Message from an unknown Chinese mother by Xinran

January 18, 2017



Message from an unknown Chinese mother - Sebuah buku yang ditulis atas dorongan dari para anak adopsi, yang tengah mencari sosok Ibu biologis mereka. Anak-anak ini banyak tersebar di seluruh penjuru dunia. Mereka bahkan tidak pernah mengingat, bagaimana rupa sosok sang Ibu, bahkan membayangkan seperti apa rasanya dipeluk oleh Ibu biologis mereka pun tak pernah terbayangkan. Yang mereka tahu, bahwa orang tua angkat mereka, selalu berusaha untuk mencari jejak para Ibu-ibu ini.

Sebut saja Waiter, yang berarti seseorang yang menunggu, surat darinya yang dimuat dalam buku ini, juga surat-surat lainnya. Namun, surat ini yang mendorong Xinran untuk menolong sosok bayi perempuan yang dibuang di toilet umum. Waiter bercerita dengan cukup rinci di surat yang dia kirimkan untuk acara di radio yang dibawakan oleh Xinran. Kisah ketika Waiter masih begitu muda dan tengah bersekolah. Serta cerita yang membawa pembaca pada kenyataan-kenyataan tradisi yang berakar sangat dalam di masyarakat China.

Pada sekitar tahun 1990-an, generasi muda ini mulai transisi dari standar moral tradisional yang masih belaku ke masyarakat yang mengadopsi moral seksual Barat. Masalahnya banyak diantara mereka yang tidak memperoleh pendidikan atau panduan seks, mereka hidup tanpa kehadiran ilmu tentang seks di dalam keluarga, sekolah dan masyarakat. Kombinasi antara faktor ketidaktahuan seksual, tidak adanya program kesehatan seksual dan sikap munafik terhadap seksualitas di antara generasi sebelumnya, membuat para generasi muda ini terpapar dengan kebebasan seksual.

Ketidak-tahuan ini juga yang dialami oleh Waiter, ketika dia yang baru saja merasakan jatuh cinta, melakukan hubungan intim dengan pacarnya selama berkali-kali. Dia sama sekali tidak tahu, bahwa ketika dia tidak mendapat menstruasi di bulan itu adalah sebuah pertanda. Dia sama sekali tidak tahu hal tersebut, karenanya setelah itu dia justru memberi tahu pada sang pacar, yang usai beberapa hari setelahnya, sang pacar justru meninggalkannya tanpa surat atau perpisahan. Hingga hari demi hari, bulan demi bulan, kenyataan terpampang di wajahnya, bahwa perutnya terus membesar. Dia baru menyadari, bahwa dirinya hamil.

Seorang filsuf pernah mengatakan bahwa makhluk yang harus berjuang untuk hidup memiliki gen yang paling kuat bertahan. Itulah sebabnya, janin yang berada dalam perutnya, meski dibebat dengan kain dengan kencang agar tidak menampakkan perutnya yang buncit, justru masih tetap kuat dan menuntut haknya untuk hidup. Tak secuil pun kain dapat menghentikannya untuk tumbuh.

Waiter bahkan tak pernah tega untuk membunuh sang janin. Karena hanya janin itulah yang dimilikinya di dunia ini, orang tuanya akan membunuhnya jika tahu apa yang tengah terjadi pada dirinya, sekolah sudah pasti akan mengusirnya. Waiter tak memiliki siapa pun lagi selain si janin ini. Itulah sebabnya dia mempertahankannya. Dan ketika sudah hampir tiba waktunya, Waiter berbohong dengan sekolah karena dia kabur begitu saja, sambil membawa uang yang diberikan secara rutin dari orang tuanya. Kemudian memilih untuk melahirkan janin tersebut.

Setelah sang janin lahir, Waiter memutuskan untuk pergi dari rumah petugas kebersihan yang telah berbuat baik dengan mengizinkannya melahirkan di tempat tersebut. Dan Waiter pun pergi ke tempat yang jauh. Sayangnya, pekerjaan yang dia dapat bahkan tidak mengizinkannya untuk bisa mengurus sang bayi. Tempat tidur bagi pekerja, satu ruangan diisi hingga berjejal delapan orang yang tidur menumpuk. Sementara raungan sang bayi justru tidak menyelesaikan masalah. Sedangkan pekerjaannya menuntutnya untuk tidak berhenti barang sedikit!

Hingga akhirnya, dia memutuskan untuk menitipkan sang bayi di panti asuhan. Dia meletakkan sang bayi di depan pintu panti asuhan, sambil menunggu dan memastikan sang bayi benar-benar aman di sana. Malang tak dapat ditolak, tidak lama berselang, ketika dia mendapat hari liburnya dan ingin mengambil kembali sang bayi, bangunan panti asuhan tersebut tinggal puing-puing yang bertebaran. Konon, panti asuhan tersebut tutup dan tidak ada yang tahu kemana perginya para bayi itu. Bagaimana perasaan Waiter saat itu? Dapatkah Anda membayangkannya?

**

Para perempuan di China tidak pernah memiliki hak untuk menceritakan kisah mereka. Itulah sebabnya Waiter menyimpannya hingga puluhan tahun kemudian. Perempuan ini mereka hidup di hakikat terendah dalam masyarakat, harus patuh tanpa banyak tanya dan tidak memiliki cara untuk membangun kehidupan mereka sendiri. Hal ini menjadi begitu alami sehingga sebagian besar perempuan hanya berharap dua hal yaitu : tidak melahirkan anak perempuan dalam kehidupan dan tidak dilahirkan lagi sebagai perempuan di kehidupan berikutnya.

Banyak perempuan, terutama di daerah-daerah miskin, begitu menderita sehingga menjadi tak acuh atau bahkan kasar pada perempuan lain. Mereka tidak percaya bahwa anak perempuan mereka sendiri dapat lolos dari lingkaran setan tersebut. Mereka juga tak ingin anak-anak mereka membawa 'aib' bagi keluarga atau menderita nasib buruk yang sama dengan ibu mereka. Karena itu, kadang kala, sebagai wujud cinta, mereka 'membebaskannya dari penderitaan' dengan mencekik bayi mereka saat dilahirkan. Waktu mungkin berubah di China, tetapi banyak ibu yang masih berhadapan dengan pilihan yang sama.

Baca Juga "Snow Flower and Secret Fan"

Bayi perempuan tak pernah diberi masa depan dalam masyarakat yang hanya menghargai anak laki-laki. Kehidupan tak akan pernah berjalan tanpa keberadaan anak laki-laki. Tidak ada yang membakar dupa untuk kuil nenek moyang. Bukan hanya itu, tapi juga tak mendapatkan tanah ekstra. Bayi perempuan nantinya hanya akan menyusahkan, meminta makan tapi tak dapat menghasilkan, tidak dapat tanah juga tak bisa menanam benih. Pemerintah tidak menghitung bayi perempuan untuk ransum yang diberikan. Serta semakin sedikit tanah yang bisa ditanami sehingga anak perempuan akan mati kelaparan.

**

Kartu Tanda Buku

Judul : Message from an unknown Chinese Mother || Penulis : Xinran || Halaman : 274 || Penerbit : KOMPAS || KMN : 40205100081 || ISBN : 9789797095338 || LBABI : 2 || Rating : 5

**

Ada beberapa hal lain yang saya simpan dan berharap Anda dapat membacanya secara langsung. Yaitu pengalaman dari para Ibu-ibu yang mengadopsi bayi-bayi yang terlantar ini. Kemudian cerita nyata yang dituturkan langsung dari sosok Bidan yang sering menolong kelahiran para bayi kedunia. Bagian ini sungguh teramat pilu saya rasakan. Bukan hanya itu, setelah menceritakannya pada Xinran, sang bidan justru menghilang entah kemana. Membawa luka yang kembali disingkap olehnya. Namun ini berharga, sebagai celah bagi siapa saja yang membutuhkan informasi.

Serta kisah nyata, bagaimana Xinran mendirikan satu foundation di London yang berfungsi sebagai wadah bagi para anak-anak China yang diadopsi. Mereka berkumpul untuk saling memberi kekuatan satu sama lain. Semua ini sangat sayang kalau tidak dibaca dengan seksama.

**

"Apa kabar kamu, Sayang? Tahukah kamu bahwa ibumu, perempuan yang memberimu hidup dan memberikan hidupnya kepadamu, juga tengah memikirkanmu? Kamu tidak hanya menyedot susu dari dadanya, tetapi juga menyedot jiwa ibumu. Di mana kamu sekarang? Kehilanganmu telah memenjarakanku dalam kenangan. Kembalilah kepadaku! Lewatilah batas waktu, datanglah dan biarkan aku menyentuh wajahmu, biarkan aku melihatmu hidup dan bebas!" ~ Message of Unknown Chinese Mother.

Tak dapat dihindari, surat pertama dari curahan hati Waiter membuat saya terus membaca buku ini hingga tamat. Ada banyak hal yang ingin saya ketahui dari para Ibu-ibu ini. Kekuatan tersembunyi, yang lirih menguar dari balik tangis yang tak tertangkap pandangan mata. Belum lagi, Xinran justru menengahi antara konflik yang terjadi dengan jalan pikiran pembaca.

Terdapat satu kejadian, setelah Waiter menulis surat dan dibacakan oleh Xinran, kemudian bertubi-tubi banyak pendengar lain yang mengirimkan surat ke radio. Isinya hampir sama, mencaci maki Waiter dan mengatakan bahwa dia sangat tidak senonoh. Mau tahu apa yang dilakukan Xinran untuk melerai pemikiran yang tengah kalut dan membendung pembacanya?

"Aku tak percaya bahwa mereka yang menyalahkannya tak dapat bersimpati. Menurutku, karena seumur hidup kita terpapar pada nilai-nilai kebudayaan China, sifat kita sebagai manusia menjadi terkondisikan. "Perintah" yang mengatur hidup banyak orang secara efektif telah menghapus naluri manusia yang normal sehingga tak mampu mengakui cinta." ~ Hal 25

Sungguh ini penjelasan yang lebih beradab ketimbang mengatakan bahwa mereka tak berempati kemudian menggolongkan banyak orang dengan label tak berprikemanusiaan. Xinran menelusurinya terlebih dahulu sebelum memberikan pernyataan tentang kondisi tersebut. Bahwasannya, pada masa kini, pun di Indonesia banyak orang yang telah menyatu dengan "Perintah" tersebut sehingga naluri mereka berangsur-angsur terhapus sedikit demi sedikit.

Proses dehumanisasi yang pernah dibahas oleh Kuntowijoyo dalam bukunya Maklumat Sastra Profetik serta disinggung juga oleh Fuad Hassan dalam bukunya Pentas Kota Raya, menjelaskan juga tentang berkurangnya unsur kemanusiaan dalam masyarakat yang tengah berkembang mengikuti pola kebudayaan yang berangsur berubah serta teknologi yang juga memengaruhinya. Apa sebab musababnya? Banyak faktor yang menyebabkan terkikisnya sisi humanisme manusia, sangat banyak. Dan faktor-faktor tersebut tanpa sadar telah tertanam dengan baik dalam pola pikir manusia saat ini.

Buku ini, kembali membuka mata saya pada dunia yang lebih luas lagi. Saya diajak untuk menjangkau ranah yang terlalu sensitif bagi para Ibu, namun nyata adanya. Membuka mata dengan beberapa kasus dan pengalaman orang lain, belajar menjadi kuat tapi tetap berlemah lembut dari mereka. Jalan pikiran Xinran sama seperti saya, Tidak harus melahirkan terlebih dahulu untuk menjadi sosok Ibu. Tapi, jadilah Ibu bagi anak-anak lain yang membutuhkannya.

Xinran merawat bayi perempuan yang dibuang di toilet umum. Mau tahu? Ternyata sang Ibu berdiri tidak jauh dari tempat tersebut sambil berharap kehidupan yang layak bagi sang bayi. Dan dia tahu, bahwa Xinran-lah yang mengurus bayi tersebut. Sama seperti banyak perempuan lain yang mengurus bayi atau anak yang bahkan tidak dilahirkan dari rahim mereka. Dengan cinta kasih yang sama seperti seorang Ibu. Dari mereka-lah saya semakin semangat untuk berlatih menjadi Ibu yang baik bagi anak-anak yang saya temui.

Salah satunya, dengan menghindari perilaku mem-BULLY anak-anak manapun, entah anak yang dilahirkan dari rahim Anda atau anak yang menuntut perhatian lebih. Hindarilah tindakan BULLYING karena itu salah satu usaha untuk menjadi Ibu Yang Baik bagi Setiap Anak yang kita Temui.

Terima kasih sudah membaca tulisan saya, semoga apa yang saya tulis ini bermanfaat untuk Anda. Jika ada kesempatan menemukan buku ini, belilah, bacalah, karena Anda akan belajar untuk berempati melalui sebuah tulisan yang berdasarkan kisah nyata.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.