Arround the world in 80 days

November 04, 2016



Berkeliling dunia saat ini sudah bukan hal yang baru lagi, karena sudah banyak orang yang melakukannya. Entah itu karena tuntutan pekerjaan atau memang sudah menjadi impian yang ingin dicapai dalam hidup. Berjalan-jalan ke negara lain memang sangat mengasyikkan, kita bisa melihat tempat yang memiliki segala hal yang berbeda dengan yang ada di Indonesia. Dari segi bahasa, adat istiadat sampai perihal makanan. Tentunya hal inilah yang sering membuat cerita-cerita dari para pelancong sering ditunggu-tunggu.

Bagaimana dengan berkeliling dunia dengan tenggat waktu yang ditentunkan? Saya yakin, untuk saat ini sudah pasti bukan hal yang mustahil. Karena transportasi sudah sedemikian canggih, sampai-sampai kereta cepat sudah tersedia, pemesanan tiket pesawat juga dengan mudah kita pesan hanya melalui telpon genggam. Berbeda ketika kita masih hidup di masa-masa abad pertengahan, atau ketika pesawat masih belum menjadi transportasi yang umum pada masa itu.

Layaknya kisah Fogg yang bertaruh dengan teman-temannya untuk berkeliling dunia dalam 80 hari. Kisah yang pernah diangkat ke layar lebar ini sudah tentu tidak asing lagi bagi pembaca. Apalagi dalam layar lebar Passepartout diperankan oleh Jacky Chan, seorang aktor yang banyak dikenal. Namun, apakah cerita dalam buku ini dengan cerita yang tampil ke layar bioskop sama? Saya hanya bisa mengatakan, untuk tema bahwa mereka mengelilingi dunia : SAMA. Tapi ada banyak hal yang juga berbeda.

Inilah kenapa saya menjadi jatuh cinta kepada buku karangan Jules Verne yang satu ini, tapi sebelum saya berkisah lebih jauh tentang buku ini, saya ingin menuliskan terlebih dahulu informasi terkait buku yang sudah saya baca ini.


Kartu Tanda Buku

Judul : Arround the world in 80 days || Penulis : Jules Verne || Halaman : 306 || Penerjemah : Fikriangga Jatanda || Cetakan 1 : 2015 || Penerbit : Octopus || ISBN : 9786027274327


Perjalanan Keliling Dunia Dan Pertaruhan

Saya ingin mengawalinya secara langsung melalui hal-hal yang saya suka dari buku ini. Begini, awalnya ide seorang Philieas Fogg yang hendak mengelilingi dunia ini tercetus ketika dirinya tengah bermain kartu bersama teman-temannya di Reforma Club. Meski mereka semua mengatakan, memang benar kita bisa mengelilingi dunia dalam 80 hari jika tidak menghitung halangan yang akan kita dapat. Tapi, untuk mewujudkannya? Mereka meragukan hal tersebut. Sehingga, saat Fogg memutuskan ingin membuat apa yang dikatakannya menjadi nyata, mereka semua akhirnya bertaruh.

Pertaruhan yang sangat besar dari teman-temannya ini, meski memang sangat mengejutkan karena Fogg hendak memulai perjalanannya malam hari di hari yang sama saat dia mengatakannya. Tentunya banyak yang tidak percaya, tapi mereka juga tetap bertaruh, karena memang Fogg sedemikian gigihnya ingin mewujudkannya sendiri.

Dan Philieas Fogg berhasil membuat Passepartout terkejut. Karena, hari tersebut adalah hari pertama dirinya bekerja pada Fogg. Dengan impian dia akan melayani tuannya yang tidak pernah repot harus bepergian ke luar negeri, dengan impian Fogg akan memberi kemudahan pada Passepartout terhadap hidupnya. Namun, apa daya, justru saat itulah dirinya harus menerima kenyataan menjadi pendamping Fogg untuk berkeliling dunia.

Fogg sudah memiliki rencana, Hari itu adalah Hari Rabu tanggal 2 Oktober. Mereka berencana untuk naik kereta menuju Dover pada pukul 08.45 malam. Dan harus kembali, dalam perhitungan selama 80 hari, yaitu pada tanggal 21 Desember. Dari london mereka akan menuju ke Suez melalui Mont Cenis dan Brindisi. Berikut inilah hal yang menjadi pembicaraan mereka di Club, yang akhirnya memicu Fogg untuk mewujudkannya.

Kereta Api dan Kapan 7 hari
Dari Suez ke Bombay dengan Kapal 13 Hari
Bombay ke Calcuta dengan kereta api 3 hari
Calcutta ke Hongkong dengan kapal 13 hari
Hongkong ke Yokohama (Jepang) dengan kapal 6 hari
Yokohama ke Sanfransisco dengan kapal 22 hari
Sanfransisco ke Newyork dengan kereta api 7 hari
New York ke London dengan kapal dan kereta api 9 hari
Jumlah 80 hari


Adakah yang berpikir untuk menulis estimasi perjalanan sebelum bepergian? Kalau saat ini, semua estimasi bisa kita lakukan melalui aplikasi dari telpon genggam kita. Namun, pada masa ketika teknologi belum secanggih saat ini, perkiraan waktu dan estimasi perjalanan memang ditentukan dari perhitungan melihat matahari atau perhitungan secara manual menggunakan jam dan tanggal serta hari. Namun, apakah ini tidak mungkin? Inilah yang saya pertanyakan pada Verne kalau saja dia masih hidup saat ini. Jangan-jangan, memang Verne sudah membuktikannya.


Catatan - catatan Perjalanan Fogg Dan Kisah Petualangan Mereka


Fogg dikenal sebagai orang aneh, orang gila, berpendirian teguh, pendiam, fokus pada tujuan, pembawaan yang tenang serta tidak banyak berbicara. Sehingga ketika dia mengatakan satu hal, dia benar-benar mengatakannya tanpa berbasa-basi. Inilah kenapa ketika mereka telah mencapai Kapal Mongolia dengan tujuan ke Bombay, bahkan Passepartout masih meragukannya, karena dianggap sangat aneh tuannya ini. Satu hal lagi yang belum saya kenalkan dari diri Fogg, dia termasuk sangat teliti, sehingga setiap perjalanannya dicatat dengan sangat detail sehingga dia bisa memperkirakan estimasi perjalanannya.

Hari Rabu 2 Oktober pukul 20.45 meninggalkan London
Hari Kamis 3 Oktober pukul 7.20 tiba di Paris
Meninggalkan Paris pada Kamis pukul 08.40
Tiba di Turin melalui Mont Cenis pada 4 Oktober, hari Jumat pukul 6.25
Meninggalkan Turin pada Jumat pagi pukul 7.20
Hari Sabtu 5 Oktober, pukul 16.00 tiba di Brindisi
Meneruskan perjalanan dengan kapal Mongolia pada Sabtu pukul 17.00
Tiba di Suez pada Rabu 9 Oktober pukul 11.00 
Lama perjalanan : 156 jam 30 menit atau 6,5 hari

Tulisan di atas saya kutip melalui catatan perjalanan milik Fogg, terlihat betapa detil dirinya mencatat lama perjalanan mereka sampai tujuan-tujuan tempat mereka singgah dalam catatannya. Ini untuk memperkirakan seberapa tepat perkiraannya agar bisa sampai kembali di London pada waktu yang telah disepakati. Meski banyak yang menganggap bahwa Fogg tidak akan berhasil karena banyaknya rintangan yang akan mereka temui, tapi Fogg tetap optimis, sangat optimis.

Kebiasaannya di perjalanannya pun berbeda dengan Passepartout, dimana Fogg bahkan tidak memiliki keinginan untuk berjalan-jalan melihat-lihat segala hal yang ada di tempat mereka singgahi. Meski begitu ketika mereka memasuki India, di sinilah petualangan mereka dimulai, menjadi cerita yang akan dikenang oleh mereka, bahkan oleh pembaca.


Pemberitaan Di Koran-koran Tidak Aktual

Konon, sudah tersebar pemberitaan bahwa rel kereta api menuju Calcutta sudah selesai. Sehingga perjalanan tidak akan terkendala, demikian Cromaty memberikan informasi pada Fogg. Tapi, ternyata apa yang mereka alami berbeda dari perkiraan. Koran-koran memang mendahului menyebarkan berita, tapi sebenarnya belum memiliki penyelesaian sama sekali. Karena di tengah jalan, mereka diturunkan dari kereta api dan harus menempuh jalan 15 mil untuk melanjutkan kembali ke stasiun berikutnya.

Sayangnya, meski sudah menunggu, mereka belum mendapatkan kendaraan, sampai Passerpartout menemukan satu kendaraan yang berbeda. Yaitu seekor Gajah yang masih sedikit liar, namun memiliki kecepatan yang sangat baik. Di sinilah mereka berhadapan dengan petualangan mereka menyelamatkan seseorang.


Ketika tengah menerobos dalam hutan, mereka hampir berpapasan dengan rombongan orang-orang yang akan mengadakan ritual pembakaran mayat seorang suami beserta istrinya yang masih hidup. Waktu itu, masih dijalani adat jika seorang perempuan ditinggal mati oleh suaminya, maka akan ikut dibakar hidup-hidup. Namun, agar si perempuan tidak memberontak, mereka akan diberikan candu. Ini untuk membuktikan besar cinta si Istri pada suaminya.

Petualangan seperti apa yang mereka alami? Banyak, dari bersembunyi, melarikan diri sampai berusaha mengakali gerombolan orang-orang tersebut. 


Sama seperti buku sebelumnya yang ditulis oleh Jules Verne. Banyak pengamat menuliskan, bahwa kisah yang ditulisnya seakan memang berdasarkan penelitian dari Verne. Tidak heran jika beberapa orang ada yang melakukan penelitian secara langsung setelah membaca tulisannya. Apakah data tersebut aktual atau tidak. Tapi, inilah yang membuat saya suka dengan karyanya. Memberikan informasi bagi pembaca, bahwa dahulu estimasi perjalanan itu didapat melalui perhitungan jam dan perputaran matahari.

Jangan salah, di buku ini bahkan diberikan penjelasan tentang kenapa ada selisih waktu, ternyata ada perbedaan antara kita pergi ke barat atau ke timur. Verne memberikan penjelasannya di bab-bab terakhir buku ini. Jadi, membaca buku ini tidak hanya memenuhi rasa ingin tahu kita, tapi juga memberi edukasi tentang perjalanan dan kisah kebudayaan pada satu daerah.


Semoga bermanfaat,

terima kasih.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.