Bookconfession 2016

June 27, 2016



Bookconfession 2016. Tahun ini untuk pertama kalinya saya ikut serta dalam event Posbar Juni 2016 dengan tema Bookconfession. Apa-apa saja yang berkaitan dengan buku, yang tidak diketahui oleh orang lain. Dan mungkin ini pertama kalinya saya menuliskannya di blog ini.

Meski dikatakan bahwa tema kali ini cenderung santai dan tanpa mikir, tetap saja saya berpikir keras, apa saja yang ingin saya tuliskan di dalam postingan saya kali ini. Maka dari itu, perlahan tapi pasti, saya akan menuliskannya sedikit demi sedikit.





Bookconfession Bacaan Ipeh 2016


1. BUKU DENGAN TEMA DAN TEMPLATE YANG SAMA


Kalau saja saya bisa langsung mengutarakan rasa keberatan saya ketika pertama kali membaca dan menamatkan sebuah beberapa buku dari satu penulis, mungkin akan berbeda kondisinya. Entah itu buruk atau baik. Wajar rasanya jika penulisnya nanti merasakan keberatan.

Sebenarnya isi dari tulisan tersebut tidak salah. Mengajak untuk sedekah, perbanyak solawat, berbuat baik pada orang tua, berbuat baik pada keluarga serta menyegerakan beribadah. Poin-poin itulah yang bermanfaat bagi pembaca.

Namun, bagaimana jika poin tersebut terdapat di bulu selanjutnya dengan judul berbeda, seakan diulang-ulang dan tidak ada perbedaan yang signifikan, hanya sedikit saja perbedaannya, seakan-akan hanya satu paragraf untuk pembeda dari buku satu dengan buku lainnya.

Ini saya alami ketika saya membeli 4 buku karya Ippho Santosa. Yaitu buku Marketing is Bullshit, 10 jurus terlarang, Moslem Millionaire, serta Hanya 2 Menit. Dari ke-4 buku tersebut saya tidak bisa memberikan komentar lagi. Saya pikir akan membahas dengan mendalam bagaimana dan seperti apa. Saya menyamakannya dengan buku Jaya YEA Kitab Anti Bangkrut, yang isinya bukan pengulangan dari buku sebelumnya. Bukan pula hanya sekadar kalimat yang diulang-ulang.




2. BUKU DENGAN SINDIRAN


Aneh bagi saya ketika usai menyelesaikan buku 7 Wasiat Rezeki Terampuh Dari Nabi karya Mahmud As-syafroni. Karena di dalamnya, saya mendapat kesan, "Masa baru tau kalo sedekah itu bisa mendatangkan rejeki? Kemana aja Anda, Ustad? Saya udah tau dong!"

Ini kesan yang saya dapat sebagai pembaca. Alih-alih menyajikan sesuatu yang baru bagi pembaca, justru saya terjebak pada hal-hal yang sudah pernah disampaikan oleh Ustadz lain. Jadi, dari situlah saya menyadari untuk tidak membeli buku berdasarkan rekomendasi toko buku. Karena, itu bisa jadi buku-buku yang isinya sesuai tren dan jarang membahas lebih dalam.


3. BUKU DARI PENULIS FAVORIT


Pasti senang dong ya, kalau baca buku dari penulis yang disukai. Tapi, bagaimana kalau buku yang dibaca akhirnya bikin kecewa? Biasa kan ya? Sama, saya juga pernah kecewa berat dengan Bernard Batubara, selepas membaca buku Surat Untuk Ruth, saya benar-benar merasa ingin melempar bukunya ke dinding.

Seperti melihat kemunduran dari karyanya. Melihat dia di bawah bayang-bayang desakan yang bikin saya muak. Isinya jauh dari harapan. Bahkan masih lebih bagus konsep buku Kata Hati, seketika saya beruntung tidak membeli Cinta Dengan Titik. Meski saya bersyukur di buku Milana, serta Jatuh Cinta Cara Yang Terbaik Untuk Bunuh Diri, saya seakan menemukan kembali jati dirinya Bara dalam tulisannya.


oo00oo


Jadi, itu beberapa hal yang berkaitan dengan buku, dimana hal tersebut belum saya tulis di blog ini. Semoga saja ini bisa jadi bahan pertimbangan bagi pembaca yang penasaran dengan beberapa buku yang saya sebut di atas. 




Happy Reading !!

  • Share:

You Might Also Like

7 comments

  1. Waaahhh... terperosok di genre buku yanag sama yang sama ya? #eeeehhh...

    Kalo aku sih belum pernah tertarik dengan buku2 macam Keajaiban Sedekah dan sejenisnya. Tau lah ada pahala dan rejeki sendiri tentang sedekah itu. Tapi kalo baca 4 buku dengan isi yang hampir sama? Tuh penulis ngga ada ide lain kali ya, selain nulis hal yang sama? wkwkwkwk...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sebuah jebakan yang bikin garuk2 tembok :D. Penulisnya konon melabeli dirinya kreatif btw :D

      Delete
  2. Aku nggak tertarik baca bukunya Ippo, wakakaka. Aku juga belum minat baca bukuna Bernard, penasaran dengan Jatuh Cinta Cara Yang Terbaik Untuk Bunuh Diri karena baca beberapa review dan banyak yang bilang bagus, baca resensi bukunya yang lain nggak terlalu bagus, jadi belum tertarik sampai sekarang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu juga kecele mba, karena penasaran sama isinya dan masuk jejeran buku2 rekomendasi toko buku. Waktu itu saya masih polos :D ahahaha, sekarang, boro2 nyentuh juga ga deh, ga lagi-lagi.

      Delete
  3. Hihihi karena saya editor nonfiksi, jadi nemu buku dengan tema sama yang diulang-ulang begitu udah macam kerjaan harian. Dulu pas awal-awal suka ngelus sama redpel, tapi lama-lama kebal juga daripada saya kena darah tinggi LOL

    ReplyDelete
    Replies
    1. Walaah Mas Dion, gak kebayang gimana kondisi jiwa dan raga kalau liat buku2 macam gitu. Saya aja sebagai pembaca udah merasa 'LELAH' gimana editor. SAbar yaa Mas, semoga penulis template kaya gitu berkurang :D

      Delete
  4. iya nyebelin banget tema buku yang diulang2, kayak ngga berkembang ya. trus aku juga pernah tuh berharap banyaaak sama penulis favorit, tapi ternyata buku berikutnya bener2 paraaah XD

    ReplyDelete

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.