5 Buku Rekomendasi Bacaan Ipeh Tahun 2016

June 02, 2016

Tahun 2016 baru memasuki bulan ke 6. Selama beberapa bulan ini pula, saya baru membaca beberapa buku baik Fiksi maupun Non-Fiksi. Meski berjalan lambat, tapi saya tetap bersyukur, karena masih bisa menyempatkan diri untuk membaca.

5 Buku Rekomendasi Bacaan Ipeh Tahun 2016


Sepanjang beberapa bulan ini, ada beberapa buku yang bagus dan akan saya rekomendasikan kepada pembaca. Karena ada beberapa yang memang sangat inspiratif, tapi juga beberapa ada yang bermuatan cerita yang memiliki wawasan tersendiri pada sesuatu hal. Berikut ini adalah 


5 Buku Rekomendasi Bacaan Ipeh Tahun 2016.


1. Bakat Bukan Takdir

Ditulis oleh Bukik Setiawan yang kemudian banyak dikenal melalui program Takita. Serta segala hal tentang bakat anak-anak. Pada mulanya saya mengenal beliau melalui twitter, kemudian berlanjut membaca buku pertamanya berjudul "Anak Bukan Kertas Kosong", yang berisi tentang wawasan bahwasannya anak-anak itu anugerah dari Allah yang telah diberikan banyak hal pada diri mereka, ini mematahkan kepercayaan bahwasannya Anak itu Tidak Tahu Apa-Apa, dianggap Kertas Yang Kosong.

Pada buku ke dua, Mas Bukik dan rekannya menuliskan tentang Bakat yang ada pada anak. Mengapa dituliskan bukan sebuah Takdir? Karena Bakat Pada Anak merupakan hasil stimulasi dari orang tua, pemahaman bagi semua pendidik agar mengetahui 8 kecerdasan majemuk yang ada pada diri anak, kemudian memberi stimulus yang sesuai sehingga anak bisa mengetahui orientasi karir di masa depan.



2. Maklumat Sastra Profetik

Meski di dalamnya dituliskan tentang apa itu Sastra Profetik, unsur-unsurnya serta bagaimana ketentuan Sastra Profetik bagi mendiang Kuntowijoyo. Namun, ada beberapa hal juga yang menarik dan sangat menarik bagi saya ditulis di dalam buku ini. Tentang kondisi masyarakat Indonesia, bagaimana kemajuan pesat teknologi memiliki imbas bagi eksistensi manusia. Bukan tentang bergesernya manusia sehingga diganti oleh robot.

Tapi, dimana kondisi ini dipenuhi oleh manusia yang mana alam bawah sadarnya lebih dominan menguasai kehidupan sehari-harinya. Sehingga dalam tindak tanduknya mengutamakan emosi serta irasional. Di sinilah perilaku tersebut dibahas meski tidak secara tuntas. Namun, Kuntowijoyo menyertakan sumber referensi agar pembaca bisa menggalinya lagi lebih dalam. Tentang Human's behaviour.


3. Daun-daun Bambu


Membaca karya-karya penulis Jepang, terutama yang menceritakan kondisi masa perang, membuat saya selalu menyukai jenis cerita seperti ini. Sambil belajar sejarah, entah melalui cerita fiksi atau memang berdasarkan biografi sosok yang diagungkan. 

Pada tulisan di buku Daun-Daun Bambu, Yasunari Kawabata dalam pidatonya saat menerima hadiah nobel, menceritakan esai yang pernah ditulisnya, "Pandangan Mata Saat Sekarat". Dalam tulisannya ini, Yasunari mengisahkan bagaimana kondisi beberapa temannya yang juga beberapa kali pernah melakukan aksi bunuh diri. Di Jepang, kita sering mendengar bunuh diri massal di sana. Diambil dari sisi kehidupan seorang pendeta, yang sangat ramah dan baik pada anak-anak, kemudian mencoba untuk bunuh diri.

Penyebabnya, Pendeta Ikkyu menghadapi keraguan dalam dirinya sendiri terhadap agama dan juga kehidupannya.

Terdapat pula beberapa cerita pendek lainnya, yang tampaknya mungkin biasa, seperti seorang lelaki yang tidak bisa memelihara burung dan binatang lainnya, tapi kemudian tetap membeli banyak binatang, meski banyak yang mati. Mungkin ini sebuah keanehan, tapi melalui jalan pikiran sang tokoh utama, pembaca diajak mengintip sisi lain kehidupan secara luas. Bukan sekadar memahami cerita secara tersirat, tapi juga berpikir tentang makna yang bahkan tak berjejak melalui celahnya.


4. Arok Dedes

Roman kisah tentang cinta seorang Ken Arok pada Ken Dedes, yang mengikutsertakan Mpu Gandring sebgai pembuat keris sakti, dimana jatuhnya kepemimpinan suatu kerajaan serta dendam selama tujuh turunan, menjadi cerita yang saya ingat semenjak kecil. Kisah tentang dendam yang tersimpan.

Namun, berbeda dengan cerita pada umumnya. Pramoedya Ananta Toer menuliskan kisah Arok dan Dedes serta Tunggul Ametung dengan cara yang berbeda. Meski beberapa banyak yang mengomentari terkait 'sindiran' Pram pada sosok yang memimpin kepemerintahan di Indonesia. Saya pribadi menilainya dengan cara yang sederhana. Bahwasannya, di balik runtuhnya kepemimpinan, selalu ada tangan-tangan lain yang mencoba menjangkau kursi pimpinan.

Juga, selalu Pram menghadirkan sosok tokoh Perempuan yang memiliki posisi istimewa pada cerita. Bukan hanya menjadi jalur jatuhnya kepemimpinan Tunggul Ametung, tapi juga menjadi sosok yang diagung-agungkan dan disandingkan sebagai Pramesywari yang cocok untuk memimpin seluruh wilayah Akuwu.


"Arok adalah simpul dari gabungan antara mesin paramiliter licik dan politisi sipil yang cerdik-rakus (dari kalangan sudra/agrari yang merangkakkan nasib menjadi penguasa tunggul tanah Jawa)." ~ Pramoedya Ananta




5. The Thirteenth Tale


Sebagai penyuka buku-buku dengan tema Misteri, saya tidak ingin melewatkan salah satu buku ini. Novel yang ternyata sudah diangkat menjadi film serial di stasiun BBC ternyata memang banyak disukai. Seperti halnya kisah misteri yang selalu membawa teka-teki pada setiap bab ceritanya. Diane, dengan piawainya menyajikan kisah tentang anak kembar, masa lalu mereka juga keanehan hubungan antara kakak dan adik yang membuat saya sebagai pembaca bergidik ngeri.


Bagaimana seorang anak terlahir dari Ibu yang gemar menyakiti tubuhnya, berdarah dingin serta tak pernah mencintai kedua anak kembarnya. Belum lagi, Paman mereka berdua, yang tergila-gila pada sang adik, bahkan tak pernah peduli dengan kedua anak kembar tersebut. Hanya dua orang budak, yang bekerja untuk rumah keturunan bangsawan itu, yang mau merawat kedua anak kembar perempuan tersebut.


Kehidupan anak kembar ini juga terbilang aneh. Mereka memiliki adiksi satu sama lain, salah satunya gemar menyakiti, bahkan dikisahkan salah seorang anak kembar itu menculik stroller milik warga sekitar yang berisi bayi, kemudian membawanya ke atas bukit. Sementara sang Bayi ditinggalkan di atas tanah, mereka berdua kemudian meluncur dari atas bukit dengan stroller tersebut. 

Dan, kedua anak perempuan ini mengalami kelambatan pertumbuhan. Mereka berdua tidak bisa berbicara seperti orang pada umumnya, mereka hanya berbicara dengan 'bahasa anak kembar'.

ooo00ooo

Membaca buku membuat pikiran saya refresh, seringnya justru dengan membaca buku mengantarkan saya pada kondisi yang rileks, santai, meski setelah membaca saya sering seakan tertinggal di dunia buku. Selain pembaca buku, saya termasuk juga penimbun buku. Juga termasuk orang yang pelit ketika ada yang meminjam buku, bukan apa-apa lebih sering buku saya tidak kembali lagi setiap ada yang meminjam, dan ini tindakan preventif dari saya terhadap buku-buku.

Nah, setelah saya tuliskan tentang buku-buku Rekomendasi Bacaan Ipeh Tahun 2016, saya juga ingin mengajak pembaca untuk ikut membaca beberapa buku di bawah ini. Sebelumnya, saya juga belum membacanya, tapi sudah masuk ke dalam daftar bacaan tahun ini. Buku-buku tersebut didominasi dengan buku-buku klasik, berikut daftarnya.


1. Max Havelaar - Multatuli

2. The divine Comedy - Dante

Khusus buku Divine Comedy, saya akan mencari terlebih dahulu buku penunjang yang akan membantu saya dalam memaknai setiap kanto yang terdapat dalam buku karya Dante. Karena ketika saya mencoba membaca tanpa ada buku penunjang, alhasil saya tidak mendapatkan apa-apa sebab saya tidak bisa mengerti dan memahami.

3. Lampuki - Arafat Nur

4. Dari rue saint simon ke jalan lembang - Nh. Dini

5. The war of the world - H.G Wells


Itu adalah kelimat buku yang akan segera saya ingin baca usai menyelesaikan ulasan dari buku terakhir yang saya baca. Untuk melihat daftar buku apa saja yang sudah ada di tumpukan buku, namun belum saya baca bisa cek di "Tantangan Baca Ulas 2016".


Jika pembaca melihat tanda-tanda 'riya' dalam tulisan ini, percayalah itu bukan ilusi semata. Karena, satu-satunya hal yang sering membuat saya 'kelepasan' dalam 'pamer' adalah hal yang berkaitan dengan buku. Jadi, ini bukan karena kerusakan pada layar gadget atau laptop Anda, tapi murni sikap 'berlebihan' pada diri saya. Tapi, alasan saya merekomendasikan buku-buku yang sudah saya baca, murni sebagai kelebihan buku tersebut.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway For Booklovers 'Aku dan Buku'. Yuk, ikutan Giveaway for Booklovers di blognya Anne Adzkia.

  • Share:

You Might Also Like

5 comments

  1. Aqu ga kelar2 baca ken arok mba...baca postingan ini jadi mau lanjut baca ken arok hehhe

    ReplyDelete
  2. penasaran dengan buku "bakat bukan takdir"
    seringkali ada anak berbakat tapi malah diacuhkan oleh orangtuanya

    ReplyDelete
  3. Barang siapa yg terhibur dgn buku buku maka kebahagiaan tdak akn lepas darinya
    (Ali bin abi tholip)

    ReplyDelete
  4. Bakat Bukan Takdir sudah jadi wishlist saya nih, tapi belum sempat beli. Max Havelaar udah punya tp belum dibaca. Bacaannya mb Ipeh ternyata keren bingit. Makasih udah ikutan GAnya yaa

    ReplyDelete
  5. Buku Ken Arok ini bagus banget ya, karena seperti tak lekang dimakan waktu, selalu relevan dengan kondisi kapanpun

    ReplyDelete

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.