Kisah Hidup Utsman bin Affan

September 04, 2016



Khalifah Utsman Bin Affan - Beliau adalah khalifah ketiga, sosok yang paling pemalu diantara sahabat-sahabat Rasulullah salallahu alaihi wassalam lainnya. Saking pemalunya, dalam sebuah riwayat dikisahkan Rasulullah menemui sahabat-sahabat lainnya ketika Rasul tengah berbaring. Kemudian tibalah giliran Utsman radiyallahuanhu tiba, seketika Rasul mengubah posisinya, kemudian merapikan jubahnya agar auratnya tidak tersingkap.

Kemudian Aisyah bertanya dan Rasul menjawab, "Tidakkah aku malu pada orang yang malaikat pun malu kepadanya?!" (HR. Muslim no.2401)


Dalam buku ini banyak keutamaan sosok khalifah Utsman dalam banyak hal. Betapa Allah sangat menyayangi dan mencintai Utsman bin Affan radiyallahuanhu. 


Kehidupan Utsman Bin Affan


Nasabnya bertemu Rasul pada kakek yang keempat, yaitu Abdu Manaf. Dari sisi Ibu, nasab keduanya bertemu pada Urwa bint Kariz. Ibunda Urwa adalah Baydha bint Abdul Muthalib, bibi Rasulullah.

Pada masa jahiliyah ia disebut dengan nama panggipan Abu Amr. Setelah masa Islam, ia lebih sering dipanggil "Abu Abdullah" yang diambil dari nama putranya dari Ruqayyah binti Rasulullah. Julukan yang paling terkenal adalah Dzunnurain, sang Pemilik Dua Cahaya, itulah julukan yang paling disukainya. Julukan itu diberikan karena ia menikah dengan dua putri Rasulullah, yaitu Ruqayyah radiyallahuanha dan Ummu Kultsum radiyallahuanha.


Utsman Bin Affan dilahirkan 6 tahun setelah tahun gajah, tepatnya 47 S.H. Usianya 6 tahun lebih muda dari Rasulullah, ia dilahirkan di Taif, daerah yang paling subur di kawasan Hijaz.


Meskipun dikenal dari keluarga bangsawan dan dikenal sering berbuat kebaikan terhadap sesama, setelah menyatakan diri masuk Islam, Utsman tak luput dari siksaan kaumnya. Pamannya, al-Hakam sulit menerika kenyataan jika pemuda keturunan Abdu Syams yang tumbuh dengan keyakinan kaum Quraisy telah berpindah agama. Karena itu, al-Hakam dan pengikutnya menentang keras keislaman Utsman dan mengancamnya. 



Khalifah Yang Takut Kepada Allah


Hartanya yang berlimpah dan kekuasaannya yang besar tak sedikit pun membuatnya sombong dan angkuh. Utsman bin Affan senantiasa menjaga kemuliaan akhlaknya sehingga ia tetap tampil sebagai pribadi bersahaja. Utsman pernah berkata, "aku pernah menjewer telingamu maka lakukanlah kisas kepadaku." Budak itu menarik telinga majikannya, namun Utsman berkata, "Lebih keras lagi. Kisas di dunia tidak seberapa dibanding kisas di akhirat." 


Khalifah Yang Lembut, Pemaaf dan Dermawan


Utsman meneladani junjungannya, Rasulullah salallahu alaihi wassalam, sehingga ia tumbuh menjadi pribadi yang lembut kepada sesama mukmin. Ia selalu berusaha membantu kesulitan yang mereka hadapi dan menghilangkan kesedihan mereka. Ia rajin menyambung tali silaturahin, memuliakan tamu, memberi pekerjaan kepada orang fakir, membantu yang lemah, memberi kepada yang miskin, dan berusaha menghindarkan kesulitan dari mereka.

Kelembutan sikapnya senantiasa didahulukan ketika ia menghadapi berbagai persoalan, baik yang berkaitan dengan urusan pribadi, terlebih lagi urusan umat. Atha bin Furukh menceritakan bahwa Utsman membeli sepetak tanah dari seseorang. Transaksinya tidak berjalan lancar karena orang itu menunda-nunda. Utsman datang menemuinya dan berkata, "Apa yang menghalangimu untuk segera menerima uangku?"

"Engkau menzalimiku. Setiap kali bertemu seseorang, ia selalu menyalahkanku."
"Itukah yang menghalangimu?"
"Ya."
"Engkau punya dua pilihan, mempertahankan tanahmu atau menerima uangmu."

Lalu Utsman menjelaskan, "Rasulullah bersabda, Allah memasukkan orang yang memudahkan ke dalam surga, baik selaku pembeli atau penjual, yang memutuskan atau diputuskan." 


Keluarga Utsman bin Affan


Kehidupan khalifah Utsman bin Affan benar- benar kehidupan yang sangat menarik dan berwarna. Ia dilahirkan dan tumbuh dewasa di tengah lingkungan suku Quraisy, suku yang paling terhormat di Makkah. Setelah dewasa ia menikah dengan Putri Rasulullah, Ruqayah dan ketika Ruqayah meninggal dunia karena sakit yang dideritanya, Rasulullah menikahkan Utsman kepada putrinya yang lain, Ummu Kultsum.

Usia pernikahan Utsman dengan Ummu Kultsum pun tidak berlangsung lama, seakan-akan Utsman memang disiapkan untuk menghadapi kesedihan. Pada tahun kesembilan hijriah, Allah memanggil Ummu Kultsum ke haribaannya.

Berikut ini daftar susunan istri dan keturunan Utsman bin Affan :

1. Ruqayah binti Rasulullah, memberinya anak Abdullah tetapi meninggal dunia pada usia 6 tahun.

2. Ummu Kultsum bint Rasulullah, tidak memberinya keturunan.

3. Fakhitah binti Ghazwan, memberinya anak bernama Abdullah namun meninggal dunia ketika kecil.

4. Ummu amr bint Jundub, memberinya anak bernama Amr, Khalid, Abban, Umar dan Maryam.

5. Fathimah bint Al-walid al-Makhzumiyyah, memberinya anak bernama Said, al-Walid, dan Ummu Said.

6. Ummu al-Banin bint Uyaynah ibn Hishn al-Fazariyyah, memberinya Abdul Malik namun meninggal di usia dini.

7. Ramlah bint Syayban ibn Rabiah, yang memberinya Aisyah, Ummu Ibban dan Ummu Amr.

8. Nailah bint al-Farafashah, memberinya Maryam.


Masa Kekhalifahan Utsman

Pada masa kepemimpinan Utsman, terjadi perselisihan di antara umat. Mereka saling menyalahkan, mengkafirkan dan mendustakan. Akibat perbedaan Qiraah dari satu daerah dengan daerah yang lain.


Kenyataan ini mendorong Utsman untuk berijtihad. Pada akhir 24 H dan awal 25 H, Utsman mengumpulkan para sahabat untuk menyusun mushaf. Keempat panitia kodefikasi itu adalah para penghapal Quran yang telah dikenal baik, yaitu Zaid bin Tsabit, Abdullah ibn Zubair, Said ibn Al-ash dan Abdurrahman ibn Al-Harits ibn Hisyam.

Langkah pertama yang dilakukannya beliau menuliskan surat kepada Hafsah, memintanya agar mengirimkan mushaf yang ada padanya. Panitia kodefikasi bekerja dengan sangat cermat dan hati-hati. Mereka menghimpun beberapa Qiraah yang ada di tengah umat kemudian memilih salah satunya yang dianggap paling dipercaya.

Jadi sepanjang sejarah umat Islam telah terjadi tiga kali kodifikasi Al-Quran pada tiga masa yang berbeda :

Kodifikasi pertama berlangsung pada zaman Rasulullah salallahu alaihi wassalam, namun terbatas pada penulisan ayat dan peletakannya pada tempat tertentu. Ayat-ayat itu dituliskan pada berbagai media seperti lempengan batu, tulang pipih, pelepah kurma, dan media lainnya.


Kodifikasi kedua dilakukan oleh Abu Bakar al-Shidiq atas perintah Umar bin Khatab,  yang mengkhawatirkan kepunahan al-Quran akibat banyaknya para Hafidz Quran yang terbunuh kala perang. Kodifikasi ini dilakukan dengan cara menuliskan semua ayat al-quran dalam satu mushaf khusus dengan ayat yang sudah tersusun.

Kodifikasi terakhir yang dilakukan oleh Utsman bin Affan yang melewati beberapa tahap. Pengumpulan kembali semua lembar al-quran. Kemudian menyusun mushaf utama lalu membuat beberapa salinan untuk dikirimkan ke seluruh pelosok negeri Islam.


Detik-detik Menjelang Kematiannya


Pada hari Jumat bulan Zulhijah tahun 35 H, Utsman tengah membaca Al-Quran ketika beberapa orang merangsek ke dalam kamarnya. Ia membaca al-Quran dengan khusuk dan suara bergetar. Tiba-tiba saja seseorang dari mereka loncat ke hadapan Utsman, kemudian berteriak dan menebas tangan Utsman hingga putus.

Lalu seseorang memukul keningnya hingga jatuh tersungkur dan yang lainnya memukulnya dan membunuhnya.

Pagi hari, sebelum terjadinya pembunuhan, Utsman bercerita bahwasannya di dalam mimpinya Rasulullah mengatakan padanya, " Malam ini, makanlah bersama kami, Wahai Utsman." Saat terbangun keyakinannya semakin mantap bahwa ia akan segera menyusul Rasulullah, sehingga ia memutuskan untuk puasa pada hari itu.


Detil Buku

Judul : Kisah Hidup Utsman bin Affan || Penulis : Dr. Musthafa Murad || Halaman : 280 || Penerbit : Zaman || ISBN : 978.979.0243.163


Penutup


Selain kisah hidupnya, detik-detik hari ketika menjelang wafatnya Utsman, ada banyak hal yang membuat hati saya sebagai pembaca ikut menangis. Betapa murni keimanannya, betapa teguh pendiriannya meski nyawa sudah berada di ujung pedang.

Detil-detil kisah kodifikasi al-quran juga tak kalah menarik. Apa yang menjadi penyebab utamanya sampai lahirlah mushaf utsmani ini dikisahkan lengkap dalam buku berjumlah 280 halaman. Juga bagaimana kepemimpinannya dalam memutuskan suatu hal.

Selain itu, terdapat bab Khusus yang berisi bagaimana fitnah terhadap Utsman bermula. Apa saja yang menjadi penyebabnya kemudian bagaimana kondisi saat itu, cukup membuat saya sebagai manusia yang sangat jauh dari sempurna ini, sadar. Bahwa fitnah yang pernah menimpa manusia di dunia ini, belum seberapa dibanding fitnah yang menimpa Rasulullah dan para sahabatnya.


Jadi, membaca buku tentang kehidupan Utsman, membuat saya mengenal dengan baik siapa khalifah yang menjadi sahabat Rasul ini. Juga banyak pembelajaran yang dapat dipraktekkan terkait sikap dan perilakunya yang senantiasa mengikuti Rasulullah.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.