Bakat Bukan Takdir : Kisah Irza

May 09, 2016

"Jadi, kamu sudah tentukan atau belum, jurusan yang akan kamu pilih saat kuliah nanti?" tanya Pak Bowo.

Irza menganggukkan kepalanya, kembali menatap kertas kosong yang seharusnya sudah ditulis. Di atas kertas itu, dia harus menceritakan tentang masa depannya, dimulai dari pilihan jurusan sampai pekerjaan yang diimpi-impikan. Tapi, sedari tadi pikirannya berputar-putar, bingung.


****

Tiga hari sudah, Irza masih belum tahu ingin melanjutkan ke jurusan apa untuk kuliah nanti. Dipikirannya, kuliah akan sama dengan sekolah. Semua sudah dipilihkan oleh orang tuanya, seperti biasa. Tapi, semalam, justru dia bertambah bingung. Kedua orang tuanya malah menyerahkan pilihan jurusan itu pada dirinya. Sementara selama ini dia selalu menuruti apa yang dipilihkan oleh keduanya.


"Emang kenapa sih gak papa dan mama aja yang pilihin?"

"Ya, ga bisa gitu Mbak. Nanti Mbak Irza sendiri yang menjalani kuliah. Kalau ga cocok nanti mbak Irza juga yang ngerasain."


****


Selepas upacara bendera, Pak Bowo memanggil Irza. Di ruangan Pak Bowo yang adem dan nyaman, Irza duduk dengan tegang. Dia seolah-olah sudah mengetahui apa yang akan ditanyakan oleh gurunya itu.


"Menghadapi keputusan itu memang sulit. Tapi, lebih sulit lagi kalau saat menghadapi pilihan, kita tak tahu apa yang kita inginkan."


Begitu ucapan pembuka yang membuat Irza ingin menangis, karena tampak dari matanya ada air yang bersiap turun dari sudut matanya. Tapi, ditahannya rasa itu, dia ingin mendengar secara menyeluruh, dia ingin tahu kemana arah pembicaraan ini berlanjut.



****

Bakat Bukan Takdir


Sore hari yang sedikit mendung, tidak membuat Irza berhenti membaca buku yang dipinjami oleh Pak Bowo. Usai berbincang di ruangannya tadi, Pak Bowo hanya berpesan untuk menuliskan apa-apa saja yang menjadi hal-hal dominan bagi Irza.


"Human being differ from one another and there is absolutely no reason to teach and assess all individuals in the identical way."



Perbicangan yang tidak lama bersama Pak Bowo membawa antusias sendiri bagi Irza, ia ingin mengetahui apa saja hal-hal yang dapat dijabarkan olehnya melalui sebuah buku. Tidak lupa, Irza menyiapkan buku kecil untuk catatan nantinya.


"Zaman kreatif..." gumam Irza, sambil menuliskannya di dalam buku kecil tersebut.


Tantangan Zaman Kreatif

1. Bukan lagi Seberapa Banyak pengetahuan, tapi seberapa BESAR KEMAMPUAN untuk belajar.


2. Proses Belajar bukan lagi mengunduh Pengetahuan, tapi MENGUNGGAH KARYA.


3. Bukan saatnya lagi MEMILIH SATU PROFESI, tapi juga FOKUS MENGEMBANGKAN KEKUATAN DIRI.


4. Tak lagi hanya kemampuan berproduksi, tapi juga KEMAMPUAN BERKREASI.


5. Zaman kreatif, bukan lagi memaksakan keseragaman, tapi HIDUP DI TENGAH KERAGAMAN.


6. Bukan lagi kemampuan berkompetisi yang utama, tapi yang utama adalah KEMAMPUAN BERKOLABORASI.




Selesai mencatat pemahaman tentang zaman kreatif, tiba-tiba raut wajah Irza berubah. Dia kemudian mengembangkan seulas senyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Persis seperti martabak dengan toping coklat putih kegemaranku...mereka kreatif," guman Irza.



Lembar-lembar berikutnya, Irza semakin lincah menggerakkan tangannya untuk menulis apa-apa saja yang penting bagi dirinya. Seperti saat ini, dia tengah menuliskan sebuah kata mutiara dari Ki Hajar Dewantara.


Bahwa dalam segala tingkah laku dan keadaan hidupnya, anak-anak itu sudah diisi oleh Sang Maha Among segala alat-alat yang bersifat mendidik si anak.


Ternyata, semangat Irza masih meletup-letup. Usai menuliskan kata mutiara di buku kecilnya. Ia segera mengambil satu kertas kosong lagi, kertas itu diletakkan di samping kiri buku Bakat Bukan Takdir. Dia tersenyum sesaat, membiarkan kertas kosong tersebut masih kosong. Kemudian lanjut membaca.


"Kebiasaan dalam metode pendidik menanamkan selalu menempatkan anak pada posisi objek yang seakan-akan mereka tak tahu apa-apa. Namun, bila ingin menjadi pendidik yang menumbuhkan, perlu dikenali apa saja kebiasaan menanamkan tersebut, dan ditinggali kebiasaan tersebut," ucap Irza sambil tangannya tetap mencatat.


Kebiasaan Pendidik Menanamkan :


1. Memberitahu, contohnya : "Kalau sudah besar nanti, jadilah dokter, biar dihargai banyak orang."


2.Mengancam, contohnya : "Kalau tidak menuruti kata orangtua, kamu tidak diajak berlibur."


3. Mencurigai, contohnya : "Ini pasti kamu lagi yang menumpahkan, ya?"



Kemudian, Irza berhenti sesaat. Menatap ke atas kertas kosong di sebelah kirinya. Pikirannya melayang-layang, mencerna setiap kata yang dibacanya. Memikirkan apa saja yang ternyata banyak dialami olehnya. Dengan tangkas, Irza mulai menulis di atas kertas kosong yang disediakan oleh Pak Bowo. Kertas yang memang harus ditulis tentang masa depannya.



Apa itu karir? Awalnya aku tidak tahu harus menulis apa. Tapi, setelah aku mempelajari tentang kisi-kisi masa depan, aku sedikit bisa mengintip melalui ilmu dari sebuah buku. Aku mengambil jeda ketika Pak Bowo meminta aku dan teman-temanku untuk menuliskan cita-cita dan jurusan apa yang ingin aku ambil. Pada jeda itulah, aku memikirkan apa-apa saja yang harus aku pertimbangkan untuk masa depanku. Kini saatnya aku fokus, pada sesuatu yang sudah menjadi hal dominan dalam diriku.


Teman-teman, karir merupakan perjalanan proses seseorang melalui belajar dan berkarya yang hasilnya bermanfaat bagi masyarakat. Dan perkembangan karir diawali sejak masa anak-anak melalui 4 fase.

Bakat Bukan Takdir


Ada rasa bangga yang menyelimuti Irza, usai menulis dua paragraf pertama untuk tugasnya. Tugas yang nantinya harus dibacakan di depan kelas. Irza ingin bisa membagikan apa yang dia dapat melalui buku Bakat Bukan Takdir. Dia tahu, ada banyak teman-teman di kelasnya yang sama seperti dirinya. Tengah memikirkan tentang masa depan mereka. Irza tidak ingin teman-temannya menuliskan pilihan yang bukan pilihan mereka sendiri.



8 Ragam Kecerdasan Majemuk

1. Kecerdasan Aksara (Katanya)
2. Kecerdasan Logika (Anka)
3. Kecerdasan Alam (Alata)
4. Kecerdasan Diri (Krevi)
5. Kecerdasan Musik (Rada)
6. Kecerdasan Tubuh (Geradi)
7. Kecerdasan Relasi (Akso)
8. Kecerdasan Imaji (Sivisi)



Kecerdasan Majemuk Anak


Usai menyelesaikan bacaannya hingga larut malam. Irza mendapatkan banyak sekali hal yang didapat. Dia tidak segera tidur, apalagi karena besok hari libur, jadi Irza memutuskan untuk melanjutkan tulisannya.


Melalui diagram tahapan tentang fase belajar, kita sebenarnya sudah berada pada fase menentukan arah karir. Terima kasih Pak Bowo yang sudah memberi tugas ini pada kami. Karena dari tugas ini, aku kemudian mengetahui karir yang harus aku tentukan.


Aku menyukai musik, meski aku malu ketika disuruh menyanyi. Tapi, suaraku bagus, kata banyak orang yang mendengar. Meski begitu, tidak menyurutkan keinginanku untuk menjadi seorang Musik Komposer. Aku ingin melanjutkan pendidikanku ke Jurusan Musik. Aku ingin mempelajari lagi nada-nada musik dan ingin sekali bisa menggubah sebuah nada atau lagu.


Layaknya David Foster, aku juga ingin menciptakan sebuah musik instrumen yang abadi. Seperti Winter Games ciptaannya yang masih sering aku dengar menjadi backsound music di radio atau televisi. Juga, aku ingin seperti Yiruma, yang memainkan pianonya dengan lembut hingga lagu favoritku yaitu Kiss The Rain selalu aku dengar.



Dengan mengambil jurusan khusus musik, siapa tahu aku tidak hanya menjadi seorang musisi. Tapi juga bisa menjadi komposer atau bahkan menulis lirik lagu.



Irza berhasil menentukan pilihan untuk langkah ke depannya. Melalui pemahaman dan pengenalan pada bakat yang dia gemari. Dari proses inilah, Irza sudah memasuki wilayah FOKUS untuk langkah yang diambil. Tak hanya Irza, saya pribadi juga kemudian ikut menuliskan banyak hal terkait kecerdasan majemuk pada diri saya. Apa yang harus saya fokuskan, sehingga saya juga bisa seperti Irza. Dapat memfokuskan diri dalam mengoptimalkan pilihan.



Detil Buku

Judul : Bakat Bukan Takdir || Penulis : Bukik Setiawan & Andrie Firdaus || Halaman : 250 || Cetakan : Maret 2016 || Penerbit : Buah Hati || ISBN : 978.6027.652.880 || Informasi : www.temankita.com



Hal lain tentang buku ini


Selain membahas tentang kecerdasan majemuk, di dalam buku ini juga membahas beberapa hal penting yang sangat bagus untuk dibaca oleh kita semua sebagai pendidik.

1. Bagaimana perbedaan pendidik menanamkan dan pendidik menumbuhkan dibahas dengan detail di buku ini. Dengan bahasa yang mudah dipahami tanpa menggunakan istilah yang rumit.

2. Masing-masing kecerdasan majemuk, juga dijabarkan pemahaman serta seperti apa ciri-cirinya, sehingga sangat membantu. Juga disertai dengan stimulasi yang tepat untuk setiap kecerdasan majemuk.

3. Di dalam buku ini juga dituliskan cara menentukan fokus belajar pada anak.

4. Meski buku ini di dedikasikan untuk para pendidik, tapi juga bermanfaat bagi orang dewasa yang ingin merekonstruksi arah karirnya.

5. Termasuk buku activity yang bisa dituliskan langsung di dalamnya, berguna juga untuk melihat perkembangan praktek dalam Pendidik Menumbuhkan.



** Tulisan ini merupakan tulisan berbayar. Namun, ulasan dalam konten yang saya tulis merupakan hasil dari pengalaman membaca buku ini secara langsung. **

  • Share:

You Might Also Like

7 comments

  1. udah direviewe ternyata ^^ sekarang malah ada 10 kecerdasan lagi ya

    ReplyDelete
  2. Setuju bgt mba ipeh...suka bagian ini eranya keragaman bima keseragaman.. jadi memang harus lebih bijak.. oya soal bakat anak spertinya orag tua memang harus terus mencari dan mengenali anak ya mba..

    ReplyDelete
  3. Buku yang keren. Ulasannya membuat orang tahu keunggulan buku ini.

    ReplyDelete
  4. Mantap Mba nambah lagi knowledge :)

    ReplyDelete
  5. Wah bagus nih cara ngeresensinya mbk

    ReplyDelete
  6. Komplit resensi nya Mba Ipeh.. Saya pernah menyaksikan acaranya Pak Bukik, namanya suara anak.
    Keren.

    ReplyDelete
  7. reviewnya menarik...
    saya udah punya bukunya, tp blum sempet dibaca :D

    ReplyDelete

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.