Si Babi Ungu dan Cerita-cerita Lainnya

September 29, 2016




Si Babi Ungu, judul buku pertama dari serial kumbang karya Enid Blyton ini menjadi teman saya hari ini. Kebetulan saya sekalian menuliskan ulasan untuk memenuhi tantangan #31HariBerbagiBacaan agar tidak tertinggal dengan teman-teman lainnya. Bersyukur, buku ini tidak terlalu tebal, jadi saya bisa menyelesaikannya dengan segera tanpa berlama-lama.

Memang, terkadang ketika melihat tumpukan buku yang masih belum tersentuh, sering mendatangkan rasa jenuh untuk melirik buku baru lainnya. Tapi, penimbun buku tetaplah penimbun buku, meski waktu saya sehari-hari sering membuat saya lalai untuk membaca sampai tuntas. Setidaknya, saya masih mencanangkan membaca buku meski satu lembar (penurunan level :p).

Dalam buku ini, seperti biasa terdapat beberapa cerpen yang berisi pesan moral yang sangat bagus untuk pembacanya dari berbagai kalangan. Jadi, bagi para Ibu yang belum mempersiapkan bacaan untuk anak-remajanya, buku ini bagus sekali dan tetap masih bisa dibaca meski sudah dewasa.

Sebelum melanjutkan saya ingin memberi informasi terkait buku ini.





Detil Buku

Judul : Si Babi Ungu dan Cerita-cerita lainnya || Penulis : Enid Blyton || Halaman : 189 || Cetakan kesebelas : Juni 2016 || Desain Sampun : Maryna Desain || Penerbit : Gramedia || ISBN : 9786020329864


Si Babi Ungu


Jenny dan Will menolak permintaan Ibunya untuk berkunjung ke rumah Nyonya Lump. Alasannya karena wajah Nyonya Lump seram, dengan kacamata yang tebal serta wajah yang keriput, juga karena seringkali marah-marah. Itu sebabnya mereka benar-benar menolak permintaan tolong Ibunya. Tapi, karena terus dipaksa, akhirnya keduanya menurut.

Meski di perjalanan mereka masih ketakutan. Ketika sampai di depan rumah Nyonya Lump, kedua anak ini mengetuk pintunya berkali-kali, namun tidak ada tampak kehadiran Nyonya Lump. Keduanya memutuskan untuk langsung masuk ke rumah tersebut, tanpa menunggu. Agara tidak bertemu dengan Nyonya Lump. Saat meletakkan bingkisan dari Ibu mereka, mereka melihat celengan Babi berwarna Ungu. 

Bentuknya memang tidak bagus, serta warnanya yang aduhai menyakitkan mata. Membuat mereka berpikir, mengapa Nyonya Lump betah sekali menyimpan benda buruk rupa seperti itu. Apalagi ketika mereka perhatikan dengan sesama, ternyata benda tersebut adalah celengan yang berisi beberapa koin milik Nyonya Lump. Tanpa sengaja, benda tersebut terjatuh dan pecah, isinya berhamburan ke segala arah. 

Karena takut dimarahi oleh Nyonya Lump, akhirnya keduanya memutuskan untuk melarikan diri. Tapi, kemudian mereka ingat nasihat dari sang Ibu, inilah alasan mereka kembali ke rumah Nyonya Lump. Dalam cerita ini terdapat banyak sekali pesan moral yang disampaikan dengan cara yang mengasyikkan. Seperti ketika Jenny dan Will tidak ingin menjadi seorang yang pengecut hingga memutuskan untuk kembali ke rumah Nyonya Lump, karena teringat dengan nasihat sang Ibu.

Berikut ini beberapa pesan moral yang saya dapatkan melalui cerita Si Babi Ungu :


1.Bertanggung Jawab

Entah itu kesalahan yang diakibatkan oleh kita sendiri secara sengaja atau tanpa sengaja. Baiknya untuk tetap bertanggung jawab, karena melarikan diri dari tanggung jawab ketika terjadi kesalahan atau masalah, merupakan contoh orang yang pengecut.

2.Berprasangka Baik

Jenny dan Will menganggap bahwa Nyonya Lump itu sosok perempuan yang galak dengan wajah buruk rupa. Tapi Ibunya mengatakan bahwa beliau sangat baik hati. Kemudian, ketika mereka benar-benar mengenal sosok Nyonya Lump secara langsung, barulah mereka tahu bahwa Ibunya tak pernah berbohong.

3.Berani Mengakui Kesalahan

Betapa beraninya Jenny dan Will kembali ke rumah Nyonya Lump untuk mengakui kesalahan mereka. Keduanya juga tidak mengeluh ketika harus bertanggung jawab dengan mengumpulkan pecahan dan uang logam yang bertebaran di lantai rumah beliau. Perbuatan mereka sangat terpuji.

4.Simpanlah Barang Pemberian

Nyonya Lump tetap menyimpan barang yang diberikan oleh adiknya meski tampak sangat buruk. Walaupun bertahun-tahun lamanya, beliau ingin sekali menyingkirkan benda tersebut. Tapi, dia tidak ingin mengecewakan sang Adik. Jadi, menyimpan barang-barang pemberian dari orang lain, apalagi yang sangat kita sayangi, adalah tindakan yang sangat baik. Agar yang memberikannya juga merasa senang dan dihargai.

5.Berani Meminta Maaf

Setelah mengakui perbuatannya, Jenny dan Will juga tak lupa untuk meminta maaf pada Nyonya Lump. Inilah yang membuat keduanya malah mendapat hadiah dari beliau. Apalagi sebelum pulang, mereka disuguhi makanan yang sangat lezat. Ternyata mengakui kesalahan saja tidak cukup tanpa disertai dengan meminta maaf. Karena itu, jangan pernah ragu-ragu untuk meminta maaf ketika melakukan kesalahan.



Cerita-Cerita Lainnya


Ada 8 cerita pendek dalam buku ini, termasuk kisah Si Babi Ungu yang tadi saya bagikan ceritanya di atas. Cerita lainnya juga masih mengikut-sertakan anak-anak sebagai tokoh dalam ceritanya. Ada kisah anak yang sering memiliki banyak alasan untuk berputus asa, anak yang gemar berjanji tapi tidak segera menepati hingga kebiasaannya ini terus sampai dia dewasa, ada kisah anak yang tak percaya diri akan kemampuannya. Juga cerita penutup tentang murid-murid di sebuah sekolah yang membuat satu hari menjadi hari Bunga Mangkokan.




Semoga tulisan ini bisa bermanfaat.

Terima Kasih




  • Share:

You Might Also Like

3 comments

  1. Ini buku yang saya baca berulang- ulang jaman SD- SMP dulu^^
    Serial lainnya bagus juga. Ukuran bukunya yang kaya buku saku bikin enak dibawa kemana- mana. Makanya, punyaku sampe kucel. Hihiii...

    ReplyDelete
  2. Pengeeeen banget beli boxsetnya, tapi kalau inget timbunan huhuhuhu.... Ulasannya cukup penggoda

    ReplyDelete
  3. belum pernah baca bukunya.. semoga suatu saat ada kesempatan beli... :)

    ReplyDelete

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.