31 December 2016



Sudah entah beberapa kali sepertinya saya absen ikutan Posbar di BBI. Akhirnya sebagai penutup tahun 2016, saya niatkan untuk mulai menulis dari beberapa hari sebelumnya. Kebetulan tema bulan Desember ini adalah Wishlists Book untuk tahun 2017 serta Deretan Buku yang menjadi favorit saya sepanjang 2016.

Akan segera saja saya mulai untuk daftar Wishlists buku yang sudah saya siapkan di tahun 2017.


#BBIWishlist2017



1. Buku Everything Everything 

Sebenarnya buku ini sudah saya masukkan ke list di event Markituka Bajay. Tapi, karena memang ini termasuk wishlist saya di tahun 2017, tidak ada salahnya saya masukkan kembali. Termasuk buku yang konon kata teman saya, harus dibaca karena twistnya menarik.


2. Menyelesaikan Tantangan Baca

Ini bisa dimasukkan ke dalam wishlists juga kan ya? Soalnya memang benar-benar ingin punya target untuk selesain setiap Reading Challenge yang saya ikutin. So far di tahun 2016 ini benar-benar buruk sekali mood baca saya. Sampai beberapa kali absen untuk setor Reading Challenge.

3. Babat Timbunan Buku

Lagu lama banget yaa judulnya hehehe, secara setiap tahun sudah berusaha untuk membabat timbunan buku, tapi masih saja jadi Book Hoarder. Huhuhuhu, alhasil mau enggak mau itu tumpukan masih belum berkurang dan senantiasa bertambah.

4. Ingin rajin mengadakan event blog

Seperti event hadiah buku atau book swap untuk merefresh rak buku saya. Atau bisa juga satu event "Adopsi Buku Wanted" gitu, karena sepertinya ingin memulai memangkas tumpukan buku, agar bisa diisi lagi dengan buku lain #eh.





5. Oxford Children's Classics World of Wonder Box Set

Kepengen pake banget bisa punya boxset dari oxford ini. Apalagi harganya lagi turun, tapi tapi tapi, ini kan keinginan buat 2017 karena bulan ini di tahun ini saya sudah membeli beberapa buku. Huhuhuhuhu, sepertinya memang saya harus mulai belajar mengendalikan diri (kaya bisa aja ya :D).



Nah, kelima poin di atas merupakan wishlist yang ingin saya wujudukan di tahun 2017. Setelah ini saya akan sedikit menuliskan buku-buku terbaik versi saya di tahun 2016.

***


#BBITopChoice 


Karena tumpukan saya pada tahun 2016 ini menjulang, akhirnya sedikit demi sedikit saya baca beberapa buku yang ternyata sudah menanti sejak tahun 2015 untuk saya baca. Nah, sepanjang tahun ini, saya memiliki beberapa buku yang menjadi favorit saya. Seperti buku :


1. Thirteenth Tale

Berkisah tentang kehidupan dua anak kembar perempuan yang memiliki sifat berbeda serta tumbuh tanpa rasa kasih dan sayang dari sang Ibu. Yang notabennya lebih perhatian pada sang Paman ketimbang mereka berdua. Serta kemunculan the shadow yang membuat cerita ini lebih menarik.


2. The Ghost Bride

Awal mula saya penasaran adalah ketika membaca ebook melalui playbook. Yang memang dibatasi jumlah halaman untuk bisa dibaca gratis. Hingga akhirnya berujung saya membeli buku tersebut melalui Playbook. Ternyata saya tidak menyesal, karena di dalamnya berisi budaya-budaya yang baru saya ketahui, serta penggambaran tentang akhirat.


3. Never Let Me Go

Novel ini sempat membuat saya terkecoh tentang siapa sebenarnya para tokoh yang berada di sekolah tersebut. Mengapa mereka diproteksi sedemikian rupa, hingga akhirnya saya mendapati banyak hal tentang eksistensi manusia, kesadaran makhluk hidup terhadap eksistensi di bumi. Novel yang berbobot.

4. Daun-daun bambu

Dalam buku ini, yang menjadi favorit saya adalah bagian pidato Yasunari Kawabata, karena berisi tentang segala hal yang menyangkut ajaran Zen. Juga pandangannya terhadap perilaku bunuh diri yang sering terjadi di Jepang. Juga beberapa cerpen yang berada di dalam buku ini, memiliki jalan cerita yang menarik dan mendalam.


5. Bakat Bukan Takdir

Buku nonfiksi yang mengenalkan saya pada generasi milenial, juga tentang bakat yang sebenarnya bukan bawaan lahir. Juga banyak hal yang bisa menjadi informasi tambahan bagi orang dewasa.



Jadi, di tahun 2017 nanti kalian ingin apa? Ingin mendapatkan buku incaran? Atau ingin membabat timbunan buku? Yang pasti nanti saya akan kembali memulai Tantangan Baca Ulas 2017 sih :D.


30 December 2016

Brave New World - Aldous Huxley
Brave New World - Aldous Huxley


Brave New World - Buku ini terbit di tahun 1932 dan merupakan buku kedua dari penulisnya yaitu Aldous Huxley. Lelaki kelahiran Godalming, Inggris tahun 1894 ini menempuh pendidikannya di Eton Collage kemudian mempelajari Sastra Inggris di Balliol College, Oxford. Menurut Huxley, "kewarasan itu satu fenomena yang agak jarang." Dari pemikiran inilah, dirinya tak henti-henti dikritisi hingga diberi tahu bahwa dia adalah sebuah gejala yang menyedihkan dari kegagalan satu kelas intelektual.

Buku ini tidak memiliki acuan pada fiksi nuklir. Serta tema dalam novel ini bukan tentang kemajuan sains secara siginifikan, melainkan sebuah kemajuan yang memengaruhi individu manusia. Kemenangan fisika, kimia dan teknik. Satu-satunya kemajuan ilmiah yang dibahas melalui penggambaran secara spesifik yaitu kemajuan yang melibatkan penerapan hasil riset masa depan dalam bidang biologi, psikologi dan fisiologi terhadap manusia. Hanya dengan sarana sains maka kualitas kehidupan bisa diubah secara radikal.

Dalam novel ini, jelas memang Huxley menitik-beratkan kehidupan manusia di 'masa depan' jauh berbeda. Semua serba teratur, kesehatan makhluk hidup terjamin hingga tidak ada lagi gangguan kesehatan, obesitas hingga penuaan kronis. Dimana setiap manusia yang hidup di Tempat Lain ini, bisa merasakan kehidupan Forever Young. Tentunya, dengan pengadaan makanan yang dipilih dengan ketat, seperti serat padi sitetis, atau seperti almond magnesium asin. Semua bahan makanan dimodifikasi agar membuat tubuh tetap sehat, bugar, tanpa penyakit dan awet muda. Tidak hanya itu, kesehatan secara lingkungan juga benar-benar terjaga, di Tempat Lain tidak ada lalat atau binatang yang tampak jorok bagi mereka.

Banyak orang yang bersimpati dengan kelahiran novel ini, di abad ke-20. Mereka setuju dengan ide tentang dunia yang bisa membantu mereka agar tetap sehat, totalitas dalam pekerjaan serta memiliki pikiran yang terkontrol dengan baik. Mengingatkan saya pada novel 1984 karya Orwell, tentang mind control dimana setiap orang sudah diberi asupan perintah sejak mereka masih bayi, untuk menanamkan peraturan-peraturan yang nantinya tidak akan mempersulit 'pemerintah' dalam mengatur tingkah laku manusia. Bahkan, sudah dilakukan eksperimen sejak bayi, dalam dunia Huxley ini, mereka membuat traumatis pada bayi dan balita untuk memperbaiki perilaku di masa depannya.

Di dunia masa depan milik Huxley, manusia tidak dilahirkan secara normal - yaitu melalui proses hamil kemudian melahirkan dari rahim seorang Ibu - melainkan melalui proses bayi tabung. Dimana satu embrio yang telah dibuahi, akan dibagi-bagi menjadi beberapa bagian hingga tercipta manusia yang seragam. Sekali 'lahir' terdapat sekitar 80-an anak yang memiliki wajah kembar. Ini demi menyetarakan tiap-tiap level yang sudah dibagi menjadi manusia level Alpha, Beta, Delta, Gamma dan Epsilon. 

Bagian-bagian dalam level ini juga menentukan jenis pekerjaan, tempat tinggal sampai kehidupan yang mereka jalani. Melalui sosok Ford, Huxley tengah bermain-main menjadi sosok Tuhan. Dia-lah yang mengontrol setiap bagian kehidupan manusia. Dengan pikiran yang sudah dikendalikan, maka kehidupan dan stabilitas sosial tetap terjaga tanpa harus memikirkan banyak kerusakan, demikian yang terkandung dalam novel ini. Kembali lagi pada 'kelahiran' anak-anak kembar yang sudah diberi 'jatah' kehidupan oleh Ford. Mereka juga diberi satu tanda, melalui baju yang mereka pakai, level hidup yang akan mereka jalani.

Selain itu, pun eksperimen serta pendidikan yang mereka terima sangat berbeda. Contoh, manusia pada level Epsilon merupakan orang-orang yang menjadi petani, pesuruh dan yang bertugas melakukan pekerjaan kotor. Apakah mereka pernah memimpikan untuk menjadi sosok Alpha? Yang kehidupan serta pekerjaannya bisa dikatakan golongan mapan? Di sinilah mind control itu memainkan peranannya, sejak kecil setiap level manusia ini dicekoki oleh sebuah suara yang terus mereka dengarkan ratusan kali dalam sehari. Ini untuk menanamkan sebuah keyakinan melalui alam bawah sadar mereka. Dimana, hal ini yang mencegah mereka menginginkan sesuatu yang diluar batas.

Manusia level Epsilon akan merasa beruntung dengan menjadi Epsilon, dan tidak pernah memiliki keinginan untuk menjadi level Alpha. Mind control ini terbukti sukses menjaga kestabilan dalam kehidupan dunia Tempat Lain. Meski begitu, pasti ada saja beberapa 'ciptaan' yang sedikit melenceng dari yang seharusnya. Namun, ternyata sosok Bernarnd yang saya pikir akan menjadi sosok Hero di sini, justru di beberapa bab menjelang akhir, dia berubah haluan menjadi anti-hero. Betapa proses dalam novel ini memiliki kejadian-kejadian tak terduga yang membuat saya sedikit terkecoh.


Seperti yang sudah saya tuliskan sebelumnya, tentang kondisi lingkungan yang sehat, seperti tidak adanya lalat atau serangga yang menandakan bahwa lingkungan tersebut sangat-sangat bersih dan terjaga. Pun dengan kondisi udaranya, dimana tidak ada polusi yang juga menjadi penyokong melambatnya penuaan para makhluk yang hidup di Tempat Lain ini. 

Kenapa saya menyebutnya Tempat Lain, bukan dunia seutuhnya saja? Karena di sini, juga terdapat satu lokasi yang merupakan Reservasi Liar. Apa isinya? Dihuni oleh manusia-manusia Ras Indian, yang masih mengikuti pola hidup normal, seperti menikah-hamil-melahirkan-disusui oleh seorang Ibu. Sampai jatuh cinta. Ini yang sedikit berbeda dari Tempat Lain. Karena di Tempat Lain, Setiap Orang adalah Milik Orang Lain. Mereka bebas bergaul dengan siapa saja, perempuan bebas memilih berkencan dengan lelaki mana saja. Bahkan, sebuah hal yang aneh dan termasuk 'cabul' jika mereka memilih satu lelaki atau satu perempuan untuk hidup mereka.

Kalau dipikir-pikir, kira-kira apakah mereka merasakan kebosanan dan kejenuhan? Nyatanya tidak. Bukan karena mereka bebas berpacaran dengan siapa saja. Tapi, teknologi dalam Tempat Lain memiliki beberapa 'alat' pembantu yang membuat manusia terhindar dari stress, kecewa, perilaku berkata buruk sampai perilaku yang bisa merusak kondisi tubuh dan jiwa. Ada Soma, istilah yang dipakai, yang kalau saya pahami sepertinya ini merupakan Narkotika. Karena efek yang dihasilkan seperti tenang, kebal terhadap rasa sedih, takut dan resah. 

Belum lagi, mereka memiliki permen berisi hormon-sex, yang membuat mereka akan selalu bersemangat -konon beginilah fungsi permen itu. Juga ada satu tempat Stimulasi Rasa, yang membuat orang yang menonton video tersebut, seolah-olah bisa merasakan apa yang terjadi dalam film itu. Entah itu rasa sakit, gairah, bahagia dan semua rasa yang distimulasi pada orang yang menontonnya.

Hal ini yang membuat saya berdecak kagum, betapa ide-ide tentang masa depan kerap kali memberikan gambaran yang justru seringnya bertolak belakang. Ini berpengaruh pada aktivitas dan pemikiran pada masa itu, pada abad tersebut. Dimana juga dijelaskan oleh sang Konsolir, New World ini diberlakukan setelah Perang Sembilan Tahun yang terus berkecamuk dan meninggalkan kerusakan. Di sinilah kemudian, mereka berusaha menemukan satu solusi untuk mengendalikan dinamika kehidupan manusia agar lebih teratur.

Ada banyak orang yang pastinya tidak sejalan dengan pemikiran Huxley, namun karyanya kini telah diadaptasi oleh banyak penulis lain. Tentang dunia distopian yang serba teratur mengingatkan saya pada banyak film yang mengulas tentang hal ini. Ini semacam jawaban dari pertanyaan dan rasa ingin tahu saya, siapa sih yang menyebabkan adanya ide tentang dunia seperti dalam film-film yang beredar? Ternyata, Huxley-lah biang keladinya.

Memang, meski di dunia masa depan terdapat Tempat Lain yang konon lebih beradab. Terdapat pula tempat bernama Reservasi Orang Liar. Di sinilah kita akan diajak berkenalan dengan John, seorang anak yang tidak mendapat tempat baik di Tempat Lain maupun di Reservasi Orang Liar. Hingga kita akan diajak mendalami perasaannya yang semakin lama semakin kehilangan kewarasan, demi mempertahankan apa yang menjadi prinsipnya. Kebingungannya yang tidak diterima di tempat mana pun. 

Hingga kemudian, ada banyak orang yang justru mengatakan bahwa sosok Huxley ada di karakter John. Dalam hal apa? Dalam hal rasa cintanya pada sang Ibu dan kecenderungannya cemburu pada sosok Ayah. Oedipus Complex adalah sebutan untuk seorang anak lelaki yang mempunyai hasrat seksual yang besar terhadap ibunya dan merasa cemburu terhadap ayahnya sendiri. Istilah Oedipus Complex diambil dari sebuah legenda di Yunani, legenda Oedipus, seorang anak yang jatuh cinta kepada ibunya, setelah ia membunuh ayahnya.

Dalam cerita ini, pun kisah John menyerupai legenda Oedipus. Bagaimana kemudian dia mengurung dirinya di sebuah tempat terpencil, mencoba untuk menjadi tetap 'normal' di dunia yang bahkan tak lagi dia kenali. Hingga kemudian takdir membawanya pada keputusan lain.

Pada akhirnya, saya memang mengakui ada banyak hal yang dibahas dalam novel ini. Baik dalam struktur sosial, kebebasan individu yang kemudian berpengaruh dalam kondisi psikologis mereka, falsafah atau pandangan hidup yang berubah serta banyak hal yang melingkupi di satu buku ini. Namun, tetap saya memiliki satu kendala, yaitu Terjemahannya yang membuat kepala saya sakit. 

Mungkin, jika Anda mendapatkan buku ini diterjemahkan oleh penerbit lain, bisa membantu mencerna setiap cerita dan kalimat yang ditulis. Karena, saya sampai harus membaca berulang-ulang demi menemukan kalimat yang pas untuk saya cerna.


Kartu Tanda Buku

Judul : Brave New World || Penulis : Aldous Huxley || Halaman : 265 || Penerjemah : Nin Bakdi Soemanto || Penyunting : Tia Setiadi || Cetakan Pertama, Juli 2015 || Terbitan : Penerbit Bentang Pustaka || ISBN : 9786022910879 || LBABI : 2 || Rating : 🌟🌟🌟🌟🌟

27 December 2016



Charlie Bone and the Blue Boa - Paman Paton pergi untuk mencegah rencana terbaru para bibi Yewbeam. Tapi, Nenek Bone menyambut kedatangan Belle dengan hangat. Mungkinkah hal yang dikhawatirkan Paman Paton malah terjadi di sini?

Di Bloor's Academy, Emma menemukan kalau guru seni Mr. Boldova, adalah kakak dari Ollie Sparks, anak yang dibuat tak kasat mata oleh ular boa biru. Charlie pun sadar Belle adalah Yolanda seorang shapeshifter - pengubah bentuk - licik yang membesarkan bibi-bibi Charlie yang jahat. Belle mencuci otak Mr. Boldova. Kini tinggal tikusnya, Rembrandt, yang memberi tahu Billy Raven apa yang terjadi. Dalam waktu dekat, Charlie harus berhadapan lagi dengan Skarpo si penyihir jahat demi membebaskan sahabatnya.



Kartu Tanda Buku

Judul : Charlie Bone and the blue boa || Penulis : Jenny Nimmo || Halaman : 423 || Cetakan 1, Agustsut 2012 || Penerbit : Ufuk Publishing House || ISBN : 9786021863602 || LBABI : 1 || Rating :


Permasalahan Baru

Setiap episode dalam buku ini, memiliki kasus-kasus terbaru. Yang pasti, ada satu hal yang ingin dicapai Charlie dalam setiap petualangannya. Yaitu menemukan Ayahnya yang menghilang. Tapi, dalam setiap buku, memiliki masalah yang berbeda.

Di buku ketiga ini, dimana saya membacanya tepat beberapa hari sebelum akhir tahun 2016 berakhir. Misi apa kira-kira yang sedang asik ingin diselesaikan oleh Charlie dan teman-temannya. Yang pasti, berawal dari ketidak sengajaan Emma membaca surat guru keseniannya. Di surat itulah terdapat satu bukti, bahwa adiknya masih ada.

Meski rumor yang beredar, Ollie pergi keluar dari akademi tanpa pernah kembali lagi. Sementara Mr. Boldova masih yakin bahwa adiknya berada di suatu tempat di gedung akademi ini.

Kejadian yang tidak menyenangkan pun terjadi akibat ulah Skarpo, tapi di sinilah akhirnya terungkap, bahwa akademi Bloor memang sudah cukup dikenal di kota London. Namun, mereka hanya tahu bahwa murid yang sekolah di sini, merupakan anak-anak aneh. Seorang ahli kimia, hipnotis dan ahli dalam bidang aneh lainnya.

Namun, siapa sangka, kalau ulah Skarpo ini bisa menggemparkan semua penduduk yang berada di sekitar sekolah. Tidak hanya terjadi di sekolah saja. Ini yang kemudian membuat repot Dr. Bloor karena mendapat telpon dari banyak pihak.



Billy Raven Memihak Siapa?

Kalau dari buku sebelumnya, Billy ini memang sudah mendapat iming-iming dari Ezekiel. Namun, dia dimanfaatkan untuk satu tujuan yaitu memata-matai Charlie. Yang terpenting di sini, ternyata Billy juga memiliki posisi yang lumayan untuk membantu Charlie dan kawan-kawannya dalam menyelesaikan satu masalah yang besar.



"Mengapa mereka tidak mengatakan kepadamu apa yang membuat mereka marah?"
"Aku harus mencari tahu sendiri"
(hal 225)

Di buku ketiga ini, saya sempat membutuhkan waktu untuk menamatkan bacaan. Itu karena memang saya sedang kerepotan menjelang akhir tahun. Jadi, bukan karena permasalahan bobot dari buku ini. Tetap kok, masih berada di level 1 LBABI yaitu buku yang ringan tapi seru, dimana bisa ditamatkan dalam satu hari saja.

Ada satu pesan yang cukup menarik dari kejadian yang menimpa Lysander, yaitu HADAPI PERMASALAHANMU SENDIRI, meski memang tampaknya bukan kesalahan Lysander, tapi justru dirinya harus tetap menghadapi alih-alih bolos sekolah untuk melarikan diri. Jadi, apa pun permasalahannya tetap harus dihadapi, tanpa harus takut jika memang benar. Begitu.

Selain itu, memang masih saja bibi-bibi Charlie ini membuat gemas. Namun, Pamannya Charlie sempat membuat saya penasaran, kira-kira dia akan diwakili oleh siapa ya kalau ditayangkan dalam layar lebar. Cukup seru memang, karena membuat penasaran akan seperti apa ular boa itu beraksi. Meski kalau dibayangkan memang akan cukup ngeri.

Dan bagi potterhead, bisa saja kalian akan membandingkan segala hal yang ada dalam buku ini dengan cerita dari Harry Potter. Tapi, saya tetap tidak masalah dengan segala hal ini, karena bagi saya, ceritanya tetap menyenangkan. Sayangnya, ini adalah buku terakhir yang saya miliki, dari 7 buku serial Charlie Bone. Itu berarti untuk bisa mengetahui kisah selanjutnya, saya harus mencari 4 buku serial Charlie Bone ini.

Entahlah, apakah saya akan langsung mencarinya atau menunggu hingga membabat setidaknya setengah dari tumpukan buku yang ada. Saya tidak bisa memutuskannya.

26 December 2016



Charlie Bone and the Time Twister - Charlie Bone berharap semester baru di Bloor's Academy tidak akan memberikan kejutan yang mengecewakan. Namun, muncullah Henry Yewbeam, yang keluar melalui mesin waktu dari musim dingin bersalju pada tahun 1916. Dengan para bibi Yewbeam yang jahat selalu memata-matainya dan keluarga Bloor siap untuk menangkapnya, Henry membutuhkan bantuan Charlie hanya untuk bertahan hidup.


Kartu Tanda Buku

Judul : Charlie Bone and the Time Twister || Penulis : Jenny Nimmo || Halaman : 410 || Cetakan I, Desember 2011 || Penerbit : Ufuk Publishing House || ISBN : 9786029346251 || LBABI : 1 || Rating : 🌟🌟🌟🌟


Pada Tahun 1916

Henry dan James Yewbeam, terpaksa harus tinggal di rumah sepupu mereka, yaitu keluarga Bloor. Di sana, sang sepupu memang tampak membenci kedua kakak-beradik ini.

Di suatu musim salju yang sangat dingin, membuat Henry rasanya hampir membeku, ketika dia kembali ke kamarnya. James mengatakan pads Henry, bahwa Ezekiel tengah mengurut sebuah gambar dan dia berkonsentrasi penuh sejak berjam-jam lamanya.

Ketika Henry merasa penasaran, dia mendekati Ezekiel. Dan ternyata, hanya sebuah potongan gambar berbentuk puzzle. Dengan mudah Henry menyelesaikannya tanpa kebingungan.

Tapi, ini justru yang membuat Ezekiel marah besar. Dia mengamuk dan sangat membenci Henry. Terlebih James justru semakin membela kakaknya.

Puncaknya, ketika Henry ingin bermain kelereng. Sementara James harus kembali ke kamarnya. Ezekiel melemparkan sebuah Bola Ajaib, bola tersebut merupakan mesin waktu yang membuat Henry menghilang di tahun 1916.

Pearl dan Juru Masak

Dalam usaha menolong Henry, Charlie meminta bantuan pada Juru Masak. Itu pun gara-gara terjadi insiden yang membuat keduanya ketahuan berada di dapur pada tengah malam.

Siapa sangka? Kalau Juru Masak ternyata tinggal di sebuah kamar yang tampaknya seperti berada di bawah kota atau jalanan. Tempat yang ternyata sangat Indah dan bagus, baru diketahui oleh Charlie saat itu.

Namun, ini merupakan rahasia mereka saja. Dan Juru Masak, ternyata banyak mengetahui segala hal yang berkaitan dengan keluarga Yewbeam. Serta sosok Mrs. Bloor yang akhirnya mereka temui gara-gara Gabriel menyematkan sarung tangan yang akhirnya membuat tangannya tak bisa melepaskan diri.

Rumah Guntur

Pada buku ke dua kali ini. Kita akan diajak berkenalan dengan teman Charlie yang lain. Yaitu keluarga Guntur yang merupakan keluarga Tancred dan juga keluarga kecil Gabriel.

Rumah keluarga Tancred yang terletak di Heights ini memang dikenal sebagai tempat yang berangin cukup kencang serta terdapat guntur dan kilat yang bisa saja menyambar sewaktu-waktu.

Saya sempat membayangkan Tancred ini seperti Storm di X-Men. Dimana dia juga bisa memanggil badai. Tapi, kalau Tancred, ketika dia tidak dapat mengendalikan emosinya, justru membuat kekuatannta seperti boomerang.

Sedangkan, yang sangat kontras adalah rumah keluarga Gabriel yang ternyata seperti reruntuhan rumah yang hampir bobrok. Mereka memang keluarga yang biasa saja, tidak begitu kaya. Demikian penggambaran Jenny tentang keluarga Gabriel.

Bahkan rumah mereka dihuni juga oleh tikus-tikus kecil, yang kemudian menjadi kawan Gabriel.

**

Setelah di buku pertama, Charlie berhasil menyelamatkan Emma. Akhirnya membuat keluarga tiga saudari Yewbeam dan Bloor mulai bekerja sama mengintai Charlie! Alhasil dia tidak bisa sebebas sebelumnya.

Belum lagi, kejadian demi kejadian seperti pertemuan Charlie dengan penyihir terkenal melalui sebuah foto. Membuatnya hampir saja kehilangan seluruh hidupnya.

Tapi, yang membuat gregetan adalah motivasi beberapa tokoh dalam novel ini saat memutuskan melakukan sesuatu. Rasanya seperti dipaksa untuk bisa sesuai dengan adegan yang akan terjadi selanjutnya.

Jadi, terasa seakan-akan aneh bagi saya. Sampai, rasanya tidak begitu membuat nyaman. Tapi, so far, saya bisa menuntaskannya juga dan terurailah, siapa sebenarnya Mrs. Bloor dan mengapa dia menjadi Hantu Kastil.

21 December 2016

Charlie merasakan jemari bak cakar mencengkeram bahunya. Nenek Bone membungkuk di atasnya. "Katakan apa yang kau dengar," desak Nenek Bone. "Suara-suara," kata Charlie. "Rasanya seperti berasal dari foto ini."


Akibat bakat ajaibnya, Charlie dikirim ke sekolah asrama Bloor's Academy ketuka berusia sepuluh tahun. Sekolah itu berisi ratusan murid yang sepuluh di antaranya adalah anak-anak berbakat ajaib, seperti Billy yang bisa berbicara kepada binatang dan Gabriel yang bisa mendeteksi perasaan pemilik benda yang disentuhnya.

Di Bloor's Academy yang penuh misteri, Charlie menyelidiki hilangnya Emma, seorang anak perempuan yang diduga telah dihipnotis oleh Manfred Bloor, anak kepala sekolah. Bersama sahabat-sahabatnya, Benjamin dan Fidelio, Charlie berusaha mengungkapkannya. 


Kartu Tanda Buku

Judul : Midnight for Charlie Bone || Penulis : Jenny Nimmo || Halaman : 409 || Cetakan I, November 2010 || Diterbitkan oleh : Ufuk Publishing House || ISBN : 9786028801522 || LBABI : 1 || Rating : 🌟🌟🌟🌟


Kekuatan Charlie

Sama seperti yang sudah tertulis di paragraf awal, bahwa Charlie bisa mendengar suara yang berasal dari sebuah foto. Tidak hanya suara saja, tapi dia bisa mendengar percakapan yang terjadi antara seseorang yang memegang kamera dengan orang yang tengah difoto. 

Pada mulanya, Charlie merasa aneh ketika foto untuk hadiah ulang tahun Benjamin tertukar dengan sebuah foto seseorang yang menggendong bayi. Tanpa disangka, Charlie mendengar sebuah suara yang berasal dari dalam foto tersebut, suara perempuan juga suara lelaki. Awal mulanya, Charlie berpikir bahwa dia sedang bermimpi. Tapi, suara-suara itu justru membuatnya tak dapat mendengarkan apa yang dibicarakan oleh orang lain.

Juga, ketika Charlie melihat sebuah surat kabar yang memuat foto seorang anak bertampang licik. Dalam surat kabar itu, terdengar percakapan yang membuat Charlie ketakutan. Namun, sayangnya, tidak hanya bisa mendengar suara dari dalam foto tersebut, tapi wajah Charlie juga ikut muncul di dalam benak orang yang ada di dalam foto tersebut.

Hal ini pernah dipraktekkan oleh Charlie ketika dia mencoba menatap dan mendengarkan foto yang memuat gambar Benjamin dengan anjingnya. Keesokan harinya, Benjamin mengakui bahwa memang benar, tiba-tiba saja wajah Charlie muncul di atas yogurt yang akan menjadi santapan makan malamnya. Dan itu membuat Benjamin muntah.


Kekuatan Paton

Paton adalah pamannya Charlie yang dikenal aneh. Dia tidak pernah bepergian ketika siang hari, tapi setiap malam telah larut barulah dia keluar rumah. Kegemarannya adalah mengurung dirinya di kamar. Paman Paton hanya makan pada malam hari ketika semua orang telah tertidur.

Meski begitu, keanehan Paman Paton tidak membuat Charlie penasaran hingga suatu ketika, dia memutuskan untuk mengikuti pamannya itu. Karena dia ingin tahu, apa sih kehebatan yang dimiliki Paman Paton?

Ternyata, setiap kali berjalan pada malam hari, paman Paton sering berhenti di bawah lampu penerangan jalan. Yang kemudian tiba-tiba akan meledak, menjadi puing-puing kecil warna-warni, membuat Charlie terkagum-kagum melihatnya. Seperti pergelaran kembang api.

Walaupun tampak senang mengurung diri di kamar, paman Paton sebenarnya suka sekali membaca. Dia memiliki pengetahuan yang memang benar-benar luas. Itu karena setiap hari dia habiskan untuk membaca, kemudian dia juga tengah menulis sebuah buku.

Kamarnya sangat berantakan, berlembar-lembar kertas menutupi seluruh ruang kamarnya hingga ketika Charlie tengah meminta bantuan padanya, dia bingung harus berdiri dimana. 

Dalam bab-bab menjelang akhir, kita bisa melihat kehebatan lainnya dari amarah paman Paton yang menggelegar hingga membuat sang musuh menuruti apa yang dimaunya. Bahkan kerusakan yang diakibatkannya menjadi seperti, seolah-olah tempat tersebut tengah terkena ledakan bom. Bisa dibayangkan, bagaimana dahsyatnya keistimewaan paman Paton.


Kekuatan Mafred

Banyak orang yang takut padanya, karena keahaliannya dalam menghipnotis orang lain. Hingga mereka mengikuti apa yang dia mau atau bahkan hipnotisnya membuat orang tersebut hilang ingatan. Ini yang membuat banyak orang tidak ingin mencari keributan dengan Mafred.

Setiap kali bertemu anak ini, orang-orang akan menunduk, takut menatap matanya yang bisa seketika berwarna hitam kelam seperti gelapnya malam. Kemudian membawa pikiran kita berkelana tanpa sadar, tanpa tahu apa yang terjadi di dunia nyata.

Seperti Charlie yang pernah terkena hipnotis oleh Mafred, itu karena Charlie juga pernah mencuri dengar dari gambar surat kabar yang membuat Mafred bisa mengenalinya. Setelah dihipnotis, Charlie merasa seperti diputar-putar ke dalam sebuah hutan, kemudian masuk ke jurang. Tidak lama kemudian dia terbangun di bawah lampu jalanan, dekat dengan Benjamin yang khawatir padanya.

Benar saja, ketika dia diajak berbincang ada keanehan yang terjadi pada Charlie dan membuat Benjamin ketakutan. Karena Charlie mendadak seperti orang yang aneh. Dan kekuatan ini juga yang digunakan Manfred untuk 'menidurkan' Emma agar tidak 'tersadar' dengan apa yang telah terjadi.


Sekolah Tua Bloor's Academy

Mungkin akan ada banyak pembaca yang menganggap bahwa cerita ini mirip dengan kisah Harry Potter. Sebagai orang yang bukan potterhead, karena saya bahkan belum pernah membaca novelnya, hanya menonton dari film-film serial Harry Potter. Saya tetap memberikan porsi yang berbeda antara Harry Potter dengan Charlie Bone.

Meski keduanya memiliki kekuatan sihir dan sekolah di asrama tua. Tapi, bagi saya, mereka tinggal di dunia yang berbeda. Sama seperti saya menempatkan dunia Narnia dengan dunia Lord of The Ring. Beda dunia. Jadi, selama membaca ini saya tidak ada kendala apalagi membanding-bandingkan dengana cerita Harry.

Sekolah tua Bloor's Academy sendiri letaknya memang dekat dengan kota. Tidak begitu jauh sama sekali, bahkan ketika Charlie dijemput Ibunya, mereka bisa menempuhnya dengan berjalan kaki. Jadi, bukan di tempat yang antah berantah. Hanya saja, orang-orang di sekitarnya hanya mengetahui kalau sekolah Bloor merupakan sekolah untuk anak-anak jenius saja.

Bangunannya memang merupakan bangunan tua, bahkan ada beberapa reruntuhan yang berada di dalam komplek sekolah tersebut. Tapi, Charlie dan anak-anak di sekolah tersebut, hanya menetap di sana selama 5 hari dalam sepekan. Setiap Sabtu dan Ahad mereka akan menikmati waktu mereka di rumah.

Kecuali, bagi anak-anak yang terkena detensi akibat melanggar peraturan. Karena, di minggu pertamanya, Charlie sudah mendapat detensi dari Manfred, sehingga dia hanya boleh pulang ketika hari Ahad. Bersama dengan Olivia dan Billy, Charlie menghabiskan waktunya mengisi soal-soal di ruang Raja Merah.


Siapa itu Raja Merah?


Konon, Raja Merah itu merupakan orang asli dari Afrika. Dia menikah dan memiliki 10 orang anak. Ketika melahirkan anak yang ke sepuluh, sang permaisuri meninggal dunia. Kesedihan berkecamuk di dalam hati Raja Merah yang membuatnya sering berjalan-jalan ke hutan yang letaknya dekat dengan istana.

Suatu ketika, dirinya asik berjalan jauh, sampai ketika dia kembali ke istananya, di sana didapati anak-anaknya tengah berperang. Raja Merah sendiri memiliki banyak keistimewaan yang kemudian menurun ke semua anak-anaknya. Tapi ada beberapa anak yang memutuskan untuk melarikan diri dan bersembunyi.

Di sinilah, Charlie memutuskan untuk mencari tahu, siapa sih sebenarnya Raja Merah itu? Apa hubungannya dengan Charlie dan kepergian ayahnya?


Pendapat Pribadi

Pertimbangan kenapa buku ini saya beri 4 bintang, meski klimaknya justru terkesan tidak terasa. Tapi, baik dari alur cerita yang simple tapi juga tidak menyulitkan, kemudian karakter tokoh yang kuat, serta motivasi para tokoh yang kuat. Hingga klimaks yang terasa datar ini, bisa tertutupi dengan hal lainnya.

Selain itu, karakter-karakter dalam cerita Charlie, sangat kuat. Baik dari kejamnya Nenek Bone serta saudari-saudarinya. Benjamin yang kesepian dan hanya bergantung pada anjingnya. Sampai paman Paton, juga memiliki kekuatan dan diferensiasi dari tokoh lainnya.

Juga, setiap adegan dideskripsikan dengan sangat baik, sehingga pembaca dengan mudah bisa membangun imajinasi sendiri tentang sekolah Bloor dan bagaimana Bless si anjing. Juga, seperti apa toko buku Ingeldew.

15 December 2016

Hari Setelah Kita Jatuh Cinta
Hari Setelah Kita Jatuh Cinta



Saat membatalkan pernikahannya sendiri, Rasi merasa langit runtuh dan mengubur dirinya di kedalaman bumi hingga mustahil dirinya bangkit lagi. Akan tetapi, Tuhan tidak kehabisan kejutan. Di saat Rasi selesai membenahi hati dan kembali menjalani hidup, hadirlah Reuben. Lelaki itu membuat Rasi berpikir apakah dia hadir sebagai tiket untuk bisa bangkit kembali dan jatuh cinta? Rasi berpikir demikian saat tangan Reuben terulur, menawarkan kebersamaan dan tanpa sadar memberi Rasi mimpi.

Rasi menyerahkan segala kepercayaannya dan menyilakan Reuben masuk pada bagian dirinya yang tidak pernah dibagi pada sembarang orang. Tapi, di saat yang sama, Rasi tahu bahwa Reuben bukan datang padanya sebagai kesempatan untuk kembali jatuh cinta. Reuben justru datang untuk menggenapkan pengalamannya patah hati. Di titik itulah, Rasi terlambat menyadari bahwa penyakit yang selama dua tahun ini susah payah disembuhkan, nyatanya kembali datang. Penyakit yang membuatnya lupa, bahwa patah hati ada untuk dihadapi, bukan dihindari.


Kartu Tanda Buku


Judul : Hari Ketika Kita Jatuh Cinta || Penulis : Halluna Lina || Halaman : 249 || Editor : Septi Ws || Desain Sampul : Teguh || Cetakan pertama, Juni 2016 || ISBN : 9786023755202 || LBABI (Level Buku Ala Bacaan Ipeh) : 1 || Rating : 🌟🌟🌟



Rasi tidak ingin menceritakan cerita cinta yang begitu-begitu saja. Dia ingin memiliki sebuah cerita yang benar-benar bisa dia tulis dengan segala suka dan luka yang pernah dialaminya. Bahwa rasa cinta yang benar adalah ketika tangis, sakit, kecewa, sedih, putus asa, bahkan benci pun hadir setelahnya. Segala ketidakbahagiaan itu tentu pun bisa diobati oleh keberadaan cinta itu sendiri. ~ Hal 11


Dari blurb yang saya tulis sebagai pembuka, tentunya bisa ditebak bahwa tokoh utama dalam novel ini adalah Rasi, seorang perempuan yang konon menurut Freyja, dia adalah sosok yang paling kuat menahan sakit. Dan ikut diaminkan juga oleh Relung. Rasi sendiri merupakan seorang penulis buku yang karyanya sudah menginspirasi banyak orang. Bahkan novel karya Rasi sudah pernah menjadi bahan tesis mahasiswa psikologi universitas nomor satu di Surabaya.

Rasi memiliki sahabat-sahabat yang senantiasa selalu ada di dekatnya. Bahkan keberadaan mereka juga penting demi keberlangsungan hidup Rasi, jika kalian membaca dengan seksama novel ini. Mungkin ada beberapa yang berharap juga ingin memiliki sahabat seperti Freyja, Hannah, Relung juga Aga. Sama, saya juga sedikit iri dengan Rasi yang bisa kompak selalu dengan keempat sahabatnya itu.

Tapi, sebelum itu bahkan Rasi pernah hilang kontak dengan sahabat-sahabatnya ini, hingga suatu ketika mereka meminta agar Rasi selalu berusaha untuk menghubungi mereka, dalam kondisi apa pun agar tidak lagi kehilangan jejak.

Pengalaman hidup Rasi yang akan kita simak dalam novel Hari Setelah Kita Jatuh Cinta, berisi banyak hal tentang persahabatan, percintaan, rasa sakit dan juga Trauma! Ini yang nantinya bisa kalian simak dengan baik, kenapa sampai-sampai Rasi hilang ingatan dan lupa kalau Hannah sudah menikah dan dirinya menjadi MC di acara tersebut - lihat halaman 120.

Sesuai dengan keinginan Rasi yang ingin menuliskan kisah tentang kehidupan cinta dan sahabat-sahabatnya dengan menyajikan kisah yang tidak begitu-begitu saja, karena justru ending dari novel ini tidak memberikan janji yang aneh atau malah memberikan imajinasi terindah dalam sejarah dongeng yang sering kita baca. Halluna Lina bisa memberikan sesuatu yang berbeda untuk pembaca melalui ending cerita yang akan membuat pembaca merasa (mungkin) cukup puas.

**

Ada satu sosok yang membuat saya gregetan, yaitu AGA. Sahabat lelaki Rasi yang dekatnya bukan main. Bagi Rasi Aga itu seperti sosok Ayahnya, mungkin bisa dikatakan sebagai pengganti? Karena justru di dekat Aga, Rasi merasa tenang dan nyaman. Meski lelaki ini tingkahnya suka bikin gemes dan spontanitasnya justru membuat lucu. Apalagi, Aga sendiri memang benar-benar berupaya untuk melindungi Rasi jika ada sesuatu yang aneh terjadi.

Tapi, jangan dikira kalau ini tentang kisah persahabatan yang kemudian jadi cinta. Huhuhuhu, karena memang sampai akhir, kalian akan mengetahui bagaimana hubungan Aga dan Rasi.

**

Siapa sih yang menolak ketika bertemu lelaki yang justru membuat rasa sakit itu seolah lenyap? Sepertinya bukan hanya Rasi yang tidak menolak, tapi bisa saja banyak orang memilih untuk tidak menolak keberadaan lelaki seperti Reuben yang memang memberikan banyak hal untuk Rasi.

Bahkan, hebatnya, Reuben sendiri tanpa diberitahu oleh Rasi, sudah bisa melihat adanya 'sesuatu' yang disembunyikan oleh Rasi. Sesuatu yang besar yang justru bagi Rasi seperti batu yang mencekat kerongkongannya setiap kali Reuben menyenggol topik pembicaraan tentang keluarga.

Barangkali kita juga akan mengatakan bahwa sesuatu yang lumrah ketika seseorang merasakan trauma hingga membuatnya sulit untuk jatuh cinta. Karena, trauma itu bukan hal yang mudah, perlu penanganan khusus seperti terapi untuk memulihkan keadaan. Bukan menyembuhkan memang, karena luka akibat Trauma hanya bisa pulih bukan sembuh dan hilang sama sekali jejaknya.

Trauma dan Adaptasi Manusia pada Rasa Sakit, ini tema yang saya tangkap dibahas dalam novel ini. Melalui sosok kehadiran dokter Cynthia, kita bisa mendapat sisipan informasi terkait penanganan stress dan trauma meski dalam porsi sedikit. Tapi, dari sinilah sebenarnya ada banyak hal yang terlupa dari kebiasaan manusia ketika menghadapi trauma, hingga mendatangkan rasa sakit yang teramat seperti yang terjadi pada Rasi.

Kehilangan ingatan atau bahkan pingsan bisa terjadi setiap kali Rasi tidak bisa mengendalikan dirinya saat harus berhadapan dengan trauma masa lalu. Karena itulah, selama dua tahun dia berusaha untuk bisa pulih kembali dan bisa belajar untuk jatuh cinta, meski kemudian Reuben seolah menjadi sosok lelaki yang datang tepat pada waktunya.

Tepat ketika Rasi ingin belajar jatuh cinta, tepat pula waktunya hingga kemudian keputusan besar harus diambil oleh Rasi meski dia harus pingsan dan tak sadarkan diri sampai 2 hari. Tapi, kehadiran Reuben memang berpengaruh. Di sinilah titik balik kehidupan Rasi, klimaks dari kisah kehidupan Rasi dan sahabat-sahabatnya.

**

Kalian bisa mendapati hal-hal yang berkaitan dengan trauma masa kecil Rasi dalam buku ini, karena ini yang menarik bagi saya. Selain itu, proses terapi yang rutin, serta hubungan Reuben dan Rasi yang sangat disayangkan untuk dilewati. Apalagi, ketika Reuben dengan tatapan matanya yang meluluhkan, juga harus dihadapi oleh masa lalunya.

Huhuhu, buku ini masuk ke dalam Level Satu ala Bacaan Ipeh. Yaitu buku dengan alur yang tidak sulit, ringan dan bisa diselesaikan dalam satu hari saja. Meski berisi 200 halaman lebih, tapi tetap saja buku ini menarik untuk dibaca sambil santai. Tidak akan membuat kening berkerut karena susah mencerna :).

Selain itu, kekompakan sahabat Rasi dan kisah cinta mereka, juga menarik untuk disimak, karena lumayan cukup berwarna juga lika-liku kisah cinta mereka semua. Dan satu lagi, seperti yang saya sudah tuliskan sebelumnya, kalian akan mendapat ending yang berbeda dari novel romantis pada umumnya.

Oiya, judul Hari Setelah Kita Jatuh Cinta, sebenarnya memang menjadi pertanyaan dari Freyja ketika dia ingin memastikan, apakah dirinya benar-benar mencintai pasangannya. Apakah impiannya untuk menikah, memiliki anak, akan tetap ada setelah dirinya menyatakan dengan jujur bahwa Dia Jatuh Cinta? Nah, mungkin kalian masih ingat, apa yang terjadi setelah kalian Jatuh Cinta, hihihi.

Kalau saya? Hari setelah saya jatuh cinta, adalah hari ketika saya nunggu cowok tersebut, saat saya masih SMA, setiap pagi di bawah pohon Cinta dengan sabar. Hohohohohoho, terdengar sangat oldish banget memang, tapi begitulah kenyataannya versi saya. Kalian mau berbagi pengalaman kalian di "Hari Setelah Jatuh Cinta"?

Silakan berbagi melalui kolom komentar :). Dan saya ucapkan terima kasih bagi kalian yang sudah membaca tulisan saya ini sampai habis.

14 December 2016

Angels of Morning Star Club

Berawal dari rasa penasaran saya yang menuntun saya untuk mencari tahu tentang buku ini. Dari blurb yang tertera, saya mengakui penasaran tentang para mantan narapidana yang dikisahkan di sini. Meski saya pikir ini novel terjemahan dari Cina, yang ternyata justru berasal dari Korea. Yang kemudian membawa imajinasi saya pada penggambaran para tokoh dengan mudah.

Ya, pastinya saya berpikir kalau Hwi Chan - toko utama dalam novel ini - akan diperankan oleh Ji Chang Wook jikalau diangkat ke drama seri atau film. Huhuhuhu, boleh dong ya saya berpikir demikian. Kenapa? Karena karakter Hwi Chan yang tidak banyak teman, sering lepas kontrol ketika emosi ini cocok dengan Ji Chang Wook yang pernah memerankan karakter yang hampir sama dengan Hwi Chan. Begitu...

Tapi, apa sih tema utama yang diangkat dalam novel ini? Melalui cerita Hwi Chan dan kawan-kawannya, kita sebagai pembaca diajak untuk melihat, bagaimana pandangan masyarakat terhadap pada mantan narapidana. Betul, stigma masyarakat di banyak negara, terkait orang-orang yang pernah melakukan tindak kejahatan. Terlepas dari mereka benar-benar menyesalinya atau justru masuk penjara karena tuduhan palsu pun hasilnya tetap sama.

Nah, dari pengalaman teman-teman di Morning Star Club inilah, kita belajar untuk memperbaiki sudut pandang kita sebagai sesama manusia, dengan memberi ruang untuk tidak memicing atau berprasangka terhadap para mantan narapidana. Walaupun bukan berarti kita langsung saja percaya 100% tanpa menyaringnya, tapi cukup dengan tidak melabeli mereka sebagai pendosa dunia akhirat, itu saja.



Kartu Tanda Buku

Judul : Angels of Morning Star Club || Penulis : Lim Se Hyuk || Halaman : 370 || Penerjemah : Dimitri Dairi || Penyunting : Novianita || Proofreader : Dini Novita Sari || Desain Sampul : Cokroid || Penerbit : Penerbit Haru || Cetakan Pertama, Maret 2015 || ISBN : 9786027742451 || Rating : 🌟🌟🌟 || Level : 1 (Buku Yang Selesai Dalam Waktu Singkat)




Hwi Chan hanya memiliki seorang Kakak perempuan yang merupakan satu-satunya keluarga yang dia miliki. Mereka tinggal berdua saja sejak kedua orangtua mereka pergi selamanya. Sang Kakak bekerja dengan giat demi adiknya yang sangat dia sayangi, jadi tidak heran kalau nanti kalian akan mendapati kedekatan keduanya menjadi sesuatu hal yang sangat mengharukan. Apalagi, sang Kakak ini karakternya mudah sekali terharu hingga akan kita dapati dirinya menangis karena hal-hal yang mungkin remeh atau juga hal besar.

Bagaimana ceritanya hingga Hwi Chan bisa masuk penjara? Berawal dari rasa penasarannya pada sosok perempuan cantik yang menghuni ruang apartemen persis di bawah ruang tempat tinggal Hwi Chan. Ketika pada mulanya dia merasakan debaran yang membuat rasa penasarannya membuncah, hingga akhirnya menguntit perempuan tersebut karena Hwi Chan tidak tahu harus berbuat apa. Namun, sayangnya, justru sang perempuan berpikir kalau Hwi Chan adalah orang jahat.

Hingga suatu ketika terdengar suara teriakan yang hanya didengar oleh Hwi Chan, sumber suara dari ruangan bawah tempat tinggal si perempuan cantik tersebut. Karena suara teriakannya terdengar kembali, akhirnya Hwi Chan memutuskan untuk memeriksa ada apa gerangan hingga perempuan cantik itu berteriak. Tak disangka-sangka, ternyata kamar apartemen si perempuan cantik tengah dimasuki perampok yang akhirnya berhasil melarikan diri.

Inilah senjata makan tuan bagi Hwi Chan, meski niatnya baik untuk menolong si perempuan cantik, tapi karena dia pingsan dan ketika polisi masuk yang terlihat hanya Hwi Chan seorang, akhirnya diputuskanlah bahwa Hwi Chan bersalah. Didukung pernyataan si perempuan cantik dengan tuduhan sebagai orang asing yang sering menguntitnya.

**

Di bagian penjara inilah kita sebagai pembaca disuguhi keadaan yang sangat berbeda dari apa yang kita pikirkan tentang penjara. Seperti suasana yang gelap, kegiatan yang itu-itu saja, serta banyak hal yang tidak kita duga atau juga ada beberapa yang sesuai dengan apa yang kita pikirkan.

Yang sesuai, seperti misalnya, ketika Hwi Chan baru masuk penjara dia diam saja ketika ditanya salah seorang tahanan lain. Karena di dalam hatinya, Hwi Chan merasa bahwa banyak orang yang sudah berlaku tak adil padanya. Dia tidak bersalah dan hatinya tetap keras untuk meneriakkan bahwa dia benar-benar tidak salah. Tapi, ini berimbas pada satu kejadian yaitu tahanan lain merasa tersinggung dengan diamnya Hwi Chan kemudian memukulinya dengan sangat kejam. Beruntung seorang Kakek yang lewat di depan ruang sel melerainya, hingga mereka menghentikan aksinya. Kakek tersebut juga sama, seorang tahanan di penjara tersebut.

Bagian yang unik adalah para anggota tahanan memiliki waktu sekitar satu jam untuk berolahraga, kemudian sisanya mereka akan bekerja. Mereka bekerja membuat barang-barang yang nantinya akan dijual dan mereka tetap diberi gaji yang sesuai untuk membeli keperluan mereka selama berada di penjara - dengan catatan barang yang dibeli bukan yang melanggar peraturan. Dari sinilah, justru Hwi Chan sudah terbiasa bekerja selama di penjara. Sudah terbiasa banting tulang dan memanfaatkan waktu dengan baik selama di penjara.

Di sana dia juga banyak mendengarkan nasihat sang Kakek yang dahulu pernah menolongnya. Tentang bagaimana untuk terus bersosialisasi dengan para tahanan lain alih-alih mengurung diri. Sang Kakek justru membantu Hwi Chan agar semangat menjalani aktivitas selama masa tahanan. Sehingga berangsur-angsur semangatnya muncul lagi dan satu hal yang menjadi kelebihannya, yaitu Hwi Chan gemar bersih-bersih. Dimana hasilnya membuat ruangan tampak sangat bersih.

Juga, semenjak itu, dirinya mulai banyak dikenal oleh para tahanan lain. Mereka akhirnya layaknya sahabat yang selalu ada saat suka maupun duka.

**

Sekarang, apa sih Morning Star Club itu? Berawal dari tiga orang paman-paman yang merupakan mantan narapidana, mereka memutuskan untuk menebus kesalahan dengan membentuk sebuah club yang memiliki tujuan untuk mengajak para mantan narapidana bekerja sosial. Mereka sudah terbiasa membantu tempat-tempat panti asuhan di lokasi yang jauh dari kota. Atau membantu mereparasi gereja yang sudah mulai banyak kerusakan. Sampai membantu panti jompo dengan memandikan kakek-kakek yang tinggal di sana.

Justru kegiatan mereka inilah yang banyak membantu tempat-tempat yang membutuhkan bantuan namun tidak memiliki dana yang cukup. Jangan salah, ketiga paman tersebut juga bekerja di hari-hari biasa. Sama seperti Hwi Chan yang juga bekerja sebagai penjaga toko.

Morning Star sendiri merujuk pada satu planet yang sering disebut sebagai Bintang Kejora yang selalu tampak sebagai penanda Matahari akan terbit. Planet Venus, demikianlah fakta bahwa sinar tersebut justru berasal dari sebuah planet bukan dari bintang.

"Kau pasti tahu kalau para pengelana zaman dulu itu selalu menunggu kehadiran Morning Star untuk menentukan arah jalan ketika tersesat di padang gurun, kan? Ketika sinar bulan redup sebelum matahari terbit, morning star-lah yang bersinar paling terang di langit malam. Jadi, tak peduli kejahatan yang telah kita lakukan, kita harus bisa menjadi orang-orang berguna seperti morning star tadi." ~ Hal 64

Jelas sudah, bahwa nama Morning Star sendiri bukan nama asal-asalan yang dibuat oleh ketiga paman yang akhirnya menjadi sahabat Hwi Chan ini. Nama tersebut memiliki makna tersendiri bagi kehidupan yang baru bagi orang-orang di Morning Star Club.

**

Meski pun novel ini berjumlah sekitar 300 halaman lebih, tapi isi di dalamnya sangat padat dan memiliki alur yang mudah dicerna sehingga kita tidak akan kesulitan menyelesaikan buku ini dalam waktu yang singkat. Terlebih ada banyak hal yang bisa kita dapat dari novel ini, bukan hanya sekadar stigma tapi proses yang mereka jalani serta beberapa syarat khusus yang diberikan oleh ketiga paman tersebut sebelum menerima anggota baru.

Belum lagi juga banyak hal-hal yang seru terkait pribadi para mantan narapidana ini. Meski, beberapa kali saya sedikit terganggu dengan terjemahan di beberapa kalimat yang rasanya kurang pas. Tapi, sejauh ini masih bisa diatasi atau tidak begitu mengganggu.

Buku ini saya masukkan dalam kategori Level 1, yaitu buku yang mudah dituntaskan dalam waktu singkat.

Oiya sekilas saja tentang Lim Se Hyuk, sang penulis novel ini, yang merupakan lulusan Sastra namun pernah mengawali karirnya sebagai seorang penulis berita. Menurutnya, "berita-berita yang menyentuh hati jauh lebih bernilai jika dibandingkan dengan berita-berita berat."

Dari sinilah akhirnya Se Hyuk menggabungkan pengalamannya berkutat mencari berita-berita berat dengan menambahkan unsur cinta dan harapan dalam setiap berita yang ditulisnya. Sampai saat ini dirinya masih menulis untuk berita di pagi hari dan malam hari ia menulis novel. Ia menikmati dua dunia itu dalam kehidupannya.





13 December 2016

The Tale of Genji




Ditulis pada abad 11 oleh Lady Murasaki Shikibu, The Tale of Genji merupakan novel sastra klasik Jepang. Novel ini mengisahkan seorang sosok bernama Genji yang penuh dengan idealisme, memiliki paras yang cantik, sopan dan sangat sensitif dan memiliki prestasi yang banyak membuat orang yang bertemu dengannya merasa iri dengan kesempurnaannya.

"Genji is not merely good at everything that counts, he is the best at everything that counts...And of course he is the best looking of all the good-looking nobles who throng the scene” (Enright 167)

Pada periode Yamato-Nara, Jepang pernah mengadaptasi kebudayaan Cina, mulai dari menggunakan huruf Cina (kanji), agama Buddha, sampai filosofi Konfusius dan membangun sistem birokrasi Kekaisaran di pemerintah pusat. Bagaimana pun, pada masa Heian (794-1185), Jepang menjadi lebih picik dan lebih terbiasa dengan kebudayaan yang diadaptasi dari Cina menjadi style yang unik pada masa itu. Dan The Tale of Genji ditulis pada masa Heian ini merupakan NOVEL PERTAMA DI DUNIA, yang tidak memiliki pengaruh dari literasi Cina.


Karena tidak ditulis dalam huruf Cina, tapi dengan bahasa khusus untuk perempuan dalam huruf Jepang. Jadi, jaman dahulu memang disediakan khusus bahasa untuk perempuan dalam hiragana yang berisi kalimat-kalimat puitis. Puisi yang digunakan dalam novel ini menggunakan waka yang komposisinya  5-7-5-7-7. Novel ini juga mengisahkan bagaimana sejarah kepemimpinan Jepang saat itu dari kekaisaran ke pemerintahan boneka.

**

Kartu Tanda Buku

Judul : The Tale of Genji || Penulis : Lady Murasaki || Halaman : 190 || Pengantar : Arthur Waley || Penerbit : Dover Publications || Bahasa : English || ISBN : 9780486414157 || Rating : 🌟🌟🌟🌟🌟

**

Di bagian pertama buku The Tale of Genji, Arthur Waley memberi pengenalan secara singkat berisi 11 halaman berkisah tentang siapa Lady Murasaki Shikibu ini. Apa peranannya di dalam kehidupan Genji dan bagaimana dia bisa mengetahui beragam hal tentang sosok Genji? 





The Tale of Genji ini sendiri dikisahkan oleh Genji, namun kisah tersebut merupakan kejadian yang sudah lampau pada saat Murasaki mengetahuinya. Karena, perbedaan usia antara Murasaki dan Genji yang terpaut sangat jauh. Jadi, banyak hal yang saat itu baru diketahui oleh Murasaki melalui cerita dari Genji sendiri juga dari banyaknya sumber yang dia dapatkan.

Lady Murasaki sendiri merupakan perempuan yang cerdas, dia mempelajari banyak hal dengan cepat, bahkan sang Ayah sampai berkata, "If only you were a boy how proud and happy I should be." Pada masa itu, perempuan memang dipandang sebelah mata, hingga akhirnya Murasaki memutuskan untuk menyembunyikan keahliannya, juga kemahirannya menulis dalam huruf kanji.

Pertemuan Murasaki dan Genji ini terjadi justru ketika Murasaki masih kecil. Tapi, bukan berarti Genji langsung menikahinya, tidak! Genji justru merawat Murasaki dan bahkan Murasaki kecil menganggap Genji sebagai saudara tuanya. Hingga kemudian, ketika Murasaki cukup umur, barulah Genji menjadikannya sosok perempuan yang menemaninya hingga akhir hayat. Bahkan, di depan Murasaki, Genji sering bercerita tentang segala hal, karena dia bisa menjadi dirinya sendiri hanya ketika berhadapan dengan Murasaki.

Bisa dibilang, Murasaki ini memang perempuan yang sangat disayanginya. 

**

Dan novel yang saya baca ini berisi 9 Bab. Bab Pertama membuka jalur kisah tentang sosok di balik kehadiran Genji yaitu Ibunya Genji Monogatari, Lady Kiritsubo. Yang dikenal memiliki paras yang sangat teramat cantik, bahkan menjadi Istri kesayangan sang kaisar. Tidak heran, jika Genji akhirnya memiliki paras yang juga cantik seperti sang Ibu. 

Bahkan ketika Lady Kiritsubo meninggal dunia usia melahirkan Genji, sang kaisar seakan dirundung kesedihan yang terus menerus tanpa henti. Namun, Genji merupakan anak kesayangannya, meski tidak bisa menggantikan posisi sang Ayah menjadi Kaisar, karena terlahir dari posisi Istri yang tidak kuat. Tapi, tetaplah Genji selalu menjadi anak yang disayang oleh kaisar.

Pada usianya yang sudah cukup, sekitar 17 tahun, Genji dinikahkan dengan Lady Aoi dimana dirinya jarang menemui sang Istri. Tapi, bersama dengan To-no-Chujo - kakak iparnya - mereka sangat dekat. Keduanya sering menghabiskan waktu bersama, berbincang dan minum di beranda. 

**

Pada bab-bab berikutnya, diketahui bahwa Genji pernah terserang penyakit Malaria dan berhasil sembuh. Setelah berhasil sembuh, Genji memutuskan untuk berdoa agar terhindar dari petaka. Di sebuah kuil tersebutlah, Genji melihat Murasaki untuk pertama kalinya. Di sini dia melihat ada sesuatu yang istimewa bergejolak dalam dirinya hingga memutuskan untuk merawat dan membesarkan Murasaki.

Bukan pula rahasia, tentang Genji yang memiliki banyak wanita simpanan. Pada masa Heian adalah hal yang lumrah ketika lelaki memiliki wanita simpanan selain istrinya. Bahkan ada peraturan bahwa seorang lelaki tidak boleh menghabiskan waktu terlalu lama dengan satu perempuan, karena bisa menimbulkan kecemburuan di antara perempuan lain.

Dan Lady Aoi sudah mengetahui hal ini, hanya saja karena hubungan keduanya tidak begitu baik, sehingga Genji jarang berlama-lama menemui Lady Aoi. Belum lagi kondisi Lady Aoi yang lemah hingga harus mendapat perawatan dan pengawasan yang ekstra.

**

Karma, di sini kita akan diperkenalkan dengan balasan atas perilaku. Genji meyakini bahwa perbuatan baik akan menuai kebaikan dan perbuatan buruk akan menuai keburukan. Konsekuensi inilah yang kemudian dipercaya oleh Genji sebagai alasan mengapa dirinya pantas mendapat balasan dari dendam Lady Rokujo melalui kehadiran arwah jahat yang 'menghukumnya'.

Lady Rokujo ini termasuk perempuan yang juga dekat dengan Genji, namun karena entah kenapa, Genji jarang menemui sang Lady, hingga akhirnya timbullah dendam yang diyakini Genji, menghukumnya dengan mengambil orang-orang yang dicintainya.


oo00oo

Ada banyak hal yang saya dapat dari membaca kisah hidup Genji yang ternyata banyak berisi lika-liku dan perjuangan dalam kehidupannya. Tapi, satu hal yang membuat saya selalu terkenang adalah rasa sedih yang sering melandanya. Hingga membuat saya seolah bisa merasakannya juga. Seperti pada halaman 80, ketika Genji tengah merenung sambil menatap badai.

Now like a traveler who has tried two ways in vain
I stand perplexed where these sad season meet

Disertai narasi yang mengisahkan tentang suasana hatinya, ekspresi kosongnya, menambah kuat imajinasi saya sebagai pembaca layaknya tengah berdiri bersisian dengan Genji.

Serta, meski Murasaki merupakan gadis yang istimewa di hati Genji, tapi, tetap saja dirinya tidak banyak menghabiskan waktu dengannya. Hanya beberapa kali kesempatan kemudian digunakan untuk menceritakan segala hal dari hidupnya, hingga kita bisa membaca hasil karya Murasaki saat ini.

11 December 2016


Untuk pertama kalinya saya ikutan Markituka di BBI Bajay. Dan postingan kali ini memang saya khususkan untuk ikut setoran wishlist event Markituka.

Jadi, langsung saja. Ada tiga pilihan buku, yang masuk ke dalam wishlist. Kebetulan saya pilih yang  masih anyar, agar tidak perlu menunggu lama waktu dan proses pengirimannya.

Berikut ini  buku wishlist saya :











Tiga buku tersebut masih bisa dibeli di beberapa toko buku online seperti gramedia.com atau bisa langsung beli di toko buku terdekat.

Sekian, semoga nanti clue-nya gak susah yaa. Hehe :)

03 December 2016

What i talk about when i talk about running
What i talk about when i talk about running


Di sini aku tidak mencoba untuk memberi saran, seperti "Ayo semuanya, mari lari setiap hari agar tetap sehat!" Sebaliknya, buku ini berisi kumpulan pemikiran-pemikiranku tentang berlari dan maknanya bagiku sebagai seorang manusia. ~ Haruki Murakami


Kartu Tanda Buku


Judul : What I talk about when I talk about running || Penulis : Haruki Murakami || Halaman : 197 || Cetakan kedua, Mei 2016 || Penerbit Bentang Pustaka || ISBN : 9786022910862


Betul sekali, buku ini tidak berisi tentang bagaimana cara berlari yang baik. Atau seperti apa berlari yang ideal. Serta tidak berisi segala hal tentang menjadikan 'Running' sebagai gaya hidup. Murakami benar-benar menuliskan perjalanan kehidupannya, karir menulisnya hingga kegemarannya berlari dalam buku ini. What I talk about When I talk about Running, sebuah memoar yang ditulis oleh Murakami sendiri, berisi pengalaman jatuh bangunnya untuk menaklukan lari sebagai gaya hidup.

Pain is inevitable. Suffering is option. Dalam berolahraga, terutama lari, saya sendiri mengalami ketidak-sanggupan untuk menyelesaikan apa yang sudah saya rencanakan. Seperti, saya ingin bisa berlari mengelilingi lapangan sepak bola sebanyak 10 putara. Ini pernah menjadi sesuatu yang saya idamkan, hingga suatu hari, kaki saya mengalami cidera yang membuat tumit saya terasa retak.

Alhasil, saya tidak lagi menjadikan lari sebagai olahraga. Padahal, saat itu saya benar-benar berhasil menjadikan lari sebagai hal yang menyenangkan, terlebih sebelumnya saya membenci olahraga ini. Namun, harus diakui saya sempat ketakutan ketika rasa sakit mendera.

Melalui buku ini, Murakami seolah menceritakan hal yang pernah saya alami, seperti seorang teman yang mengetahui apa yang pernah saya rasakan, kemudian menepuk pundak saya sambil mengatakan "everything is gonna be oke." di suatu bangku taman yang ramai, sore hari.


Jika sejak awal ritme kerja sudah ditentukan, untuk selanjutnya pekerjaan itu akan menjadi mudah. ~ Hal 7


Apa yang diyakini oleh Murakami memang benar, apa saja, pekerjaan atau kegiatan apa pun, jika sudah ditentukan, dirancang dengan baik, maka akan tampak lebih mudah. Ini pernah saya alami, ketika saya - untuk pertama kalinya memutuskan berlari - mengelilingi lapangan sepak bola sebanyak 2 kali setelah mencoba beradaptasi selama 3 hari. Ini semacam kemajuan yang membuat saya bahagia.

Begitu pun yang dirasakan oleh Murakami, yang memang sudah terbiasa berlari sejak dia masih sekolah. Jadi, ini bukan hal yang baru baginya. Ketika targetnya tercapai di bulan Juni, dia berhasil mencapai angka 260 km! Melewati banyak kondisi ketika kepalanya terasa kosong, tidak mampu berpikir satu hal yang pasti. Dan setelah berlari rasanya apa pun yang menjadi inti tubuh seperti diperas keluar. Namun, baginya apa pun yang terjadi, terjadilah.

Saya bisa merasakan, memang benar, berlari itu merupakan olahraga yang bisa menjadi me time. Benar-benar me time, tanpa diganggu orang lain, tanpa ada kewajiban untuk berbincang. Seperti inilah, ketika Murakami akhirnya menjabarkan sedikit demi sedikit tentang sosok pribadinya, yang ternyata juga gemar menyendiri. Tidak masalah jika harus sendiri atau harus diam sepanjang waktu. Karenanya, berlari selalu mendatangkan kesenangan tersendiri baginya.

Kecenderungan sifat penyendiri ini, diakui oleh Murakami sudah ada sejak dirinya lahir. Dengan pemahaman bahwa ini akibat dia merupakan anak tunggal, sehingga gemar menyendiri. Padahal, tanpa menjadi anak tunggal, banyak juga orang yang senang menyendiri. Saya pun demikian, menyendiri semacam kesenangan dimana saya tidak akan diganggu ketika membaca buku atau merenung, hehe.

Namun, di halaman 20, Murakami pun seakan menyetujui, bahwasannya manusia didesain untuk dapat beradaptasi dengan kondisi dan keadaannya. Juga pernyataannya tentang kemajuan sisi kemanusiaannya ketika sudut pandangnya berubah terhadap 'sosok penyendiri' dengan 'berbaur dengan orang lain'.  Meski bukan berarti itu pertandan Murakami tidak lagi gemar menyendiri, bukan, tapi dia menyetujui konsep manusia sebagai makhluk sosial.

Di halaman berikutnya pun, Murakami menceritakan bagaimana prosesnya untuk berbaur dengan orang lain, berusaha untuk berbincang ketika kehidupannya berubah karena pilihannya. Saya sendiri pun merasakan proses tersebut, bagaimana sulitnya untuk cepat tanggap ketika bergotong royong. Atau ketika menghadapi masalah, kami berdua memiliki kesamaan yaitu Menyembunyikan Masalah Untuk Dinikmati Sendiri.


Aku mendapati bahwa kita harus memiliki prioritas dalam hidup. Bagaimana membagi waktu dan tenaga kita untuk melakukan hal-hal sesuai urutan prioritas. ~ Hal 45



Iya, pengalaman saya membaca buku ini, seakan Pak Murakami ini seperti guru spiritual saya. Mengajarkan banyak hal tentang kehidupan. Terlebih bagaimana dirinya bisa mencapai kesuksesan, dengan melalui proses penggemblengan. Dari kondisi tidur yang harus berkurang karena mengelola bisnisnya, setelah itu menyediakan waktu untuk menulis. Sampai hal-hal lain.

Mempelajari pola kehidupan sehari-harinya, bisa tergambarkan bahwa Pak Murakami memang memiliki etos kerja yang tinggi. Tapi, dia juga merupakan sosok yang pantang menyerah serta berani mengambil keputusan. Betapa tidak? Justru ketika bisnis yang dimulai dari nol, hingga kemudian sukses, langsung ditutup dan disudahi hanya demi satu kegiatan yaitu menulis.

Padahal saat itu dirinya belum memiliki kemapanan dalam profesi menulis. Tapi, dia menunjukkan bahwa jika kita memiliki satu pilihan, kemudian memutuskan pilihan tersebut, sudah sepatutnya untuk komitmen dan totalitas terhadap hal tersebut.


Sungguh, saya seperti membaca buku harian tentang sosok 'Ayah' yang tengah mengajarkan anaknya untuk giat dalam berproses tanpa melupakan jati diri kita sendiri. ~ Ipeh Alena


Di halaman-halaman selanjutnya, saya benar-benar tidak merasa bosan sama sekali. Membaca seluruh tulisannya justru membawa saya pada kesadaran, bahwa saya mendapat banyak sekali hal tentang hidup dari buku ini. Seperti contoh, ketika istrinya yang tetap saja memiliki tubuh ideal meski makan dalam porsi banyak. Sementara Pak Murakami cukup mudah mengalami kelebihan berat badan, hanya karena kurang gerak. 

Pada kasus ini, banyak yang mengeluhkan tentang 'ketidak adilan' dalam pola kehidupan. Namun, Murakami justru mengajak pembaca untuk melihat dari sudut pandang berbeda, melalui pengalaman pribadinya. Jadi bukan hanya mencomot pengalaman orang lain, untuk dibagikan manfaatnya sambil memotivasi. Tapi, justru dari pengalaman pribadinya itulah, Murakami memotivasi pembacanya.

Dari sudut pandang inilah, yang berbeda, Murakami masih mampu bertahan dalam kehidupan dunia sastra. Saya cukup terbantu sekali melalui pengalamannya, yang membuat saya mendapat bayangan yang cukup mengenai apa-apa saja pilihan saya ke depannya.

Kehidupan yang dialami Murakami, sama seperti kehidupan kita. Melalui proses, jatuh bangun serta hal-hal yang terkadang membuat diri kita seolah tidak sanggup lagi. Tapi, alih-alih menjadikannya benalu dalam dirinya yang bisa membuatnya tak bertahan lagi, justru Murakami membuang semua benalu itu, melalui berlari.

Apa yang dilakukan oleh Murakami sebenarnya sudah sering digaungkan di Indonesia seperti, "Di balik Tubuh yang sehat ada Jiwa yang kuat." Atau kalimat seperti, "Menggunakan Waktu untuk hal-hal yang bermanfaat." Meski pada kalimat kedua, lebih sering ditujukan untuk kampanye Anti Narkoba. Nah, Murakami sendiri sudah melakukannya juga, dan menuliskannya sejak tahun 2005.



Melalui pengalaman dari seorang pelari, tentang bagaimana dia bisa sukses mencapai targetnya. Murakami juga mengikutsertakan proses, mengikutsertakan rasa sakit serta kegagalan demi kegagalan yang pernah dia hadapi. Bagaimana sulitnya bangkit setelah menerima kekalahan. Bagaimana arti kemenangan itu sendiri, membuat saya pribadi seperti mendapat nasihat bijak dari sosok/figur seorang Ayah.

Tentunya, buku ini, meski hanya berjumlah 197 halaman, tapi memuat segala hal yang cukup untuk pembaca mengarungi kehidupan dengan sudut pandang berbeda. 

Terima kasih


01 December 2016

Landline Rainbow Rowell
Landline Rainbow Rowell





JIKA KAU PUNYA KESEMPATAN KEDUA UNTUK CINTA, APA KAU AKAN MENGAMBIL KEPUTUSAN YANG SAMA?


Landline - Terus terang, ini novel kedua karya Rowell yang saya baca. Sebelumnya Attachment berhasil saya taklukan dalam sehari saja. Apakah kemudian membuat novel ini terlalu tidak berguna? Bukan, tapi gaya penulisan serta alur dan penyampaiannya yang to the point sehingga membuat novel ini berbobot dan tidak bertele-tele. Mengingat saya ini penggemar Stephen King, dimana novel-novelnya sering kali berisi kalimat-kalimat yang bertele-tele, tapi tetap saja membuat saya terkocar-kacir ngefans sama beliau.

Sama seperti buku sebelumnya, ada nuansa klasik atau kuno yang diangkat oleh Rowell dalam novelnya kali ini. Sosok perempuan yang memiliki handphone Iphone tapi batrenya soak, sehingga harus berulang kali dicas. Serta seorang lelaki yang bahkan untuk menerima SMS atau mengangkat handphone saja sangat-teramat-jarang sekali. Dan juga, kenyataan atau fakta bahwa telpon rumah tak lagi dibutuhkan, hingga harus disingkirkan atau disimpan dalam lemari penyimpanan.


Kartu Tanda Buku


Judul : Landline || Penulis : Rainbow Rowell || Halaman : 370 || Penerjemah : Airien K. || Penyunting : M.R Prajna || Proofreader : Titish A.K || Desain cover : Chyntia Yanetha || Cetakan pertama : April 2016 || Diterbitkan oleh : Penerbit Spring || ISBN : 9786027432215 || Facebook : Penerbit Spring || Twitter : @penerbitspring


Novel ini tentang 'Mencintai Kembali'. Bagaimana tokoh-tokoh dalam buku ini berusaha untuk memperbaiki apa yang telah terlewat, dalam hal ini sesuatu yang sudah terjadi. Mereka semua terombang-ambing dalam pikiran serta ambisi yang sebenarnya kalau diwakili dengan level 1 sampai 5, maka tingkat urgensinya mencapai level 5. Semua tokoh memiliki alasan masing-masing yang kuat untuk bertindak dan memutuskan apa yang ingin mereka lakukan.

Singkatnya, novel ini tidak berisi tentang kegalauan yang diakibatkan para tokohnya tidak tahu apa yang ingin mereka pilih. Bukan. Tapi kegalauan, kebimbangan tentang pilihan mereka, apakah sudah sesuai juga dengan orang-orang yang ada di sekitar mereka yang mereka cintai. Dan bahkan ini menyangkut hampir keseluruhan tokoh.

Mereka semua memiliki tujuan masing-masing dalam roda hidup dunia yang Rowell ciptakan. Kehidupan yang sudah ditakdirkan oleh Rowell. Sehingga para tokoh memiliki impian dan cita-cita tersendiri.

Seperti Georgie, yang menjadi tokoh perempuan - awalnya saya pikir dia lelaki - dalam novel ini. Seorang Ibu dari dua anak yang sangat mencintai suaminya, Neal. Georgie sudah memiliki tujuan dan impian sejak dia masih kuliah. Cita-citanya, dia ingin memiliki program televisi sendiri, yang dia tulis serta alurnya sesuai dengan idealismenya. Georgie memang seorang penulis acara komedi, sahabatnya - Seth - mengatakan bahwa Georgie adalah perempuan terlucu yang pernah dia kenal.

Ada juga sosok lelaki yang konon mengakui bahwa dia bukan tipikal cowok yang memiliki keputusan. Dia saja bingung ingin konsentrasi dalam bidang pekerjaan apa. Apa yang ingin dia lakukan nantinya. Ibaratnya, Neal ini seperti cowok pasif yang selalu menunggu keputusan dari Georgie. Seolah-olah, dia hanya sosok yang menanti, bukan yang beraksi. Tapi, memang benar, bisa dibuktikan melalui pertemuan Neal dan Georgie setelah Neal mengakui kalau dia sudah tunangan. Dan hari itu, justru Neal yang memanggil Georgie dari sebrang jalan untuk menghampirinya.

Jujur saja, memang benar kok, kalau novel ini termasuk yang 'luar biasa' karena kebiasaan semuanya tidak seperti novel-novel yang sering kita temui. Seperti Georgie yang bekerja atau menjadi tulang punggung keluarga. Neal suami yang mengurus rumah serta anak-anaknya. Sementara jam kerja istrinya tidak dapat ditebak. Dan dua anak perempuan yang terbiasa tinggal bersama Daddynya, karena sang Ibu benar-benar sibuk bukan main.

Sementara itu, banyak ditemui novel dimana sahabat jadi cinta. Tapi, bagaimana dengan Seth dan Georgie? Yang bahkan Seth lebih paham tentang Georgie 100% daripada Georgie memahami dirinya sendiri. Seth, lelaki tampan yang menurut Georgie bertampang 'cantik', rapi tapi tetap maskulin dan bergaya. Keduanya sudah menempel sejak pertama kali bergabung dalam satu projek dalam waktu yang lama. Bayangkan saja sudah 19 tahun Seth dan Georgie bersama!

Nah, karena kedekatan Georgie inilah, akhirnya ada benih-benih cemburu yang tidak tampak terlihat oleh Georgie, ketika dia menjelaskan pada Neal bahwa natal tahun itu dia tidak bisa ikut serta dengan Neal dan kedua anaknya pergi ke Ohama. Tempat Ibunya Neal. Ketika Neal memutuskan untuk tetap pergi, Georgie masih berpikir bahwa ini tidak masalah, bukan masalah sama sekali. Sampai ketika Ibunya Georgie mengkhawatirkan anaknya.

Novel Rowell memang selalu menyertakan juga candaan atau lelucon yang ringan dan tidak terkesan memaksa. Tampak mengalir begitu saja, seperti yang saya jelaskan sebelumnya. Kalau novel ini singkat dan padat, pembaca tidak perlu membutuhkan waktu yang lama hanya untuk membaca satu kalimat yang intinya Georgie merindukan Neal. Tidak. Tapi pembaca akan disuguhi adegan :

Ketika Goergie merenung siapa yang selalu ada di rumah setiap dia pulang? Neal.
Siapa yang memandikan kedua anak mereka? Neal.
Siapa yang mengalah ketika Georgie melahirkan anak pertama mereka? Neal.
Siapa yang akan menenangkan Georgie ketika dia tengah menghadapi deadline dan kebuntuan ? Neal.

Baik, itu saja sudah cukup untuk mengetahui bahwa NEAL ITU DUNIANYA GEORGIE. Jadi, kita tidak perlu kebingungan untuk mengetahui sebenarnya kenapa sih Georgie sampai kelimpungan sampai-sampai menulari Seth yang juga ikut kelimpungan.

Kalau berbicara masalah ikon telpon berwarna kuning. Itu karena alat tersebut bagi Georgie sangat ajaib. Dia bisa menghubungi Neal, sosok Neal yang berada di tahun 1998. Percaya tidak? Kalau telpon itu sangat ajaib. Georgie tinggal mencolok-kan kabel telpon di colokan di dekat kolong tempat tidur - di rumah Ibunya - kemudian menunggu nada sambung dan tunggu hingga dia bisa menghubungi orang-orang di masa lalunya. Seperti Paul ayahnya Neal.

Tadinya, saya berpikir ingin menjadi tim Neal, tapi saya tau, banyak orang yang mungkin akan memilih Neal. Itulah kenapa, saya suka karya Rowell. Karena tokoh yang dijadikan favorit ini, bukan sosok yang sempurna seperti SETH. Sungguh. Justru ketidaksempurnaannya yang terlihat sangat mengagumkan, terasa sangat hangat dan menjadikannya sosok yang favorit.

Saya justru memfavoritkan Georgie, karena rasanya ada sisi Maskulin dalam sosoknya. Tidak terlalu senang berbasa basi. Segera mengatakan apa yang ingin dia katakan, seperti ketika dia menelpon Neal hanya untuk mengatakan bahwa dia mencintai Neal. Serta keputusan-keputusan yang membuat Georgie tampak lebih macho.


Dan, jangan berharap bahwa Rowell akan memberi makan imaji dan ekspektasimu terhadap banyak hal yang sudah terlalu terbiasa terjadi di novel-novel. Kamu hanya akan berhadapan dengan rasa kecewa, karena Rowell memberikan sesuatu yang lebih konkret tentang pilihan dan bagaimana kehidupan memberikan alasan yang kuat untuk ragam pilihan.

So far, saya menyukai sekali novel ini, mungkin saya akan menunggu hingga novel Carry On diterjemahkan. Selamat menunggu juga bagi kamu yang juga sedang menunggu.







Terima kasih.