Indonesia || Penerbit : Penerbit Spring || ISBN : 9786027150577 || Rating : 3/5



Bagaimana Caranya Mengatakan Bahwa Buku Henry David Sangat Bagus?


Alih-alih mengatakan kalau buku Walden karya Henry David adalah buku yang sangat berharga, Cal justru menjadikannya sebagai buku penuntun bagi seorang remaja lelaki yang kehilangan ingatannya dan terbangun di tengah keramaian stasiun. Pada halaman 13, terdapat kalimat 'berusaha mencari dengan putus asa petunjuk apa yang mungkin disimpan oleh Walden karya Henry David Thoreau'. Di sini, Cal sudah memberikan semacam ide secara garis besar terkait kisah yang berkaitan dengan bocah lelaki bertubuh tegap dan tampan ini.




Biasanya, kita akan mulai mengatakan : "buku ini bagus banget", "saya merekomendasikan buku ini buat kamu", atau menjadikan beberapa untaian kata yang berharga dalam sebuah buku yang berharga sebagai daya tarik agar orang lain ikut membaca. Tapi, di sini justru ditampilkan dengan adegan bocah lelaki yang bahkan tidak mengenal namanya tapi bisa menghapal tiap baris kalimat yang ada dalam buku tersebut. Silakan buka halaman 12 ketika seorang polisi berdehem dan mengambil sikap dramatis, "Aku pergi ke hutan karena aku ingin hidup bebas. aku ingin hidup penuh arti dan menyedot seluruh sumsum kehidupan." 


Ini sebagai salah satu penyampaian kutipan dengan cara yang begitu unik. Tanpa memaksakan diri menyampaikannya melalui nasihat beberapa tokoh atau dialog antar tokoh. Ini murni, seorang polisi mengutipnya dengan sangat baik, kemudian temannya menimpali dengan ekspresi yang berbeda.


Orang ini bisa mengingat tugas bahasa Inggris waktu SMA kata demi kata dan aku bahkan tidak tahu namaku sendiri. ~ Being Henry David



Being Henry David



Bagaimana Cara Merekomendasikan Bacaan Tanpa Memaksa?


Mari kita buka halaman 24 yang berisi percakapan Hank, Nessa dan Jack di sebuah lorong ketika mereka memandang sinar bulan di antara cahaya lampu kota yang terang. "Membuatku teringat buku yang sangat kusukai waktu masih kecil." Baiklah, Nessa akan mengenalkan kita pada sebuah buku lain, yang ternyata merupakan buku yang banyak dibacakan untuk anak-anak. "Kalau tidak salah judulnya Selamat Malam Bulan."


Baiklah, saya salah satu pembaca buku ini yang kemudian mencari tahu terkait keberadaan buku Goodnight Moon. Yang ternyata memang nyata. Sementara ingatan Hank yang belum pulih membuatnya tidak mengingat sama sekali buku tersebut. Dan Jack memberikan penegasan kembali akan eksistensi buku itu bagi anak-anak di halaman 25, "Kau bercanda, kan? tukas Jack. "Setiap anak tahu buku itu."




Alih-alih Cal menyematkan buku bacaan lain ketika mengulas sebuah buku dengan sekadar menyebutkannya saja, dia justru menjadikannya semacam jejak kenangan dari para tokohnya ketika melihat salah satu yang identik dari buku tersebut yaitu BULAN.


Mom biasanya yang membacakannya, itu sebelum dia meninggal dan Dad berhenti peduli... ~ Being Henry David




Tidak Lupa Untuk Memperkenalkan Sosok Sang Penulis



Mari kita sebut saja bocah amnesia ini dengan nama Hank, sebuah nama pemberian dari sobatnya yang bernama Jack. Baiklah Hank tengah membuka kembali buku Walden di halaman 29, di bagian ini Cal mengenalkan kepada kita siapa sosok Henry David selain yang kita tahu bahwa dia adalah seorang penulis buku berjudul Walden.


Si Thoreau menulis buku ini pada pertengahan 1800-an, karena itu awalnya tulisan dia terasa sedikit aneh bagiku. Aku harus membaca beberapa paragraf beberapa kali untuk memahami apa yang dia coba sampaikan. Tetapi, aku mulai bisa mengikutinya.

Walden seperti yang terungkap kemudian, adalah nama danau di hutan di sebuah kota bernama Concord, Massachusetts. Henry David Thoreau berumur dua puluhan akhir ketika dia pergi ke sana untuk menyepi dari dunia dan tinggal di sebuah kabin kecil selama dua tahun. Hidup kembali ke alam, apapun kondisi alam pada tahun 1845.




Ya, meski tampak biasa saja cara Cal mengenalkan kepada pembaca sosok Henry David ini, tapi Thomas, sosok yang menolong Hank pernah berkata, "Thoreau adalah pengacau di masanya. Jiwa yang bebas. Pemberontak." Pernyataan ini membawa saya sebagai pembaca, kembali menghitung mundur masa-masa dimana banyak jiwa yang memberontak karena kekangan pemikiran yang tak kunjung usai. Persis seperti puisi-puisi Chairil Anwar, diikuti kisah hidup sosok Soe Hok Gie, keduanya menginginkan jiwa yang bebas sehingga memberontak selagi mampu.


Jadi, siapa sosok Cal Armistead? Dia seorang perempuan yang sudah menulis sejak usia 9 tahun. Sosok yang menuliskan kisah ini, yang membawa kita mengenal Henry David dan bukunya Walden. Sudah sepantasnya memang buku ini mendapat rating yang bagus di Goodreads. Tidak heran, karena pengemasan ceritanya yang menarik.





Kemas Ulasan Bukumu Dengan Ceritamu Sendiri



Jika berminat ingin mengikuti jejak Cal, menuliskan ulasan sebuah buku secara terpecah-pecah melalui bingkai adegan dalam cerita yang dibangunnya sendiri, kalian juga bisa melakukannya, saya yakin itu. Dengan bercerita sesuatu yang bisa menarik pembaca. Ahaha, kalau tidak bisa, tak mengapa, toh setidaknya bisa memberikan poin-poin utama kepada pembaca saja sudah bagus.

Tidak lupa untuk menyertakan pertimbangan-pertimbanganmu terhadap buku ini. Seperti yang Thomas katakan bahwa Thoreau itu pengacau di masanya. Ini semacam perbandingan dari apa yang ada di dalam pikiran Hank tentang sosok Thoreau. Apalagi Hank ini bahkan bisa menghapal kata demi kata, susunan kalimat yang ada di dalam buku tersebut, sudah cukup menguatkan pernyataan bahwa Hank sangat bergantung pada buku Walden.


Jangan khawatir untuk menyematkan kutipan jika memang penjelasan dari kutipan tersebut justru bisa mewakili seluruh daya tarik dalam sebuah buku. Karena di dalam buku ini, Cal pun melakukannya. Pada halaman 61 dan 62, dia mengutip kembali gambaran kabin tempat tinggal Thoreau. Dan ketika Hank tertidur di Taman Walden, dia sendiri bisa membangun imajinasi bagaimana gambaran kabin tersebut. Ini yang bisa dikatakan, narasi yang bagus dari seorang penulis dalam membangun latar.


***


Setelah membaca buku ini, memang banyak sekali hal terungkap di bagian akhir. Tentang apa yang menimpa Hank sehingga dia mengalami amnesia? Hati-hati dengan spekulasimu, karena bisa mengecoh! Kemudian bagaimana dia menemukan siapa dirinya? Serta seperti apa kehidupan Hank sebelumnya? Lambat laun, semua teka-teki tersebut terjawab sehingga melepaskan beban pembaca sedikit demi sedikit.


Sejauh ini, banyak yang membahas terkait amnesia yang menimpa Hank. Atau perjalanan Hank yang berani menjejak ke tempat lain meski tidak mengingat namanya. Cukup nekat memang, tapi sesuai dengan karakter idolanya Hank : Henry David yang juga cenderung nekat dengan pilihannya hidup di tengah hutan.


Selamat Membaca!

  • Share:

You Might Also Like

2 comments

  1. Wah ceritanya sepertinya menarik dan banyak ilmunya. Mengangkat hal sederhana yg tidak terperhatikan oleh bnyak orang. 😃

    ReplyDelete
  2. Sepertinya seru yaa Mbak Alena..saya belum pernah baca yg model begini.

    Btw..blognya Bagus bangeettt..terkesima layoutnya keren!!!! Hehehe

    ReplyDelete

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.