Macbeth karya William Shakespeare

January 12, 2017



Macbeth karya William Shakespeare - Kebanyakan orang menuliskan tentang karya-karya Shakespeare sebagai Shakesperian Tragedy. Berkaitan dengan kisah cerita yang senantiasa mengikut-sertakan tragedi. Tidak hanya itu, mungkin masih ingat, salah satu elemen yang sering terjadi di beberapa karya Shakespear, yaitu munculnya sosok hantu yang meninggal karena dibunuh. Bahkan dalam karya Macbeth ini sosok hantu juga tidak luput menjadi bagian dalam cerita.

Tragedi yang terjadi dalam setiap cerita karya Shakespeare, biasanya melibatkan sosok-sosok orang terpandang. Meski saya memang baru membaca karya beliau, sedikit, tapi memang tokoh-tokoh yang terlibat adalah orang dengan posisi yang mumpuni. Sama seperti dalam cerita Macbeth yang mana tokoh utamanya adalah seorang Jendral. Dengan kehadiran sosok Raja dan beberapa anak serta orang terdekat dari sang Raja.


Plot

Macbeth seorang Jenderal yang memiliki hubungan darah dengan Raja Duncan. Kemenangan telah diraih, Macbeth dan Banquo dipanggil kerajaan untuk merayakan kemenangan ini. Macbeth dan Banquo pernah menemui tiga orang penyihir yang meramalkan sesuatu tentang mereka. Ramalan ini awalnya membuat Macbeth sedikit skeptis dan tidak berharap banyak.

Namun, ketika sampai di rumah, justru Lady Macbeth mendorongnya untuk melakukan sesuatu yang sangat teramat beresiko : MEMBUNUH RAJA DUNCAN. Memang, Raja Duncan sudah terlalu tua untuk memerintah, sehingga ini dijadikan kesempatan untuk Macbeth melancarkan aksinya malam itu.

Dengan bantuan ide dari Lady Macbeth, dirinya mulai membunuh Raja Duncan dan terus menerus mengikuti saran dari sang Istri serta dari sang penyihir untuk membunuh siapa-siapa saja yang akan menghalangi langkahnya menjadi seorang Raja. Namun, rasa bersalah terus mengikuti Macbeth, tidak hanya itu, berita tentang kematian Lady Macbeth yang akhirnya memutuskan untuk bunuh diri, pun tak ayal membuatnya ketakutan.

Sampai sosok arwah yang gentayangan, membuat permasalahan menuju titik terang.


**

Membaca buku ini bagi saya tidak cukup, saya membutuhkan bantuan dari sumber lain entah itu berupa analisis, atau tesis yang berisi tentang kisah serta analisa karakter di dalam cerita ini. Seperti kebanyakan karya Shakespeare yang lain, cerita yang merupakan naskah drama yang banyak dikenal hingga masa kini. Selain itu, bahasa yang digunakan cenderung puitis, sehingga saya kurang mampu untuk menerjemahkannya secara langsung.

Berbeda dengan menerjemahkan puisi Raven karya Allan Poe, yang sedikit lebih mudah dicerna dengan bantuan gambar tentunya, sebagai visualisasi dari kondisi puisi tersebut. Selain itu, memang, kenyataannya, tokoh-tokoh yang berada dalam cerita seringkali memiliki poisis seperti Macbeth - seorang Jendral -, atau ketika saya membaca Hamlet yang merupakan seorang Pangeran.

Demikian juga dengan karyanya yang termasyhur yakni Romeo and Juliet, dimana Juliet sendiri memiliki asal keluarga yang memiliki posisi terpandang. Jadi, cerita yang diangkat oleh Shakespeare, bukan sekadar cerita rakyat biasa, tapi menyertakan konflik, intrik dan politik di dalamnya. Bahkan, beberapa peneliti juga menyebutkan, adanya kecenderungan gangguan psikologis dari beberapa tokohnya.

**

Meski harus dibantu dengan beberapa analisa dari penulis lain tentang Macbeth, tetap saja, saya tidak bisa menuliskannya dengan baik di sini. Hanya sedikit yang tersirat yang bisa saya tuliskan, seolah-olah terlalu banyak ide di otak saya, namun saya tidak dapat menuliskannya, menjabarkannya dengan runut sehingga bisa dibaca banyak orang.

Memang rasanya sungguh disayangkan, tapi, saya jadi merasa sangat puas. Karena bisa menyadari, keberadaan sosok hantu yang sering membantu pembongkaran kedok kejahatan. Yang kemudian diyakini dengan sisi delusi dari tokoh-tokoh yang ada dalam cerita. Ada juga yang berpendapat bahwa ini merupakan perwakilan kondisi masa-masa kehidupan Shakespeare, dimana hal-hal yang terkait dengan magis atau ilmu hitam masih kental dipercaya.

Pun, bagi saya sendiri, pemikiran saya, masa hidup Shakespeare berbeda dengan saat ini, dimana terkadang kejahatan dapat dengan mudah tercium baunya. Didukung dengan teknologi yang bisa membantu melacak keberadaan si penjahat tersebut. Tapi, tidak menutup kemungkinan memang, keberadaan sosok lain dalam membantu mengurai kejahatan.

Saya kembali teringat dengan novel karya John Conolly, Every Dead Thing, dimana sang detektif meminta bantuan cenayang untuk menemukan siapa dalang kejahatan dari pembunuhan tragis yang terjadi di keluarganya. Entah apakah ini termasuk, fans mengikuti sang idola, atau memang semacam kepercayaan yang terus turun temurun.

**

Membaca sastra klasik memang tidak semua orang bisa menikmatinya. Tapi, meski begitu, tidak ada salahnya juga untuk membacanya sendiri, merasakan kebingungan, merasakan pikiran terus menebak-nebak apa maksud dari kalimat tersebut, agar terbiasa memecahkan sesuatu yang dirasa sulit. Pun, ketika pertama kali saya membaca karya Shakespeare, saya tidak dapat menemukan ritme membaca sehingga terasa berjauhan.

Namun, saya terus mencoba hingga akhirnya bisa menikmati setiap karya yang ditulis oleh Shakespeare, meskipun membutuhkan bantuan lain. Sama halnya dengan menikmati canto-nya Dante, Divine Comedy, saya membutuhkan sumber lain dari orang-orang yang paham, sehingga saya bisa mengerti dan memahami apa maksud dari canto bari sekian dan sekian.

Semoga Anda semakin semangat untuk membaca karya orang-orang yang telah berjasa dalam dunia sastra ini.


  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.