Cinta Tak Pernah Tepat Waktu

October 12, 2016

Cinta Tak Pernah Tepat Waktu



Ciri utama seorang pecundang adalah mereka senantiasa punya jawaban negatif dan nyinyir untuk segala hal! ~ Hal 100


Sesiapa saja yang sering mendengar pepatah "Cinta akan datang pada waktunya" mungkin akan berpikir ulang ketika membaca kisah si "AKU" dalam buku ini. Yang ditulis dengan nyamannya bak aliran air yang tenang, sedikit beriak sesekali, kemudian terjun bebas dari daratan tinggi ke rendah. Ikut terombang-ambing dalam pikiran bebasnya, tentang segala hal yang ternyata sedikit absurd.

Pada mulanya, kita akan diajak berkenalan dengan lelaki yang dianggap sebagai PLAYBOY oleh seorang perempuan. Jika pembaca sudah meng-iya-kan hal ini, mungkin sebaiknya mempersiapkan topeng lain yang bisa menutupi keputusan awal setelah membaca dengan lebih seksama.

Tenang saja, ini bukan naskah proklamasi yang harus dihapal. Tapi, ada saja beberapa bagian yang membuat saya sedikit kebingungan, terutama tentang absurdnya pikiran si Aku yang melayang-layang ini.


Sebelumnya...


saya ingin menuliskan tentang satu bab dimana Phutut menuliskan rutinitas si Aku dari bangun tidur, cuci muka, dan terus semua kegiatan sampai dia siap. Sempat awal mulanya saya merasa, "yelah bro, uripku wis ruwet ki.." Karena ditulis serupa ini : Bangung tidur, cuci muka, pergi ke kamar mandi, sikat gigi, bikin kopi. Astaga!! Dunia saya sudah terlalu membosankan dengan hal-hal demikian, kemudian kamu mengajak saya untuk menikmati kebosanan itu!

KEJAM!

Belum lagi, beberapa hal yang sempat membuat saya ingin mencaci dan memaki lelaki yang membuat saya berpikir, "kamu lemah sekali. Hidup sekeras ini, tidak bisa kamu selemah itu." Tapi, saya tahu, bukankah orang yang kuat itu sendiri adalah yang dapat mengendalikan amarah? Bukan orang yang tidak menikmati rasa sedih, putus asa, kebingungan sampai harus menunggu begitu lama? 

Bukan itu...

pada kenyataannya, saya mendapati jawaban demi jawaban yang terurai seperti benang yang kusut kemudian dipintal kembali agar terurai dan bisa menjadi kain. Meski pembaca mencoba untuk mengintip langsung menuju halaman-halaman terakhir, niscaya proses itu tidak akan membuat rasa penasaranmu terpuaskan.


Puthut Mengajarkan Satu Hal


Bahwasannya, memendam dan menganggap bahwa melupakan rasa sakit atau patah hati itu adalah hal yang paling baik untuk move on. Ternyata, masalah yang mengendap justru menjadi boomerang bagi pribadi tersebut. Ianya hanya menjadi parasit yang merenggut kesehatan dan kewarasan serta daya tahan sedikit demi sedikit, hingga lenyap sudah imunnya. Sehingga rentan sekali goyah ketika suatu malam, tokoh utama bertemu dengan seorang perempuan yang membuat jantungnya berdegup kencang.

Perempuan yang kemudian membekukan dunianya dalam sekejap saja. Sambil mereka berbincang pelan. Sayangnya, si tokoh utama ini - kita sebut saja AKU - bertemu dengan dua perempuan dalam pesta pernikahan temannya. Salah satu perempuan di pesta tersebut, merupakan sosok dari masa lampaunya. Yang mengaku sudah berbahagia dengan keluarga yang dia miliki.

Tapi, entah kenapa, dalam lubuk hatinya ada kegoyahan yang begitu besar seperti gempa bumi yang meluluh-lantakkan pertahanannya. Hingga pembaca akan merasa betapa lelaki ini mudah sekali tumbang hanya karena sebuah pertemuan.


Dan pertemuan itu, membuka tabir yang merusak segala sendi hingga hancur berkeping-keping pertahanannya...


Seperti Apa Cinta


Saya pernah berpikir kalau lelaki akan mudah jalan atau dekat dengan perempuan. Saya pikir itu hanya terjadi pada lelaki, ternyata juga terjadi pada perempuan. 

Beberapa tokoh perempuan yang hadir dalam kehidupan AKU ini, berharap bisa menjadi sosok yang istimewa, hanya saja kemudian satu persatu dari mereka mengajukan pengunduran diri karena tidak tahan. Dirinya seakan menjauh dari segala macam ikatan. Seakan tidak mau berkomitmen terhadap apa pun.

Di sinilah kita belajar melecuti seperti apa cinta itu, hingga efeknya membuat si AKU menenggak bir, sampai harus membutuhkan pertolongan seorang ahli untuk bisa membuatnya kembali pada dirinya sendiri. Seperti manusia kehilangan jiwanya.

Cinta yang cukup membuat orang berpikir, "ah hal sepele" tapi ternyata membawa pada efek yang begitu buruk, hingga suatu ketika AKU memutuskan untuk menarik diri dari dunia.


Seperti Apa Pergaulannya


Tidak tahu juga, apakah ini rumus yang pasti, bahwa seorang pembaca buku akan senang menyendiri? Karena demikianlah AKU yang senang menyendiri, bersama kumpulan pikiran-pikirannya. Kalaupun berkumpul dan bersenda gurau, pastilah Ia memilah dan memilih, tidak langsung serta merta nyemplung ke dalam tongkrongan orang lain.

Kehidupannya yang jauh dari hingar-bingar membuat pembaca akan merasakan kesunyian yang sama dengan yang dirasakan AKU. Sunyi yang membuat pembaca juga akan memiliki pikiran tersendiri dan dunia sendiri yang dipenuhi hujan kata-kata.

Ketika dia bertemu dengan orang baru, saat itulah akhirnya dia berusaha hanya sekadarnya. Apalagi perempuan itu yang pertama kali mengajaknya berbicara. Perempuan yang cerdas bagi si AKU, membuatnya merasa 'sedikit' nyaman meski pada awalnya tetap saja dia merasa melakukan hal ini sekadar basa-basi.

Kebersamaan dengan Perempuan cantik ini juga tidak berlangsung lama. Tapi, kemudian dia dihadapi dengan kenyataan. PERPISAHAN yang lagi-lagi seakan menjadi jodohnya.



Manusia Tetap Membutuhkan Manusia Lainnya


Memang benar kalau kita memiliki masalah sudah sepatutnya hanya Tuhan saja yang kita ajak berbicara. Tapi, tunggu dulu, mau dikemanakan istilah "Manusia Sebagai Makhluk Sosial" ? Tetap saja, manusia membutuhkan orang lain, sebagai tempat untuk berbagi. Dalam hal ini katarsis. 

Proses katarsis itu sendiri merupakan 'cara' untuk memulihkan segala macam rasa nyeri dan pilu yang mencekik entah rongga tubuh bagian mana, namun rasanya bisa membuat sendi pada tubuh terasa sakit. Terkadang bisa menyebabkan tidak dapat tidur karena leher menjadi tegang, kurang bisa tidur karena mata menjadi panas. Kemudian menangis yang entah tak tahu kenapa.

Seperti AKU yang mencurahkan ceritanya pada seorang tante, yang nyatanya merupakan tante dari salah seorang perempuan yang pernah dekat dengannya. Tante inilah yang membantu AKU untuk kembali menghadapi dunia dan menapaki bumi ini. Menjadi setidaknya 'seutuhnya' dia, ketika berada di Surga Kecil milik si Tante.

Jangan berpikir macam-macam. Beliau adalah tante yang benar-benar menyayangi AKU seperti keponakannya sendiri. Mendengarkan segala macam keluh kesahnya hingga membantunya untuk mengurai pikirannya yang kusut. Memintal pikiran dan masalahnya sehingga bisa ditemukan pangkal dari masalah tersebut.


SELESAIKAN SESUATU YANG SEBENARNYA BELUM SELESAI...


Karena inilah yang sebelumnya saya tuliskan. Merenggut separuh kehidupannya, serta membuatnya tak lagi menjadi manusia yang bisa bebas bergerak.



Begitulah...


Ketika saya membaca buku yang sudah tergeletak cukup lama. Saya masih berpikir, akankah buku ini menyajikan mellow drama yang membuat saya pusing kemudian bosan? Tapi ternyata, saya tetap menikmati apa yang berkecamuk dalam pikiran AKU. Meski begitu ruwet sekali. Kalau saya pikir lagi, tampaknya sosok AKU ini seperti sosok Phutut sendiri.

Entah darimana saya menebak-nebak seperti ini. Tapi, yang jelas, Kisah Cinta itu tidak melulu tentang happy ending atau sad ending dengan cara yang begitu kuno. Bagi saya, penyelesaian AKU dalam buku ini termasuk membahagiakan dan melegakan, karena sejatinya kebahagiaan itu bukan hanya sekadar dongeng belaka.

Dan satu hal yang beberapa kali membuat saya memaki, itu tadi... Betapa mudahnya lelaki bisa tertarik pada moment 'ketidak sengajaan' pertemuan dengan perempuan. Ah, terkadang ingin rasanya saya benar-benar memukul kepala AKU hingga dia misuh-misuh sendiri.

Sesungguhnya membaca buku ini meninggalkan kesan tersendiri terhadap kesunyian dan kesendirian. Pemahaman tentang kehidupan dan masalah yang sering tidak disadari oleh manusia, membuat saya paham, bahwa hidup ini menyajikan terlalu banyak hal yang tidak bisa kita cerna dalam satu waktu. Semua itu membutuhkan proses.

Inilah dia PROSES yang bisa kita nikmati dalam buku Cinta Tak Pernah Tepat Waktu, karena memang begitu adanya, terkadang menurut kita terlalu lambat, atau terkadang terlalu cepat. 

Selamat berproses....


Detil Buku


Judul : Cinta Tak Pernah Tepat Waktu || Penulis : Phutut EA || Halaman : 261 || Penyunting : Eka Kurniawan || Penerbit : Buku Mojok || ISBN : 9786021318270 || Bookstore : @Stanbuku







  • Share:

You Might Also Like

1 comments

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.