The Legend of Sleepy Hollow

November 29, 2016

The Legend of Sleepy Hollow

"Di bagian kali yang dalam dan gelap tidak jauh dari gereja, terdapat sisa-sisa sebuah jembatan kayu, jalan menuju ke sana dan jembatan itu sendiri, dinaungi pepohonan lebat yang menghadirkan kesan muram bahkan pada siang hari dan angker pada malam hari. Itulah tempat kesukaan sang Penunggang Kuda Tanpa Kepala, dan di sanalah dia paling kerap terlihat." ~ Hal 39


Kalimat di atas saya kutip dari cerpen karya Washington Irving, berjudul The Legend of Sleepy Hollow. Sesuai dengan namanya, The Legend, kisah ini benar-benar melegenda hingga dibuat film dan serial televisi berulang kali. Meski pun, lebih banyak cerita-cerita tersebut dimodifikasi, tapi tetap tidak mengubah satu hal yang menjadi ciri khas The Legend of Sleepy Hollow yaitu Penunggang Kuda Tanpa Kepala.

Judul cerpen ini juga mewakili beberapa cerpen di dalam buku ini, untuk menonjolkan kesan bagi para calon pembaca, bahwa buku ini berisi tulisan-tulisan yang sedikit menggoyahkan logika. Karena berisi cerita-cerita horor sepanjang masa. Bahkan, konon, dari kata pengantar menyebutkan ada dua cerita yang sudah pernah diangkat ke layar lebar.


Kartu Tanda Buku

Judul : The Legend of Sleepy Hollow and Other Horror Series || Penulis : Washington Irving, Dkk || Halaman : 311 || Cetakan : 1, November 2015 || Penerbit : Qanita || ISBN : 9786021637937



Sleepy Hollow


Merupakan sebuah tempat yang dekat dengan lembah hijau nan asri. Dimana letaknya hampir berdekatan dengan Tarry Town.  Selain terdapat selarik kecil sungai serta siulan burung-burung yang menjadi satu-satunya bebunyian di tempat tersebut. Sleepy Hollow tetap memiliki keunikan tersendiri, karena penduduk yang tinggal di tempat tersebut merupakan keturunan langsung para pendatang dari Belanda. 

Nuansa yang sedikit 'dark' memang senantiasa menggelayuti tempat tersebut, seakan tengah berada dalam kutukan. Di tempat tersebut, hal yang paling biasa dilakukan oleh para penduduknya adalah mengisahkan cerita horor. 

Dan arwah terkuat yang menghantui daerah angker tersebut serta menguasai semua kekuatan yang melingkupi udara lembah adalah sosok prajurit berkuda tanpa kepala. Konon dia adalah hantu dari seorang prajurit Hessia yang kepalanya hancur dihantam peluru meriam.

Kebayangkan, bagaimana kondisi kepala yang hancur dihantam peluru meriam. Karena bentuk meriamnya saja besar, seperti yang berada di museum Fatahilah. Belum lagi pelurunya yang berbentuk bulat, sering saya saksikan di beberapa film, dengan ukuran yang lumayan sebesar bola sepak. Jadi, keberadaan si hantu prajurit ini cukup tersohor sehingga membuat banyak orang sering menceritakannya.

Kisah di dalam cerpen ini memang tidak begitu menakutkan, karena lebih banyak porsi Ichabod Crane seorang pendatang yang menjadi guru di sana. Suaranya yang merdu tersohor ke seluruh penjuru Sleepy Hollow sehingga dia sangat terkenal dan disegani. Dia memiliki banyak murid-murid yang merupakan anak-anak dari penduduk Sleepy Hollow. Kedudukannya bahkan hanya bisa disejajari oleh pendeta di daerah tersebut.

Jadi, alih-alih kita merasakan cerita yang sangat mencekam, justru kita akan menyelami kehidupan Ichabod yang lama kelamaan merasa jatuh cinta pada seorang wanita. Tapi, meski begitu, saya benar-benar terkejut dengan keahlian Irving mengemas cerita ini hingga menjadi tersohor dan senantiasa dijadikan judul film atau serial televisi. Dan juga, twist dari kisah horor ini yang akan membuat pembaca akan menganggap kisah ini benar-benar membuat pembaca kalah telak jika mencoba-coba untuk menebak-nebak akhirnya.


The Fall of The House of Usher


Saya sudah pernah membagikan sedikit kisah dari cerpen ini di twitter dengan menggunakan tagar #thelegendofsleepyhollow. Dimana memang cerita yang merupakan karya dari Edgar Allan Poe ini menjadi favorit saya. Entah kenapa, Poe senantiasa pandai memainkan emosi pembaca melalui sisi kelam para tokoh-tokohnya.

Alih-alih menyediakan hantu dengan tampang menyeramkan, justru sisi gelap manusia itulah yang menjadi momok yang lebih menakutkan dari pada kehadiran sosok hantu. Bagaimana rasanya mengalami kenyataan bahwa cerita yang tengah dibaca justru menjadi kenyataan. Kalau itu cerita bagus mungkin kita tidak akan berkomentar dan justru akan merasa senang.

Namun, bagaimana kalau cerita dari buku terkenal yang dibaca dengan niat membantu meringankan beban seorang sahabat, justru berakhir sungguh menyedihkan dan menakutkan. Seperti yang dialami oleh tokoh utama dalam cerita ini yang berusaha membantu sahabatnya mengatasi masa-masa kelam dalam hidupnya.

Coba bayangkan, niat baik kita untuk menemani sahabat kita, di sebuah rumah yang sangat - sangat besar, seperti sebuah kastil, namun memiliki ukiran dan hiasan yang sarat dengan kesan kuno. Hingga tampaknya seolah-olah rumah tersebut menjadi penyebab para penghuninya dilanda penyakit yang bahkan tidak terdeteksi oleh ilmu kedokteran.

Bagaimana? Apakah pembaca akan bertahan jika dihadapi dengan kenyataan seperti tokoh utama dalam cerita ini yang merupakan sahabat dari Roderick Usher? Kalau saya pribadi, bahkan ketika membacanya ada rasa mencekam yang membuat saya membayangkan seolah-olah saya berada di tempat tersebut. Mungkin daya imajinasi saya terlalu berlebihan, namun, sungguh ketika momen si tokoh utama ini membacakan cerita untuk Rod, merupakan bagian yang paling-paling menegangkan dalam cerpen ini.

Tapi yang lebih menegangkan dan sekaligus seru adalah apa yang terjadi ketika cerita tersebut dibacakan. 



The Turn of The Screw

Cerpen yang ditulis oleh Henry James ini juga pernah diangkat ke layar lebar. Meski saya belum pernah menontonnya, tapi konsep dari cerita ini sudah sering dipakai banyak film-film yang bergenre horor. Tapi, jangan salah, bukan James yang mengikuti film-film tersebut. Karena cerpen-cerpen dalam buku ini merupakan HASIL KARYA DARI ABAD KE - 18. Jadi, bisa ditebak, siapa yang terinspirasi dari siapa.

Betul, lebih sering karya-karya pada abad ke-18 ini menjadi inspirasi untuk buku atau film di masa saat ini. Sebut saja sebagai contohnya buku dari H.G Wells yang justru sering menginspirasi film-film bertema alien. Pun sama nasibnya dengan cerpen James yang berkisah tentang seorang perempuan muda yang menjadi guru untuk dua orang anak yang sangat ramah dan manis.

Dua anak yang sangat cantik dan tampan, keduanya menyayangi guru mereka yang cantik. Keduanya tinggal di sebuah tempat yang khas sekali dengan gaya abad 18. Yaitu rumah dengan menara-menara tinggi, dengan ruangan-ruangan luas yang terkadang hanya digunakan sesekali saja. Dengan bagian-bagian rumah yang terkadang tidak banyak diketahui fungsinya oleh penghuni rumah tersebut.

Namun, itu tetap saja sebuah rumah, tempat tinggal kedua anak manis. Juga beberapa pelayan yang bekerja dengan setia di tempat tersebut. 

Sosok perempuan muda ini, cukup membuat semua penghuni rumah merasa senang. Namun, hal yang aneh terjadi, ketika tuan muda didepak dari sekolahnya. Dengan tuduhan yang tidak begitu jelas. Dan tampaknya tuan muda kecil ini tidak seperti anak-anak nakal. Wajahnya memancarkan aura anak yang baik dan ramah, lantas mengapa pihak sekolah begitu gegabah mengeluarkannya?

Sebelum semua terlihat mencurigakan, sosok lelaki yang aneh muncul beberapa kali mengganggu perempuan muda yang diberi tanggung jawab untuk mendidik dua anak tersebut. Sosok lelaki yang kalau ciri-ciri fisiknya sesuai, berarti dia sudah meninggal cukup lama. Namun, perempuan muda itu tidak begitu yakin, bagaimana mungkin ada sosok hantu yang muncul di siang hari?

Tapi, ternyata, kejadian ketika mereka baru saja keluar dari gereja membuat semua tercengang dan tidak habis pikir. Lirikan gadis kecil - anak didiknya - seolah ingin memastikan bagaimana ekspresinya ketika melihat sosok yang membuat logikanya seketika hancur berantakan. 

Dan ini kisah tentang penyelamatan dua orang anak oleh sang guru yang sangat mencintai dan menyayangi mereka. Kalau pembaca membaca dengan seksama, pasti menemukan banyak kemiripan dengan film-film terkenal yang pernah tayang di bioskop.


***

Membaca buku bergenre horor memang membawa kesan tersendiri bagi saya. Ada yang menganggap kalau cerita-cerita horor hanya sekadar menakut-nakuti. Ada juga yang beranggapan kalau cerita horor ini bagus untuk memicu adrenalin.

Tapi, bagi saya kisah horor dari hasil tulisan karya penulis-penulis tersohor dan legendaris dari abad silam, membawa rasa penasaran yang begitu besar pada saya. Karena saya seakan bisa merasakan kelamnya masa-masa ketika perang dunia sehingga membawa sisi gelap manusia hingga bisa menjadi sebuah kisah yang menakutkan.

Tidak hanya itu, terutama ketika saya menyadari bahwa cerita-cerita tersebut sering menginspirasi para sutradara kenamaan, ini yang membuat saya juga ingin membaca secara langsung, kisah originalnya sehingga saya bisa membandingkan cerita di buku dengan filmnya.

Jika pembaca tertarik ingin membaca buku ini, silakan cari di toko buku terdekat atau di toko buku online. By the way, buku ini termasuk Level A, buku yang lumayan bisa kita selesaikan dalam satu hari saja. Jadi termasuk bacaan ringan.


Semoga bermanfaat bagi pembaca.


Terima kasih.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.