24 February 2017

Rule of Thirds : Dua Dunia Dalam Tombol Shutter


Rule of Thirds merupakan buku karya Suarcani yang pertama kali saya baca. Namun, bukan berarti ini karya pertamanya, karena sebelum RoT, sudah ada beberapa karya yang mendahului. Awal pertama tahu kehadiran buku ini melalui timeline kawan saya di Facebook. Saya bertanya-tanya dalam hati, kira-kira apakah judulnya hanya semata menempelkan istilah fotografi, atau ada unsur fotografinya juga di dalamnya?

Kesempatan itu terbuka ketika saya beruntung mencicipi buku ini melalui ajang pencarian bookstagram dari salah satu akun pencinta buku. Itu pun saya ikutannya dengan setengah hati. Karena peruntungan saya dalam dunia giveaway ini lumayan kurang oke, sehingga saya tidak banyak berharap. Pun ketika kak Suarcani menanyakan perihal akun Goodreads serta buku metropop apa saja yang sudah saya baca, akhirnya saya tambah menyerah, tak berani berharap. ahahahaha.

Tapi, ternyata oh ternyata, saya mendapat kesempatan tersebut. Sungguh menggembirakan pastinya, terlebih rasa penasaran saya bisa segera saya tuntaskan. Bagaimana pun, setidaknya saya tak menyesal dalam hal ini, yaitu pernah berharap meski sempat menyerah hehe.

Sebelum saya lanjutkan, saya ingin sedikit mengenalkan perihal buku ini terlebih dahulu.



Kartu Tanda Buku

Judul : Rule of Thirds || Penulis : Suarcani || Halaman : 280 || Penyunting : Midya N. Santi || Penyelaras : Mery Riansyah || Perancang Sampul : Orkha Creative || Penerbit : Gramedia Pustaka Utama || ISBN : 9786020334752 || LBABI : 1 || Rating : 3/5



Sinopsis

Apalagi yang paling menyakitkan dalam pengkhianatan selain menjadi yang tidak terpilih?

Demi mengejar cinta Esa, Ladys meninggalkan karir sebagai fotografer fashion di Seoul dan pulang ke Bali. Pulau yang menyimpan kenangan buruk akan harum melati di masa lalu dan pada akhirnya tempat ia menangis.

Dias memendam banyak hal di balik sifat pendiamnya. Bakat terkekang pekerjaannya sebagai asiaten fotografer, luka dan kerinduan dari kebiasaannya memakan apel Fuji setiap hari, juga kemarahan atas cerita kelam tentang orang-orang yang meninggalkannya di masa lalu. Hingga dia bertemu Ladys dan berusaha percaya bahwa cinta akan selalu memaafkan.

Ini kisah tentang para juru foto yang mengejar mimpi dan cinta. Tentang pertemuan tak terduga yang mengubah cara mereka memandang dunia. Tentang pengkhianatan yang akhirnya memaksa mereka percaya bahwa hidup kadang tidak seindah foto yang terekam setelah mereka menekan tombol shutter.



Kisah Apa Yang Berada di Balik Rule of Thirds?


Kalau dari sinopsisnya sudah jelas bahwa ini kisah cinta yang juga dibumbui dengan pengkhianatan dan bagaimana tokoh-tokohnya berurusan dengan kata maaf. Ada beberapa poin yang sudah saya tangkap ketika membaca sinopsis singkat dari buku ini.

Dimulai dari kepulangan Ladys ke Bali. Sudah bisa ditebak ya, Ladys kembali ke Bali demi Esa. Namun, di balik itu ada alasan lainnya yang membuat Ladys setuju untuk kembali ke Bali. Yaitu permintaan sang Om untuk membantunya di studio foto miliknya di Bali. Jadi, bisa saya simpulka.keputusan Ladys awalnya untuk menerima tawaran sang Om masih belum bisa dia terima, namun karena kerinduannya dengan Esa akibat LDR selama setahun. Justru inilah yang menjadi penguat alasannya untuk menjejakkan kaki di Bali.

Ladys memang tinggal di Korea bersama papanya. Di sinopsis tersemat kalimat "PULANG KE BALI" yang menandakan Ladys adalah sosok penduduk asli dari Bali. Yang tampaknya sudah begitu lama tak kembali ke rumahnya (Pulang biasanya identik dengan kampung halaman atau rumah). Namun, ternyata tempat inilah yang ada akhirnya membawanya pada kenangan masa lalu dan membuatnya menangis. Karena di rumah yang ditempatinya - meski sementara - ini menyimpan banyak kenangan tentang keluarga.

Sementara Dias, bukan seorang lelaki dari keluarga yang cukup mapan. Terlebih hobi dari si Bapak yang gemar berjudi dan mabuk-mabukan sementara tidak pernah bekerja sama sekali (ini mengingatkan saya pada anime Kamisama Hajimemasita #eeaa). Kehidupan Dias dan adiknya - Tyas - akhirnya harus sangat mengirit, bahkan Dias merelakan pendidikannya terhenti demi sang adik. Kehidupannya sebagai kakak lelaki yang harus melindungi Tyas, membuat Dias memiliki pembawaan yang sedikit muram, serius dan cenderung kurang bersahabat.

Pertemuan pertamanya dengan Ladys, pun membuat Dias bukannya justru bersenang-senang, tapi malah menjadi semakin tak menentu. Pasalnya, Dias terus saja menjadi seorang asisten fotografer yang bahkan harus berusaha untuk menabung demi membeli kamera untuk dirinya sendiri (iya, harga kamera DSLR emang gak murah, Dias. I feel you #eeaa). Dari tabungannya sedikit demi sedikit inilah, Dias menyimpan impiannya.

Selain dua karakter ini, ada beberapa karakter lain seperti Tyas, adiknya Dias. Om Agung - adik papanya Ladys - yang juga merupakan bosnya Dias. Kemudian rekan kerja mereka di studio foto, dan Esa serta Prajna. Esa sih udah ketawan ya seseorang yang disukai Ladys, Prajna? Ketebak gak sih kalau Esa itu cowok yang disukai Ladys, sementara Prajna.... Ya bisa ditebak ya, kalau enggak berarti memang harus SEGERA beli bukunya.

Disamping karakter-karakter yang muncul, kisah kehidupan mereka, ada juga nih yang menjadi daya tarik tersendiri novel Rule of Thirds ini. Yaitu, adanya informasi terkait dunia fotografi, entah itu istilah seperti yang terpampang di judulnya : Rule of Thirds, kemudian overexposure, flare dan banyak istilah fotografi lainnya yang tidak kalah seru untuk disimak sedikit. Selain itu, dialog antara Ladys dan Dias, juga menyematkan beberapa sosok fotografer favorit mereka berdua - yang notabennya berbeda - yang justru membuat pembaca juga bisa mencari tahu lebih lagi tentang mereka.

Jadi, apa yang tersemat dalam novel ini, bukan sekadar tempelan semata, tapi memang diberi porsi yang sesuai. Sehingga pembaca bisa mendapat nilai lebih dari membaca novel Metropop Rule of Thirds ini. Oiya, di balik beberapa hal yang saya suka, ada juga semacam pendapat saya pribadi mengenai kekurangan dalam novel ini. Tak mengapa ya, semoga saja penulisnya semakin semangat untuk menyajikan karya yang membuat pembacanya akan terngiang terus.



Pendapat Saya Tentang Rule of Thirds


Beberapa adegan dalam novel ini sebenarnya cukup mengenaskan, terlebih sang tokoh beberapa kali mengalami goncangan dalam kehidupannya yang semestinya bisa dirasakan oleh pembaca. Inilah yang menjadi hal yang kurang dalam novel ini, kurang bisa membangun emosi pembaca melalui adegan dramatis yang dihadapi oleh tokoh-tokoh di dalamnya. Saya bukan pembaca yang susah untuk dibikin senang, tapi saya bahkan belum lupa bagaimana depresinya tokoh yang pernah saya baca dalam novel Wuthering Heights. Atau bagaimana saya merasa sebal dengan tokoh lelaki di novel Landline. Saya masih ingat, bagaimana kekesalan itu terbangun akibat dari emosi yang terbentuk melalui susunan kata dalam sebuah buku.

Hal lain yang cukup saya rasakan kurang tereksplor adalah karakter Ladys. Meski digambarkan Ladys memiliki sedikit kenangan yang kurang mengenakkan dengan Melati. Meski kemudian digambarkan juga bagaimana dia justru selalu ingin terikat dengan hal berkaitan dengan Melati. Tapi, di sini, Ladys justru tidak begitu menampakkan hal tersebut, hanya seperti omongan orang lain kalau Ladys senang dengan hal yang berkaitan dengan Melati. Bukan dengan menunjukkan bahwa Ladys selalu addict dengan segala hal tentang Melati. Karena meski dia selalu menenteng atau bahkan memeluk Jasmin tetap masih lebih menonjol di karakter Dias, yang selalu kemana-mana memakan Apel Fuji.

Nah, kalau ini sih benar-benar MURNI kebetean saya sama tokoh di dalam novel ini. Meski saya berpikir kalau kak Ari tengah menguji keimanan dan kesabaran saya melalui KEBODOHAN kedua tokohnya. Ahahahahahaha, iya serius deh saya benar-benar jengkel dalam beberapa hal yang terkait dengan Ladys dan juga Dias. Astaga, saya benar-benar tak habis pikir hingga akhirnya mengomel-ngomel ketika berhadapan dengan keduanya. Tapi, saya bersyukur, karena ternyata Kak Ari tidak berlama-lama menyiksa saya, kemudian mengakhiri kebodohan kedua tokohnya dengan cara yang memang cukup mudah ditebak. Namun, masih lebih mending daripada tetap diakhiri dengan hal yang membuat saya ingin bertemu secara langsung dengan Ladys dan Dias (Emang mereka nyata, Peh?).


Kesimpulan


Kalau menurut saya, buat kalian yang memang suka dengan genre Metropop atau mencari bahan bacaan yang ringan tapi cukup menghibur dan bisa mendapat informasi terkait fotografi. Novel ini oke juga, bukannya saya promosi, tapi memang serius saya malah baru tau beberapa nama fotografer yang disebutkan dalam novel ini. Sehingga bagi saya, novel yang mengisahkan kehidupan tentang cinta dan masa lalu ini, cukup memuaskan. So far, jangan lupa beli ya mau novelnya atau ebook legalnya. Soalnya, biar kalian bisa tau, gimana sebalnya saya sama Ladys dan Dias. Ahahahahahaha.




Bekasi, 24 Pebruari 2017

14 February 2017

Lampuki : Sebuah Tempat Di Aceh


Lampuki : Sebuah Tempat Di Aceh - Novel yang dinilai sangat berani ini, menjadi pemenang unggulan sayembara menulis novel Dewan Kesenian Jakarta 2010. Ditulis oleh seorang lelaki bernama Arafat Nur, dimana di dalamnya memuat kisah kelam yang dialami oleh penduduk Lampuki, disematkan juga dengan sedikit bahasa melayu hingga membuat kesan tentang daerah tersebut sangat kuat.

Novel dengan sampul berwarna latar merah, seolah mewakili seberapa banyaknya darah yang tumpah di tempat itu, seberapa kelam kondisi ketika malam berangsur tiba. Dengan sosok seorang lelaki, berkumis tebal, bermata garang menantang senjatanya, dialah sosok yang sering hilir-mudik dalam novel ini. Sosok yang digambarkan dengan sangat detail oleh Arafat, dan segala sesuatu dalam novel ini memang sangat detail, memiliki alur yang lambat namun tetap membuat pembaca penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Kartu Tanda Buku

Judul : Lampuki || Penulis : Arafat Nur || Halaman : 434 || Cetakan I, Mei 2011 || Penerbit : Serambi Cerita Utama || ISBN : 9789790243545 || LBABI : 3 || Rating : 5


***


"Selain perangai buruk, yang paling menambah kehancuran bangsa dan kaum ini adalah akibat kedua orang itu amat rakus, tamak, loba dan suka berkhianat tanpa mau peduli dan sudi mendengarkan ucapan orang lain yang bermaksud hendak mengingatkan." ~ Hal 39


Pada bab-bab awal, pembaca akan dibawa untuk kembali lagi ke masa lalu, melalui pandangan seorang Tengku yang juga sebenarnya tengah menyindir bagaimana kondisi pada masa itu. Sekarang pertanyaannya, siapakah kedua orang tersebut? Mereka adalah dua orang yang pernah menjabat menjadi presiden. Di sinilah, label 'berani' memang layak disematkan dalam novel ini.

Seperti cerita tentang emas yang menjadi milik penduduk Aceh, yang kemudian diubah menjadi sebuah pesawat yang kini menjadi maskapai penerbangan terkenal di negeri ini. Dimana kemudian sosok Tengku yang merupakan narator, mengisahkan bagaimana jejak sejarah Aceh pada masa kelam yang juga berhubungan dengan sosok bernama Pak Karno.

Kelamnya sejarah Aceh bukan hanya tentang pertukaran emas dengan pesawat yang kemudian diakui milik nusantara saja. Tapi, meliputi masa-masa pembantaian yang banyak menewaskan para lelaki di daerah tersebut. Lampuki, merupakan nama kampung di wilayah Pasai, Aceh. Tempat sang narator yang merupakan guru mengaji ini tinggal. Dia sering menceritakan bagaimana luka yang dibawa pada masa-masa pembantaian membuat bekasnya tak kunjung hilang.

Melalui figur Musa, wajah sosok yang terluka akibat masa kelam pembantaian tersebut, menggambarkan bagaimana kemudian tahun-tahun perlawanan tiba, dimana ini seolah pertanda bahwa semua yang terluka menuntut balas atas perbuatan yang telah membuat luka tersebut menganga dan menjadi borok yang tak kunjung sembuh. Luka yang kemudian membakar semangat para Laskar Baru untuk menjadikan kehidupan di Aceh menjadi lebih layak dengan pimpinan yang baru.



"Untuk apa aku membenci pemerintah? Setiap orang yang berkuasa, pastilah berhasrat untuk menguasai dan menjajah kelompok orang yang lebih lemah. Hanya bangsa lemah sajalah yang mampu dikuasai. Jadi, kenapa aku mesti membenci penjajah lantaran mereka sanggup menguasai kaum lemah?" 

"Yang kubenci dan kusesalkan adalah kenapa kaumku sampai menjadi sangat lemah sehingga dapat dengan mudah dikuasai dan dijajah! Maka, jangan salahkan aku, kalau kadang-kadang aku terpaksa membenci kaumku sendiri yang bebal, congak, pongah dan lemah tak berdaya ini, yang senantiasa terbuai angan panjang dan keangkuhan masa lalu sehingga tidak pernah berpikir dan berbuat sesuatu apa pun untuk diri sendiri, melainkan sibuk mencela dan merusak kaumnya sendiri." ~ Hal 40


Di bab-bab awal pula, kita akan mulai dikenalkan dengan sosok Tengku melalui pemikiran-pemikirannya ketika dihadapi hal-hal yang tampak menyimpang baginya dalam kehidupan sehari-hari. Seperti ketika suatu malam, seorang sosok berkumis tebal nan garang mampir ke balai tempat diadakan pengajian anak dan remaja. Di sana, Tengku yang sedikit gusar dengan kehadirannya, namun tak mampu untuk menolak apalagi mengusir, akhirnya sibuk dengan pemikirannya yang membawa kita pada jejak sejarah Aceh di masa lampau.

Mengapa kemudian tercetus Tahun-Tahun Perlawanan yang kemudian membawa kembali situasi mencekam yang membuat banyak warga kemudian menjadi korban tertuduh tanpa bukti yang sah. Sebuah sejarah yang panjang, masa-masa kelam yang seolah tak kunjung usai. Melalui pemikiran sang Tengku juga, kondisi keseharian rakyat Lampuki diceritakan. Seperti malam itu, sosok berkumis yang tengah mencari bibit-bibit baru untuk membantu perjuangannya.

Tengku memang tak menyetujui ide yang muncul dari lelaki berkumis tersebut, tapi tidak juga bisa menyangkal secara langsung. Hanya saja, pembaca akhirnya bisa mengetahui, bagaimana kemudian seorang yang berkuasa, memang akan terus menjajah kaum yang lemah. Penjajah di sini memiliki bentuk yang berbeda, banyak rupanya. Entah mungkin kejadian dari sosok orang berhidung pesek yang senantiasa tertipu dengan apa yang terjadi pada kenyataannya. Atau hal lain seperti seorang perempuan pemungut pajak yang tanpa takut menyeruak di antara kerumunan tentara.

Satir, kata ini juga mewakili isi dalam novel Lampuki. Tak hanya tentang pemerintahan, tentang bala tentara yang datang entah berapa jumlahnya, tentang perempuan-perempuan yang juga ikut menuliskan sejarahnya dalam novel ini serta kelemahan seorang sosok garang yang menjadi daya tarik tersendiri untuk novel ini. Hingga wajar jika karya sastra ini menjadi pemenang unggulan.


***

Sebagai orang awam, saya tidak banyak mengenali sejarah negeri saya ini selain beberapa penjajah dari negara lain yang pernah terjadi sebelum kemerdekaan. Itu pun sejarah yang saya kenali melalui buku-buku sejarah yang konon ternyata banyak diubah, banyak ditutupi fakta-faktanya, banyak yang dimanipulasi. Hingga kemudian saya seolah tak memahami latar belakang negeri yang saya tinggali.

Namun, melalui keberanian para penulis karya sastra lainnya, yang berusaha mengungkapkan sejarah melalui masa-masa kelam kolonial, masa kelam perlawanan dan masa kelam lainnya paska kemerdekaan, barulah saya sedikit bisa mengintip jati diri Indonesia yang nyatanya masih belum banyak saya ketahui juga. Serta masyarakat seperti apa sebenarnya yang menghuni negeri ini, hingga kini saya masih belum bisa memahami dengan baik.


Novel realita tentang konflik di Aceh ini berhasil membuka mata saya pada sesuatu yang sebenarnya perlu untuk saya ketahui, karena juga mewakili keseluruhan watak yang mendominasi setiap tragedi dan konflik yang terjadi di negeri ini. 


13 February 2017

Manga Ao Haru Ride
Source : Google Image

Ao haru ride - Siapa yang gemar dengan manga atau anime genre Romantic Comedy? Saya akan tunjuk tangan juga. Manga berjudul Ao Haru Ride ini juga memiliki genre yang sama. Berkisah tentang kehidupan sehari-hari anak sekolahan, berikut juga dengan masalah percintaan dan persahabatan mereka. Namun, Futaba dan Kou memulai kisah mereka di bangku SMU, seperti melanjutkan apa yang dahulu sempat tertunda namun dengan bentuk yang berbeda.


Kartu Tanda Buku


Judul : Ao Haru Ride || Penulis : IO Sakisaka || Vol. : 13 || Chapters : 53 || Terbit : 13 Januari 2011 || Rating : 4/5


***


Manga Ao Haru Ride
Source : Google Image


Futaba dan Kou pernah satu sekolah semasa SMP, namun sudah banyak yang tahu kalau Futaba ini lumayan membenci anak-anak cowok karena mereka ini ribut, menjengkelkan bagi Futaba. Tapi, di antara banyaknya anak cowok yang membuat Futaba kesal, ada satu sosok lelaki yang lebih pendiam, tidak terlalu tinggi dan suaranya berbeda dengan anak cowok lainnya, namanya Tanaka-kun.

Tanpa disadari, ada sesuatu yang tumbuh dalam hati Futaba, yaitu rasa suka pada Tanaka. Hingga suatu ketika, saat mereka berdua berteduh di sebuah tempat, mereka berjanji untuk bertemu saat Festifal Musim Panas. Futaba datang sesuai dengan janji yang mereka sepakati, namun ternyata Tanaka tak pernah datang. Hingga keesokan harinya pun, Tanaka tak tampak lagi di sekolah. Sejak saat itu, Futaba hanya mampu memendam rasa sedihnya sendiri.

Belum lagi, pengalaman pahit yang dialami sesudahnya. Yaitu saat dia dijauhi oleh semua teman-teman di sekolahnya, seperti menambah beban dan kepedihan yang dirasakan Futaba. Hingga dia bertekad untuk mengubah kepribadiannya saat menginjak di SMU. Dengan memilih sekolah dimana tak ada seorang pun dari teman lamanya yang ada di sana.

***

Manga Ao Haru Ride
Source : Google Image



Awal mulanya tahu manga ini dari anime yang hendak saya tonton, tapi ternyata saya hanya mampu mendapatkan 2 episode saja, sisanya saya tidak tahu menahu. Kemudian, karena sudah KENTANG, akhirnya saya putuskan untuk membaca manganya versi online. Tapi, karena jalan ceritanya juga lumayan bagus, meski berbelit-belit, sepertinya saya akan mencari komik fisiknya.

Sosok Kou ini memang cenderung seperti kebanyakan anak sekolah yang sedih dengan kematian sang Ibu. Ini mengingatkan saya pada Orange, dimana sosok lelakinya memendam rasa bersalah yang begitu besar akibat kematian sang Ibu. Akhirnya, sama seperti Kakeru, Kou pun akhirnya tidak semangat menjalani kehidupan di sekolah. Semua nilai-nilainya turun dan dia tak lagi berkeinginan untuk sekolah.

Hingga suatu ketika, pertemuannya dengan seorang dari masa lalunya, dimana kisah mereka sempat terhenti sesaat, dimulai kembali bersama orang-orang lain yang ikut serta menjadi sahabat baiknya hingga membuat Kou merasakan perubahan yang berangsur-angsur membaik. Terlebih setelah Futaba berkencan dengan Touma, banyak hal yang terjadi setelahnya.

***

Manga ini memang seperti kisah RomCom pada umumnya. Berkisar tentang kehidupan anak-anak remaja yang tengah jatuh cinta. Manga series ini memiliki 13 part dan 53 chapter. Ditulis oleh Io Sakisaka, yang merupakan pertama kalinya saya membaca manga karyanya. 

Untuk gambar visualnya, juga lumayan, seperti Salad Days penggambaran tokohnya. Tapi tetep bagus untuk alur, karakter sifat tokoh-tokohnya yang kuat. Meski kemudian kerasa banget untuk urusan plin-plan di salah satu tokohnya bikin sebel juga. 

02 February 2017

Go Set a Watchman - Harper Lee
Go Set a Watchman - Harper Lee


Go set a watchman - Membaca sejarah Amerika, terutama bagaimana perbudakan serta rasisme dalam buku ini, seakan membawa perbandingan antara dunia yang saat ini dihuni dengan dunia pada masa lampau yang telah berlalu. Topik yang masih berlaku hingga detik ini, tentang Kulit hitam vs Kulit Putih. Bagaimana rasisme juga tak hanya terjadi pada sejarah Amerika, juga di beberapa dunia bagian lainnya.


rasisme/ra·sis·me/ n rasialisme
rasialisme/ra·si·a·lis·me/ n 1. prasangka berdasarkan keturunan bangsa; perlakuan yang berat sebelah terhadap (suku) bangsa yang berbeda-beda; 2. paham bahwa ras diri sendiri adalah ras yang paling unggul


Konon, novel ini merupakan novel pertama yang ditulis oleh Harper Lee, namun To Kill a Mockingbird-lah yang menjadi juaranya. Menarik perhatian penerbit serta menjadi bahan bacaan wajib bagi anak-anak sekolah di luar Indonesia. Belum lagi, fakta bahwa buku pertamanya ini sempat menghilang jejaknya dan baru ditemui sekitar tahun 2014 yang lalu. Bisa dikatakan, banyak orang menyangka To Kill a Mockingbird adalah buku pertama, padahal jika dirunut dari urutan proses, maka Go set a watchman menduduki urutan pertama.

Baca Juga "Message from an unknown Chinese Mother"

Setelah menerbitkan TKAM, Harper Lee seolah-olah telah kehilangan semangatnya, dia tidak pernah menerbitkan novel lagi setelahnya. Hingga sekitar tahun 1960-an, timbul berita tentang Harper Lee terkait tidak adanya lagi karya setelah TKAM, yaitu bahwa bukan Lee yang menulis novel tersebut. Hingga kemudian Lee menghindar dan menolak untuk diwawancara. Meski demikian, akhirnya kemunculan novel Go set a watchman seakan membawa misteri terbaru pada sosok Lee. Meski pada 19 February 2016 kemarin, dia meninggal dunia pada usia 89 tahun.


Kartu Tanda Buku

Judul : Go set a watchman || Penulis : Harper Lee || Halaman : 288 || Cetakan 1, September 2015 || Penerjemah : Berliani Mantili || Penerbit : Qanita || ISBN : 9786021637883 || LBABI : 2 || Rating : 4/5


Sosok Atticus

Saya akan mengawalinya pada sosok Atticus yang banyak digemari oleh pembaca buku karya Lee ini. Yang ketika kemunculannya dalam novel ini membawa perubahan yang sangat besar, sehingga membuat banyak orang merasa terkejut dengan hal ini. Dua puluh tahun lalu, Jean Louise menyaksikan Atticus, sang Ayah, membela Negro di pengadilan Maycomb County. Kini Jean Louise menyadari bahwa Maycomb dan sang Ayah ternyata tak seperti yang dia kira selama ini, dan dia pun bukan Scout yang polos lagi.

Integritas, humor dan kesabaran adalah tiga kata yang tepat untuk menggambarkan Atticus Finch. Ada pula frasa yang cocok untuknya : pilih secara acak penduduk Maycomb County dan sekitarnya, minta mereka memberikan pendapatnya tentang Atticus Finch, dan jawabannya sebagian besar adalah "Aku tidak punya teman yang lebih baik darinya."

Baca Juga "The Playlist"

Rahasia hidup Atticus Finch begitu sederhana walaupun kelihatannya sangat rumit : jika sebagian besar pria memiliki prinsip hidup dan berusaha menerapkannya dalam menjalani hidup, Atticus menikmati segala sesuatu dalam kehidupannya tanpa kehebohan, tanpa perayaan berlebihan dan tanpa pencarian jiwa. Sifat pribadinya adalah sifat yang ditampilkannya di depan umum. Prinsip hidupnya adalah etik Perjanjian Baru, yang menganugerahinya dengan rasa hormat dan pengabdian dari siapa pun yang mengenalnya. Bahkan musuhnya pun mencintainya, karena Atticus tidak pernah menganggap mereka sebagai musuh. Dia tidak pernah kaya, tapi dia pria terkaya di mata anak-anaknya. [121]

Siapa pun pasti suka dengan kepribadian Atticus, sosok yang memberikan figur begitu ke-Ayah-an, sosok yang menjadi idola bagi anak-anaknya. Kemanapun Atticus pergi, entah berangkat ke pengadilan atau di ruang kantornya, Jem dan Jean selalu ikut serta. Bahkan, dia selalu memiliki waktu untuk bermain bersama kedua anaknya. Selalu berusaha menjadi sosok tegas meski tetap ramah dan penyayang. Ini juga yang membuat Jean selalu merindukan perbincangan dengan sang Ayah.

Antara Kulit Putih dan Kulit Hitam

Novel ini mengangkat issue rasialisme, sampai Judy Cornett mengatakan bahwa ini semacam novel autobiografi dari perjalanan Lee. Rekonstruksi sosial besar-besaran tengah terjadi pada masa itu, ketika NAACP yang mewakili seluruh warga kulit hitam di wilayah Selatan, berusaha untuk menyeimbangkan langkah dengan warga kulit putih. Dan Jean Finch, anaknya Atticus, yang menjadi narator dalam novel ini. Dia tinggal di New York selama 5 tahun, sudah terbiasa dengan kehidupan kebersamaan yang bebas dengan ras lainnya, entah itu Negro, Meksiko dan lainnya.

Perubahan pada Maycomb, merupakan bentuk perubahan yang terjadi di Amerika paska perang. Beberapa veteran perang kembali ke kampung halaman mereka, membangun rumah-rumah untuk mereka tinggali, bekerja di beberapa pabrik. Hingga menciptakan dua kelas berbeda yaitu para penyedia lahan dan para petani miskin yang menyewa lahan. Kondisi yang sangat berbeda dari Maycomb yang dahulu pernah diingat oleh Jean.

Jean merupakan seorang pengamat, dia mengamati dan melaporkan hasil pengamatannya melalui narasi yang diceritakan pada kita. Tentang kondisi kampung halamannya yang banyak berbeda. Bagaimana kondisi masyarakatnya yang seolah gagal untuk beradaptasi dengan perkembangan terbaru. Sementara Jean berperan sebagai pengingat, sosok yang mengingatkan tentang segala hal yang terlewati atau terlupakan.

Baca Juga "Macbeth"

Seandainya dia mampu berpikir, Jean Louise, mungkin akan bisa mencegah rangkaian peristiwa yang menjadi akibat dari kejadian hari itu, sebuah pengulangan sejarah yang telah setua waktu : bab yang menyangkut dirinya dimulai dua ratus tahun silam, dan di masyarakat penuh keangkuhan, perang paling berdarah dan perdamaian paling keras yang tidak bisa dibinasakan oleh sejarah modern, kini kembali dimainkan lagi di ranah pribadi di senjakala peradaban yang tidak bisa diselamatkan oleh perang maupun perdamaian.

Seandainya dia bisa merenung, seandainya dia bisa membelah penghalang menuju dunianya yang picik dan sangat selektif, Jean Louise mungkin akan mengerti bahwa seumur hidupnya, dia mengidap cacat visual yang tidak disadari dan dipedulikan olehnya dan orang-orang terdekatnya : DIA TERLAHIR BUTA WARNA. [129]

Apa maksud dari terlahir buta warna? Ini adalah makna kiasan, dimana sebelumnya kita harus mengetahui terlebih dahulu apa itu arti dari Go set a watchman? Go set a watchman berasal dari kalimat Kitab, "For thus hath the Lord said unto me, Go, set a watchman, let him declare what he seeth." - Isaiah 21:6. Apa maksudnya, hingga kalimat ini menjadi judul novel? Go set a watchman berarti seseorang yang menjadi sosok penunjuk moral di sebuah kota. Bagaimana Jean berpikir bahwa sang Ayah seolah-olah menjadi sosok yang sangat bermoral, namun kemudian Jean sendiri yang menyangsikan kebenaran tersebut. Dan inilah, sebuah kejadian yang membuat Jean akhirnya mempertanyakan kembali, apa makna di balik moralitas yang ada pada sosok Ayahnya.

Baca Juga "Ghost Bride"

Dan maksud dari Terlahir Buta Warna, bahwasannya Jean yang sedari kecil sudah terbiasa hidup dengan Cal, asisten yang selalu hadir untuk mengasuhnya, yang merupakan sosok Kulit Hitam. Serta kehidupannya selama di New York yang tak pernah mempermasalahkan bagaimana hubungan dengan orang Kulit Hitam, membuatnya menjadi sosok yang tidak memilah dan memilih. Itulah kenapa dia berusaha menemui Cal dan berusaha meyakinkannya bahwa Atticus akan membantu cucunya.

**

Membaca novel ini membuat saya teringat dengan novel The Help karya Kathryn Stockett, yang juga mengangkat situasi ketika Lurther Martin dibunuh. Kisah yang mengangkat pengalaman hidup para pembantu berkulit hitam, ketika bekerja di rumah orang-orang kulit putih. Bagaimana mereka disisihkan, diasingkan dan dianggap kotor oleh para kulit putih. Begitu juga dalam novel Go set a Watchman, ketika Jean dan Atticus beradu pendapat. Dan Hank beradu pendapat dengan Jean.

Bahwa masyarakat di Maycomb, dewan masyarakatnya, menganggap bahwa orang kulit hitam masih belum mampu untuk menyejajarkan posisi baik itu dalam akademis, dalam pemerintahan bahkan dalam hal kecerdasa. Bagi mereka, orang kulit hitam masih terbelakang dan belum mampu untuk mengambil andil dalam pemerintahan daerah, pengacara dan dalam bidang lainnya. Dari cara pandang inilah, melalui kedua buku yang saya baca, teramat jelas bahwa perubahan tersebut masih belum begitu besar.

Rasisme masih menjadi momok yang senantiasa menjadi benturan pada setiap negara. Antara Orang Kulit Putih vs Orang Kulit Hitam, atau antara Orang Pribumi vs Orang Pendatang dan begitu seterusnya. Dan ini masih tetap terjadi di banyak tempat, dan itulah mengapa saya setuju dengan Jean, bahwa hal ini tidak akan berhenti oleh perang ataupun perdamaian. Sebut saya se-skeptis itu, tapi ini yang bahkan terjadi sejak saya kecil, mendengar perang saudara di beberapa tempat, hingga saya menginjak usia 29 tahun ini, masih saja perang saudara, perang antara ras ini dengan ras itu dan segala hal berbau rasisme menjadi tren yang dibicarakan.

Namun, membaca novel ini tidak akan membuat kamu menjadi se-skeptis saya. Tenang saja, tapi akan membuka hal baru dalam diri kalian, pemahaman terbaru tentang masa-masa setelah perang dan masa di tahun 1960 yang mungkin akan membuat kalian menjadi lebih paham dengan segala pertentangan-pertentangan yang terjadi. Selain itu, saya tahu, bahwa klimaks dalam buku ini baru akan terjadi di beberapa bab menjelang akhir, sementara bab-bab awal banyak berisi kilas balik Jean ke masa kanak-kanaknya. Karena, memang kalimat pembuka dalam novel ini menceritakan betapa kerinduan Jean pada Maycomb yang membuatnya mengunjungi kampung halamannya.

Terima kasih sudah mampir dan membaca tulisan saya.