Snow Flower and Secret Fan

April 22, 2016

Snow Flower and Secret Fan

Snow Flower and Secret Fan - Novel yang mengangkat cerita dan tradisi kebudayaan dari Negeri Cina, mengisahkan tradisi Ikat Kaki sampai tulisan Nu Shu. Lisa See, sebagai seorang penulis novel ini juga menggunakan tahun yang biasa digunakan masyarakat Cina pada waktu itu. Tahun ketiga pemerintahan Kaisar Daoguang, ketika Lily lahir, adalah tahun 1823. Sementara pemberontakan Taiping berawal tahun 1851 dan berakhir 1864.


Ada banyak tradisi Cina pada waktu itu yang membuat novel ini seakan nyata dan tengah terjadi. Namun, apa yang saya - sebagai pembaca - dapatkan setelah membacanya, yaitu beberapa tradisi yang saya tulis di bawah ini :



1. Tradisi Ikat Kaki

Tujuan dari tradisi ini adalah membentuk kaki Perempuan di Cina agar cantik, kecil dengan ukuran ideal 7 sentimeter, sempit, lurus dan runcing namun tetap wangi dan lembut. Tapi, pernahkah pembaca tahu, bahwa proses Tradisi Ikat Kaki ini bahkan melalui tahapan yang bisa dikatakan bukan proses yang mudah. Melalui pemahaman yang diberikan pada Lily dari Ibunya bahwa, "hanya melalui rasa sakit kau dapatkan kecantikan. Hanya melalui penderitaan kau dapatkan kedamaian." Dari sinilah, kepercayaan pada tingkat kecantikan seorang wanita diukur. 


Tradisi Ikat Kaki
Source : retnodamayanti.wordpress.com


Dikisahkan juga bagaimana tahapan awal Ikat Kaki, yang mana didahului dengan memanggil Peramal untuk menentukan hari yang baik. Pada kasus Lily, yang datang bukan hanya Peramal, tapi juga Makcomblang yang terkenal. Kesuksesan Mak Comblang tersebut tidak diragukan lagi. Sehingga ketika keputusan hari yang baik untuk Lily, juga merupakan keputusan untuknya agar memiliki Laotong.

Setelah tiba hari yang baik untuk memulai tradisi ini, Lily akan dibantu oleh Ibunya, beliau sudah mempersiapkan seember air panas berisi : akar murbei, buah badam yang digiling, air kencing, rempah-rempah dan akar-akaran untuk merendam kaki, beliau mencuci kaki Lily dengan adas agar jaringan pada kaki mengerut dan mengurangi keluarnya darah dan nanah. Kemudian kukunya dipotong sependek mungkin, selama itu juga perban direndam agar jika mengering di kulit ikatannya semakin erat. Kemudian sehelai perban diletakkan di atas bagian kaki, ditarik di atas empat jari terkecil, dilanjutkan dengan proses menggulungkannya ke bagian kaki. Kemudian, perban digulung lagi mengelilingi tumit. Simpul kedua kembali dilakukan di sekitar mata kak untuk menjamin dan memperkuat dua ikatan pertama. Ini dimaksudkan agar jari-jari kaki bertemu dengan tumit sehingga menciptakan ceruk dan hanya menyisakan ibu jari untuk berjalan.

Anak-anak perempuan yang sudah memulai proses Ikat Kaki tidak dibiarkan untuk bekerja terlalu berat. Tapi, juga tidak dibiarkan duduk diam di dalam ruangan khusus. Tapi, mereka juga diwajibkan untuk latihan berjalan. Ini juga akhirnya dilakukan oleh Lily, sepupunya serta adik perempuannya. Setelah kaki mereka diikat, mereka harus berjalan mondar - mandir di ruangan khusus perempuan. Dimana ruangan ini tidak diperbolehkan untuk anggota keluarga laki-laki (meski Bapak atau Kakak Lelaki) untuk masuk ke ruangan tersebut. Bagi Lily, rasa sakit tidak bisa melukiskan lagi apa yang dia rasakan. Jari-jari kakinya terlipat di bawah kaki sehingga berat tubuh bertumpu sepenuhnya pada ujung lipatan. Mereka berjalan tertatih-tatih, hingga suatu ketika terdengar bunyi "Krak" yang berasal dari kaki Lily. Menurut Ibunya, proses Ikat Kaki-nya sudah berjalan dengan baik. Bunyi tersebut berasal dari tulang kaki Lily yang patah.

Tradisi Ikat Kaki
source : google image


Tradisi Ikat Kaki ini, selain untuk membentuk kak wanita menjadi kecil dan ideal, juga untuk membahagiakan suaminya kelak. Konon kaki perempuan yang melewati tradisi ini akan membuat sang Suami terpikat selama saat-saat paling intim dan pribadi di antara lelaki dan wanita. Ini dikatakan demikian karena menurut leluhur, bahwa lengkung tumit perempuan yang berhasil menjadikan kakinya cantik memiliki sebuah kantung dengan kaki bagian depan runcing. Semua itu akan mengingatkan sang Suami tentang bentuk organ tubuhnya sendiri. Menurut Ibunya Lily, "Sepanjang hari lelaki yang beruntung itu hanya akan berpikir tentang kegiatan di atas ranjangnya."




Faktanya, satu dari sepuluh gadis di Cina meninggal dunia dalam proses pengikatan kaki, tidak hanya di kabupaten Puwei, tapi juga di seluruh Cina. Seperti adik perempuan Lily, yang meninggal akibat peradangan saraf pada kakinya. Sebelum meninggal, adiknya tergeletak di atas tempat tidur tak sadarkan diri, dengan badan yang panas. Setelah itu, dia meninggal dunia, sebagai pembuktian bahwa tradisi ini melewati proses kritis yang berbahaya.


2. Laotong

Laotong merupakan sebuah istilah yang merupakan bentuk persahabatan sejati. Maksudnya adalah, persahabatan ini berlangsung selamanya, tidak seperti persahabatan pada umumnya, Laotong dilakukan atas pilihan untuk tujuan persaudaraan emosional dan kesetiaan abadi. Pemilihan Laotong juga tidak sembarangan, bukan seperti generasi modern mencari sahabat. Dengan peraturan yang ketat demi memilih Laotong yang benar-benar sesuai. Laotong melibatkan dua gadis dari desa berbeda dan berlangsung sepanjang hidup, sehingga ketika memilih Laotong untuk Lily, Mak Comblang memilihkannya yang tepat dan sesuai.

Yaitu memiliki shio yang sama, usia yang sama, dari susunan keluarga yang sama, dan jika keterangan dari orang tua kedua belah pihak itu jujur, maka baik Lily maupun Bunga Salju (Laotong Lily) lahir di hari dan jam yang sama. Dengan memiliki Laotong, kedua gadis ini akan mengenal satu sama lain, dan pada saat keduanya menikah mereka akan lebih mengenal dengan baik dibandingkan mengenal suami mereka.


3. Nu shu

Ini adalah huruf rahasia yang diciptakan oleh perempuan dan hanya diperbolehkan para perempuan saja yang menggunakannya. Saking rahasianya, huruf Nu Shu bahkan tidak boleh sampai diketahui oleh para Lelaki dan Lelaki juga tidak boleh tahu, kalau huruf ini ada. Dengan kata lain, kerahasiaan dari keberadaan huruf ini benar-benar berada di tingkat yang paling tinggi. Para wanita di Cina, pada waktu itu benar-benar menggunakan dengan baik huruf Nu Shu, agar tidak ada yang mengetahui sama sekali.

Nu shu
Source : Karenstollznow


Biasanya akan dituliskan atau disemat di kipas atau benda-benda lain yang mana hanya perempuan itu saja yang melihat dan membacanya. Lily dan sepupunya juga belajar huruf ini dari Bibinya, menurut penjelasan Bibi bahwa, "huruf Nu Shu tidak mewakili kata-kata tertentu." Sehingga dalam membaca arti dari setiap kata rahasia tersebut dibutuhkan kemahiran dalam merangkainya. Agar tidak salah dalam menerjemahkannya.

Para wanita di Cina, menggunakan huruf Nu Shu ini juga untuk berkomunikasi dengan wanita lain yang berada di daerah berbeda. Dengan kerahasiaan yang dijamin oleh setiap individu - wanita pada khususnya - setiap surat yang dikirim biasanya juga berisi tentang rahasia. Sehingga Nu Shu menjadi sebuah perwakilan dari harapan, kebahagiaan serta kesedihan dari pengalaman para wanita di Cina.

Nu Shu sendiri karena bukan mewakili sebuah kata-kata tertentu, memang berisi simbol-simbol yang terdiri sekitar 600-700 simbol, ada yang ditulis dengan tipis, tebal atau menjadi huruf sambung. Beberapa simbol dari Nu Shu diambil dari karakter-karakter yang khas di negeri Cina, dan sebagian lainnya merupakan model jahitan dari seni desain bordir. (sumber : http://karenstollznow.com/nu-shu-a-secret-writing-system/)


4. Tradisi Shio dan Fengshui

Dalam kehidupan Lily, adalah hal yang biasa jika setiap orang akan menilai orang lain berdasarkan Shio mereka. Seperti Lily yang merupakan kelahiran di tahun Kuda memiliki jiwa petualang, kemudian Ayahnya yang merupakan Shio Kelinci dengan tipikal yang dikisahkan dari sudut pandang Lily sebagai sosok yang pencemas. Juga Ibunya Lily, yang merupakan Shio Monyet memiliki sifat cerdik dan licik.

Begitu juga dengan Fengshui, sebagai penetapan hari baik. Seperti musim gugur adalah musim terbaik untuk mengikat kaki, musim semi yaitu musim terbaik untuk melahirkan, lalu sebuah bukit yang indah dengan angin sepoi-sepoi adalah tempat pemakaman  yang terbaik.


5. Sebuah kebiasaan/tradisi tak tertulis


Selain tradisi ikat kaki dan beragam tradisi lainnya. Ada juga tradisi yang tidak banyak disadari, atau mungkin disadari tapi tidak begitu menjadi topik utama pada setiap pembahasan. Tentang sikap wanita dalam sebuah keluarga. Melalui sudut pandang Lily, pembaca disuguhi sebuah informasi tentang bagaimana sosok Ibunya, tentang Teng Ai yang dalam artian secara perkata, Teng berarti Penderitaan kemudian Ai berarti Cinta. Dalam hal ini, cinta seorang Ibu mengandung penderitaan karena Cinta. Ini digambarkan oleh Lily seperti, Ibunya yang cukup berteriak satu kali setiap membangunkan mereka.

Teriakan itu sudah membuat anak-anak perempuan di rumah Lily segera loncat dari tempat tidur kemudian anak perempuan pertama akan segera berpakaian dan berlari ke dapur. Dengan sikap dingin dari Ibunya, Lily seakan merasa tidak berguna sehingga dia berpikir, "saya bukan siapa-siapa bagi Mama. Saya hanyalah anak ketiga, anak perempuan kedua yang tidak berharga." Juga ketika anak-anak perempuan tengah bercanda dengan saudara-saudara mereka, jika suara mereka terlampau keras, maka Ibu mereka akan menghardik dengan tegas dan menyuruh mereka diam.

Dalam hal pengaturan rumah tangga  tepaut dalam lubuk hati masyarakat Konfisius,  NEIB : dunia inti rumah tangga yang menjadi tugas para wanita untuk mengelolanya. Kemudian WAIB : yang merupakan dunia luar yang diperuntukkan untuk lelaki. Seperti pekerjaan di ladang / sawah hanya untuk lelaki. Sementara para lelaki di sawah, para wanita di rumah akan berada di lantai atas di balik jendela berjeruji (inilah ruangan khusus untuk wanita).


Selain itu, ada dua pesan yang juga merupakan sesuatu yang menjadi pegangan teguh pada masyarakat Konfusius untuk anak gadis mereka : "Pertama, jika kamu anak perempuan, patuhilah ayahmu, jika kamu seorang istri patuhilah suamimu, jika kamu seorang janda patuhilah anak lelakimu. Kedua, ada empat kebijaksanaan yang menunjukkan perilaku, tutur kata, tunggangan dan pekerjaan wanita. Jagalah kemurnian dan kepasrahan, bersikaplah tenang dan terhormat, bicaralah dengan tenang dan menyenangkan hati, bergeraklah dengan penuh kendali dan anggun, tunjukkan keterampilan sempurna dalam membuat kerajinan tangan dan bordir."


Dalam tradisi, tanggung jawab anak lelaki melingkupi juga kesejahteraan Ibundanya (dalam hal ini neneknya Lily), jika sang Ibunda tidak diurus merupakan sebuah fitnah dan kehinaan yang akan terus menempel pada keluarga tersebut. Dalam sebuah keluarga, kesejahteraan Ibu dari suami merupakan tugas yang utama. Ini juga menjadi tugas dari sang Istri.


***


Lima hal tersebut di atas diceritakan melalui sudut pandang Lily sebagai toko utama dalam novel ini, bagaimana kehidupannya sebagai anak perempuan. Memuat cerita yang membuat saya merasa bersyukur karena hidup saya tidak harus melewati beragam hal proses tradisi seperti yang dialami oleh Lily. Meski begitu, masih ada banyak tradisi lain yang diceritakan dalam novel ini, seperti proses pra pernikahan, tradisi Buluo Fujia, serta tradisi pemakaman. Menarik, menyedihkan dan memilukan, karena ketika saya membaca novel ini saya merasa beruntung tidak harus menjalani proses yang membuat kaki saya terasa ngilu ketika membacanya.

Sekadar informasi, novel karya Lisa See ini sudah diangkat ke layar lebar pada tahun 2011. 


Informasi Buku :

Judul : Snow Flower and the Secret Fan || Penulis : Lisa See || Penerjemah : A. Rahartati || Terbit : September 2011 || Bahasa : Indonesia || Penerbit : Qanita || ISBN : 978.602.9225.18.1 || Format : Ebook ( play book )


***

** Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman membaca dari pemilik blog. Dan bukan tulisan berbayar. **

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.