Panduan Wajib Menulis Resensi Buku

October 18, 2016

Panduan Wajib Menulis Resensi Buku



Berguru Pada Pesohor - Saya sempat bimbang, terkait prosedur menulis ulasan yang baku atau batasan-batasan seperti apakah ulasan buku yang baik itu. Terlebih pelajaran Bahasa Indonesia sejak saya sekolah, kalau diingat-ingat hanya membahas tentang struktural, tidak membahas secara menyeluruh apa-apa saja yang membuat sebuah ulasan itu dikatakan bagus atau baik. Meski, memang betul, ulasan buku akan terlihat baik atau bagus tatkala mengikuti prinsip-prinsip yang diajarkan.

Hanya saja, apakah hanya sekadar itu? Tidak adakah sesuatu hal lain yang bisa dipelajari dari resensor yang bisa dengan mudah menuliskan segala macam buku yang tampaknya biasa saja kemudian menjadi luar biasa? Atau menjadikan buku istimewa bertambah istimewa? Apa rahasia mereka?

Dalam buku ini, Dahlan dan Diana, membantu pembaca untuk merekonstruksi tatanan dari sebuah resensi melalui kupas tuntas ulasan dari para resensor yang sudah ternama. Ibaratnya, belajar dari yang terbaik. 


Kartu Tanda Buku


Judul : Berguru Pada Pesohor - Panduan Wajib Menulis Resensi Buku || Penulis : Diana A V Sasa - Muhidin M Dahlan || Halaman : 256 || Cetakan kedua : April, 2012 || Penerbit : 1# dbuku || Didukung oleh : IBOEKOE || ISBN : 9786029899702



Melalui Resensi Nasib Sebuah Buku Ditentukan


Meminjam kalimat dari kata pembuka yang ditulis oleh Diana AV Sasa | Muhidin M Dahlan, saya berpikir ulang tentang kondisi perbukuan di Indonesia. Siapa saja yang ingin membeli sebuah buku, pasti akan bertanya pada beberapa teman yang dinilai memiliki 'penilaian baik' terhadap bacaannya. Ini tentunya terkait juga pada selera, yang mau tidak mau senantiasa menjegal buku-buku bagus untuk menjadi best seller karena dinilai 'tidak sesuai selera'.

Tapi, semenjak kemunculan penerbit-penerbit indie yang bagi saya berhasil menyaingi penerbit mayor, dalam menghasilkan buku-buku bermutu, seperti buku yang saya baca ini. Sepak terjang mereka tentunya tidaklah mudah dan tidak instan. Dengan kedekatan bersama komunitas buku, serta menemukan pembaca-pembaca yang tepat sehingga dapat menyebarkan juga virus membaca buku berkualitas, sehingga fenomena ini tentunya menarik sekali. 

Menariknya karena apa? Karena pembaca di Indonesia disuguhi oleh bacaan bermutu yang beragam. Saya sendiri berkenalan dengan karya dari banyak penulis melalui buku-buku yang diterbitkan oleh penerbit non mayor. Semoga saja ini mengindikasikan semakin sportifnya persaingan terkait dunia perbukuan. 

Menilik kembali tentang 'bobot' sebuah buku, tentunya orang akan berpikir ulang jikalau ulasan yang ditemukan terkait buku yang ingin dibelinya ternyata tidak sesuai dengan ekspektasinya. Begitu pula kenapa saya membuat blog khusus buku, karena saya ingin pembaca bisa mempertimbangkan banyak hal dari apa yang saya tulis, meski memang tidak sebegitu 'bagus' opini saya tentang satu buku. Tapi, ini membuat saya sadar, bahwa penting bagi para resensor untuk memberikan secara jelas pertimbangan apa saja yang memberatkan atau meringankan sebuah buku agar dibaca atau tidak dibaca.

Dengan begitu, calon pembaca buku tersebut, tak hanya mendapat informasi yang berguna, tapi juga merasa terbantu dengan kehadiran ulasan yang disediakan.

Jika pembaca gemar 'nongkrongi' rubrik khusus resensi pada beberapa koran, yang mana seringnya ditulis oleh para penulis tersohor, tentunya selalu membangkitkan rasa ingin tahu yang begitu besar. Meski si Penulis mengatakan bahwa buku ini sungguh kejam karena terlalu banyak typo, misalnya. Kalau diulas sedemikian rupa, hingga menampilkan sisi lain yang membawa rasa penasaran bagi seorang pembaca, sudah pasti akan membuat pembaca resensi bertekad bulat untuk ikut membacanya.

Begitu pula penilaian dari sebuah buku, yang patut juga disertakan dalam tulisan ulasan. Itulah sebabnya, pada buku ini dibedakan menjadi dua terkait Ringkasan Buku dan Resensi Buku, apa dan bagaimana perbedaannya.


Ringkasan Dan Resensi Apa Bedanya ?


Jikalau merujuk pada Negara Barat, betul memang ada perbedaan antara Ringkasan Buku (Book Report) dengan Resensi Buku (Book Review). Kemudian, letak pembeda dari kedua hal tersebut adalah Ringkasan Buku umumnya faktual, berisi informasi mengenail penulis, judul, waktu, tempat penerbitan dan rangkuman isi buku. Sementara Resensi Buku lebih cenderung personal, ekspresi pendapat seorang pembaca dari karya yang dibacanya secara lebih spesifik. Resensi mengandung isi seperti ringkasan, tapi mengulas lebih dalam dengan memasukkan pendapat pribadi si pembaca karya [3].

Satu hal yang paling menonjol dan mudah dalam mengindentifikasi apakah tulisan tersebut merupakan ulasan/resensi atau artikel/essai adalah melalui keberadaan KTB atau Kartu Tanda Buku, seperti yang saya tulis di atas. Yaitu berisi detail atau informasi terkait buku, seperti judul, nama penulis, jumlah halaman, dimensi buku, penerbit, penata letak dan segala informasi berkaitan dengan buku tersebut.

Namun, ada satu lagi faktor yang juga menentukan, apakah tulisan tersebut berupa essai atau resensi, yaitu mengikut-sertakan cerita terkait isi buku dan terkadang juga pengalaman sang penulis selama proses membaca buku tersebut. Dan, sudah bisa ditentukan juga bahwasannya tulisan ini adalah resensi meski tidak menyertakan KTB, karena fokus tulisan adalah tentang buku atau pengarangnya.


Apa Langkah Awal Untuk Memulai Menulis Resensi ?


1.Buatlah Daftar Pertanyaan Interogratif

Ketika membaca sebuah buku, untuk memberikan kemudahan bagi pembaca saat ingin menulis sebuah ulasan. Buatlah beberapa pertanyaan yang jawabannya terdapat dalam buku tersebut. Entah itu menyangkut tujuan penulis mengangkat tema tertentu, atau terkait hubungan antar tokoh dan ragam pertanyaan lainnya yang bisa digunakan untuk membantu menulis ulasan.

Bisa juga dengan menandai beberapa kutipan-kutipan penting, tandai juga jawaban-jawaban yang diberikan oleh buku. Serta catat informasi-informasi yang berkenaan dengan fisik buku, catat pula gugatan-gugatan jikalau ada serta berikan usulan serta resolusi [16].

2.Kartu Tanda Buku

Jangan lupa juga untuk sertakan Kartu Tanda Buku seperti yang sudah saya tulis sebelumnya di atas. KTB ini digunakan sebagai katalog pendataan buku dalam perpustakaan. Ini untuk mempermudah sensus buku. Serta untuk memberikan identitas sebuah buku melalui informasi ISBN.


3.Buatlah Judul Yang Menggugah

Tampak tak asing lagi bukan, poin nomor tiga ini? Betul, dalam dunia tulis menulis, membuat Judul merupakan hal yang terus menerus dipelajari dan mendesak para penulis, baik penulis buku, blogger bahkan penulis resensi hingga penulis skripsi, agar dapat membuat judul yang menggugah. 

Ada banyak sekali ilmu terkait teknik copywriting yang mengedepankan teknik membuat headline agar memancing rasa penasaran pembaca. Tapi perlu diingat kembali, judul yang menghentak jika tidak disertai eksekusi penulisan tentunya akan mengecewakan pembaca.


4.Taklukkan Pembaca Melalui Paragraf Pertama

Ternyata bukan saja tulisan artikel atau tulisan pada buku-buku cetak dan elektronik saja yang membutuhkan 'gebrakan' pada paragraf pertama. Ulasan dapat juga menaklukkan pembaca melalui paragraf pertamanya. Sehingga, ini bisa menjadi nilai lebih bagi penulis ulasan.

Dalam paragraf pertama, penulis ulasan bisa melakukan banyak cara, misalnya dengan menyematkan quote menarik dari buku yang dibaca, langsung dibuka dengan kritikan terhadap buku atau bisa juga menulis langsung keunggulan buku tersebut. Semua cara ini dimaksudkan untuk membuat paragraf pertama yang membuat pembaca ulasan penasaran dan ingin mengetahui lebih banyak tentang buku tersebut.


Panduan Wajib Menulis Resensi Buku



5.Mengolah Tubuh Resensi


Resensi tak hanya soal judul dan paragraf pertama, melainkan juga rangkaian belasan dan bahkan puluhan paragraf. Jika judul dan paragraf pertama adalah pintu masuk, maka paragraf-paragraf selanjutnya adalah serangkaian panjang kedalaman ulasan sebuah buku. Bagian ini bisa berisi banyak kutipan, metafora, informasi - baik yang diambil dari buku maupun informasi tambahan dari kutipan karya orang lain.

Keluasan pengetahuan, kritisisme, kesabaran dan kelihaian dari penulis resensi akan terlihat di paragraf berikutnya selepas pelatuk paragraf pertama ditarik. Di paragraf tubuh resensi itu pula kita bisa menyidik apakah penulis resensi membaca keseluruhan buku itu atau hanya mengambil sebagian kecil isi buku atau bahkan buku yang diresensi hanya sekadar tempelan belaka dari topik yang diinginkan oleh penulisnya [136-137].


Masih ada banyak cara lain yang disertai contoh dalam menulis resensi dari para pesohor yang kerap kali menuai pujian serta kritikan dalam mengulas sebuah buku. Poin-poin yang saya tulis di atas, merupakan sebagian kecil saja dari apa yang ada dalam buku Berguru Pada Pesohor ini. Jadi, pembaca bisa menilai sendiri, bobot dari buku karya Muhidin M Dahlan dan Diana AV Sasa melalui beberapa hal yang saya bahas di atas.

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi pembaca.

Terima Kasih


  • Share:

You Might Also Like

6 comments

  1. Makasi mba, aku juga pengen belajar resensi lebih baik lagi paling sulit cara yang ke-3 suka bingung diawal hahaha..
    nice sharing ^^

    ReplyDelete
  2. bagaimana kalau buku yang kita baca gak sesuai ekspektasi (ga seselera sama kita - jadi menurut kita bukunya biasa) tapi harus di resensikan dengan baik (semacam dibikin kesannya menarik dan bagus) karena buku itu diminta dirensensi penulisnya *disitu sya suka bingung mau nulisnya *

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya pernah menemukan kondisi seperti ini. Hal yang saya lakukan yaitu membuat ringkasan cerita. Karena untuk mengeluarkan opini, saya masih belum memiliki kuasa untuk mengemasnya dengan apik.

      Tapi, dalam buku ini, ada juga beberapa contoh yang menyematkan kritikan. Just in case memang sudah deal dibolehkan mengiritik.

      Kalau mau cari 'aman' memang lebih baik memberikan ringkasan ceritanya saja.

      Terima kasih

      Delete
  3. Tfs mba tipsnya, seru yah karna banyak hal baru yg saya ketahui di postingan ini. Masih newbie bangeeet soal review mereview buku :D

    ReplyDelete
  4. Nah itu mba saya kayanya lebih ke ringkasan deh klo nulis fi nlog buku kalopun ngasih pendapat tak terlalu bnyk dan kurang jeli, hrs lebih bnyk baca review buku bookblogger lain nih.

    ReplyDelete
  5. Ini juga ngefek ke jam terbang yaa, Peh...
    Semakin banyak baca buku, maka semakin jeli kita menilai dan membuat resensi.

    Mau kaya Ipeeeh...
    *copycat

    ReplyDelete

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.