29 December 2017



Baru kali ini saya membaca sebuah karya tulis dari Eka Kurniawan berjudul Corat-Coret Di Toilet. Sebelumnya saya sudah mendengar kalau buku ini berisi kumpulan cerita yang mengorek-ngorek imajinasi disertai alur cerita yang cukup aneh lagi memabukkan. Beberapa menyukai judul-judul tertentu, beberapa ada juga yang berusaha menganalisa jalan ceritanya dan mengaitkan dengan dunia nyata.

Namun bagi saya, lebih nyaman membacanya tanpa berekspektasi apa-apa, sampai memaksa untuk mencari-cari sesuatu sesuai logika. Karena cerita di dalamnya berisi kisah-kisah yang sebenarnya bisa dikunyah dengan santai tanpa perlu ngotot berlomba agar bisa memberi komentar yang kritis. Mengkritisi sebuah karya tulis bukan bagian saya, itulah kenapa saya tidak begitu ingin mengikuti jalur mereka.

Berisi 12 cerita pendek yang beberapa sudah pernah dipublikasikan di beberapa media. Saya suka dengan cover ebook di scoop ini. Pun saya mendapatkannya dengan harga sangat murah saat ada diskon besar-besaran di Scoop. Dan buku ini, merupakan buku ke 100 yang sudah saya baca tahun 2017.


Kartu Tanda Buku

Judul : Corat-coret di Toilet
Penulis : Eka Kurniawan
Halaman : 140
Versi : Ebook Scoop
Bahasa : Indonesia
Rating : 3.5/5
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978.602.03.0386.4



Kisah-kisah Mahasiswa Dan Kebiasaannya



Memang, tidak bisa dipukul rata jika saya mengatakan kalau kisah dalam buku kumcer ini mengangkat kebiasaan beberapa mahasiswa yang sering saya lihat atau bahkan saya dengar pengakuannya langsung dari mereka. Juga tidak bisa diyakini kalau semua mahasiswa seperti itu. Tidak. Tapi saya menuliskan sub bab demikian, untuk memberikan sedikit gambaran cerita-cerita yang dituliskan di sini.

Sekitar tahun 1999 atau 2000, itu tertulis pada bagian akhir setiap cerita pendek. Menandakan tahun berapa Eka menuliskannya. Dan ketika saya menelusuri lagi, pantas saja kisah tentang para mahasiswa ini lumayan lekat dari kisah yang disampaikan oleh orang di sekitar saya yang mengalaminya.

Sebuah cerita tentang para Mahasiswa yang pada masa itu identik dengan kegiatan revolusi, reformasi dan segala re..re...lainnya. Lekat, karena pada tahun-tahun tersebut, sempat tercetus sebuah gelombang yang membuat saya dan keluarga wajib mengibarkan bendera merah putih setengah tiang.

Meski di beberapa cerpennya, seperti cerpen yang sesuai dengan judul bukunya, Corat Coret di Toilet yang kemudian mengingatkan saya dengan kondisi sosial media saat ini. Dari satu ruang yang digunakan untuk membeberkan pikiran melalui tulisan. Hingga seolah sebagai tempat mengajukan ide dan pendapat. Pada dinding toilet yang pernah dicat ulang.

Kemudian, kebiasaan mahasiswa duduk nongkrong di kampus hingga tengah malam. Atau mereka yang menjadikan ruang-ruang kosong di kampus sebagai tempat untuk tidur. Ini juga pernah saya dengar kisah nyatanya dari banyak orang. Yang membuat saya melihat bahwa cerita ini, bisa tampak seperti nyata karena mendekati kenyataan.


Dan kisah Peter Pan ini, memang banyak yang berpendapat kalau sosoknya adalah seorang sastrawan yang menghilang tanpa jejak. Bahkan tanpa ada kabar berita hingga saat ini. Masa-masa kempemimpinan seorang lelaki yang disebut-sebut sebagai diktator dalam buku ini.



Kisah Perempuan Dan Cinta Dalam Bentuk Yang Aneh



Seperti kisah seorang perempuan yang dijodohkan dengan sepupunya, saat keduanya telah menikah. Si perempuan ini kemudian memberikan syarat yang aneh sebelum mereka bercinta.

Atau tentang seorang perempuan yang terlalu cantik namun kehidupannya dikekang oleh orang tuanya. Suatu ketika dia nekat keluar rumah demi memberontak pada masa pingitannya. Kemudian berakhir dengan isu-isu yang tak tahu mana kebenarannya.

Hingga kisah perempuan yang bisa membuat seorang lelaki waras, kemudian menjadi lelaki gila hanya karena patah hati akan cinta. Yang membuat saya berpikir, cinta dalam buku ini berbentuk aneh tapi unik.


***

Buat kalian yang ingin membaca buku karya Eka Kurniawan. Sepertinya buku ini bisa menjadi buku untuk pemula. Karena isinya merupakan kumpulan cerpen untuk kita berkenalan dengan gaya berceritanya. Dan selama saya membaca buku ini, saya suka denga  writing style-nya. Berciri khas Eka dan tidak membuat bosan. [Ipeh Alena]

27 December 2017

Novel Uttuki Sayap Para Dewa


uttuki sayap para dewa



Baru pertama kali saya membaca novel fantasi karya Indonesia. Meski masih agak sedikit aneh, saat di bab-bab awal, tapi saat menjelang pertengahan membaca Novel Uttuki Sayap Para Dewa yang ditulis oleh Clara Ng, ceritanya lumayan bikin penasaran. Kisah percintaan anak manusia dan anak dewa yang menghadapi banyak cobaan akibat campur tangan para Dewa. Alasannya cukup masuk akal, karena salah satunya merupakan anak dari Dewa Langit dan Dewi Bumi.

Cerita ini memiliki dua tempat berbeda dengan tokoh berbeda yang saling berkaitan satu sama lain. Namun antara Naeva dan Adam, pada bab-bab permulaan hingga pertengahan masih belum terlihat benang merahnya. Hanya sedikit, sekadar mitologi yang dipelajari oleh Adam. Namun, kisah pembukanya justru cerita dari bagian Adam dan Naeva.

Seperti buku Clara yang lain berjudul Dru dan Kisah Lima Kerajaan, yang merupakan buku favorit saya. Novel ini meski bukan favorit saya, tapi cukup unik. Karena menyematkan beberapa pengetahuan tentang dewa dari Mesopotamia. Nama-nama dewa yang masih baru saya dengar seperti Dewa Anu, Dewi Antu sampai tujuh monster Uttuki.


Kartu Tanda Buku

Judul : Uttuki Sayap Para Dewa
Penulis : Clara Ng
Halaman : 408
Cetakan Ketiga, Juni 20111
Versi : Ebook Scoop
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978.979.22.6983.3
Rating : 3.5/5



Cerita Fiksi Dengan Mitologi Dewa



Pembaca akan dikenalkan dengan beberapa nama Dewa dari Mesopotamia. Beberapa Dewa dan Dewi ikut dalam campur tangan kehidupan manusia secara langsung. Seperti Dewi Ishtar yang merupakan Dewi Cinta dan Perang. Yang sangat ambisius dan terlalu impulsif. Atau Dewi Antu sang Dewi Bumi, yang saat melahirkan anak-anaknya, para monster Uttuki, langit bumi dalam keadaan gelap dan badai datang.

Dalam Mitologi yang tercatat secara legal, sebenarnya monster Uttuki hanya berjumlah tujuh. Namun, dalam cerita yang ditulis oleh Clara Ng, dibuatlah delapan anak Uttuki, dimana anak terakhirnya memiliki perbedaan yang sangat jauh dari Uttuki yang lain. Karena malu akan tampang para anak-anaknya, menyebabkan Dewa Anu mengisolasi anaknya. Karena mereka bukan hanya sekadar monster tapi dianggap sebagai iblis.


Ada lagi Dewa EA yang dikenal dengan Kebijaksanaannya. Ikut serta dalam membantu menuliskan kembali kisah perjalanan para manusia dan Dewa yang ada dalam kisah ini. Dalam hal ini, Clara menegaskan bahwa manusia sebenarnya memiliki kekuatan yang lebih, yaitu mampu menahan beban dan rasa sakit yang tampak sangat besar dan berat.

Di sini, manusia diwakilkan oleh sosok Thomas. Selain mengisahkan tentang Mitologi Dewa dan Dewi Mesopotamia. Juga menyeritakan tentang reinkarnasi yang merupakan misi untuk sepasang makhluk yang mengaku jatuh cinta.


“Mitos Marduk adalah salah satu mitos terbesar dalam segala versi mitos Babylonia. Ilmuwan mencurigai Dewa Marduk mempunyai peranan penting, simbol istimewa, dan penceritaan yang erat hubungannya dengan sistem tara surya kita.” ~ Hal 248-249



Sebuah Kisah Cinta Dari Beribu Tahun Yang Lalu



Namanya Enka, yang lahir disaat yang sama dengan kelahiran para monster Uttuki. Dia adalah anak manusia, anak dari seorang pendeta. Keinginannya ketika dia masih kecil adalah ingin bertemu langsung dengan Uttuki. Dan keinginan itu terkabul. Suatu ketika, Nania, monster Uttuki ke delapam, menemuinya.

Pertemuan itu akhirnya cukup intens dan sering. Membuat keduanya memutuskan untuk terus bertemu satu sama lain. Bahkan Nania juga menolong Enka dari kematiannya, meski ayahnya akhirnya tak tertolong. Dan hubungan mereka akhirnya membuat Dewa Anu murka.

Kisah cinta yang disajikan dalam novel ini dibuat rumit. Antara dua makhluk yang tengah diserang virus cinta, ada sosok lain yang menyintai lelaki yang sama. Sosok yang bahkan rela menukar status ke-Dewi-annya demi lelaki itu. Namun, ada sesuatu yang terasa kurang bagi saya selama membaca novel ini.

Entah apakah ini merupakan cinta pada pandangan pertama. Atau hanya karena melanjutkan cinta yang telah terukir sejak ribuan tahun lalu. Tapi bagi saya, masih terasa kurang meski mereka berdua reinkarnasi dari pasangan dari ribuan tahun lalu. Saya coba membandingkannya dengan film yang dibintangi Jackie Chan berjudul The Myth.

Di sini, Jackie selalu bermimpi seorang perempuan yang saya, terkadang dengan suasana yang aneh seolah mereka berada di masa lampau. Setelah hadir dalam bentuk mimpi, sosok perempuan dan alur kisah yang dia lihat mulai membuka jalur hingga mendatangkan banyak pertanyaan. Semua itu berasal dari ingatan beratus tahun yang lalu.

Nah, sementara antara Thomas dan Celia, dua makhluk yang merupakan pasangan sejak ribuan tahun lalu, keduanya tampak tidak memiliki ikatan dan alasan yang kuat melalui pertemuan yang hanya sebentar. Bahkan, saya merasa motivasi untuk menjadikan keduanya memiliki cinta yang begitu besar masih kurang. Meski sejarah kehidupan mereka sudah digariskan. Tetap saja, cinta keduanya saat bertemu seusai reinkarnasi harusnya tetap dibangun melalui cara-cara yang bisa menjadi bukti bahwa motivasi keduanya sangat kuat.

Berlanjut lagi ke kisah mereka. Setelah seorang Dewi menukar keistimewaannya dengan menjadi manusia. Dia menikah dan semua yang sudah digariskan sejak ribuan tahun lalu, harus terus terulang. Ada yang tetap harus mati dan ada seorang anak yang tetap ditinggal mati. Semua berulang meski telah ribuan tahun berlalu. Hingga kemudian, ada satu variabel yang diusahakan oleh beberapa tokoh demi mengubah masa depan. Demi menciptakan kisah baru dari yang telah dituliskan atas nama cinta.

“Cinta bukanlah jalan yang penuh bunga setaman dan wangi semerbak.” ~ Hal 395



***


Saya memang cukup mengetahui pada akhirnya, Clara Ng menyukai beragam genre yang dibuktikan dari beberapa buku yang sudah saya baca. Seperti buku khusus anak-anak berjudul Bagak Bumi Berhenti Berputar. Kemudian kisah petualangan Dru dan Kisah Lima Kerajaan yang dikemas sangat cantik berisi ilustrasi yang membuat bukunya tambah menarik. Kemudian Malaikat Jatuh yang kisahnya lumayan kelam sampai Pintu Harmonika yang merupakan proyek duet dengan Icha Rahmanti, kisah tentang remaja.

Selain perihal motivasi antar tokoh untuk mengambil keputusan yang kurang kuat. Bagi saya novel ini tetap enak dinikmati. Informasi-informasi sejarah yang disematkan di dalamnya cukup bagus untuk menambah pengetahuan tentang Mitologi Kuno dari Mesopotamia sampai bangsa Babylonia. Itulah sebabnya saya merasa beruntung tidak berkeskpektasi terlalu tinggi. Karena saya lumayan terselamatkan.


Selamat membaca, salam literasi. [Ipeh Alena]

21 December 2017

Pustaka Peter Rabbit Beatrix Potter Box Set


Peter Rabbit


Hari ini saya bersyukur sekali karena bisa merasakan bagaimana nikmatnya leyah-leyeh sambil ditemani dua belas buku cerita yang ditulis oleh Beatrix Potter. Kisah yang sederhana, tentang binatang-binatang dan kehidupannya yang dikemas dengan sangat manis. Disuguhi juga ilustrasi yang cantik sebagai pendukung cerita.

Tentunya ini memberikan kemudahan bagi anak-anak dalam mencerna cerita. Apalagi buku ini dikemas dalam bentuk hardcover yang membuat mudah saat memegangnya selama membaca. Dan kedua belas buku ini, menolong saya untuk mencapai apa yang ingin saya capai dalam dunia baca membaca.

Jadi, saya punya target bacaan secara pribadi, tahun ini saya ingin mencoba membaca 100 buku dimana ini merupakan tantangan berat. Apalagi, saya ingin memulainya baru sekitar bulan September. Berarti saya benar-benar harus mengejar target dan membuat rencana dengan baik agar bisa tercapai. Dan beruntungnya, kedua belas buku ini membantu saya, hampir saya mencapai angka 100 untuk tahun 2017 ini. Baru mencapai 98 buku, jadi masih kurang 2 buku lagi dan saya masih santai karena memang ada beberapa buku yang masih ingin saya baca.


Kartu Tanda Buku

Judul : Pustaka Peter Rabbit Boxset || Penulis : Beatrix Potter || Jumlah Buku : 12 || Versi : Hardcover || Bahasa : Indonesia || Penerbit : Gramedia Pustaka Utama 


1. The Tale Of Peter Rabbit


Kisah saat Peter Rabbit masih kecil, bagaimana dia sudah menampakkan kenakalan, seperti ketika dia tidak menaati apa yang dikatakan oleh sang Ibu. Peter sudah dinasihati untuk tidak masuk ke kebun milik McGregor, karena ayahnya pernah ditangkap dan dimasak menjadi pie. Namun, Peter yang nakal tetap saja masuk ke ladang milik petani tersebut.

2. The Tailor of Gloucester


Cerita ini lebih panjang, tentang seorang penjahit tua yang tinggal di Gloucester. Jahitannya banyak dikenal bagus, meski begitu, dia adalah seorang pria miskin. Suatu ketika dia tengah mendapat pesanan jas untuk putra raja yang akan menikah. Namun, dia mengalami kondisi yang tertekan akibat kekurangan benang. Sayangnya uang yang dimiliki tidak mencukupi untuk membeli benang. Ada tangan-tangan mungil yang akhirnya membantu sang penjahit saat dia terkapar karena demam.


3. The Tale of Jemima Puddle-Duck


Kisah seekor angsa yang ingin mengerami telurnya. Biasanya, telur tersebut dierami oleh ayam. Namun dia tetap memaksa ingin mengerami telurnya sendiri. Hingga kemudian dia kabur dan bertemu dengan seorang lelaki bermisai. Di sanalah, Jemima mengerami telur-telurnya, meski ada banyak tragedi yang akhirnya membuat para anjing terluka parah.


4. The Tale of Mrs. Tiggy-Winkle


Seorang gadis tengah kehilangan sapu tangan dan rok luarnya. Dia mencari ke semua tempat dan bertanya kepada si kucing, ayam dan akhirnya memutuskan untuk berjalan mencarinya sendiri. Hingga kemudian dia mencapai ke jalan setapak yang menanjak dan melihat ada pintu kayu di tengah bukit. Di sinilah Mrs. Tiggy-Winkle yang baik hati tinggal.

5. The Tale of Tom Kitten


Tom adalah anak kucing yang cukup nakal. Suatu ketika sang Ibu sudah memandikannya dengan dua orang saudarinya yang lain. Demi menyambut tamu-tamu sang Ibu. Namun sayangnya ketiga anak kucing ini justru tidak mendengarkan nasihat sang Ibu dan bermain-main hingga pakaian mereka kotor. Lihat apa yang mereka lakukan ketika dikurung di dalam kamar.

6. The Tale of Squirrel Nutkin


Kisah seekor tupai yang sangat cerewet. Dia berbuat tidak sopan setiap kali kawanannya mengunjungi pulau yang dijaga oleh seekor burung hantu. Pada setiap kunjungan, ketika kawan lainnya membawa buah tangan untuk sang burung hantu, berbeda dengan Nutkin yang justru sama sekali tidak membawa apa-apa. Sama sekali tidak bekerja mengumpulkan biji kenari, tapi justru bermain-main dan mengganggu sang burung hantu.

7. The Tale of Benjamin Bunny


Benjamin ini sepupunya Peter, keduanya melakukan petualangan dengan masuk ke ladang milik McGregor. Dengan anggapan bahwa Pak dan Bu McGregor akan pergi dalam waktu yang lama. Siapa sangka kalau pertemuannya dengan sang kucing justru membuat mereka terkurung di bawah keranjang.

8. The Tale of Two Bad Mice


Ada sebuah rumah boneka yang dihuni oleh dua boneka perempuan. Keduanya tengah pergi saat kedua tikus yang bersembunyi mulai masuk dan membawa apa saja yang mereka lihat. Ini cukup lucu, karena kedua tikus ini menganggap apa yang ada di dalam rumah tersebut dapat mereka curi dan santap.


9. The Tale of The Flopsy Bunnies


Kisah tentang anak-anaknya Benjamin yang kekenyangan akibat memakan selada. Namun, siapa sangka mereka tertumpuk oleh timbunan rumput dan ketangkap oleh Pak McGregor.


10. The Tale of Jhonny-Town Mouse


Ada seekor tikus desa yang tersesat hingga sampai ke kota. Dia keluar dan terkejut dengan kehidupan tikus kota. Di sana dia tidak merasa betah sama sekali dan berharap bisa pulang ke desa sesegera mungkin.


11. The Tale of Mr. Jeremy Fisher


Ada seekor katak yang ingin menyuguhkan makanan enak untuk tamu-tamunya. Dia memutuskan untuk memancing. Namun, siapa sangka, dia justru bertemu dengan ikan besar!


12. The Tale of Mrs. Tittle Mouse


Ada seekor tikus wanita yang gemar bersih-bersih rumah. Saking bersihnya, dia akan mengomel saat ada serangga yang tersesat masuk ke dalam rumahnya. Dia akan mengusir beberapa serangga yang tengah berteduh karena kehujanan. 

20 December 2017

The Heartbroken Hearbreaker by Sam Madison Yang Bisa Membuatmu Termehek-mehek


The heartbroken heartbreaker



Sebut saya seorang yang berhati rapuh, serapuh kue semprong yang tertindas oleh koper-koper besar hingga mengubahnya menjadi serpihan. Entah, sudah berapa kali dalam satu tahun ini, saya membaca karya yang pernah dipublikasikan di Wattpad dalam bentuk buku. The Heartbroken Heartbreaker saya terima tepat ketika saya bertambah usia di bulan desember ini.

Pada mulanya, saya tidak memercayai seberapa bagus karya ini. Tapi, saya juga tidak menganggap remeh buku-buku terbitan Penerbit Haru, Spring dan Inari. Setidaknya, mereka memiliki uji kelayakan pada setiap karya yang terbit dengan level yang lumayan lebih baik. Entah itu dari penyajian cerita, logika, alur sampai penggalian karakter. Saya tidak terlalu memuji, tapi memang itu yang saya dapat dari kinerja mereka sebagai penerbit mayor.

Saya memulai bab pertama dengan tersenyum sambil mengamati berapa banyak jumlah halaman dalam setiap babnya. Dan berpikir, saya yakin semua penggemar Sam Madison saat membaca cerita ini melalui Wattpad akan berteriak-teriak ketika mereka menunggu bab lainnya segera terbit. Pasalnya, setiap bab dalam novel ini hanya berisi beberapa lembar saja, yang memungkinkan orang kurang sabar seperti saya ini, klepek-klepek menunggu bagian terbarunya muncul.

Tapi, hal ini juga yang menjadi kemudahan bagi mereka yang tengah mengalami reading slump. Penggalan bab per bab yang sedikit ini, memungkinkan para reader-slump menyelesaikan satu bab dalam waktu yang singkat. Ini demi memulihkan rasa bosan dan jenuh agar bisa kembali semangat untuk membaca. Demikian pengalaman saya yang pernah terkena wabah Reading Slump.



Kartu Tanda Buku


Judul : The Heartbroken Heartbreaker
Penulis : Sam Madison
Halaman : 424
Cetakan pertama, November 2017
Penerjemah : Brigida Ruri
Versi : Buku
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Haru Media
Rating : 4/5
ISBN : 978.602.6383.31.0
Link Goodreads : https://www.goodreads.com/book/show/36478729-the-heartbroken-heartbreaker


Karya Fiksi Yang Lumayan Realistis 



Saya memulainya dengan bagian yang saya rasakan betul selama membaca novel karya Sam. Tentang bagaimana setiap tokohnya menyelesaikan masalah mereka, tentang rasa sakit dan kecewa yang sesungguhnya memang tidak mudah untuk dilupakan. Hingga, betapa tampak 'manusiawi' beberapa karakter yang mencoba untuk denial dengan keadaan mereka.

Seperti pada kondisi Cedric, yang berusaha menjauh dari Kyla, namun pada kenyataannya dia kerap kali berusaha mendekatinya, menasihatinya dan mencapuri urusannya dengan bertanya tentang hal-hal yang dianggap sepele. Sulit move on, demikian saya melihat gejala ini pada Cedric pada bab-bab permulaan hingga mencapai pertengahan. Tentunya, saya hanya bisa tersenyum girang, ketika Kyla dan Seth berhasil menggoyahkan pertahanan Cedric.

Atau saat Seth yang mengakui bahwa dia berpura-pura bahwa tidak ada yang terjadi antara Ibunya dengan Ayahnya Cedric. Meski itu terjadi, di sinilah saya menganggap Seth tengah denial dengan rasa kesalnya, dengan amarahnya, dengan kekecewaannya sehingga membuat segalanya menjadi lebih rumit baginya. Seolah, dia bukan seorang lelaki yang baik hanya seorang bajingan yang terus diaminkan dalam dirinya.


Dan saat Kyla, masih merasakan betapa dia masih mencintai Cedric, meski bentuk cinta itu tak lagi sama seperti sebelumnya. Ada banyak yang berubah, namun tetap tidak bisa membuat Kyla berpaling begitu saja dari sosok cowok yang bahkan sudah membantunya berdiri dengan kakinya sendiri melewati masa sulit setelah kematian ayahnya.

Juga, ketika amarah Kyla pada sang Ibu yang bahkan selalu sibuk dengan pekerjaannya. Hingga Kyla merasa tak dianggap lagi. Sampai dia sudah terbiasa tidak berbincang dengan sang Ibu merupakan sebuah hal yang normal. Hingga, mencapai satu titik bahwa seorang Ibu pun manusia yang tetap memiliki keegoisan demi membuat dirinya bisa menjejakkan kakinya dan bertahan demi melanjutkan kehidupan setelah kematian suaminya.

Pada halaman 104 saya kutip ketika Kyla memuntahkan segala kekesalannya yang selama ini dia pendam, usai melihat sang Ibu berkencan di sebuah restoran. "Membesarkan anakmu perlu lebih dari sekadar meninggalkan 20 dolar di meja untuk memastikan aku tidak kelaparan setiap hari. Apa kau bahkan tahu apa yang terjadi pada hidupku? Kau tidak bisa seenaknya tiba-tiba memutuskan untuk berakting seperti ibuku-".

Dari cuplikan dialog yang muncul pada bagian pertengkaran Kyla dengan Ibunya, bisa terlihat bahwa luka yang dibawa oleh Kyla sangat besar dan dalam. Komunikasi bukan hal yang sederhana, karena itulah banyak hubungan yang renggang akibat kurang baiknya komunikasi antar perorangan. Demikian pula yang terjadi pada Kyla dan Ibunya, yang akhirnya membuat keduanya bagai orang asing dalam satu rumah.

Setiap tokoh dalam novel ini, memiliki konflik internal masing-masing yang berkelindan dan membentuk sebuah jalinan bom yang bisa meledak secara bersamaan. Konflik internal inilah yang menjadi bumbu sedap bagi novel yang mengangkat cerita tentang hubungan orangtua dan anak, tentang kisah cinta hingga tentang persahabatan dan how to let it go.

Sebuah buku, memungkinkan memiliki tema yang sama, yang membuat berbeda adalah bagaimana mereka meracik bumbunya hingga menjadi kisah yang tidak hanya sekadar lewat bagi pembacanya, tapi menjadi kenangan yang terlampau bagus untuk dilupakan begitu saja.



Kamu Dan Aku, Kita Memiliki Masalah Yang Sama



Setiap orang terlahir dengan kotak masalah masing-masing, entah itu berat atau ringan. Terkadang setiap masalah tampak seperti sama antara satu orang dengan yang lainnya, namun tentunya memiliki variabel yang berbeda. Demikian pula dengan Kyla dan Seth yang pada mulanya mereka berdekatan demi menjadi pacar pura-pura.

Berbicara tentang pacar pura-pura, saya sempat ingin mendemo Penerbit Inari dan Penerbit Haru bersamaan, karena bulan desember ini saya dicekoki kisah Pura-pura pacaran ini. Apakah ini sebuah pertanda? Bahwa akan ada banyak kepura-puraan yang meluap di sekitar saya? Ah, saya terlalu gemar dengan hal mistis. Kembali lagi pada kisah Kyla dan Seth.





Masing-masing, antara Kyla dan Seth, memiliki alasan yang berbeda mengapa keduanya sepakat untuk menjalani kepura-puraan ini. Dua minggu adalah waktu yang dibutuhkan untuk keduanya saling mengenal satu sama lain, hingga membuka tabir rahasia yang selama ini dipendam. Baik Kyla dan Seth, keduanya memiliki masalah yang hampir sama tentang kematian dan perpisahan.

Ayahnya Kyla meninggal karena kanker, selama ayahnya sakit dia selalu setia mengunjungi sang Ayah di rumah sakit. Kisah ini dia tuturkan pada halaman 94-95, "Ayahku suka membaca. Kami harus membawa buku-bukunya ke rumah sakit karena dia terus mengeluh tidak ada yang menarik di TV. Dia terus membaca, hari demi hari, seiring kondisinya semakin memburuk. Kemudian dia menjadi terlalu sakit dan tidak mampu menahan matanya terbuka cukup lama untuk membaca. Suatu hari, dia memintaku menyalakan TV."

Sementara bagi Seth, kematian SAM - kakak perempuannya - merupakan pukulan yang membuat kedua orangtuanya semakin menjauh. Sam meninggal saat kecelakaan bersama pacarnya. Hingga kemudian baik Ayah dan Ibunya Seth saling menyalahkan satu sama lain. Sementara Seth sendiri, menyimpan luka dan kesepian serta kesedihan dalam hatinya, tanpa mampu membagi dengan siapapun.

Dengan kondisi pengalaman, kesulitan dan hubungan antar orangtua-anak yang hampir sama, antara Kyla dan Seth akhirnya membentuk sebuah ikatan yang tak mereka sadari. Keduanya saling mengisi satu sama lain, saling berusaha menjaga satu sama lain dan mendukung satu sama lain demi melewati krisis kehidupan yang sudah begitu lama mereka pendam.



Rumitnya Hubungan Antara Orangtua Dan Anak



Setelah Kyla dan Ibunya bertengkar, ada banyak hal lainnya yang terus menjadi pergumulan batin antara Ibu dan anak ini. Tentunya, semua memang tak sama ketika Ibunya Kyla menjadi single parent, apalagi Ayahnya Kyla merupakan sosok yang terbaik yang pernah dia miliki. Namun, semakin hari percekcokan antara mereka tak kunjung reda, hingga suatu ketika keduanya mulai saling terbuka dan berbincang satu sama lain.




Sementara Seth, kedua orangtuanya berpisah saat Ayahnya Seth harus pindah tempat kerja ke New York, sementara Ibunya menolak untuk ikut karena mempertahankan pekerjaannya. Namun, siapa sangka kalau Seth harus melihat sendiri perselingkuhan yang dilakukan oleh sang Ibu. Luka inilah yang membuatnya berusaha untuk meyakini dirinya sendiri bahwa hubungan Ayah dan Ibunya tetap sama dan tidak ada yang salah.

"Kadang-kadang aku suka berpura-pura aku tidak tahu tentang perselingkuhannya." ~ Hal 110 


Dan, bagi Cedric kepergian Ibunya yang begitu saja memang tidak tereksplorasi dengan baik. Hanya sempat digambarkan melalui narasi dari sudut pandang Kyla saat detik-detik menjelang akhir buku ini. Bahwasannya, setelah pergi meninggalkan Cedric dan Ayahnya, sang Ibu akhirnya menampakkan wujudnya berada di rumah sakit dan membawa rasa penasaran bagi Kyla, akankah ada rasa penyesalan dalam diri Ibunya setelah meninggalkan Cedric dan Ayahnya?



Tentang Cinta Dan Melepaskannya Pergi



Setelah putus dari Cedric, Kyla merasa dunianya mendadak berubah drastis. Dia merasa tak lagi bisa berpijak dengan benar dan menjalani hari demi hari dengan baik. Apalagi, dia sudah terbiasa bergantung pada Cedric. Terlebih, selepas kematian sang Ayah, Cedric-lah yang mengisi hari-harinya. Sementara itu, alasan mengapa Cedric memutuskan hubungan mereka, hingga saat menjelang akhir, masih disimpan rapi tanpa bisa memberikan kelegaan bagi Kyla.

Sedangkan kedekatan Seth dan Kyla dalam kepura-puraan, memang tampak seperti berhasil. Keduanya semakin dekat, dan satu persatu rahasia kelam tentang kisah cinta Seth diketahui oleh Kyla. Hingga rasanya membuat dunia Kyla seolah runtuh. Namun, dia sadar, dirinya dan Seth hanya berpura-pura, hingga ia tak mampu menunjukkan rasa sedih dan kecewanya.

Apalagi, Seth-lah yang justru lebih banyak bisa mengerti Kyla secara utuh. Dalam pernyataannya di halaman 191 Kyla mengakui : "Itu membuatku takut karena kau selalu tahu apa yang bisa membuatku senang. Kau selalu tahu apa yang harus kau katakan untuk membuatku tertawa. Kau selalu tahu bagaimana perasaanku saat aku sendiri tidak tahu apa yang kurasakan. Semua itu membuatku takut, karena kau selalu tahu segalanya."

Dari sinilah, terbukti bahwa Kyla membutuhkan Seth. Namun apakah Seth juga membutuhkannya? Atau apakah Seth sama seperti yang dipikirkan Kyla sebelum dia bertemu dengannya? Bahwa Seth adalah sosok yang gemar bergonta-ganti pacar dan menolak untuk menjalin hubungan serius?

Ada pertemuan demikian pula ada perpisahan. Pada bagian-bagian perpisahan inilah yang membuat saya tidak bisa menahan air mata. Serius! Madison benar-benar pandai memainkan emosi saya yang tengah rapuh ini. Dikoyak pula hati ini saat tengah berkecamuk perang yang tak kunjung usai, tentang kiriman paket yang tak kunjung datang #eeaa. Tapi, saya bersungguh-sungguh, Madison mampu menguasai pembaca melalui emosi yang secara halus dimainkan melalui tokoh-tokohnya.

Satu paragraf akhir di halaman 345 yang menjadi untaian kalimat favorit saya, Kita tidak bisa mengambil jalan pintas dalam hidup. Kita harus melewati momen-momen seburuhk apa pun, karena semua jalan itu sering kali mengarah ke jalan lain yang lebih baik. Tidak ada langit yang hanya memiliki bintang terang. akan selalu ada beberapa bintang redup di sana sini, tersebar di antara bintang-bintang yang terang. Dan karena itulah, langit menjadi lebih menakjubkan.

Kalimat tersebut seolah menjadi rangkaian kesimpulan yang dipelajari oleh Kyla dalam kehidupannya. Dari jatuh dan bangunnya, dari setiap air mata yang terkuras serta dari setiap luka yang mengendap dalam hatinya.


***


Bagi saya, novel ini memiliki akhir cerita yang menyerahkan secara menyeluruh bagaimana hasilnya pada para pembaca. Meski mungkin ada banyak yang yakin bahwa akan ada sesuatu lainnya yang menanti untuk para tokohnya. Tapi, tidak dipungkiri juga, bahwa kisah ini diakhiri dengan baik. Tidak berlebihan tapi cukup.

Penasaran ingin membaca novel ini? Kalau suka dengan cerita remaja, Young Adult dengan konflik tentang keluarga, sahabat dan percintaan. Novel ini jangan sampai dilewatkan. Terjemahannya juga bagus, alurnya juga mudah diikuti sehingga tidak membuat bosan.


Selamat membaca, salam literasi.

18 December 2017

#BacaDoubleABarengInari : Sebuah Novel Tentang Menggapai Mimpi Dan Persahabatan

Novel Double A


Belakangan ini saya mulai tertarik dengan novel-novel yang diterbitkan oleh Penerbit Inari. Beberapa dari novel tersebut sudah pernah dipublikasikan di Wattpad. Nah, saya sendiri jarang membaca melalui wattpad, meski saya tidak masalah membaca novel melalui gadget. Namun, memang sering menemukan kendala yang masih saya takutkan : membaca karya yang membuat saya malas untuk melanjutkannya.

Kali ini, saya ingin menulis sedikit tentang Novel Double A yang merupakan karya dari Iolana Ivanka, kalian bisa mengunjungi IGnya di @iolanaivanka , sebuah novel yang berkisah tentang tokoh bernama Anna yang harus berpura-pura menjadi pacar sahabatnya - Tiara - hanya karena Tiara takut hubungannya dengan Adrian Bramantio ketawan oleh kedua orangtuanya.

Cerita yang mainstream itu memang banyak, bahkan novelis populer atau legendaris juga sering menjadikan tema utama cerita mereka yang terlalu umum. Nah, perbedaannya adalah apakah sang penulis akan menyematkan sesuatu yang berbeda sehingga pembaca tidak hanya sekadar mengikuti kisah yang bahkan sudah bisa ditebak melalui blurb atau ide ceritanya. Tapi, mendapat sesuatu yang lain sebagai pengalaman membacanya.


Kartu Tanda Buku

Judul : Double A || Penulis : Iolana Ivanka || Halaman : 328 || Layout Sampul : @teguhra || Cetakan pertama, November 2017 || Versi : Buku || Bahasa : Indonesia || Penerbit : Penerbit Spring || Rating : 3/5 || ISBN : 9786026682109



Judge A Book By Its Cover


Saya tahu, tidaklah bijak jika saya menghakimi sebuah buku apalagi menilai bagus atau tidaknya hanya berdasarkan dari covernya. Saya mengerti, seperti buku-buku terbitan Pustaka Jaya tempo dulu, yang memang tidak menarik dari penampakannya namun memiliki isi yang bobotnya sangat baik untuk vitamin otak agar tidak memiliki kecenderungan negatif.

Namun, belakangan ini, di Indonesia, sudah marak penerbit yang sadar bahwa sampul buku yang bagus akan menambah nilai dari buku tersebut. Meski memang, sudah menjadi kewajiban bagi seorang pembaca buku untuk melihat secara keseluruhan, bukan hanya sedikit. Seperti novel terbitan Penerbit Inari yang mewakili isi dari novel.

Kalian mungkin pernah mendengar istilah Keyword atau kata kunci. Dalam dunia blogging hal ini juga sangat berlaku. Namun, ternyata dalam dunia gambar atau ilustrasi, keyword juga berlaku untuk menunjukkan tentang apa isi cerita tersebut. Saya suka dengan cover buku ini yang benar-benar merepresentasikan tema secara keseluruhan cerita. Ada kertas, pensil, berita dan penampakan dua pelajar dari belakang.

Jadi kaitan dari ceritanya apa? Kertas, pensil hingga tampilan berita itu merupakan satu bagian dalam cerita, sebuah komunitas yang berdiri sendiri dan terlepas dari kegiatan ekstrakurikurer sekolah. Komunitas Jurnalis Sekolah Cakrawala. Kenapa mereka berdiri sendiri? Ini ditujukan agar sekolah tak memiliki hak untuk campur-tangan dalam segala aktivitas di komunitas tersebut.

Sementara dua pelajar yang tertangkap dalam berita, merupakan tokoh-tokoh yang akan menjalin cerita dan segala kerumitannya dalam novel ini. Masa akhir sekolah yang memang harus dinikmati dengan baik agar nantinya menjadi kenangan tak terlupakan. Seperti kutipan lagu S07 "Bersenang-senanglah, karena hari ini yang akan kita rindukan."




Komunitas Jurnalis Masa Kini


Sebuah komunitas sudah semestinya memang membantu menggerakkan massa untuk melakukan sesuatu yang positif. Dengan pengaruh yang dimiliki oleh komunitas jurnalis di SMA Cakrawala, Gretha berhasil menarik minat banyak siswa dan siswi yang bukan saja bersekolah di SMA Cakrawala tapi juga di luar sekolah tersebut. Apalagi kalau bukan minat akan berita heboh yang tidak jauh-jauh dari gosip dan segala hal yang sensasional.

Pada mulanya, berita tersebut membuat Tiara panik. Dirinya dan Adrian - pacarnya - tertangkap basah oleh salah satu anggota tim jurnalis sedang jalan berdua. Pasalnya, hubungan keduanya ini backstreet dari orangtua Tiara, terutama Ibunya yang merupakan guru di sekolah yang sama dengannya. Alhasil, demi menyelamatkan dirinya dan nama baiknya, Tiara memerintahkan Anna untuk mau berpura-pura menjadi pacarnya Adrian.




Meski enggan, akhirnya Adrian memilih pasrah dengan ide gila Tiara. Karena jauh di dalam hatinya, dia hanya ingin hubungan keduanya tidak lagi sembunyi-sembunyi, namun bisa diketahui dengan cara yang baik oleh kedua orangtua Tiara. Juga, kekesalan yang akhirnya dipendam oleh Adrian bertambah ketika menyadari Anna - sahabatnya Tiara - justru setuju saja dengan ide ini.

Selama membaca novel ini, saya justru melihat adanya kaitan dengan eksistensi berita pada masa kini. Dimana berita yang banyak digemari dan disukai adalah berita yang tidak jauh dari berita omong kosong, hoax, berita yang tanpa memiliki penelitian apalagi analisa yang kuat dan berita tentang affair seseorang.

Tidak dapat dipungkiri kalau hal-hal demikian memang menjadi santapan yang manis bagi pembaca masa kini (bukan masa gitu). Apalagi kalau dibalut dengan trik-trik seperti Judul yang click bait, pemilihan kata pembuka yang menampar, meski isi secara keseluruhan kosong tidak berbobot. Namun, memang berita demikian justru marak dinikmati.



Bagaimana Menyikapi Bullying



Anna, mungkin seperti banyak anak-anak atau remaja lain, yang memilih untuk diam ketika tindakan bullying mengincarnya. Di sini, saya tidak akan menyalahkan apalagi memaki korban bullying, tapi justru terkadang untuk stand up apalagi berani speak up terhadap masalah yang tengah dihadapi, bukan sesuatu yang mudah. Melawan tindakan bullying memang butuh perjuangan dan sangat butuh dukungan, hanya saja bagaimana jika dukungan itu tidak didapat oleh korban?

Menilik kembali banyaknya kasus bullying yang bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di mancanegara. Bahwa kasus ini bukan hal yang mudah untuk sekadar diucapkan. Terlebih jika korban tidak memiliki dukungan yang cukup untuk berani bertindak.




Di sini Anna menghadapi bullying akibat berita yang beredar dengan luas. Pada mulanya, dia berpikir bahwa berita tersebut perlahan akan berhenti. Namun, siapa sangka kalau karena berita yang bahkan tidak mencantumkan kebenaran di dalamnya, membuat Anna harus menerima perlakuan tidak adil dari teman-temannya. Anna sempat dijegal oleh beberapa murid di kantin, belum lagi, cemooh teman-temannya yang alih-alih mencari tahu kebenaran tapi justru melebih-lebihkan berita.

Sikap Anna memang lazim ditemui di banyak kasus bullying. Namun, apa yang Adrian lakukan dengan berani berdiri untuk membela patut diberi pujian. Karena dalam artikel tersebut mengikutsertakan bukan hanya Anna tapi juga Adrian, hal yang lumrah ketika Adrian akhirnya nekat menemui Gretha dan meminta pertanggung-jawaban dari sang jurnalis ternama seantero sekolah itu.


"Yang pertama, apa komunitas jurnalis kasih tahu apa alasan kami tinggal bareng? Nggak. Kenapa? Karena mereka juga nggak tahu apa alesannya. Yang kedua, apa komunitas jurnalis berusaha buat cari tahu alasannya? Nggak. Kenapa? Karena yang mereka pikirin itu cuma keeksisan web mereka aja. Harusnya komunitas kayak gitu bisa jadi wadah positif buat orang-orang yang mau terjun di dunia hiburan. Seharusnya komunitas jurnalis itu ada buat mengungkap kebenaran, kan?

"Sama sekali enggak ada secuil pun alesan yang diselipin di artikel itu."

- Double A Hal 213

Dari tokoh Adrian, bisa ditelusuri lagi, bahwa stand up demi diri sendiri terhadap fitnah apalagi bullying dengan data dan analisa yang tepat, merupakan bentuk dari perlawanan. Siapapun berhak untuk membela diri sendiri apalagi membela orang yang sudah kita yakini benar. Namun harus disertai pula dengan analisa, data dan informasi yang konkrit dan aktual. Bukan hanya sekadar 'katanya' dan sekadar amarah serta caci maki saja.



Jatuh Cinta Bukan Alasan Untuk Tidak Mengejar Cita-cita



Mau itu persahabatan apalagi percintaan, sudah semestinya memang jangan membuat kita pribadi menjadi berhenti untuk mengejar impian. Tentunya, terkadang impian yang kita miliki bisa tak sama lagi dengan saat kita jomblo - misalnya. Tapi, jangan juga dijadikan alasan, karena mikirin si dia, malah membuat nilai merosot.

Ini terjadi pada Tiara, salah satu tokoh yang membuat saya kesal bukan main. Saking kesalnya rasanya ingin menelan biji kedondong! Eh.

Tiara dan Anna memang berbeda, nilai Tiara di sekolah biasa-biasa saja. Namun, semenjak pacaran dengan Adrian, nilainya merosot tajam hingga kurang dari nilai standar. Apa sebabnya? Selama berpacaran dengan Adrian, Tiara malah sibuk untuk mengobrol dengannya setiap waktu. Bahkan dia pernah menelpon hingga larut malam. Ketika Adrian mencoba untuk membuat jadual belajar bareng dengan Tiara, alih-alih belajar, justru berakhir jalan-jalan atau sekadar hangout berdua.

Waktu untuk Tiara belajar justru semakin sedikit. Inilah yang membuat Tiara akhirnya harus menghadapi omelan orangtuanya karena kemerosotan nilai sekolah. Berbeda dengan Anna yang rajin dan tekun belajar. Sehingga nilai-nilainya selalu membanggakan. Itu karena Anna memiliki mimpi dan dengan gigih memperjuangkannya.

Ada beberapa konflik yang disodorkan pada tokoh-tokoh di dalam novel ini, berkenaan dengan cita-cita dan masa depan mereka. Seperti dalam kehidupan, ada yang memanfaatkan kesempatan meski sedikit untuk meraih impian dan cita-cita. Ada juga yang kemudian menyesal karena kurang totalitas dalam berusaha. Demikian pula, dengan kisah Anna yang akhirnya mampu meraih apa yang diimpikan. Eits, jangan pesimis, di sini kalian akan tahu seberapa besar perjuangan Anna dalam berusaha.


"Orang yang pintar bisa kalah sama orang yang tekun. Orang yang tekun juga bisa kalah sama orang yang beruntung. Lo bisa jadi orang yang tekun atau orang yang beruntung itu. If you give up, you will regret it forever, Dri. Nggak ada salahnya buat mencoba, kan?" - Double A, Hal 265



Kisah Hubungan Orangtua Dengan Anak



Ini adalah tema yang membuat saya lemah. Entah itu film atau cerita, kalau sudah berdekatan dengan tema hubungan antara orangtua dan anak, sering membuat saya mudah emosional. Kalau pernah membaca novel karya penulis legendaris Charles Dickens, novel A Tale of Two Cities ini juga mengisahkan tentang hubungan tersebut.

Kalau dalam novel ini, ada tiga keluarga yang diperlihatkan, meski yang ditonjolkan adalah hubungan antara Anna dan Ayahnya. Karena Ibunya Anna meninggal ketika dia masih SMP, itu membuat keduanya dekat sekali. Mereka sering menghabiskan waktu dengan berlibur bersama ke pulau terpencil, atau mengunjungi makam Ibunya setiap hari ulangtahun sang Ibu. Sampai berbincang kala sarapan atau makan malam.

Kedekatan ini menjadi siksaan ketika sang Ayah ditugaskan ke Makassar selama setahun. Perpisahan, meski sebentar, bukan hal yang menyenangkan apalagi jika kita sudah terbiasa bersama dengan orang yang kita sayangi satu-satunya di dunia ini. Sedih, setiap mendapati bagian Anna yang merindukan Ayahnya. Meski keluarga Adrian - Om Hari dan Tate Risa serta Lilian adiknya Adrian - semua menyayangi Anna seperti mereka menyayangi anak mereka sendiri. Namun, tetap saja ada perbedaan yang membuatnya lebih merindukan waktu-waktu bersama sang Ayah.

Sementara satu keluarga lainnya yaitu kedua orangtua Tiara, yang sedikit digambarkan sebagai sepasang suami istri yang tidak bangga dengan nilai anaknya. Sering membandingkan Tiara dengan Anna, sehingga membuat Tiara yang egoisnya minta ampun, akhirnya semakin bertambah iri dengan Anna, meski mereka berdua bersahabat. Baik Tiara dan Anna memang sama-sama anak tunggal, namun keduanya memiliki sifat dan karakter yang sangat jauh berbeda.


***

Saya memberikan tiga bintang untuk novel ini. Satu untuk karakter yang konsisten, seperti Tiara yang sampai ending pun tetap menyebalkan dan keras kepala. Juga untuk karakter Anna yang meski ada beberapa kali bagian yang membuat saya mengernyitkan dahi, namun saya suka ketika dirinya masih terus keras dalam berjuang meraih impian. Bintang kedua untuk bumbu cerita dengan konflik yang lumayan, tidak langsung seketika selesai, tapi tetap disuguhi konflik kecil menjelang bagian akhir tapi diselesaikan dengan baik. Dan Bintang ketiga saya berikan untuk emosi karakter dan konflik internal yang digali dengan baik.

Jadi, kalau suka dengan novel-novel ringan yang berkisah tentang persahabatan dan jatuh cinta masa-masa sekolah. Saya sudah memberikan pertimbangan di atas, melalui apa-apa saja yang menjadi daya tarik tersendiri dalam novel ini. Saya tidak berlebihan dalam menilai, tapi berdasarkan pengalaman membaca saya saja. Toh, selama ini saya bersyukur karena Penerbit Inari dan jajaran penulisnya, sangat terbuka meski saya menuliskan beberapa keberatan dalam ulasan.

Dan kalau ditanya kenapa saya tidak memberikan keberatan tersebut? Karena keberatan ini, berkaitan dengan selera, sehingga bagi saya tidak cukup bagus untuk ditampilkan. Selain itu, saya memilih menuliskannya bukan secara ulasan atau rangkuman utuh cerita di dalam novel ini, karena sebenarnya dari blurbnya saja kalian sudah bisa menebak. Namun, saya berikan beberapa poin di atas, sebagai sesuatu yang menjadikan novel ini memiliki rasa berbeda dari biasanya.


Selamat membaca, salam literasi.



17 December 2017

Pontius Pilatus's Wife : Claudia Procula Istri Pilatus


Pilatus Wife


Pontius Pilatus, seorang pria yang dalam catatan sejarah merupakan orang yang paling bertanggung jawab atas kematian Yesus. Fakta terkait ini juga tertulis di dalam Alkitab, dimana sempat dicatat oleh beberapa review-er di Goodreads, tertulis di Mat. 27 : 24-25. Saya mengutipnya juga karena memang tidak begitu mengetahui perihal ini. Sehingga ini mendatangkan rasa keingintahuan yang besar pada diri saya.

Di dalam buku ini, Antoinette May tidak mengisahkan tentang Yeshua, melainkan menceritakan sejarah dari kacamata Claudia, istri dari Pontius Pilatus yang ternyata memiliki kelebihan untuk melihat masa depan. Pada masanya, dia dianggap sebagai seorang penyihir, bahkan ketika mimpi serta penglihatannya dikenal oleh masyarakat luas saat pertandingan Gladiator. Saat itulah dia dianggap sebagai wanita yang tidak boleh dianggap remeh.

Membaca buku Sejarah-Fiksi seperti ini, justru menyenangkan, karena mengajak saya mengenal berbagai tragedi yang pernah terjadi pada masa Romawi berjaya. Juga, mengenalkan kepada saya betapa banyaknya Dewa dan Dewi yang disembah oleh masyarakat pada masa itu. Tidak hanya ketika Claudia berada di Monokos, sebuah desa di dekat pantai Mediterania. Tapi juga ketika dia berpindah tempat ke Antiokhia hingga ke Roma dan Galiea.

Saat usianya masih teramat muda, dia mulai memiliki keinginan dan ketertarikan pada Dewi Isis. Dimana pada saat itu, bahkan Ibunya menganggap hal itu tidak menarik dan aneh! Ibunya menyembah Juno, meski dahulu pernah menyembah Isis. Karena Tata - ayahnya - sangat membenci Isis. 

Buku ini berisi 4 bagian yang dipisah kembali menjadi bab-bab pemisah yang menandakan suatu kejadian tertentu. Sehingga kita akan dengan mudah mengingat bagian-bagian dalam kepingan sejarah yang saling berkaitan satu sama lain. Selain itu dengan balutan fiksi, tentunya sejarah yang dipaparkan di sini tidak akan membuat bosan.


Kartu Tanda Buku

Judul : Pilate's Wife (Istri Pilatus) || Penulis : Antoinette May || Halaman : 540 || Alih Bahasa : Ingrid Dwijani || Versi : Buku || Bahasa : Indonesia || Penerbit : Gramedia Pustaka Utama : Rating : 4/5 || Terbit : Juli 2011 || ISBN : 978.979.22.7204.8



Tentang Claudia Remaja Dan Perkenalannya Dengan Isis



Sejak kecil, Claudia memang sudah berbeda dengan Marchel - kakaknya - dalam hal apapun. Apalagi dia memiliki kelebihan yang sering menghampirinya. Pada halaman 19, digambarkan bagaimana terkadang penglihatannya itu membuatnya takut, Aku ingat sedikit, dan paham lebih sedikit lagi, tapi selalu terbangun dengan perasaan ngeri akan adanya bahaya yang mendekat. Frekuensi dan intensitas penglihatan pada malam hari ini meningkat sehingga aku takut tidur, lalu memaksakan diri berbaring  sambil terjaga sampai larut malam.

Dalam runut kehidupannya, diceritakan juga bagaimana Marchella - kakaknya - yang kemudian menjadi seorang gadis yang gemar bermain-main dengan pria. Dan suatu ketika, Claudia melihat penglihatan tentang kakaknya yang tak dapat ia gambarkan lagi. Sesuatu tentang kakaknya yang semestinya bisa dihalau, namun apa daya, semua terlambat dan Marcella harus mendapat hukuman yang setimpal. Yaitu menjadi Perawan Vesta.

Kehidupan semestinya berjalan, demikian pula dengan Claudia yang lambat laun mulai tumbuh menjadi gadis yang cukup cantik. Dan untuk pertama kalinya, dia merasakan bagaimana terpesona dengan seorang lelaki dan berambisi untuk mendapatkannya. Di sinilah, Claudia bersedia untuk membayar apa saja yang pantas untuk mendapatkan Polantius Pilatus. Seorang lelaki yang juga memiliki ambisi pada karirnya serta senantiasa berada dekat dengan wanita yang kaya raya.

Isis Goddess


Pengenalan dirinya terhadap Dewi Isis, terjadi setelah Marcella menjadi Perawan Vesta. Penggambaran yang demikian detail oleh Antoinette May, membuat setiap ruangan dari kuil Isis seolah tampak di depan mata. Pada Bab 6, dimana di sini juga Claudia bertemu dengan seorang lelaki yang mengenalkan dirinya sebagai Yeshua untuk pertama kalinya. Seorang lelaki yang tampak bisa melihat ke dalam diri Claudia. Dan saat melihat lelaki tersebut, Claudia juga melihat masa depan lelaki tersebut.

Penggambaran yang juga membuat buku ini tampak lebih indah karena narasinya yang detil, seperti saya kutip dari halaman 99 : Aku menatap instrumen itu tanpa berkata-kata. Bentuk oval yang indah. Aku terkejut melihat betapa secara alami benda itu pas di tanganku. Ketika pendeta wanita itu membalikkan tubuhku agar menghadap kerumunan orang, aku mulai mengguncangkan instrumen itu secara naluriah mengikuti irama, seakan sudah sering memainkannya. Saat itulah aku tahu, semua yang kucari menunggu di sini, di rumah Isis.

Penghambaannya pada Isis sangatlah setia, mesksi dia sempat berpaling kepada Dewa lain demi kesembuhannya. Namun, setiap kali dirinya menghadapi kesulitan, Claudia akan selalu kembali berdoa pada Isis. Meski oleh bangsa Romawi, Dewi Isis bukanlah sosok yang sepadan untuk disembah, diwakili oleh Pilatus di halaman 176, “...tapi obsesimu terhadap Isis adalah sesuatu yang sama sekali berbeda. Itu tidak pantas, tidak seperti orang Romawi. Siapa yang menyembah Isis, selain kelompok orang asing pikun?

Kenapa orang Romawi tidak menyukai Dewi Isis? Semua berawal dari sebuah peristiwa yang berhubungan dengan Cleopatra. Seorang wanita yang terkenal dengan kecantikannya yang memabuk-kan hingga banyak pria yang rela berjuang untuk mendapatkannya. Pada masa itu, seorang wanita yang membuat seorang pria tunduk padanya, merupakan sesuatu yang salah, memalukan. Apalagi ketika digambarkan saat Cleopatra duduk di tandunya dan sang lelaki berjalan, merupakan sebuah tindakan yang menjatuhkan martabat kaum pria.

Namun, bagi para pemeluknya, Dewi Isis merupakan Dewi yang lebih pemaaf, sosoknya diyakini tidak akan mengubah siapapun menjadi apapun. Ini terkait sebuah legenda bahwa Diana mengubah para pria menjadi rusa jika mereka bertindak terlalu bebas. Dan dari pernyataan Rachel - budak khusus Claudia - bahwasannya pengikut Dewi Isis adalah para pemimpi. Itulah kenapa Claudia merasa sudah demikian menyatu dengan sang Dewi.

Dalam buku ini, tidak hanya seputar Dewi Isis yang menjadi sosok tuhan bagi para penyembahnya. Tapi dikenalkan juga dengan para Dewa dan Dewi lainnya, seperti yang dituturkan Ibunya Claudia pada halaman 89 sebagai contohnya : “Diana, ia perawan dan itu sungguh tak apa-apa ketika seorang masih mudah. Kemudian Venus yang baik hati. Pada tahun-tahun belakangan ini, Juno sangat kucintai. Ia melindungi rumah kita. Juno Dewi perkawinan.


Egypt Goddess



Akulah yang pertama dan terakhir
Akulah yang dihormati dan dicaci
Akulah pelacur dan orang suci



Pada bab-bab berikutnya di bagian lainnya. Ketika Claudia mulai bergantung pada Isis, dimulai ketika dia mendatangi pendeta Isis dan meminta pertolongan agar diberi sebuah amalan untuk mengikat hati seorang pria. Pria itu memang tak lain adalah Pilatus, yang membuat Claudia sangat berambisi untuk memilikinya. Meski sang pendeta sudah mengatakan bahwa Pilatus akan tetap bergantung pada Claudia dan akan selalu kembali padanya dengan cara yang berbeda.

Namun, semakin hari semakin Claudia merasa lelah dengan segala usahanya untuk membuat Pilatus menjadi miliknya. Hingga suatu ketika Claudia berhenti memercayai Isisi dan menganggap bahwa usahanya hanya sia-sia saja. Dan pada suatu ketika, Isis kembali memanggilnya dan membuatnya kembali menjadi Claudia yang penuh percaya diri dan berbeda. Hingga membiarkan dirinya menjauh dari Pilatus dan kehidupannya.



Antara Claudia Dan Pilatus Dan Kisah Cinta Mereka



Ketika seorang gadis baru mulai mengenal apa itu terpesona pada seorang pria. Tentunya itu bisa menjadikan malam-malam mereka senantiasa memimpikan apa yang membuat mereka berbunga-bunga. Betul, Claudia memang sempat meminta pada sang pendeta untuk bisa selalu bersama dengan Pilatus. Dan semua itu terwujud dalam sebuah pernikahan yang membuat kehidupannya berubah.

Sejak awal, rasa cinta Claudia pada Pilatus memang tampak menjadi sebuah obsesi yang berlebihan. Hingga dia merasa tak mampu lagi menahan rasa kecewanya ketika Pilatus sering menghabiskan waktu dalam pemerintahan. Hingga suatu ketika, dia mendengar tentang sang suami yang memiliki banyak perempuan selain Claudia.

Di sinilah, kemudian Claudia mulai merasa menyerah dan lelah. Dan kehadiran Holtan di saat yang tak terduga, ketika air matanya mulai tak mampu dibendung, mengubah alur kehidupannya meski sedikit. Dan yang paling hebat adalah ketika dia mulai memanggil Isis sebagai sesembahannya. Saat dirinya terancam. Dan setelah itu, Claudia kembali tegar berdiri dengan kakinya sendiri. Melawan segala rasa sedih dan pedihnya akibat sang suami yang tak bisa dimiliki secara penuh.

Pada bagian inilah, saya mulai merasa kesal terutama pada bagian ketika sang pendeta mengatakan bahwa, “suamimu akan selalu kembali padamu.” Justru setelah dia usai bersama dengan perempuan lain. Bahkan dijelaskan pula ketika Claudia sempat kehilangan calon bayi lelakinya pada usia 5 bulan. Kemudian akhirnya melahirkan bayi perempuan, dimana bertepatan dengan lahirnya bayi lelaki Pilatus dari rahim seorang pelacur.

Di sinilah yang membuat saya merasa cukup emosional. Meski anak lelaki tersebut akhirnya meninggal dan tersisa hanyalah anak perempuan dari Claudia, tapi tetap saja saya merasa seperti menaiki roler coster yang masuk ke dalam gua yang menyesatkan, ahahaha. 

Seolah menjadi sebuah dendam yang tanpa sadar tumbuh dengan subur dalam diri Claudia. Hatinya untuk Pilatus memang sudah tak bersisa, terlebih ketika dia mengetahui seorang pelacur bernama Titania mengandung anak Pilatus. Sejak itulah dia tak lagi menginginkan berada dekat dengannya. Bahkan ketika anak pertamanya meninggal, Claudia pernah pergi dari rumah untuk mendedikasikan dirinya di kuil bersama pendeta lainnya.

Dari rasa kecewa dan sakit hati yang tertanam tanpa sadar dalam lubuk hatinya, tumbuh subur pula sebuah perasaan yang didapat dari perhatian orang lain : Holtan. Pertemuan selanjutnya yang tak terduga, membawa Claudia pada kehidupan yang selalu diimpikan olehnya. Sebuah kisah cinta yang akhirnya disadari olehnya merupakan sesuatu yang tanpa sarat. Meski hubungan keduanya akan berakhir dengan hukuman yang berat.

Perselingkuhan memang menjadi bumbu yang ditaburkan di beberapa bagian dalam buku ini. Bersama dengan peristiwa-peristiwa lain yang merupakan fakta-fakta sejarah dalam pemerintahan Romawi. Hingga kemudian saat keduanya harus berpisah setelah Lavia mengatur segalanya hingga Claudia serta Pilatus harus pindah ke sebuah tempat yang jauh.



***

Sesuai dengan judul dan tujuan buku ini diterbitkan. Yaitu mengenalkan sosok Claudia Procula, istri Pilatus, yang bisa melihat masa depan. Sehingga, jika eksplorasi sejarah terutama pada bagian ketika Yeshua dihukum, menjadi sebuah pro dan kontra. Karena itulah, jika Anda ingin membaca buku ini, dan mengetahui bagaimana keragaman para review-er di Goodreads dalam menilai dan menuliskan pertimbangan-pertimbangan. Mungkin akan membuat bertambah penasaran. Karena demikian dengan saya yang memutuskan membaca buku ini setelah melihat serunya pro dan kontra terhadap sejarah dan fiksi yang dituangkan May dalam buku ini. 



07 December 2017

Sebuah Tempat Bernama Whicwood Dan Kisah Laylee Sang Mordeshoor


Whicwood Book Review



Setelah menghabiskan beberapa hari membaca novel Whichwood karya Tahereh Mafi, akhirnya hari ini saya berhasil menyelesaikannya juga. Di tengah kegalauan karena waktu yang hampir sedikit untuk membaca serta keinginan untuk bisa membaca lebih banyak lagi buku-buku, terutama untuk membabat timbunan.

Pada mulanya, novel yang covernya sangat cantik ini, saya pikir berkisah tentang percintaan seperti genre Young-Adult pada umumnya. Tapi, ini berbeda, dari pemilihan tokohnya saja sudah memiliki pekerjaan yang unik. Usia tokoh-tokoh di dalamnya sekitar 13 / 14 tahun. Nuansa dark, sendu dan lumayan sedih menghiasi cerita dalam novel yang ingin saya miliki bentuk hardcovernya.

Saya membaca novel ini melalui Google Play Book, dengan mendapat diskon 70% saat membelinya, membuat saya tidak lagi berpikir dua kali. Dan ketika pertama kali masuk ke dalam Bab Pertama, saya seperti tersedot ke dalam dunia dimana setiap penduduknya memiliki kekuatan magis, tempat yang tengah memasuki musim dingin, bernama Whichwood. Dan orang-orang yang tinggal di sini dikenal sebagai Whichwoodian.


Kartu Tanda Buku

Judul : Whichwood || Penulis : Tahereh Mafi || Halaman : 368 || Terbit : 14 Nov, 2017 || Language : English || Versi : Google Play Book || Penerbit : Penguin || Rating : 5/5 || ISBN : 9781101994818


Sebuah Kisah Tentang Gadis Yang Kesepian Dan Terasing Di Negeri Tempat Tinggalnya



Namanya Laylee, usianya sekitar 14 tahun, dia seorang anak yatim yang tinggal di sebuah kastil yang lumayan jauh dari kota. Di tempatnya berada hanya ada dua rumah yang berdekatan. Meski Laylee memiliki seorang ayah, tapi dia tidak mampu merasakan kasih sayang dari Baba (demikian dirinya menyebut sang ayah). Sejak Maman (ibunya) meninggal dunia, Baba seolah tidak peduli dengan keberadaan anaknya.

Dia seperti seorang yang kehilangan jati dirinya. Tatapan matanya kosong, bahkan sudah berhari-hari dia tidak pulang. Kadang, meskipun sang Baba ada di rumah, tapi karena dia sudah kehilangan semangat hidupnya, membuat keduanya seperti orang asing. Hingga Laylee bisa melewatkan beberapa hari tanpa berbicara sedikitpun, karena tidak tahu siapa yang bisa diajak berbicara, dan kesunyian akhirnya membuat dirinya semakin menutup diri.

Laylee bahkan lupa, kapan terakhir kalinya dirinya pergi ke sekolah. Terkadang, dia merindukan hal tersebut. Ini semua berakhir sejak Maman meninggal. Namun, sebenarnya, Maman tidak benar-benar pergi dari rumah mereka. Rohnya tetap berada di dalam rumah, bergentayangan setiap waktu, mengomel dan mengeluh serta memarahi Laylee setiap saat. Hanya ada satu tempat yang aman dari omelan Maman : Kamar Mandi. Meski sebenarnya Maman bisa menembus ruangan tersebut dengan mudah, tapi sang hantu justru masih memberikan privacy untuk Laylee setiap dia masuk ke kamar mandi. Di situlah dia sering menyendiri untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.

Sayangnya, hanya Laylee yang mampu melihat hantu. Baba hanya seorang lelaki biasa, yang jatuh cinta pada Maman saat melihatnya di pasar pertama kali. Kecantikan Maman yang menurun pada Laylee memang termasuk tipe cantik yang aneh, seolah tidak biasa, tapi tetap menyedot perhatian Baba. Dan dari keduanya inilah Laylee memiliki kekuatan yang tidak biasa, dia seorang Mordershoor dan bisa melihat serta mampu berbicara dengan hantu.

Karena Baba tidak bisa melihat hantu, akhirnya Laylee harus berpura-pura untuk bersikap biasa. Karena, dia sendiri paham, jika seorang gadis bisa berbicara dengan hantu dan berkomunikasi dengan makhluk halus, niscaya setiap orang akan memandangnya aneh. Bahkan kehidupan keluarga mereka pun tidak pernah dianggap oleh Whichwoodian yang lainnya. Mereka bahkan tidak peduli apakah Laylee sudah makan atau belum, apalagi dengan kabarnya. Sama sekali tidak pernah menanyakannya. Apalagi memedulikannya. Dia terasing di sebuah tempat yang seolah tidak menginginkannya.


She lived in a world where goodness had failed her, where darkness inhaled her, where those she loved had haunted and discarded her. There was no monster, no ghoul, no corpse in a grave that could hurt her the way humans had, and Laylee was afraid that tonight she’d made a most grievous mistake. ~ Pg 27


Membaca novel ini membuat saya ikut merasakan kesedihan dan kesendirian yang dirasakan Laylee. Bagaimana tidak? Hidupnya harus mendengarkan omelan dari Mamannya yang konon dipengaruhi oleh kebimbangan akan dunia yang berbeda dengan dunia sebelumnya. Belum lagi Baba-nya yang bahkan tidak peduli dengan Laylee, karena rasa cinta yang teramat besar untuk sang Maman. Tapi harus tetap bekerja, seorang diri, melanjutkan bisnis keluarga.

Jangan salah, di awal-awal bulan setelah kematian Maman, Laylee bahkan pernah kehabisan makanan karena Babanya pergi entah kemana. Sementara itu, untuk menghalau rasa laparnya, akhirnya Laylee memutuskan untuk bekerja, bekerja dan bekerja. Sedih deh, saat narasi Tahereh Mafi menggambarkan tubuh Laylee yang kurus, wajahnya yang pucat digambarkan berwarna silver seperti di cover pada buku ini.

Dan, satu-satunya yang perhatian sama Laylee ini adalah para makhluk halus yang hendak menyebrang ke Otherwhere ini. Coba, bagaimana perasaan kita saat yang perhatian sama kita bukan manusia seperti kita, tapi justru makhluk halus? Sedih banget, deh.



Laylee Seorang Mordeshoor Yang Membantu Banyak Arwah Pergi Ke Otherwhere



Baiklah, apa sih sebenarnya Mordeshoor itu? Dia adalah seorang yang memiliki pekerjaan memandikan jenazah dan mengemas jenazah tersebut untuk dikirim ke Otherwhere. Dan menjadi Mordeshoor ini tidak sembarangan, karena pekerjaan ini hanya bisa diwariskan dari keturunan seorang Mordeshoor asli.

Karena, ada ritual-ritual khusus yang dilakukan seorang Mordeshoor yang membantu para arwah untuk memasuki dunia Otherwhere. Bahkan cara memandikannya juga tidak sembarangan, sementara di negeri ajaib lainnya, pemandian jenazah ini dilakukan oleh sihir yang otomatis tanpa harus menggunakan tenaga manusia.

Sayangnya, bagi Whichwoodian orang-orang terkasih yang telah mati, tidak membuat mereka memberikan perhatian lebih. Setelah dikirim ke Mordeshoor, mereka mengabaikannya seolah tidak pernah menjejak di dunia.


Why do we fear the dead? We are terrified to even visit the graves of our loved ones - why? Because superstition dictates that visiting our dead will only encourage their corpses to come back into our lives. Nonsense! ~ Pg 186



Itulah kenapa, mereka tidak pernah sekalipun berpikir untuk membantu Laylee dalam mengurus setiap jenazah yang datang ke rumahnya. Sama sekali. Bahkan ketika musim dingin tiba, dan dia tetap harus memandikan para jenazah tersebut. Karena kalau tidak akan berakibat buruk nantinya. Itulah kenapa Laylee menahan rasa sakit di tangannya karena air yang dingin, bahkan hampir membekukan jemarinya. Tapi, dengan sabar, dia mengurus para jenazah tersebut.



The ghosts of the freshly dead are always teriffied to cross over - they’d much rather cling to the human life they know. But a spirit can only exist in the human world when it’s wearing human skin. ~ Pg 17


Dalam novel ini, dijelaskan seperti apa ritual khusus para Mordeshoor ketika mengurus jenazah. Bahkan ketika Laylee kedatangan tamu istimewa yang membuat dua orang tersebut terkejut karena pekerjaan yang berat seperti itu harus dikerjakan sendiri. Dan keduanya pun tidak sanggup ketika harus mencabut kuku-kuku para jenazah tersebut untuk dikumpulkan dalam tempat khusus.

Memang cukup mencekam, itulah kenapa saya mengatakan kalau novel ini memiliki tema yang lumayan horor dan dark. Bahkan ada satu bagian tentang proses para hantu tersebut menyedot tubuh manusia di malam perayaan besar di Whicwood. Dan sayangnya, karena akibat inilah Laylee dijatuhi hukuman penjara!

Mengenaskan ya kan? Sudah yatim dan akan segera piatu, sendirian, kelaparan, tidak ada satupun orang yang menyayanginya, hanya berteman dengan para hantu, kemudian harus dipenjara karena sesuatu yang bahkan kalau dirunut kembali bukan kesalahan aslinya. Sedih, buku ini membuat sedih tapi dituturkan dengan cara mendongeng yang ringan. Tidak mendayu-dayu hingga mengorek dan memaksa pembaca untuk menangisi kesedihan dan rasa sakit Laylee.


Buku Pertama Karya Tahereh Mafi Yang Saya Baca



Sejujurnya, saya sendiri tidak begitu ingin memiliki ekspektasi apapun terhadap novel ini. Tahereh Mafi sendiri sudah dikenal oleh kalangan bookstagram melalui karya serialnya : Shatter Me dan Furthermore. Buku ini sebenarnya ada sedikit lanjutan dari kisah beberapa tokoh dari Furthermore tapi ceritanya tetap berdiri sendiri.

Saat kepo dengan sosok Tahereh Mafi melalui akun Instagram @TaherehMafi, akhirnya saya cukup terkejut. Dia adalah istri / pasangan dari penulis yang karyanya juga menjadi favorit saya : Ransom Rig. Yang merupakan penulis Peculiar Children! Ah, saya langsung berpikir, pantas saja keduanya memiliki kegemaran yang sama melalui karya Dark mereka.

Meski bobot horor di sini saya cukup tekankan, bukan berarti horor yang sama dengan Stephen King punya, tapi jika dibaca oleh anak-anak yang masih baru beranjak remaja, mungkin akan lumayan mencekam. Dan novel ini bebas dari adegan-adegan yang biasa didapat di genre YA pada umumnya.

Kalau kalian penasaran, novel ini cukup rekomen kok untuk dibaca, dengan gaya bercerita yang ringan tapi kisah di dalamnya bagus. Saya tidak akan melebih-lebihkan, karena memang novel ini masuk ke dalam daftar  buku favorit saya. [Ipeh Alena]

29 November 2017

A Sweet Mistake Novel Pemenang Gramedia Writing Project


A Sweet Mistake


Novel A Sweet Mistake karya Vevina Aisyahira ini menjadi novel ke-80 yang sudah saya baca. Menghabiskan waktu semalaman untuk menyelesaikannya bukan hal yang sulit, karena memang novel ini termasuk bacaan yang ringan. Juga merupakan novel kedua yang bertemakan pernikahan mendadak karena dianggap melakukan sesuatu yang dilarang, sementara novel pertama ditempati oleh Marry Me, Olivia.

Kalau di novel Marry Me, Olivia! keduanya merupakan sahabat yang tidak sengaja ketahuan tidur berdua, padahal enggak melakukan apa-apa. Sementara novel ini justru mempertemukan dua musuh bebuyutan yang saling membenci sejak mereka kecil sampai kuliah. Kok lucunya, mereka bisa satu kampus bareng, sampai-sampai rasanya sulit untuk tidak saling menyerang saat bertemu.

Rey dan Liona, keduanya bertetangga, rumahnya berdekatan. Kebencian yang tertanam dalam diri masing-masing sangat besar. Rey, yang sejak kecil selalu berusaha untuk membuat Liona menangis, ternyata tidak berhasil. Memang tidak memiliki alasan yang jelas mengapa tidak menyukai Liona. Demikian juga Liona, si gadis cantik berwajah datar, yang juga membenci Rey karena baginya cowok itu hanya menyia-nyiakan waktu selama kuliah.

Mahasiswa abadi, demikian label yang diberikan Liona pada Rey dan kawan-kawannya. Memang benar, keempat cowok yang memberikan label pada Liona sebagai cewek berwajah datar itu merupakan mahasiswa yang masih saja betah di kampus. Namun, saat pertemuan mereka di kantin, Rey memastikan bahwa dia akan bisa lulus bersamaan waktunya dengan Liona.


Kartu Tanda Baca

Judul : A sweet Mistake || Penulis : Vevina Aisyahra || Halaman : 248 || Versi : Paperback || Bahasa : Indonesia || Penerbit : Gramedia Pustaka Utama || Rating : 3/5 || ISBN : 9786020378343


A Sweet Mistake Sebuah Kesalahan Yang Manis


Benci jadi cinta. Sebuah kisah klasik yang memang masih enak untuk dinikmati sampai saat ini. Sepanjang membaca novel ini saya ditemani backsound Lagu I Hate You I Love You feat Olivia. Dengan alur utama tentang dua orang yang saling membenci tapi kemudian saling mencintai. Tapi, siapa sangka, keduanya justru saling menerima saat mereka menghabiskan malam bersama di atap yang sama.

Tapi, jangan keburu berpikir yang lain-lain dulu, karena keduanya masih menolak tidur di kamar yang sama. Jadi, masing-masing menempati kamar yang berbeda. Pernikahan keduanya juga dadakan, karena Rey ketawan terlihat masuk ke kamar Liona dan itu membuatnya harus pasrah menghadapi kenyataan.

Saya tidak bisa meneruskan menyeritakan bagaimana cerita ini berjalan, karena ada beberapa hal yang menggelitik hati saya selama membaca novel ini.


1. Pernikahan Yang Begitu Cepat


Saya sempat berpikir, wah, enak banget ya kalau dinikahinnya cepat seperti itu. Serius! Karena belajar dari pengalaman banyak orang, ketika mereka mempersiapkan pernikahan yang konon lebih cepat pun, tetap saja tidak bisa dikatakan cepat. Pun persiapannya bukan main repotnya. Itulah kenapa banyak penulis yang memilih untuk menjadikan pernikahan para tokohnya lebih cepat.

Sayangnya, saya berharap Vevina bisa eksplorasi masalah persiapan pernikahan, meski keduanya tidak ikut repot. Bisa belajar dari teman-teman sekitar atau justru tetangga di dekat tempat tinggal. Dengan begitu, pembaca bisa merasakan sebuah proses yang dengan gamblang dijelaskan. Atau belajar dari video pernikahan anaknya Pak Jokowi, mungkin. Jadi ada sesuatu yang menarik tentang kebudayaan yang diselipkan di dalamnya.


2. Kakek Yang Kaya Raya Dan Baik Hati

Maulah saya satu, model kakek yang seperti ini. Serius! Meski Rey dan Liona diberikan hadiah untuk menempati rumah terpisah, yaitu rumah yang pernah menjadi tempat tinggal Kakek dan Nenek Rey, tetap saja saya merasa iri dengan Liona. Kau begitu beruntung, Liona! Karena harga rumah saat ini sangat mahal, terutama di sekitar Bekasi.

Selain itu, yang membuat saya tercengang adalah dengan baiknya sang Kakek menghadiahi cucu-mantu-nya ini mobil Brio. Aduh, saya jadi tambah mupeng, coba gitu Liona bisikin ke kakeknya, untuk kasih saya satu mobilnya. Hehehehe. Motivasi si Kakek memang jelas, dengan background beliau yang merupakan pengusaha properti yang sukses, juga senang memanjakan cucunya, jelas kalau Liona bisa kecipratan kasih sayang yang berlimpah. 


3. Kebencian Seorang Ayah Pada Anak Perempuannya

Meski buat saya sedikit masih terasa aneh, karena kebencian dari Papanya Liona ini alasannya belum begitu masuk ke dalam logika. Tapi, apa sih yang enggak terjadi di dunia ini, ya kan? Semua hal terjadi baik itu hal sepele maupun hal yang sangat tidak masuk akal sekalipun. Karena ini pula saya nanti akan menyisipkan beberapa hal untuk penulisnya.


4. Cowok Badung Terkadang Lebih Memesona

Jadi teringat perbincangan dengan kawan saya, terkait cowok yang tampangnya badung aka nakal. Membawa ingatan saya ke beberapa tahun silam saat saya masih SMA. Dimana kala itu ada beberapa anak lelaki dengan wajah seadanya, tidak tampan buat saya sih, tapi terkenal seantero angkatan karena termasuk Genk Motor. Saya pernah naksir salah satu anggotanya, entah kenapa wajahnya mirip dengan Fadly Padi. Ahahahaha.

Terus, hubungannya apa? Ya, karena di novel ini Rey dan kawan-kawannya juga punya wajah yang badung dan sering menjadi pusat perhatian, sih. Bahkan Silvi, sahabatnya Liona, juga merupakan fans mereka. Dua orang yang disukai Silvi yakni Tommy dan Rey.


5. Masa-masa Kuliah Dan Kenangan

Pasti banyak yang memiliki pengalaman selama di kampus. Entah itu kelelahan akibat tugas yang menumpuk, penelitian yang tak kunjung selesai, sampai revisi yang tak kelar-kelar. Tentunya ini merupakan pengalaman yang sangat berharga untuk masa depan. Jadi, kalau nanti seketika laporan yang sudah dikerjakan kemudian diminta berbeda oleh Bos, tidak kaget lagi.

Sungguh, harus lembur demi laporan yang kemudian ditolak mentah-mentah kemudian diminta dalam bentuk dan variabel yang berbeda, itu lebih menyebalkan ketimbang revisian yang ditolak apalagi dicoret-coret. Ahahaha, dan bagi Liona yang tergolong mahasiswa teladan, tidak luput dari pengalaman revisian dicoret-coret dosen.


Kelima hal di atas merupakan beberapa topik atau perwakilan yang ada kaitannya dengan novel ini. Tentunya ini demi membuat kalian melihat lebih banyak tentang kisah cinta dua musuh bebuyutan. Seperti apa jadinya, ketika keduanya justru dipaksa menikah tanpa bisa mengelak lagi.



Catatan Untuk Penulis Dari Pembacanya


Harapan saya sih, Vevina enggak akan langsung baper ketika membaca sub-judul di atas. Karena, ketahuilah, bagi pembaca pun sulit untuk menggantungkan beberapa kendala yang tersemat di dalam hati. Jadi, izinkan saya berbagi hal tersebut dengan tujuan, siapa tahu untuk karya selanjutnya justru membuatmu menjadi penulis yang kaya, sehingga bisa berbagi banyak hal pada pembacanya.


Alur / Plot : Saya mengakui untuk bagian jalan cerita yang dipilih oleh Vevina ini sudah cukup mumpuni. Itulah mengapa GWP menjadi ajang yang layak bagi penulis pemula, karena tentunya karya mereka bisa langsung dibedah oleh para editor. Namun, berbicara masalah cerita yang sudah ketawan endingnya, dalam hal ini Benci jadi Cinta, karena temanya yang umum. Saya sebagai pembaca berharap dapat kejutan lainnya. 

Tokoh : Dalam penokohan, cukup lumayan, meski karakter Rey justru yang masih begitu kuat. Dalam artian ego-nya. Sementara Liona juga tidak begitu buruk meski masih kurang dieksplore. Begini, Liona menghadapi kehidupan yang berat, sangat berat malah kalau buat saya pribadi. Karena hubungan antara ayah dan anak, meski pihak Liona menerima. Tentu memiliki reaksi yang berbeda, bukan sekadar menjadikan Liona seorang perempuan yang tampak emotionless saja. Tapi lebih dari itu.

Lebih dari itu dalam hal, misalnya Vevina bisa eksplorasi pikiran Liona terhadap lelaki. Apakah dia menjadi trauma terhadap lelaki? Atau alasan dia menjadi mahasiswi teladan, melalui pemikirannya yang bisa digali terus sehingga pembaca bisa mengenal dengan sangat dekat dan memahami keputusan-keputsan yang diambil oleh Liona sebagai hal yang masuk akal. 

Apalagi klimaks ini sebenarnya hal yang rumit bagi saya, bahkan bagi anak yang memiliki hubungan yang baik dengan orangtuanya saja, memiliki pengalaman yang berbeda dan kebosanan atau kejenuhan yang berbeda. Jika dilihat dari segi pemikiran. Mungkin Vevina bisa eksplorasi dari novel-novel Young-Adult karya penulis luar, bagaimana mereka menyajikan penggalian emosi tokohnya sehingga tidak hanya tampak permukaan saja.

Gaya Penulisan : Sebenarnya ini tidak masalah bagi saya, tapi entah kenapa pada bagian dialog antara Rey dan Liona sering tidak konsisten. Bagi Rey yang memang tampak badung dan egois, cukup membingungkan ketika dia berdialog dengan bahasa yang kaku. Saya pernah membaca dari banyak buku terkait How to Write a Story. Mereka sepakat, bahwa dalam dialog sebaiknya disamakan seperti kita berbicara. Dalam hal ini bukan bahasa teks, tapi benar-benar bahasa yang digunakan orang untuk berkomunikasi.

Mungkin Vevina pernah membaca novel The Adventure of Tom Sawyer? Coba diintip deh, di situ ada adegan Tom berbincang dengan seorang budak negro. Dalam perbincangan tersebut, bahkan penulisnya menuliskan bahasa inggris yang khas ala negro. Yang senang menyingkat kata atau bahkan pengucapan yang kurang bisa dimengerti secara langsung. Dari sinilah, percakapan antar-tokoh akan terbangun dengan perbedaan yang cukup besar. Apalagi baik Rey dan Liona memiliki karakter yang berbeda, justru bisa dipisah dengan cara penyampaian dan bahasa yang digunakan.


***


Overall, saya tidak keberatan mengatakan kalau karya ini cukup lumayan. Jangan sakit hati dengan penilaian saya berdasarkan bintang, ya. Karena memang berdasarkan penjelasan, 1 untuk tidak bagus dan 2 untuk lumayan dan 3 untuk Menyukai. Jadi, karya ini cukup ringan, dan bagi kalian yang ingin flash back ke masa-masa SMA saat bad boy masih digandrungi, novel ini bisa kalian baca sendiri.

Siapa tahu nanti bisa ngingat-ngingat lagi pernah nge-fans sama cowok badung yang seperti apa. Hehehehe.


Salam,