The Thrirteenth Tale

February 27, 2016



BLURB


"Ceritakan padaku yang sesungguhnya."

Permintaan sederhana itu mengusik hati Vida Winter, novelis ternama yang penuh rahasia. Bukankah selama enam puluh tahun ini dia telah mengarang banyak dongeng, tapi tak pernah mengungkapkan kisahnya sendiri? Namun, menjelang ajal, masa lalu tak dapat dihindarinya lagi, berapa pun banyaknya dongeng-dongeng yang telah ditenunnya.

Maka Vida Winter mengundang Margaret Lea, penulis biografi muda, yang memiliki rahasia sendiri tentang kelahirannya, yang telah dikubur dalam-dalam oleh orang-orang yang paling dia kasihi, dan menciptakan bayang-bayang kelam yang membuntuti tiap langkahnya.

Inilah kisah Vida dan keluarga Angelfield : Isabelle yang cantik dan keras kepala, si kembar Adeline dan Emmeline yang liar, rumah besar Angelfield yang tua dan nyaris ambruk, serta semua penghuninya - hidup atau mati.

Sementara Margaret tenggelam dalam dongeng Vida, rahasia kelam itu lambat laun tersingkap, dan saat kebenaran mengemuka, kedua wanita itu pun harus menghadapi hantu-hantu yang selama ini membayangi hidup mereka.


TOKOH


Vida Winter :  Matanya memiliki keagungan pasif ala ratu atau leluhur yang terlupakan, kehalusan bentuk tulang pipinya, kesempurnaan garis hidungnya yang proporsional, kulitnya yang membalut tulang berkilau seperti batu pualam, terlihat pucat karena perpaduan kontras ikal-ikal rambut berwarna tembaga yang diatur dengan presisi tinggi di sekitar pelipis yang halus dan leher yang kuat dan jenjang (25). Dia adalah seorang penulis yang mendapat julukan Dickens abad ini, telah menghasilkan karya tulis sebanyak 56 buku yang diterbitkan dalam lima puluh enam tahun, diterjemahkan dalam 49 bahasa. Dan mendapat penghargaan 27 kali sebagai penulis yang bukunya paling sering dipinjam dari perpustakaan serta 19 film diangkat dari novelnya.



Ayah : Seorang lelaki yang gemar datang ke acara pelelangan, yang mana sering sekali didekati orang berpakaian bagus yang mencari judul buku-buku antik. Seorang pembaca buku yang menularkan kebiasaannya pada anaknya, yang juga mengelola Toko Antik bersama anaknya. Bisa berbahasa Prancis, Jerman, Italia dan Latin. Beliau jarang pergi lebih dari 48 jam, kecuali enam kali dalam setahun (29).


Margareth Lea : Sedari kecil sudah terbiasa membaca buku, buku sejarah kepahlawanan yang menurut para orang tua abad ke - 19 cocok dibaca anak-anak serta cerita hantu klasik. Dari buku itulah Lea belajar bahasa asing sedikit demi sedikit. Setiap pulang sekolah, Lea akan membantu Ayahnya merawat buku-buku di toko mereka. Juga mengantar buku ke kantor pos untuk dikirim ke client toko mereka. Dia juga menulis esai dengan judul The Fraternal Muse yang kemudian tulisannya disanding dengan karya para akademisi dan penulis profesional. Lea merupakan sosok yang tak terbiasa membuka diri bahkan berusaha untuk menutup dirinya serta rahasia masa lalunya. Setiap Lea merasakan sakit, bingung atau berada dalam tekanan apa saja dia akan melakukan hal ini : menekankan tangan ke sisi kanan tubuh, menunduk hingga hidungnya menyentuh bahu (41). Memiliki tanda berbentuk bulan sabit di bawah dadanya (43). Tidak tertarik dengan tulisan kontemporer. Lea seorang penulis biografi.



Pemuda 'Banbury Herald' yang misterius : Banbury Herald sebenarnya merupakan nama surat kabar yang ingin menerbitkan biografi Vida Winter. Namun, Pemuda inilah yang bertugas menemui Miss Winter. Pemuda yang disebut 'masih bocah', jangkung seperti lelaki dewasa, tetapi gembil seperti anak kecil, terlihat kikuk (16). Matanya terlihat  tajam dan nanar (19).


Judith : Seorang pengurus rumah di kediaman Miss Winter. Rambutnya pendek dan rapi berwarna pucat seperti kulitnya dan matanya tidak biru, tidak abu-abu juga tidak hijau. Ketiadaan ekspresi pada wajahnya membuatnya tampak biasa (66). Mulutnya membuka dan menutup setiap kata yang terucap dari bibirnya kemudian langsung dibungkam dengan kesunyian (67).

George : Suami Mathilde, yang sangat mencintai Mathilde. Sejak kelahiran bayi perempuannya, setelah kematian Istrinya yang membuatnya merenung tanpa akhir, akhirnya George kembali 'hidup' dengan mengagumi anak perempuannya. Namun, mengabaikan anak lelakinya.

Mathilde : Istri George, tempramental, malam, egois dan cantik.

Charlie : Sembilan tahun lebih tua dari Isablle, terabaikan, loyo, pucat dan reaksinya lambat. Rambutnya seperti warna wortel. Kelakuan Charlie sering membawa laporan histeris dari para pengurus rumah tangga, seperti memanggang tikus.

Isabelle : Lahir ketika badai mengamuk. Ibu dari Emmeline dan Adeline. Warna rambutnya persis seperti Ayah dan Kakaknya berwarna seperti warna wortel. Kulitnya putih pucat, dagunya indah diwarisi dari sang Ayah, serta bentuk mulutnya yang lebih bagus dari Ibunya. Matanya diwarisi dari Ibunya, bulu matanya panjang dan bola matanya hijau seindah zamrud.

Roland March : Seorang lelaki yang  bertemu Isabelle di pinggir danau tempat acara perjodohan berlangsung. Menikah dengan Isabelle namun tidak lama setelahnya meninggal karena Pneuomia.

Emmeline : Anak Isabelle. Kembar dengan Adeline. Tubuhnya gembil karena suka sekali makan. Tidak pernah mengangkat kepalanya setiap kali amarah Adeline tertuju padanya, juga tidak pernah membalas perbuatan Adeline.

Adeline : Anak Isabelle. Kembar dengan Emmeline. Tubuhnya tidak begitu berisi karena kurang suka makan. Tingkah lakunya menakutkan, sering berteriak-teriak, memukul dan menendang Emmeline.

Missus : Pengurus rumah tangga di rumah Angelfield yang tetap setia meski pelayan rumah tersebut banyak yang mengundurkan diri semenjak Charlie mulai bertumbuh dewasa serta karena kebangkrutan keluarga Angelfield. Dari dia-lah ada kisah yang didengar oleh seorang anak yang tanpa sadar berada di ruangan yang sama dengannya.


John Digence : Dikenal sebagai John the dig, seorang tukang kebun yang tetap bertahan di Angelfield bersama Missus. Sahabat dekat Missus yang tak pandai menulis, dia adalah lelaki yang penuh warna. Matanya berwarna biru, rambutnya putih, pipinya merah muda. Dan dia adalah tukang kebun yang handal.


Hester : Tingginya sedang, bentuk tubuhnya sedang, rambutnya tidak kuning, tidak juga cokelat. Kulitnya memiliki warna yang sama. Wajahnya tak memiliki ciri tertentu, namun ada sesuatu yang berkilau dari pakaian dan rambutnya, sesuatu yang tampaknya sangat eksotis. Dialah guru private yang datang untuk mengurus si kembar.

Tokoh-tokoh lain : Merilly, Mr. Griffin, Fre  Jameson, Mr. & Mrs. Maudsley, Aurelius, Mrs. Love.


SETTING


Toko Antik Lea : Toko buku yang menjadi tempat penyimpanan buku-buku yang pada masa silam ditulis dengan penuh cinta dan sekarang rasanya tidak diinginkan siapa pun. Tempat untuk membaca dan menulis, dengan jejeran buku-buku dari beragam masa terdapat di rak tersebut. Toko itu adalah jantung usaha keluarga Lea.

Rumah Vida Winter : Lokasi rumahya jauh dari pusat kota, terletak di antara dua gundukan landai mirip bukit, dengan daun-daun jendela berjeruji sehingga tampak gelap terlihatnya.Terdapat Sofa tebal dengan bahan beludru, tapestri tergantung di  tembok, kain damas menghiasi jendela juga menutupi tembok. Seluruh rumahnya dilapisi bantalan, gorden dan tapestri.

Perpustakaan Vida Winter : Dibanding ruangan lain di dalam rumah tersebut, perpustakaan memiliki penampilan yang berbeda, ruangan tersebut dilapisi dari kayu, lantainya dari kayu, daun jendela yang tinggi dan dindingnya yang tertutup rak-rak buku dari kayu pohok ek. Ruangan tersebut tinggi, memanjang. Memiliki lima jendela melengkung. Rak-rak bukunya memanjang dari tembok ke tengah ruangan membentuk ceruk. Cahaya di ruangan tersebut berasal dari lampu juga perapian.

Ruang Kerja : di ruangan tersebut gordennya beludru berwarna hijau dan kain satin berwarna emas pucat menutupi tembok. Terdapat Meja dan kursi dari kayu polos yang diletakkan di bawah jendela. Jendelanya berupa kaca gelap yang lebar.

Rumah Angelfield : Terletak di desa Angelfield, ditempati oleh keluarga Angelfield. Rumah yang memiliki kebun yang luas dan rumah dengan ukuran yang besar.


Alur


Seperti yang sudah tertulis di blurb, tentang surat dari Winter yang menyatakan ingin meminta bantuan dari Lea. Setelah itu, meski selama ini Lea belum pernah membaca karya Winter, pada akhirnya memutuskan untuk mencoba membacanya. Dan buku yang dia pilih adalah Dongeng Ketiga Belas. Tentang dongeng-dongeng yang kembali hidup dengan rasa yang baru dan sudut pandang serta jiwa yang baru. Namun, ada yang aneh pada akhir dongeng tersebut.


Jawaban datang pada Lea, pada keanehan lain yang berkaitan dengan Vida Winter, kala Lea dan Ayahnya tengah melakukan ritual membaca bersama. Akhirnya Lea paham mengapa saat itu ada yang aneh terjadi, karena ketika dia menyelami cerita dari novel Winter, Lea akhirnya tahu dan mengerti.


Ketika sudah tiba waktunya bagi Lea untuk menulis biografi tentang Winter, yang ditulis di rumah Winter, mau tak mau Lea mengikuti aturan Winter, bahwa sebuah cerita harus melalui tahap Awal - Pertengahan - Akhir, tak boleh melompat mendahului. Dan bergulirlah cerita dari rumah keluarga Angelfield, desa Angelfield yang kelam. Tentang George yang sangat mencintai Mathilde, kemudian Isabelle anak kedua mereka yang sangat cantik. Namun, Charlie, anak lelaki yang dilupakan oleh ayahnya. Kemudian cerita tentang Isabelle yang kembali pulang ke Angelfield dengan membawa serta kedua anak kembarnya. Meski dalam pikiran Lea ada banyak pertanyaan yang terus terbayang dan mendesaknya.


Kisah-kisah bergulir, hingga suatu ketika Lea merasa harus pergi beberapa hari dari rumah Miss Winter, saat itulah dokter pribadi Miss Winter ingin menemuinya, menceritakan segala hal yang berkaitan dengan Miss Winter. Serta sebagai jaminan tentang kondisi Miss Winter.

Ada tiga bagian dalam novel ini, persis seperti keinginan Miss Winter. Pada bagian Pertengahan, kemunculan sosok baru di rumah Angelfield membawa teka-teki serta segala keingintahuan memasuki tahap selanjutnya. Pada bagian Awal, dimana Miss Winter mengisahkan cerita rumah Angelfield dengan cara yang benar-benar istimewa, persis seperti ketika dia mendongeng melalui buku-bukunya. Tapi, pada bagian Pertengahan, pertanyaan yang sebelumnya menjadi tanda tanya, persis seperti Missus kebingungan mana Emmeline dan mana Adeline, terjawab, melalui cerita yang diutarakan, tentang narasinya. Segalanya tampak sedikit demi sedikit terurai hingga cerita memasuki bagian Akhir.


Dan bagian akhir adalah sebuah PERMULAAN.  ~





Pendapat pribadi :



Pada bagian awal membaca buku ini, tidak ada kesan apa-apa yang saya tangkap. Tampak seperti sesuatu yang biasa meski surat yang diterima Lea harusnya bisa menjadi peristiwa pembuka yang hebat. Tapi ternyata itu tidak berfungsi dengan baik.


Namun, memasuki kisah tentang para Hantu yang bangkit kembali kemudian bernyawa, saat itulah saya tidak bisa membiarkan kisah ini terlalu lama diabaikan. Saya selalu merasa penasaran hingga akhir.


Mengapa Hantu ? Inilah pemahaman yang diberikan Winter pada saya. Bahwasannya sebuah kisah dari orang yang pernah hidup - kemudian mati - merupakan kisah Hantu. Yang terus membayangi setiap orang yang membacanya atau juga mendengarnya. Hantu-hantu itu juga yang memberi nyawa pada kisah cerita klasik, fiksi atau nyata, sama saja, mereka semua Hantu yang mengendap-endap dalam pikiranmu.


Setiap kisah tentang teka-teki kehidupan masa lampau, membawa sebuah titik terang tentang kehidupan. Melalui narasi Winter, kisah tersebut menjadi lebih menarik. Dan lucunya, bahkan ketika memasuki bagian kehidupan Lea, saya merasakan perbedaan. Karena 'nyawa' sang pendongeng - Miss Winter - memberi kesan yang tak sama.


Pada bagian, yang menceritakan kisah usai percobaan yang dilakukan oleh dua orang, di sinilah tampak sebuah aksi dari manusia yang pernah mengalami sebuah peristiwa. Bagaimana bertahan hidup dengan menghibur diri sendiri, dengan 'kenyamanan' yang justru hadir saat terjadinya peristiwa tersebut. Seakan pertanda bahwa hidup tak lagi sama seperti sebelumnya.


Hal yang lebih menarik lagi, adalah gaya menulis Diane, melalui sosok Vida Winter, segala misteri tentang kehidupan di Angelfield benar-benar dikemas dengan istimewa. Bab demi bab harus dilewati sesuai prosedur : Awal - Akhir. Setiap rahasia yang menjadi pertanyaan besar, akhirnya terjawab sudah. Dan benar-benar memiliki twist yang tidak biasa, membuat saya merasa 'kalah' karena gagal menebak dengan benar.



Beberapa Poin Dari Buku Ini :



1. Tanda berbentuk huruf Q pada tangan Winter yang diperlihatkan ke Lea. Di bawah ini, quote percakapan yang menggambarkan seperti apa tanda tersebut.


"Kita kadang-kadang menjadi sangat terbiasa dengan kengerian yang ada pada diri kita dan lupa betapa ngerinya hal tersebut bagi orang lain." - Hal 93


2. Kebiasaan Isabelle dan Charlie serta bagaimana keduanya berhubungan satu sama lain selama masa kanak-kanak hingga dewasa.


3. Hubungan  Isabelle dengan anaknya juga peran serta Missus terhadap si kembar.


4. Bagaimana perkembangan si kembar sedari kecil, ada beberapa hal yang disadari Missus terjadi pada keduanya yang membuatnya bertekad agar keduanya aman.


5. Tentang sosok Gadis berkulit pucat dan bermata hijau yang menghilang ketika kebakaran terjadi. Yang selalu berbicara dengan Miss Winter.

"Ketika seorang bukan apa-apa, ia akan menciptakan sesuatu. Mengisi kekosongan." - Hal 181.


6. Menariknya, bagaimana proses kreatif seorang Vida Winter dalam menulis buku-bukunya, juga tentang lukisan Charles Dickens.


7. Bagaimana sesungguhnya kondisi salah satu dari si kembar yang meresahkan, serta penemuan tentang sesuatu dalam diri salah satu anak istimewa tersebut.


"Seperti ada semacam kabut dalam diri ..., kabut yang tak hanya memisahkan ... dari kehidupan manusia, tapi juga dari dirinya sendiri. Kadang kabut itu menipis, kadang hilang sama sekali, dan ... yang lain akan muncul." - Hal 255


8. Penelitian-penelitian terkait anak kembar, pembagian karakter serta bagaimana hubungan mereka satu sama lain. Sangat menarik. Dan ini adalah bagian yang menjadi favorit saya pribadi. Penelitian seperti apa dan bagaimana, serta referensi yang digunakan.


Detil Buku

Judul : The Thirteenth Tale | Penulis : Diane Setterfield | Halaman : 608 | Cetakan kedua : Maret 2009 | Alih Bahasa : Chandra N. M. | Penerbit : Gramedia Pustaka Utama | ISBN : 978.979.22.4129.7

  • Share:

You Might Also Like

1 comments

  1. Teh Ipeh....
    Teliti dan detail sekali kalau mereview buku.

    Apakah bacanya diulang-ulang untuk bisa nge review sebagus ini teh....???

    ReplyDelete

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.