31 January 2017

Markituka - Mari Tukar Kado dan Being Henry David
Buku Hadiah Markituka

Markituka - Mari Tukar Kado dan Being Henry David. Ada yang menarik di akhir tahun kemarin, yaitu Event Markituka yang diselenggarakan di grup whatsapp Bajay Jabodetabek. Ini pertama kalinya saya mengikuti event online dari BBI ini. Sebelumnya, memang sudah ada kegiatan serupa bernama Secret Santa, konsep dari Markituka juga sama, hanya saja sedikit longgar dalam prosedurnya. Nah, karena ini adalah kegiatan pertama yang saya ikuti, jadi rasanya sedikit berbeda. Beda karena saya merasa tertantang ketika menulis Riddle untuk sang receiver.

Markituka sendiri kepanjangan dari Mari Tukar Kado. Dengan menyematkan sedikit riddle untuk orang yang menerima hadiah dari kita. Nah, selain itu untuk Markituka kali ini, range harga yang diberikan yaitu maksimal 150.000. Jadi, sangat adil buat saya, sehingga tidak perlu kebingungan kalau semisalnya ada yang berpikir, "kok kado dia lebih mahal dari saya?", gitu. Selain itu, ada kendala pastinya dari saya pribadi, yaitu pengiriman. Karena bentrok dengan hari raya Natal dan kemudian Tahun Baru, sehingga saya berpikir akan memprosesnya setelah tahun baru. Dengan perhitungan sebelum tanggal 15 Januari 2017 akan segera sampai.


NYATANYA!!! Bahkan untuk pemesanan memakan waktu 2 minggu. Ini baru masuk ke proses pemesanan buku dari toko buku ke penerbit. Kemudian menunggu lagi sekitar beberapa hari lagi sehingga total hampir sebulan saya menunggu buku tersebut sampai ke receiver. Sungguh, ini di luar dugaan. Allhamdulillah, receiver-ku ini memberikan alamat kantornya yang notabennya terletak di pusat kota Jakarta. Sehingga untuk pengiriman tidak ada kendala.

Nah, karena saya sadar pengiriman buku akan terlambat. Jadilah saya mengirim screenshot berupa riddle yang saya titipkan ke Mas Tez (makasih ya mas). Karena saya mikirnya, kalau nanti sampai waktu 'tebakan' tiba, buku belum sampai di tangan receiver, minimal riddle-nya sudah sampai duluan. Dan allhamdulillah, ternyata sudah sampai sebelum hari 'tebakan' tiba. 

**

Di tulisan sebelumnya, saya memasukkan beberapa buku wishlist yang saya peruntukkan untuk pengirim rahasia. Dan buku tiba lebih cepat, karena memang yang saya pesan buku yang terbilang masih cukup baru dan masih tersedia di toko buku. Being Henry sampai beserta riddlenya yang membuat saya mengerutkan kening.

Sudah saya kudet, belum lagi lola, tambah lagi belum mengenal semua anggota Bajay dengan baik. Alhasil saya cuma bisa pasrah di hari 'tebakan'. Karena saya menebak Kak Yuska yang menjadi pengirim rahasia, tebakan saya ini berasal dari nama kak Yuska yang ada  Novita-nya. Tapi, kemudian sadar, kalau di Bajay ada juga yang namanya Dini Novi yang akrab dipanggil Dinoy. Duh, langsung pula saya kebingungan menebaknya. Ini riddle yang diberikan ke saya melalui buku yang dikirimkan.



So you need a riddle?Let see...- I was born a month-before the year end.- My middle name contains my month-birth- I once being proofreader for the publisher of book you holding now.- I was an author - I wrote 2 book- I am currently working as accountantYou get me? 



**


Nah, hari ini, tepatnya hari untuk menebak siapa pengirim misteriusnya. Untuk receiver saya, ternyata sudah bisa menebak dengan benar. Karena memang riddle yang saya berikan juga tidak begitu sulit dan baru sekali dibahas di grup. Karena memang ini pertama kalinya saya menulis riddle, alhasil saya hanya ingin memberi kesempatan untuk mempermudah.

Ahahahaha, etapi memang benar loh, menulis riddle itu tidak mudah. Apalagi saya sadar, belum semuanya mengenal saya pun saya juga belum mengenal mereka dengan baik.

So far, kegiatan seperti ini sungguh menyenangkan, selain ikutan arisan buku di Jabo. Saya menunggu kegiatan online lainnya yang seru. Dan semoga nanti saya bisa ikutan kopdar, karena saya belum pernah ikut kopdar BBI.



Terima Kasih Yaaa... untuk pengirim rahasia. Maaf kalau salah tebak :D.












23 January 2017

Peter Nimble and his Fantastic Eyes by Jonathan Auxier
www.bacaanipeh.web.id



Peter Nimble and his fantastic eyes - ".....anak-anak buta punya indra penciuman yang luar biasa dan mereka bisa tahu benda-benda yang ada di balik pintu terkunci - misalnya kain halus, emas, atau serpihan kacang - dari jarak lima puluh langkah." Zaman pencurian hebat sudah lama berlalu, sekarang ini tidak banyak pencuri anak-anak yang tersisa, baik buta maupun tidak. Namun, suatu masa dunia ini penuh dengan pencuri. Ini kisah tentang pencuri terhebat yang pernah ada. Namanya, seperti yang sudah kau tebak, Peter Nimble.

Kisah ini tentang seorang anak berusia 10 tahun, pada bab-bab awal dikisahkan bagaimana Peter yang masih bayi ditemukan oleh seorang perompak, kemudian kehidupan dia sedari baru bisa merangkak sampai harus bertahan hidup. Menelusuri kehidupan yang gelap, namun mengandalkan indra lain sebagai penunjang untuk bergerak. Kita akan diajak juga untuk bergerak melalui kegelapan dunia Peter, berusaha untuk bertahan hidup dari jalanan. Jangan dibayangkan bagaimana dia tidur, bagaimana dia makan apalagi mandi.

Bahkan, jangan pernah membayangkan apalagi berharap bisa bertukar tempat dengan Peter hanya karena petualangan yang akan ditemui dalam buku ini membuatmu sangat bersemangat. Karena, ketika kamu harus menjalani hidup bersama Mr. Seamus, sudah tentu kalian akan lebih merindukan kehidupan dengan Ayah dan Ibumu yang mencintaimu apa adanya. Peter harus bangun ketika malam menjelang, bekerja dengan keras, saat pagi hampir menjelang barulah Peter pulang untuk tidur sebentar. Karena setelahnya dia harus berangkat kembali ke keramaian untuk bekerja. Jika kamu sudah terbiasa tidur selama 8 jam sehari, tidak dengan Peter yang hanya tidur selama 3 jam saja.


Baca Juga "The Wolf of Dorian Gray"

Jangan bayangkan apalagi berharap bisa bertukar tempat dengan Peter. Tapi cukup kita ikuti saja perjalanannya ke sebuah tempat dimana lautan mulai menyusut, sampai hanya tersisa Gurun Ganjaran.


Kartu Tanda Buku

Judul : Peter Nimble and his fantastic eyes || Penulis : Jonathan Auxier || Halaman : 425 || Copyright @2011 || Alih bahasa : Rosemary Kesauly || Desain dan ilustrasi sampul : eM Te || Penerbit : Gramedia Pustaka Utama || ISBN : 9786020301525 || LBABI : 2 || Rating : 4



Danau Galau Profesor Cake



“Karena setiap botol itu berisi masalah. Saat orang-orang butuh bantuan - apakah itu karena kelaparan, kegilaan atau patah hati - mereka sering menaruh pesan dalam botol lalu melemparnya ke laut dengan harapan seseorang akan menemukan pesan itu dan membantu mereka.” ~ Hal 77



Petualangan pertama Peter diawali dari pesan yang diberikan oleh Profesor Cake pada Peter yang berisi untaian kalimat puitis yang berima a-b-a-b. Kalimat tersebut yang harus dipecahkan olehnya untuk mengetahui kemana langkah mereka akan pergi. Bersama dengan Sir Tode, yang menjadi sahabatnya - matanya - selama perjalanan menuju tempat yang belum pernah dijelajahi oleh Peter. Bahkan oleh Sir Tode sekalipun meski usianya sudah berabad-abad.

Kita akan dibawa ke sebuah tempat dimana tiba-tiba saja air laut menyusut dan tidak lagi tampak adanya laut bahkan samudra. Hanya ada gurun pasir nan tandus yang sering diselimuti oleh para burung gagak. Kehidupan bermula pada malam hari, sementara di siang hari semua harus tidur dan bersembunyi di balik pasir yang menutupi tubuh hingga bersisa bagian wajah saja untuk bernapas.

Nama gurun tersebut adalah Gurun Ganjaran. Namun, sebelum saya berkisah tentang seperti apa gurun ini, saya ingin memberi informasi sejenak tentang Danau Galau di dekat rumah Profesor Cake. Danau ini merupakan pemersatu setiap air yang mengalir dari laut atau dari sungai di negeri manapun. Jadi Danau Galau adalah tempat bermuara semua air, sehingga bisa dipastikan jika kamu mengirimkan surat melalui botol, akan melewati Danau Galau. Berharap saja suratmu bisa segera dibaca dan ditemukan oleh Profesor Cake, agar dia bisa mencari bantuan secepatnya.

Baca Juga "The Playlist"

Perlu kalian ketahui, Peter tidak pernah mengecap pendidikan di bangku sekolah. Dia hanya mempelajari cara bertahan hidup dan mencuri dari kehidupannya yang lebih banyak dihabiskan di jalanan dan di pasar-pasar serta di keramaian. Itulah kenapa, dalam memahami kalimat-kalimat puitis tersebut, dia harus berpikir keras. Apalagi akibat dari kalimat terakhir yang menghilang, membuatnya memutuskan untuk bertemu dengan si pencari pertolongan demi mengerti secara keseluruhan.

Kalau kamu menyukai teka-teki, saya yakin kamu pasti akan menyukai, bagaimana Peter dan Sir Tode saling berdiskusi tentang tempat asal sang pencari pertolongan. Dengan begitu, kalian bisa membantu Peter untuk mengurai teka-teki menjadi jawaban yang akan kalian ketahui dengan mudah. Namun, bagaimana kemudian Peter mengetahui, dimana tempat tersebut?


Angin Lembut dan Arah Yang Ditujunya



“...perjalanan mana pun merupakan salah satu sumber sukacita sejati dalam hidup. Setiap momen dipenuhi penantian penuh semangat menjelang semua hal yang akan terjadi. Rintangan dan kesulitan tidak melemahkan hati dan malah dianggap bumbu yang akan memperkaya petualangan seseorang.” ~ 92

Kalian akan menemukan jawabannya di bab ini, juga siapa sosok yang akan ditemui oleh Peter dan Sir Tode di lautan nan luas. Selain itu, negeri ini dihuni oleh makhluk-makhluk yang sudah terbiasa begini dan begitu, sehingga membuat kalian mungkin akan seperti Peter : Bingung.

Nah, sekarang saya akan sedikit berkisah tentang Gurun Ganjaran yang dijaga oleh seorang lelaki yang menyeramkan. Alkisah, gurun tersebut dihuni oleh para pencuri, semua pencuri dari semua negara berkumpul di sana. Kapal-kapal mereka rusak, tidak berbentuk lagi. Dan entah sudah berapa lama mereka tinggal di sana.

Tidak ada air di Gurun tersebut. Lantas bagaimana mereka minum? Demikianlah para pencuri ini, mereka sudah terbiasa tidak minum apa pun. Sampai, mereka akhirnya terbiasa memakan serangga atau hewan apa saja yang ditemui di balik tumpukan pasir gurun. Entah itu kelabang atau binatang apa saja, itu untuk makanan pengganjal perut mereka.

Saat mentari mulai menampakkan sinarnya, ketika deru kepak sayap terdengar dengan sangat kencang, itu pertanda kalian harus ikut bersembunyi dan mengubur tubuh kalian ke balik pasir gurun. Ini agar kalian tidak dimakan oleh sesuatu di sana. Kalau ditanya bagaimana bernapas? Ya, itu artinya kalian harus menampakkan wajah kalian saja, namun tetap harus menutup mata agar sesuatu itu tak menemukan kalian!

Perjalanan Peter memang sungguh seru, itulah kenapa saya memberi peringatan sebelumnya agar tidak berharap menjadi seperti Peter. Karena belum tentu kalian bisa bergerak tanpa diketahui sepertinya. Apalagi, belum tentu juga kalian terbiasa dengan kehidupan gelap gulita, tanpa mengetahui seperti apa warna langit dan bagaimana bentuk Sir Tode. Ya kan?


***

Membaca novel ini memang cukup menghabiskan banyak waktu, bukan tipe novel yang bisa diselesaikan dalam sehari, menurut saya. Tapi, tetap saja, gaya tulisannya serta terjemahannya yang enak dibaca, membuat saya tidak terasa lelah membacanya. Padahal alurnya lambat, sampai detil perjalanan Peter diceritakan juga, namun saya justru merasa semakin semangat ingin mengetahui keajaiban apa saja dari kotak penuh mata.

Belum lagi, motivasi setiap tokoh dalam bertindak, sangat masuk akal, meski sang penulis sudah dewasa, tapi masih bisa memberikan karakter tokoh anak-anak yang rentan terhadap pilihan-pilihan sembrono namun keras kepala. Tapi, di balik keras kepala inilah, mereka semua justru selamat dari kekuasaan gelap.

Bagi kalian yang berusia sekitar 9 tahun atau justru sama seperti Peter - 10 tahun atau lebih. Membaca novel ini akan membuat kalian merasakan juga petualangannya. Sungguh, ini buku yang bagus untuk dibaca, karena menyajikan banyak pesan yang terkandung tanpa mendikte kalian secara langsung.

Belum lagi saya mendapati cover buku ini benar-benar menarik, sehingga senang rasanya setiap membolak-balik buku, ada kesan menyenangkan serta menggembirakan. Bagaimana? Kalian sudah tahukan, harus membeli buku ini dimana? Jangan sampai ketinggalan cerita Peter Nimble, ya!


Terima kasih sudah membaca tulisan saya.


18 January 2017



Message from an unknown Chinese mother - Sebuah buku yang ditulis atas dorongan dari para anak adopsi, yang tengah mencari sosok Ibu biologis mereka. Anak-anak ini banyak tersebar di seluruh penjuru dunia. Mereka bahkan tidak pernah mengingat, bagaimana rupa sosok sang Ibu, bahkan membayangkan seperti apa rasanya dipeluk oleh Ibu biologis mereka pun tak pernah terbayangkan. Yang mereka tahu, bahwa orang tua angkat mereka, selalu berusaha untuk mencari jejak para Ibu-ibu ini.

Sebut saja Waiter, yang berarti seseorang yang menunggu, surat darinya yang dimuat dalam buku ini, juga surat-surat lainnya. Namun, surat ini yang mendorong Xinran untuk menolong sosok bayi perempuan yang dibuang di toilet umum. Waiter bercerita dengan cukup rinci di surat yang dia kirimkan untuk acara di radio yang dibawakan oleh Xinran. Kisah ketika Waiter masih begitu muda dan tengah bersekolah. Serta cerita yang membawa pembaca pada kenyataan-kenyataan tradisi yang berakar sangat dalam di masyarakat China.

Pada sekitar tahun 1990-an, generasi muda ini mulai transisi dari standar moral tradisional yang masih belaku ke masyarakat yang mengadopsi moral seksual Barat. Masalahnya banyak diantara mereka yang tidak memperoleh pendidikan atau panduan seks, mereka hidup tanpa kehadiran ilmu tentang seks di dalam keluarga, sekolah dan masyarakat. Kombinasi antara faktor ketidaktahuan seksual, tidak adanya program kesehatan seksual dan sikap munafik terhadap seksualitas di antara generasi sebelumnya, membuat para generasi muda ini terpapar dengan kebebasan seksual.

Ketidak-tahuan ini juga yang dialami oleh Waiter, ketika dia yang baru saja merasakan jatuh cinta, melakukan hubungan intim dengan pacarnya selama berkali-kali. Dia sama sekali tidak tahu, bahwa ketika dia tidak mendapat menstruasi di bulan itu adalah sebuah pertanda. Dia sama sekali tidak tahu hal tersebut, karenanya setelah itu dia justru memberi tahu pada sang pacar, yang usai beberapa hari setelahnya, sang pacar justru meninggalkannya tanpa surat atau perpisahan. Hingga hari demi hari, bulan demi bulan, kenyataan terpampang di wajahnya, bahwa perutnya terus membesar. Dia baru menyadari, bahwa dirinya hamil.

Seorang filsuf pernah mengatakan bahwa makhluk yang harus berjuang untuk hidup memiliki gen yang paling kuat bertahan. Itulah sebabnya, janin yang berada dalam perutnya, meski dibebat dengan kain dengan kencang agar tidak menampakkan perutnya yang buncit, justru masih tetap kuat dan menuntut haknya untuk hidup. Tak secuil pun kain dapat menghentikannya untuk tumbuh.

Waiter bahkan tak pernah tega untuk membunuh sang janin. Karena hanya janin itulah yang dimilikinya di dunia ini, orang tuanya akan membunuhnya jika tahu apa yang tengah terjadi pada dirinya, sekolah sudah pasti akan mengusirnya. Waiter tak memiliki siapa pun lagi selain si janin ini. Itulah sebabnya dia mempertahankannya. Dan ketika sudah hampir tiba waktunya, Waiter berbohong dengan sekolah karena dia kabur begitu saja, sambil membawa uang yang diberikan secara rutin dari orang tuanya. Kemudian memilih untuk melahirkan janin tersebut.

Setelah sang janin lahir, Waiter memutuskan untuk pergi dari rumah petugas kebersihan yang telah berbuat baik dengan mengizinkannya melahirkan di tempat tersebut. Dan Waiter pun pergi ke tempat yang jauh. Sayangnya, pekerjaan yang dia dapat bahkan tidak mengizinkannya untuk bisa mengurus sang bayi. Tempat tidur bagi pekerja, satu ruangan diisi hingga berjejal delapan orang yang tidur menumpuk. Sementara raungan sang bayi justru tidak menyelesaikan masalah. Sedangkan pekerjaannya menuntutnya untuk tidak berhenti barang sedikit!

Hingga akhirnya, dia memutuskan untuk menitipkan sang bayi di panti asuhan. Dia meletakkan sang bayi di depan pintu panti asuhan, sambil menunggu dan memastikan sang bayi benar-benar aman di sana. Malang tak dapat ditolak, tidak lama berselang, ketika dia mendapat hari liburnya dan ingin mengambil kembali sang bayi, bangunan panti asuhan tersebut tinggal puing-puing yang bertebaran. Konon, panti asuhan tersebut tutup dan tidak ada yang tahu kemana perginya para bayi itu. Bagaimana perasaan Waiter saat itu? Dapatkah Anda membayangkannya?

**

Para perempuan di China tidak pernah memiliki hak untuk menceritakan kisah mereka. Itulah sebabnya Waiter menyimpannya hingga puluhan tahun kemudian. Perempuan ini mereka hidup di hakikat terendah dalam masyarakat, harus patuh tanpa banyak tanya dan tidak memiliki cara untuk membangun kehidupan mereka sendiri. Hal ini menjadi begitu alami sehingga sebagian besar perempuan hanya berharap dua hal yaitu : tidak melahirkan anak perempuan dalam kehidupan dan tidak dilahirkan lagi sebagai perempuan di kehidupan berikutnya.

Banyak perempuan, terutama di daerah-daerah miskin, begitu menderita sehingga menjadi tak acuh atau bahkan kasar pada perempuan lain. Mereka tidak percaya bahwa anak perempuan mereka sendiri dapat lolos dari lingkaran setan tersebut. Mereka juga tak ingin anak-anak mereka membawa 'aib' bagi keluarga atau menderita nasib buruk yang sama dengan ibu mereka. Karena itu, kadang kala, sebagai wujud cinta, mereka 'membebaskannya dari penderitaan' dengan mencekik bayi mereka saat dilahirkan. Waktu mungkin berubah di China, tetapi banyak ibu yang masih berhadapan dengan pilihan yang sama.

Baca Juga "Snow Flower and Secret Fan"

Bayi perempuan tak pernah diberi masa depan dalam masyarakat yang hanya menghargai anak laki-laki. Kehidupan tak akan pernah berjalan tanpa keberadaan anak laki-laki. Tidak ada yang membakar dupa untuk kuil nenek moyang. Bukan hanya itu, tapi juga tak mendapatkan tanah ekstra. Bayi perempuan nantinya hanya akan menyusahkan, meminta makan tapi tak dapat menghasilkan, tidak dapat tanah juga tak bisa menanam benih. Pemerintah tidak menghitung bayi perempuan untuk ransum yang diberikan. Serta semakin sedikit tanah yang bisa ditanami sehingga anak perempuan akan mati kelaparan.

**

Kartu Tanda Buku

Judul : Message from an unknown Chinese Mother || Penulis : Xinran || Halaman : 274 || Penerbit : KOMPAS || KMN : 40205100081 || ISBN : 9789797095338 || LBABI : 2 || Rating : 5

**

Ada beberapa hal lain yang saya simpan dan berharap Anda dapat membacanya secara langsung. Yaitu pengalaman dari para Ibu-ibu yang mengadopsi bayi-bayi yang terlantar ini. Kemudian cerita nyata yang dituturkan langsung dari sosok Bidan yang sering menolong kelahiran para bayi kedunia. Bagian ini sungguh teramat pilu saya rasakan. Bukan hanya itu, setelah menceritakannya pada Xinran, sang bidan justru menghilang entah kemana. Membawa luka yang kembali disingkap olehnya. Namun ini berharga, sebagai celah bagi siapa saja yang membutuhkan informasi.

Serta kisah nyata, bagaimana Xinran mendirikan satu foundation di London yang berfungsi sebagai wadah bagi para anak-anak China yang diadopsi. Mereka berkumpul untuk saling memberi kekuatan satu sama lain. Semua ini sangat sayang kalau tidak dibaca dengan seksama.

**

"Apa kabar kamu, Sayang? Tahukah kamu bahwa ibumu, perempuan yang memberimu hidup dan memberikan hidupnya kepadamu, juga tengah memikirkanmu? Kamu tidak hanya menyedot susu dari dadanya, tetapi juga menyedot jiwa ibumu. Di mana kamu sekarang? Kehilanganmu telah memenjarakanku dalam kenangan. Kembalilah kepadaku! Lewatilah batas waktu, datanglah dan biarkan aku menyentuh wajahmu, biarkan aku melihatmu hidup dan bebas!" ~ Message of Unknown Chinese Mother.

Tak dapat dihindari, surat pertama dari curahan hati Waiter membuat saya terus membaca buku ini hingga tamat. Ada banyak hal yang ingin saya ketahui dari para Ibu-ibu ini. Kekuatan tersembunyi, yang lirih menguar dari balik tangis yang tak tertangkap pandangan mata. Belum lagi, Xinran justru menengahi antara konflik yang terjadi dengan jalan pikiran pembaca.

Terdapat satu kejadian, setelah Waiter menulis surat dan dibacakan oleh Xinran, kemudian bertubi-tubi banyak pendengar lain yang mengirimkan surat ke radio. Isinya hampir sama, mencaci maki Waiter dan mengatakan bahwa dia sangat tidak senonoh. Mau tahu apa yang dilakukan Xinran untuk melerai pemikiran yang tengah kalut dan membendung pembacanya?

"Aku tak percaya bahwa mereka yang menyalahkannya tak dapat bersimpati. Menurutku, karena seumur hidup kita terpapar pada nilai-nilai kebudayaan China, sifat kita sebagai manusia menjadi terkondisikan. "Perintah" yang mengatur hidup banyak orang secara efektif telah menghapus naluri manusia yang normal sehingga tak mampu mengakui cinta." ~ Hal 25

Sungguh ini penjelasan yang lebih beradab ketimbang mengatakan bahwa mereka tak berempati kemudian menggolongkan banyak orang dengan label tak berprikemanusiaan. Xinran menelusurinya terlebih dahulu sebelum memberikan pernyataan tentang kondisi tersebut. Bahwasannya, pada masa kini, pun di Indonesia banyak orang yang telah menyatu dengan "Perintah" tersebut sehingga naluri mereka berangsur-angsur terhapus sedikit demi sedikit.

Proses dehumanisasi yang pernah dibahas oleh Kuntowijoyo dalam bukunya Maklumat Sastra Profetik serta disinggung juga oleh Fuad Hassan dalam bukunya Pentas Kota Raya, menjelaskan juga tentang berkurangnya unsur kemanusiaan dalam masyarakat yang tengah berkembang mengikuti pola kebudayaan yang berangsur berubah serta teknologi yang juga memengaruhinya. Apa sebab musababnya? Banyak faktor yang menyebabkan terkikisnya sisi humanisme manusia, sangat banyak. Dan faktor-faktor tersebut tanpa sadar telah tertanam dengan baik dalam pola pikir manusia saat ini.

Buku ini, kembali membuka mata saya pada dunia yang lebih luas lagi. Saya diajak untuk menjangkau ranah yang terlalu sensitif bagi para Ibu, namun nyata adanya. Membuka mata dengan beberapa kasus dan pengalaman orang lain, belajar menjadi kuat tapi tetap berlemah lembut dari mereka. Jalan pikiran Xinran sama seperti saya, Tidak harus melahirkan terlebih dahulu untuk menjadi sosok Ibu. Tapi, jadilah Ibu bagi anak-anak lain yang membutuhkannya.

Xinran merawat bayi perempuan yang dibuang di toilet umum. Mau tahu? Ternyata sang Ibu berdiri tidak jauh dari tempat tersebut sambil berharap kehidupan yang layak bagi sang bayi. Dan dia tahu, bahwa Xinran-lah yang mengurus bayi tersebut. Sama seperti banyak perempuan lain yang mengurus bayi atau anak yang bahkan tidak dilahirkan dari rahim mereka. Dengan cinta kasih yang sama seperti seorang Ibu. Dari mereka-lah saya semakin semangat untuk berlatih menjadi Ibu yang baik bagi anak-anak yang saya temui.

Salah satunya, dengan menghindari perilaku mem-BULLY anak-anak manapun, entah anak yang dilahirkan dari rahim Anda atau anak yang menuntut perhatian lebih. Hindarilah tindakan BULLYING karena itu salah satu usaha untuk menjadi Ibu Yang Baik bagi Setiap Anak yang kita Temui.

Terima kasih sudah membaca tulisan saya, semoga apa yang saya tulis ini bermanfaat untuk Anda. Jika ada kesempatan menemukan buku ini, belilah, bacalah, karena Anda akan belajar untuk berempati melalui sebuah tulisan yang berdasarkan kisah nyata.

16 January 2017

The Playlist - Tentang Musik Latar
The Playlist



The Playlist - Buku karya Erlin berjudul The Playlist adalah karyanya yang saya baca pertama kali. Berkisah tentang seorang perempuan yang tinggal di Bandung, bernama Winona. Sebelum bekerja di YummyFood, Ino - begitu dirinya biasa akrab dipanggil - bekerja sebagai review-er musik. Kelebihan dari seorang pengulas musik, dia bisa datang ke beberapa acara konser dengan free pass, serta terkadang diminta bantuan oleh para band indie untuk mengulasnya.

Namun, sudah beberapa bulan ini Ino bekerja sebagai penulis lepas di YummyFood, dimana tugasnya hampir sama dengan pekerjaan sebelumnya, yaitu menulis ulasan. Tapi, di YummyFood, yang diulas adalah tempat makan di Bandung. Sudah banyak tempat makan yang dia sambangi dan dia tulis ulasannya. Banyak juga pembaca yang merasa senang dengan ulasan yang ditulisnya.

Pertanyaannya, apa kaitannya antara Playlist yang identik dengan musik, serta gambar garpu dan mie pasta pada halaman sampul novel ini? Pasti ada hubungannya kan ya? Sebelum itu, saya ingin memberi informasi terkait informasi mengenai buku ini.


Kartu Tanda Buku

Judul : The Playlist || Penulis : Erlin Natawiria  || Halaman : 244 || Terbit : 13 September 2016 || Penerbit : Grasindo || ISBN : 9786023756728 || Bahasa : Indonesia ||  LBABI : 1 || Rating : 3



The Playlist


Musik latar bukan sekadar aksesori bagi Winona.

Saya jarang menyadari atau bahkan memperhatikan, apakah lagu yang diputar di tempat makan yang saya kunjungi sesuai atau tidak. Namun, ini justru membawa ingatan saya pada beberapa tempat makan di daerah-daerah, misalnya ketika saya melewati jalur pantura kemudian mampir ke rumah makan di daerah Magelang. Saya ingat, saat masuk ke dalam tempat tersebut, suara musik serta sinden yang menyanyi dengan lagu berbahasa jawa terdengar. Meski saya tidak begitu mengerti artinya, tapi ini memang membuat perubahan suasana yang besar.

Atau ketika melewati suatu daerah, dimana lagu di radio-radionya juga ikut berubah bahasanya. Pastinya perjalanan juga memiliki kesan yang berbeda. Inilah yang dilakukan oleh Winona, baginya musik latar yang diputar di suatu tempat makan sangat penting. Agar pengunjung juga dapat menikmati sensasi makan yang berbeda. Malah, dia akan memulai penilaian dari musik latar tersebut, barulah dia melakukan interview dengan pemilik tempat makan. Setelahnya, Ino akan menilai makanan yang disajikan dengan mencicipinya.

Food writer, demikian yang tertulis dalam buku ini. Pekerjaan yang sedang digeluti oleh Winona yang membuat saya tertarik. Terlebih, saat ini yang namanya Food Blogger sudah mulai banyak, dimana para blogger bebas menilai setiap tempat makan yang mereka kunjungi, tanpa terikat prosedur ini dan itu. Berbeda dengan menulis ulasan untuk majalah dimana sudah tentu kita harus mengikuti aturan yang berlaku di tempat tersebut.

**

Membaca buku ini, seperti mengikuti rutinitas sang penulis ulasan setiap harinya. Ini mengingatkan saya juga pada beberapa teman saya yang memang seorang food blogger. Dimana blogger ini mengkhususkan dirinya untuk menulis ulasan tentang makanan. Kalau saya pribadi lebih dikenal sebagai Book Blogger, yang sering menulis tentang buku di blog saya.

Demikian klasifikasi yang ingin saya kenalkan pada pembaca. Nantinya akan ada beberapa tipe blogger lainnya, seperti Lifestyle Blogger yang membahas tentang gaya hidup, Parenting Blogger yang pastinya membahas tentang tema keluarga dan anak, Techno Blogger yang membahas segala macam teknologi dan masih banyak tipe blogger yang diklasifikasi menurut niche yang diangkat pada blog tersebut.

Kalau di blog personal, saya bisa dikategorikan sebagai Reviewer Blogger, alias blog yang isinya ulasan banyak hal. Saya lebih mencondongkan diri untuk mengulas Aplikasi yang pernah saya gunakan di handphone, mengulas film yang pernah saya tonton juga mengulas beberapa komunitas yang pernah saya tahu atau ikuti. Demikian saya memberi niche pada blog personal.

Nah, di sini, Ino sempat mengalami writer's block setelah mampir ke tempat makan bernama No.46. Sebuah tempat makan yang letaknya justru bukan di pinggir jalan, namun ketika Ino sudah sampai di tempat tersebut, ternyata ramai oleh pengunjung. Tapi, ada satu hal yang membuat Ino kemudian kehilangan banyak hal dalam kepalanya yang membuat dirinya akhirnya buntu tak dapat menulis ulasan tentang tempat tersebut.

Saya akan simpan alasan mengapa dia mengalami writer's block secara tiba-tiba setelah mampir ke No.46. Saya ingin menggaris bawahi satu kalimat, dimana Ino akan menulis ulasan tersebut paling lambat 2 hari setelah dirinya mampir ke tempat makan yang ingin diulas. Pernah saya mengikuti pelatihan menjadi blogger yang baik, di tempat tersebut juga dibahas satu hal tentang batas waktu yang ideal dalam menulis ulasan.

Begini, semisalnya saja, Anda adalah seorang bloger yang diundang ke suatu acara entah itu launching atau acara workshop. Ada baiknya sebagai blogger, menulis ulasan tentang kegiatan tersebut di blognya. Nah, lama endapan materi acara maksimal 3 hari, demikian yang saya tahu dari blogger profesional Mba Ani Berta. Kenapa maksimal 3 hari, agar tetap up to date dan tidak kadaluwarsa. Demikian juga alasan Ino untuk menuliskan ulasan paling lambat 2 hari. Dengan alasan yang sama, agar materi tersebut tidak kadaluwarsa.

**

Dari banyak hal yang saya sukai, terutama bidang kerja Ino, saya memiliki sedikit hal yang mengganggu setelah membaca buku ini. Bisa dikatakan penilaian saya ini sangat-teramat subjektif. Karena berdasarkan sudut pandang saya pribadi tanpa mengikut-sertakan pendapat atau opini orang lain.

1. Bahasa Dialog

Saya pernah membaca dan mengikuti seminar tentang Pelatihah Menulis Untuk Pemula. Dimana di salah satu materinya menjelaskan penggunaan dialog dengan menggunakan bahasa sehari-hari yang sering dipakai. Bertujuan agar dialog antar-tokoh terkesan natural atau alami. Nah, dalam buku ini, saya mendapati semua tulisannya menggunakan bahasa yang cenderung baku.

Bahkan dalam penulisan dialog. Yang membuat saya sedikit kurang bisa menyelami dan membangun penggambaran visual dalam reka adegan tokoh. Jujur saja, seandainya Erlin menuliskannya dengan bahasa dialog sehari-hari mungkin akan lebih terasa mengalir. Ini pendapat saya.

2. Membuat Bingung

Di halaman 10, saya menemukan satu kata yang entah mengapa rasanya benar-benar membuat saya bingung. Karena sudah dijelaskan bahwa Ino bekerja di YummyFood dimana Ghina - sahabatnya - yang memintanya untuk menjadi penulis lepas di sana. Namun, yang tertulis di paragraf ini, justru bahwa Ino bekerja di La Belle Luna.

Coba, saya menemukan hal ini di halaman-halaman awal, belum mencapai bagian tengah maupun akhir, yang membuat saya penasaran, memangnya Ino bagian apa di La Belle Luna? Dan seterusnya, sampai tamat saya tidak menemukan satu pun lagi pernyataan bahwa Ino bekerja di La Belle Luna. Berarti ini murni kesalahan penulisan?

Sayangnya kalau kesalahan penulisan hanya satu huruf dalam satu kata, mungkin tidak akan mengubah banyak hal, mungkin. Tapi, ini justru cukup fatal bagi saya, karena kesalahannya justru satu kata yang membuat saya sempat kebingungan hingga saya menamatkan novel ini sambil membawa pertanyaan "Ino kerja di YummyFood atau di La Belle Luna?"

**

Sejauh ini, untuk alur pada novel ini cukup bagus. Terlebih muatan profesi si tokoh utamanya justru membuat saya semakin bisa mendalami cerita karena memang memiliki pengalaman yang hampir sama. Selain itu, ketika membuka laman blog milik Erlin, saya menemukan fakta, banyak hal-hal yang berasal dari kehidupan nyatanya yang dibawa ke kisah fiksi ini.

Seperti pekerjaan Erlin, kemudian Copeland yang memang nyatanya disukai oleh Erlin. Karena terpampang jelas di postingan awal ketika saya membuka blognya. Setelah itu, beliau sendiri yang memang mengakui, beberapa tempat makan di Bandung tidak semuanya benar-benar ada. Namun, mungkin Erlin menuliskan nama tempatnya sebagai pengganti nama tempat makan yang asli, agar menyembunyikan sedikit identitas restoran tersebut, mungkin.

**

Menulis ulasan ini juga membutuhkan perjuangan bagi saya, karena belakangan memang sedang tidak begitu sehat. Belum lagi fakta harus kembali aktif sana-sini, tapi pekerjaan lain masih menumpuk. Seolah menjadi alasan yang harus saya gaungkan sebagai penyelamat. Meski akhirnya saya sadar, bahwa saya harus menyelesaikan tulisan saya sebelum semuanya terlambat.

Baiklah, untuk penilaian, bisa dilihat sendiri. Saya lumayan suka dengan pekerjaan atau profesi sang tokoh utama, sehingga saya memberinya rating 3. So, bagi kalian yang juga memiliki keluhan karena tempat makan yang dikunjungi menghadirkan musik latar yang menurut kalian kurang berkesan, sepertinya kalian tidak sendiri. Itulah yang menjadi ciri khas Ino, jadi siapa tahu kalian bisa memberikan penilaian juga pada musik latar dan beberapa tata letak serta aksesoris yang digunakan di tempat makan tersebut.

Selamat membaca dan terima kasih sudah berkunjung.

12 January 2017



Macbeth karya William Shakespeare - Kebanyakan orang menuliskan tentang karya-karya Shakespeare sebagai Shakesperian Tragedy. Berkaitan dengan kisah cerita yang senantiasa mengikut-sertakan tragedi. Tidak hanya itu, mungkin masih ingat, salah satu elemen yang sering terjadi di beberapa karya Shakespear, yaitu munculnya sosok hantu yang meninggal karena dibunuh. Bahkan dalam karya Macbeth ini sosok hantu juga tidak luput menjadi bagian dalam cerita.

Tragedi yang terjadi dalam setiap cerita karya Shakespeare, biasanya melibatkan sosok-sosok orang terpandang. Meski saya memang baru membaca karya beliau, sedikit, tapi memang tokoh-tokoh yang terlibat adalah orang dengan posisi yang mumpuni. Sama seperti dalam cerita Macbeth yang mana tokoh utamanya adalah seorang Jendral. Dengan kehadiran sosok Raja dan beberapa anak serta orang terdekat dari sang Raja.


Plot

Macbeth seorang Jenderal yang memiliki hubungan darah dengan Raja Duncan. Kemenangan telah diraih, Macbeth dan Banquo dipanggil kerajaan untuk merayakan kemenangan ini. Macbeth dan Banquo pernah menemui tiga orang penyihir yang meramalkan sesuatu tentang mereka. Ramalan ini awalnya membuat Macbeth sedikit skeptis dan tidak berharap banyak.

Namun, ketika sampai di rumah, justru Lady Macbeth mendorongnya untuk melakukan sesuatu yang sangat teramat beresiko : MEMBUNUH RAJA DUNCAN. Memang, Raja Duncan sudah terlalu tua untuk memerintah, sehingga ini dijadikan kesempatan untuk Macbeth melancarkan aksinya malam itu.

Dengan bantuan ide dari Lady Macbeth, dirinya mulai membunuh Raja Duncan dan terus menerus mengikuti saran dari sang Istri serta dari sang penyihir untuk membunuh siapa-siapa saja yang akan menghalangi langkahnya menjadi seorang Raja. Namun, rasa bersalah terus mengikuti Macbeth, tidak hanya itu, berita tentang kematian Lady Macbeth yang akhirnya memutuskan untuk bunuh diri, pun tak ayal membuatnya ketakutan.

Sampai sosok arwah yang gentayangan, membuat permasalahan menuju titik terang.


**

Membaca buku ini bagi saya tidak cukup, saya membutuhkan bantuan dari sumber lain entah itu berupa analisis, atau tesis yang berisi tentang kisah serta analisa karakter di dalam cerita ini. Seperti kebanyakan karya Shakespeare yang lain, cerita yang merupakan naskah drama yang banyak dikenal hingga masa kini. Selain itu, bahasa yang digunakan cenderung puitis, sehingga saya kurang mampu untuk menerjemahkannya secara langsung.

Berbeda dengan menerjemahkan puisi Raven karya Allan Poe, yang sedikit lebih mudah dicerna dengan bantuan gambar tentunya, sebagai visualisasi dari kondisi puisi tersebut. Selain itu, memang, kenyataannya, tokoh-tokoh yang berada dalam cerita seringkali memiliki poisis seperti Macbeth - seorang Jendral -, atau ketika saya membaca Hamlet yang merupakan seorang Pangeran.

Demikian juga dengan karyanya yang termasyhur yakni Romeo and Juliet, dimana Juliet sendiri memiliki asal keluarga yang memiliki posisi terpandang. Jadi, cerita yang diangkat oleh Shakespeare, bukan sekadar cerita rakyat biasa, tapi menyertakan konflik, intrik dan politik di dalamnya. Bahkan, beberapa peneliti juga menyebutkan, adanya kecenderungan gangguan psikologis dari beberapa tokohnya.

**

Meski harus dibantu dengan beberapa analisa dari penulis lain tentang Macbeth, tetap saja, saya tidak bisa menuliskannya dengan baik di sini. Hanya sedikit yang tersirat yang bisa saya tuliskan, seolah-olah terlalu banyak ide di otak saya, namun saya tidak dapat menuliskannya, menjabarkannya dengan runut sehingga bisa dibaca banyak orang.

Memang rasanya sungguh disayangkan, tapi, saya jadi merasa sangat puas. Karena bisa menyadari, keberadaan sosok hantu yang sering membantu pembongkaran kedok kejahatan. Yang kemudian diyakini dengan sisi delusi dari tokoh-tokoh yang ada dalam cerita. Ada juga yang berpendapat bahwa ini merupakan perwakilan kondisi masa-masa kehidupan Shakespeare, dimana hal-hal yang terkait dengan magis atau ilmu hitam masih kental dipercaya.

Pun, bagi saya sendiri, pemikiran saya, masa hidup Shakespeare berbeda dengan saat ini, dimana terkadang kejahatan dapat dengan mudah tercium baunya. Didukung dengan teknologi yang bisa membantu melacak keberadaan si penjahat tersebut. Tapi, tidak menutup kemungkinan memang, keberadaan sosok lain dalam membantu mengurai kejahatan.

Saya kembali teringat dengan novel karya John Conolly, Every Dead Thing, dimana sang detektif meminta bantuan cenayang untuk menemukan siapa dalang kejahatan dari pembunuhan tragis yang terjadi di keluarganya. Entah apakah ini termasuk, fans mengikuti sang idola, atau memang semacam kepercayaan yang terus turun temurun.

**

Membaca sastra klasik memang tidak semua orang bisa menikmatinya. Tapi, meski begitu, tidak ada salahnya juga untuk membacanya sendiri, merasakan kebingungan, merasakan pikiran terus menebak-nebak apa maksud dari kalimat tersebut, agar terbiasa memecahkan sesuatu yang dirasa sulit. Pun, ketika pertama kali saya membaca karya Shakespeare, saya tidak dapat menemukan ritme membaca sehingga terasa berjauhan.

Namun, saya terus mencoba hingga akhirnya bisa menikmati setiap karya yang ditulis oleh Shakespeare, meskipun membutuhkan bantuan lain. Sama halnya dengan menikmati canto-nya Dante, Divine Comedy, saya membutuhkan sumber lain dari orang-orang yang paham, sehingga saya bisa mengerti dan memahami apa maksud dari canto bari sekian dan sekian.

Semoga Anda semakin semangat untuk membaca karya orang-orang yang telah berjasa dalam dunia sastra ini.


07 January 2017

The Wolf of Dorian Gray
source : Goodreads
The Wolf of Dorian Gray - Siapkan diri ketika membaca novel tentang Dorian Gray karya Brian S. ini. Karena mungkin akan ditemukan sisi lain dalam hidup yang belum pernah tereksplorasi. Entah berasal dari rasa takut, kecewa, kehilangan atau kesedihan mendalam serta dendam yang tak tuntas.

Hati-hati juga dengan keinginanmu. Apalagi keinginan untuk TETAP AWET MUDA dengan melakukan apa pun demi mendapatkan apa yang diinginkan. Karena bisa jadi, keinginan itulah yang membawamu pada keterpurukan hari demi hari dan melibatkanmu dalam rangkaian masalah yang tak kunjung usai.

Dorian Gray merupakan tokoh yang 'diciptakan' oleh Oscar Wilde dalam novel The Picture of Dorian Gray. Dan masih ada kaitannya dengan novel ini, tentang lukisan yang menjadi kunci dari kenyataan yang tak akan pernah bisa diterima dengan mentah-mentah.

Novel fanfiction ini, memang bukan karya yang buruk. Saya tidak berbohong. Karena saya diberi keleluasaan untuk memberikan ulasan yang jujur. Namun, sayangnya, saya masih belum bisa mengkritik karyanya. Tapi, selama saya membaca novel ini. Saya menemukan bahwa cerita ini memang menarik. Mungkin, karena saya belum pernah membaca karya aslinya?



Kartu Tanda Buku

Judul : The Wolf of Dorian Gray || Penulis : Brian S. Ference || Halaman : 212 || Terbit : 5 Desember 2016 || Bahasa : Inggris || Format : Ebook || Genre : Thriller / Horor || ISBN13: 9780998325200 || LBABI : 2 || Rating : 🌟🌟🌟 || Tautan Amazon : http://amzn.to/2emrS1y



Alur

Sage jatuh cinta pada Dorian, karena dia lelaki yang tampan, bersemangat, enak diajak berbincang dan memiliki pergaulan yang luas. Rasa cinta inilah yang membuatnya melukis wajah Dorian di atas kanvas. Sehingga membuat Lady Helena penasaran.

Siapa sangka, malam itu justru Dorian tiba di tempat Sage. Pertama kali bertemu Lady Helena sudah berusaha menarik perhatian lelaki ini. Hingga membuat Dorian tak dapat menolak. Dan ketika mereka berbincang, justru Dorian berharap bisa terus bernincang dengan Lady Helena dan ini membuat Sage merasakan sedikit cemburu.

Perbincangan tersebut membuahkan sebuah pernyataan, bahwa Dorian akan membayar dengan cara apa pun agar tetap awet muda. Setelah dia melihat hasil karya Sage yang amat luar biasa itu.

Kemudian hari demi hari berlanjut dengan pertemuan demi pertemuan Dorian dan Lady Helena di beberapa acara atau pesta. Kemudian suatu hari, Dorian menceritakan sebuah kisah yang dia alami, yaitu cerita tentang cinta pertamanya.

Adalah seorang wanita berusia 17 tahun yang pernah memainkan peran Juliet dalam sebuah teater yang ditonton oleh Dorian. Rasa cintanya itu begitu kekal, terlebih akting Sibyl memang memukau dan dia menjadi sosok yang banyak dikagumi.

Baik Dorian dan Sibyl memendam buncahan rasa cinta yang kemudian berkumpul menjadi tak terbendung. Hingga pesan peringatan dari Ibu dan Kakaknya, tak didengar oleh Sibyl dan dia tetap memilih Dorian.

Sayangnya, rasa cinta itu justru membuat Sibyl tidak lagi bergairah dalam dunia akting. Sampai suatu ketika, saat Dorian mengajak Lady Helena dan Sage menonton pertunjukan Sibyl. Perempuan muda ini tidak menampilkan akting terbaiknya. Seolah-olah dia adalah pemain pemula yang justru membuat kecewa banyak orang, khususnya Dorian.

Malam itu, hubungan mereka putus. Dorian meninggalkan Sibyl karena rasa kecewanya. Dan menghabiskan banyak waktu dengan Lady Helena. Dan apa hubungannya dengan sang Serigala?

Di bab awal, dikisahkan bahwa serigala kecil itu ditemukan oleh Sage di sebuah hutan. Dirawatnya hingga besar, namun sang serigala justru memilih Dorian sebagai Masternya.

Nah, keseruan yang sebenarnya justru terfokus pada dua karakter ini juga. Dorian dan sang serigala peliharaannya.

"There on my desk is the first passionate love-letter which I have ever composed in my life—and it is addressed to a dead girl."

Kekuatan Magis Sage

Ada sebuah kisah misterius yang disampaikan Sage pada Dorian pada malam ketika dirinya merasakan kejanggalan. Kemudian mengisahkan tentang sebuah kekuatan magis yang tak pernah sampai pada pemikiran rasional manusia pada umumnya.

Ketika Sage masih kecil, dia dan kedua orang tuanya tinggal di karavan Roman, mereka memiliki seekora kuda. Tempat favorit Sage untuk menggambar biasanya di lapisan kayu. Sampai suatu ketika dia mendapat sebuah hadiah, berupa arang dan cat minyak. Dan suatu hari, sang Ibu mengajaknya masuk ke dalam hutan untuk mencampur herbal dan buah beri. Beliau mengajarkan padanya beberapa nama dan fungsi semua herbal tersebut.

Suatu hari Sage dikenalkan pada sebuah senandung Romani yang ternyata bentuk pemanggilan sosok arwah bernama Mulo dan dia dilarang untuk mencampurkan tiga bahan dan sesuatu yang bercahaya. Karena itu akan mendatangkan sesuatu yang tidak akan pernah terpikirkan oleh Sage.

Pertemanan Dorian dengan Lady Helena

Semenjak sering menghabiskan waktu dengan Lady Helena, Dorian berangsur-angsur berubah sikapnya. Menjadi lebih sedikit 'liar' dan pandangannya terhadap kehidupan juga berbeda. Sementara itu, tanpa disadari olehnya, banyak juga pemikiran-pemikiran tentang hidup yang berbeda dari Dorian. Sage merasakan hal ini, karena dia sosok yang terlalu polos dan 'lurus'.

Namun, tidak semua hal pengaruh dari Lady Helena buruk, ada beberapa hal yang juga baik untuk Dorian, demi pandangan bisnisnya agar lebih baik. Meski akhirnya dia harus menghabiskan waktu untuk minum-minum dan berpesta.

Sampai menjelang akhir, Dorian juga berkeliling tempat bersama dengan Lady Helena dan berbincang tentang banyak hal. Ini juga sebagai cara untuk membuat sibuk pikiran Dorian dari banyak tragedi yang terjadi dan menyebabkan sebuah rumor merebak.

Kisah Masa Lalu Lady Helena

Lady Helena dan ayahnya sering bersama, keduanya sangat kompak dalam urusan bisnis. Ketika sang Ayah tengah berdiskusi masalah bisnis, Lady Helena akan membantu untuk mengalihkan perhatian sang client agar bisa langsung memutuskan untuk bekerja sama dengan mereka.

Tapi, ada sisi kelam yang membuat Lady Helena menjadi sosok perempuan yang bahkan tampak tidak memercayai sosok lelaki. Sudah bisa ditebak pastinya, ini masalah trauma dengan hubungan bersama seorang lelaki. Tapi, bagaimana kejadiannya? Bisa dicari tahu langsung dengan membaca ceritanya.

Pun, banyak sekali kehebatan kemampuan Lady Helena dalam bidang bisnis sehingga tidak bisa disangkal, pertemuannya dengan banyak orang membuatnya mendapat banyak pengalaman tentang kehidupan dan cinta.

**

Membaca fanfiction karya Brian membuat saya bertanya-tanya, pastinya karya Oscar Wilde lebih mantap. Apalagi banyak pembahasan yang konon berkaitan dengan jati diri, keangkuhan dan gaya hidup dari cerita aslinya. Namun, dalam novel ini, ada beberapa kejadian yang berkaitan dengan tragedi masa lalu. Saya suka dengan gaya penulisan Brian yang enak dibaca.

Oiya, ada beberapa yang tidak saya ceritakan di sini seperti Transformasi Dorian, Apa yang muncul dalam Lukisan karya Sage, Kemana Sage berada, Apa yang terjadi dengan perempuan di pertemuan Dorian bersama Lady Helena serta banyak hal seperti beberapa tragedi yang menyebabkan rumor tentang Dorian merebak, rumor yang tampaknya tidak masuk akal tapi berkaitan tidak secara langsung dengan Dorian.


Ulasan ini murni berdasarkan pengalaman membaca saya pribadi sebagai timbal balik pemberian ebook secara cuma-cuma

05 January 2017

Musashi Buku Ketujuh Terbitan Tahun 1985
Musashi - Eiji Yoshikawa



Zaman keemasan Musashi memang tampak sudah lewat, masa-masa dirinya dikenal sebagai samurai yang ditakuti oleh banyak orang juga semakin jauh. Bisa dikatakan masa ketika saya membaca buku ketujuh ini, adalah masa tenang bagi Musashi. Tapi, di sinilah moment dimana dirinya mempelajari banyak hal serta belajar untuk memahami. Ketika keputusan untuk kembali menjadi samurai, sudah hampir terjadi. Otsu, hendak dikirimkan untuk menemani Musashi. Namun, ketika Otsu sudah berangkat, ternyata berita tersebut tiba.

Berita tentang pembatalan pengangkatan Musashi, yang kemudian mejadi pertanyaan adalah kemana lantas perginya Otsu? Dan Hyogo akhirnya memutuskan untuk pergi bersama dua orang asistennya. Mencari dimana keberadaan Otsu. Di perjalanan mereka berdua bertemu dengan Genosuke dan Iori, keduanya juga menuju suatu tempat. Namun, ternyata pertemuan dengan orang-orang berpakaian seperti pendeta, membuat Iori dan Genosuke terpisah.

Kisah ini terjadi ketika Nara tak lagi menjadi Ibu Kota. Jauh setelah kehidupan Oda Nobunaga, sangat jauh. Kondisi yang tengah terjadi saat itu adalah banyak orang yang bahkan merasa was-was dan tak lagi merasa aman. Mereka merasakan ketakutan yang teramat dahsyat. Bahkan tampak skeptis dengan perlindungan samurai yang memang seharusnya demikian.

Pun, juga bagi para samurai, mereka berpikir kembali tentang Bushido yang seharusnya mereka pegang. Mereka mempertanyakan kemana langkah kaki harus terarah. Semua orang berada pada masa terombang-ambing. Tidak menentu harus mengambil keputusan seperti apa. Sementara itu, kejahatan merajalela, banyak terjadi pemberontakan dan pengambilan wilayah secara paksa.

“Kalau engkau tahan menghadapi kesulitan, engkau akan memperoleh kesenangan yang lebih besar dari derita. Siang dan malam, jam demi jam, orang dipermainkan oleh ombak derita dan kesenangan berganti-ganti. Kalau mereka mencoba hanya untuk menikmati kesenangan, berarti mereka tidak lagi hidup yang sebenar-benarnya. Dan kesenangan akan lenyap.” ~ Musashi, hal 111


**

Kartu Tanda Buku

Judul : Musashi Buku Ketujuh || Penulis : Eiji Yoshikawa || Halaman : 282 || Ali bahasa : Tim Kompas || Penerbit : Gramedia Pustaka || Terbitan : Desember 1985 || LBABI : 2 || Rating :


**

Rating rendah yang saya berikan untuk buku ini, disebabkan oleh efek terjemahan yang ternyata berpengaruh dari tahun terbit buku ini. Yaitu tahun 85, dimana bahasa yang digunakan kental sekali dengan bahasa melayu. Rasanya cukup membuat saya kurang nyaman sehingga beberapa kali berusaha untuk mencerna maksud dari kalimat atau tulisan dalam paragraf demi paragraf.
Pertama kali saya mengenal Musashi, justru dari buku karya Juniciro Tanizaki, yang membahas tentang masa muda Musashi serta kegemarannya. Dengan judul Secret History of Lord Musashi, yang berisi beberapa hal menarik terkait sosok yang dipandang mulia dan pemberani ini. Dari situlah saya langsung membeli buku yang dijadikan serial dan dijual secara cabutan di sebuah online shop.

Kemudian berakhir pada, ketidak mampuan saya menebak ini siapa dan kenapa, karena buku pertama yang saya baca justru melompati jauh ke buku nomor 6 kemudian buku nomor 7 yang saya baca ini. Menyedihkan rasanya membaca tulisan yang berisi sejarah tapi tidak dari awal, sehingga banyak ‘lubang’ ketidak-pahaman yang membuat saya akhirnya tak mampu menebak.

Dan untuk tulisan Eiji Yoshikawa, saya pernah membaca karyanya dari buku Oda Nobunaga, terkesan pertama kalinya dengan informasi yang disampaikan melalui kisah yang dirangkai dengan menarik. Seolah-olah Eiji hidup di tahun yang sama, kemudian menjadi asisten pribadi dari sosok Oda Nobunaga tersebut. Dan, buku pertama yang saya baca waktu itu, mengantarkan saya pada rasa penasaran dengan buku-buku karya Eiji lainnya.

Setelah ini, mungkin saya akan mencoba membaca Musashi yang versi hardcover, bersama dengan buku Taiko yang beberapa tahun lalu sempat banyak beredar, namun sekarang sudah jarang terlihat. Semoga saja kami masih berjodoh.

04 January 2017



Tantangan Baca Ulas 2017 - Sudah berganti tahun, beberapa buku yang tertimbun juga masih numpuk segitu-gitu lagi. Ahahaha, astaga, ini kayaknya never ending loop ya, gitu aja terus sampai tahun embuh. Sambil nulis ini, sambil ketawa nyeri-nyeri gimana gitu, tapi tetap bahagia karena masih bisa dikasih kesehatan dan waktu untuk membaca. Serta beberapa kesempatan baru yang muncul.

Meski timbunan saya sudah menggunung, tapi semangat untuk membabatnya juga sedang bagus-bagusnya. Tapi, untuk bulan ini, ada beberapa alasan kenapa saya akan membaca ebook terlebih dahulu.

Beberapa hal yang ingin saya laksanakan tahun ini terkait membaca dan blog buku, yaitu setelah saya setidaknya menyelesaikan timbunan buku, saya ingin mencoba untuk memulai membaca ebook, bagi beberapa buku yang jenisnya bukan buku yang wajib dikoleksi. Seperti buku-buku klasik, itu wajib disimpan dalam bentuk fisik.

Atau beberapa buku dengan cover sangat teramat menarik. Kalau enggak, saya akan mulai untuk membacanya via ebook, entah itu ebook legal atau gratisan. Alasannya cukup simple, karena ingin memberi jeda agar tumpukan buku di lemari tidak begitu sesak. Ini pun, saya hendak menyisihkan buku-buku saya dengan mencari orang yang mau mengadopsinya.

Khusus kali ini, tahun 2017, saya tidak lagi menuliskan syarat atau apalah itu namanya, terkati TBU. Karena, sepertinya sama saja ya. Etapi, kalau enggak pakai syarat, rasanya sedikit kurang sreg, baiklah saya tuliskan saja beberapa syaratnya, sedikit, enggak banyak.


Tantangan Baca Ulas 2017 :

1. Wajib menulis ulasan buku yang sudah selesai dibaca, entah itu di Goodreads atau di Blog.

2. Usahakan untuk membuat wrap up post, setiap bulan, berisi buku-buku apa saja yang sudah selesai dibaca.

3. Wajib sertakan foto buku atau ebook yang selesai dibaca.

Ya sudah, tiga itu saja dulu. Kalau kebanyakan nanti malah bingung, ahahahaha. Nah, sekarang saya ingin menyertakan daftar buku yang berada di timbunan tahun 2017. Semoga kalau kalian mampir ke blog ini, bisa tinggalkan komentar berapa banyak tumpukan buku yang kalian punya :D.


2017 Reading Challenge

2017 Reading Challenge
Ipeh has completed her goal of reading 65 books in 2017!
hide


Daftar Timbunan Buku Yang Belum Dibaca 2017


1. Dark tower buku 1 - Stephen King
2. Under the dome 1 - Stephen King
3. Under the dome 2 - Stephen King
4. Misteri Soliter - Jostein G.
5. Pilate's Wife - Antoinette May

6. Frog Music - Emma Donoghue
7. Lolita - Vladimir Nobokov
8. An Amber in the Ashes - Sabaa
9. The Bartimaeus 3 - Jonathan Stroud
10. Multatuli

11. Dear Kitty - Anne Frank
12. The Silence of the Lamb - Robert Harris
13. A mind for numbers - Barbara Oakley Ph.D
14. Psikoanalisis Sigmund Freud - K. Bertens
15. Eliza and Her Monsters

16. Boxset Peter Rabit
17. Kappa
18. Perfume
19. Anak Rantau
20. Casual Vacancy

21. The Drawing of the Three
22. An Ember in the Ashes
23. The Gunslinger
24. Khadijah
25. Boxset Senopati Pamungkas (5 buku)

26. Marry Me, Olivia!
27. Petualangan di Kapal Pesiar
28. Petualangan Puri Rajawali
29. Petualangan di Gunung Bencana
30. Toto Chan

31. Petualangan di Sungai Ajaib
32. Petualangan di Laut Sunyi
33. St. Clare Si Kembar di Sekolah Yang Baru
34. Kembali ke St. Clare
35. Musim Panas di St. Clare

36. Kelas Dua di St. Clare
37. Claudine di St. Clare
38. Kelas Lima di St. Clare
39. Saga no gabai bachan
40. Anak-anak Toto Chan

41. Senyum Karyamin
42. Corat-coret di toilet
43. Uttuki
44. Dewi Kawi
45.




BacaanIpeh 2017

The Magic Finger
Botchan
Love Theft
Petualangan di Sirkus Asing
Petualangan di Lembah Maut
The Buried Giant
Infinity
Of Mice and Men
Forgotten Colors
The Amulet of Samarkand
Bridge to Terabithia
Mercy
Caraval
Forbidden
The Visitor
Firegate: Piramida Gunung Padang
Imaji Terindah
Los dioses de Gotham
The Giving Tree
Being Henry David


Ipeh Alena's favorite books »
**

Kenapa saya membuat 60 nomor untuk daftar timbunan buku? Karena, untuk tahun ini, reading challenge di Goodreads saya set 60, lebih 5 dari tahun kemarin 55. Minimal ingin menaikkan jumlah bacaan, serta biar tambah rajin mengisi blog ini. Semoga saja ya.


Note : Ternyata daftarnya bisa melebihi 60, tak usah heran, kawan!


Happy Reading Fellas :)






03 January 2017



Emha Ainun Nadjib - Hidup itu harus pintar ngegas dan ngerem, merupakan judul buku yang berisi tentang pembahasan tentang kehidupan dan perilaku manusia di Indonesia secara garis besar. Bahkan, melalui beberapa contoh mendasar yang disertai dalam setiap pernyataan, membantu agar jalur pikiran pembaca lebih teriring secara fokus pada permasalahan. Agar tema dan topik yang dibahas tidak terlalu luas.

Secara menyeluruh, memang Cak Nun membahas tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan Islam. Karenanya, tidak heran jika beliau sering mengutip dari beberapa ayat alquran dalam penjelasannya. Untuk memberi penjelasan yang lebih baik tentang roda kehidupan dan hal-hal apa saja yang ternyata justru lebih sering dilupakan.

Saya pribadi, kebingungan. Bagaimana cara saya menceritakan isi buku ini? Meski isi tulisan ini merupakan hasil buah karya pemikiran Cak Nun, tetap saja ada beberapa hal yang masih kurang sejalan dengan apa yang saya pikirkan dan yakini. Terkadang memang perbedaan ini memang lebih seringnya campur tangan dari penafsiran yang berbeda. Namun, tetap ada beberapa hal yang berkaitan dengan kondisi masyarakat pada masa kini yang seru juga untuk dibaca. Seperti, kebiasaan orang-orang terkait kondisi masa kini.

Jadi, kemungkinan besar, saya hanya akan menyertakan beberapa kutipan disertai penjelasannya sedikit semacam rangkuman dari penjelasan buku ini. Karena, memang akan lebih dirasa manfaatnya dengan dibaca sendiri. Bukan sekadar membaca dari ulasan saja. Sejalan dengan kutipan pertama dari buku Hidup itu harus pintar ngegas dan ngerem.


Jangan gampang percaya dengan hal-hal yang terlihat. Jangan tertipu penglihatan kita. ~ hal 9

Kutipan ini terdapat pada bab 1, mengawalinya dengan kebiasaan manusia yang sering dilakukan. Tentang sudut pandang yang selalu dijadikan pembenaran. Beliau memberikan contohnya, seperti ketika kita melihat banjir, kecenderungan yang sering terjadi adalah manusia menyalahkan air. Padahal Air hanya patuh pada hukum gravitasi, dimana air akan turun ke tempat yang lebih rendah. Ada sela ia akan masuk. Itu sifat air.

Manusia yang tidak becus membuat sistem irigasi, tidak becus menyusun tata kota, hingga akhirnya air masuk. Air itu pada dasarnya taat pada Allah. Namun, berbenturan dengan kepentingan banyak orang kota, maka air yang masuk ke kota disebut banjir.




Jangan ingin menjadi orang besar. Inginlah menjadi orang yang bermanfaat. ~ Hal 43


Dalam buku ini, Cak Nun mengingatkan agar kita tidak salah niat. Agar yang menjadi landasan kita melakukan banyak hal demi kesuksesan selalui diawali dengan asas kebermanfaatan. Seberapa banyak manfaat yang sudah kita berikan pada orang lain.


Perlu ada peralihan ke spiritualitas masjid. ~ hal 50


Di bab ini, diceritakan tentang asal usul eksistensi Nyai Roro Kidul. Ketika kekuasaan politik kerajaan-kerajaan di Jawa beralih dari Hindu-Budha ke Wali Sanga, setting Hindu Budha beralih ke setting Islam. Masa wali sanga ini berlangsung sampai Pajang. Setelah Pajang pindah menjadi Mataram, wali sanga tidak dipakai lagi. Diganti spiritualitas Nyai Roro Kidul.

Raja Jawa seluruh Yogyakarta, sejak jaman panembahan Senapati, masih terkait dengan Nyai Roro Kidul. Itulah kenapa, hal ini harus diantisipasi dengan mengalihkan spiritualitas Nyai Roro Kidul ke spiritualitas masjid.


Nah, dari beberapa hal yang saya setuju, ada juga beberapa poin yang kurang saya setujui. Banyak sebenarnya, tapi akan sedikit saya uraikan dalam tulisan ini agar pembaca yang penasaran dengan isi buku, bisa menimbang dan memutuskan sendiri.


1. Tentang Membaca Quran

Jadi di halaman 17, beliau menuliskan  tentang orang-orang yang menjaga Gunung Merapi dan mensyukuri rahmat yang diberikan melalui gunung tersebut memiliki penilaian dari Allah setara dengan orang yang khatam Al-Quran.

Serta tentang pelafalan yang kurang benar dalam membaca Quran. Benar memang bagi yang belum mengetahui ilmunya, tidak masalah. Tapi, di sini, seolah-olah hal ini gampang. Jika dibaca oleh orang yang kurang pemahaman, maka mereka akan menganggap bahwa bacaan mereka sudah benar tanpa harus belajar ilmu tajwid lagi.


2. Memberikan gender pada Allah

Ya, ini berisi juga logika dari beliau. Dan di halaman 129 beliau memberikan pemikiran tentang sifat dan diri Allah yang memiliki aksen feminim dan maskulin.

Maaf, untuk banyak hal, saya tidak bisa menjelaskan kenapa saya kurang sepakat. Tapi, ini semacam warning bagi kalian yang ingin membaca tulisan ini. Agar tidak langsung menelaah tanpa dipelajari lebih lanjut.

Karena menurut hemat saya Allah itu berbeda dengan makhluk Nya. Jadi, tidak ada sisi feminim dan maskulin karena memang berbeda. Gitu.. bisa jadi penjelasan saya kurang memuaskan karena ilmu yang saya dapat masih sedikit. wallahualam


Dari dua poin di atas, semoga bisa menjadi sebuah bahan pertimbangan. Bukan, buku ini bukan buku yang jelek atau buruk atau menyesatkan. Hanya saja, buku ini berisi tafsiran tentang Agama dan Islam serta Ketuhanan dari seorang Cak Nun.

Meski mungkin pemahamannya luas, toh beliau diberi batasan juga. Sehingga untuk banyak hal, ada baiknya dilihat kembali dari ilmu dasar tentang beberapa hal yang dibahas. Apalagi ini mengikut sertakan beberapa hadis yang belum saya kenal. Jadi, ada baiknya untuk tetap menyaring apa saja yang ditulis dalam buku ini.


Karena kalau terlalu taklid, nantinya akan menyusahkan diri sendiri. Taklid akan membawa pada tindakan dan pemikiran yang sempit.


Sejauh ini, saya setuju dan sepakat, dalam bab Menjadi Manusia dulu Baru Jadi Muslim. Ini menekankan bahwa, kita harus mengenal diri kita dulu, baru bisa mengenal Allah. Kalau kita belum tahu siapa sih diri kita ini, maka akan sulit nantinya mempelajari Islam. Karena berkenalan dengan Allah itu ada ilmunya.


Kartu Tanda Buku

Judul : Hidup itu harus pintar ngegas dan ngerem || Penulis : Emha Ainun Nadjib || Halaman : 230 || Penerbit : Noura Books || ISBN : 9786023851508 || LBABI : 3 || Rating : 🌟🌟🌟