Sastra klasik Scarlet Letter

September 12, 2015

Sastra klasik Scarlet Letter - Pada mulanya saya berpikir kalau novel ini berkisah tentang sebuah surat dari seseorang bernama Scarlet. Apalagi jika dikombinasikan dengan blurb pada bagian belakang buku, saya pikir lagi, kalau Scarlet ini mungkin nama samaran dari Hester. Tapi, buku tidak bisa dinilai begitu saja, tidak bisa diintip tanpa dibaca dengan seksama. Apalagi, buku ini termasuk dalam sastra klasik, yang merupakan sesuatu yang saya suka.



Pada awalnya, buku ini diisi dengan kata pengantar dari Nathaniel, kita sebut saja Nat. Tentang kota Salem dan juga tentang Custom House. Saya tetap saja membaca semua bagian dalam buku ini. Sebelumnya, saya benar-benar bosan membaca bagian demi bagian celoteh dari Nat yang mengisahkan tentang sebuah tempat bernama Salem. Tentang orang-orang yang bekerja di Custom House. Dan, ketika menuju bagian pertengahan, begitulah akhirnya saya digiring untuk mengintip, bahwa sebuah bahan beludru dengan huruf yang disulam berwarna merah, dengan kisah di dalamnya yang bukan sebuah fiksi, hanya sebuah gambaran tua dari lingkungan tempat tersebut. Juga kisah dari seseorang bernama, Hester.


Nat, menjelaskan pada pembaca, bagaimana ide itu dimulai, bagaimana dia mencoba untuk mengemas kisah sebaik mungkin dengan tambahan yang tidak akan mengubah apa yang tertulis di dalam catatan Mr. Pue. Juga, bagaimana akhirnya dia menjadikan Hester sebagai tokoh dalam novel ini.


Scarlet yang dalam kamus bahasa inggris bisa berarti Merah Tua. Dan Letter, sebuah huruf, yang kemudian menjadi sorotan dalam novel ini. Huruf yang membuat Hester menjalani hukuman oleh kaum Puritan. Huruf yang menjadi simbol sebuah dosa asusila.


Puritanisme merupakan keadaan dimana pada masa itu di kota New England, Gereja dijadikan pusat dari kehidupan. Tidak hanya menyediakan pelayanan yang bersifat reliji, tapi juga dijadikan tempat dan memang menyediakan tempat untuk orang di sekitar gereja New England untuk bersosialisasi dengan tetangga-tetangga mereka. Gereja juga menjadi kepemimpinan dalam struktur pemerintahan, juga menjadi tempat 'penghukuman' bagi banyak terdakwa yang melanggar '10 Commandments'.



Di sinilah peran gereja, dalam novel ini, yang kemudian menjatuhkan Hester sebuah sanksi sosial dengan mempertontonkan Hester di depan khalayak. Peristiwa ini menjadi bab pembuka dalam novel yang menggunakan alur maju - mundur - maju. Hester yang mengenakan sebuah sulaman huruf berwarna merah dengan simbol 'A' yang melekat di dadanya. Sebagai sebuah tanda yang terpatri hingga jiwanya,  tentang hukuman yang dijatuhkan padanya, hukuman akibat berbuat zina.


Hanya saja, bagi Hester, yang selama dalam masa hukumannya, dia mengasuh bayinya sendiri, tidak pernah mau mengatakan pada gereja saat diminta untuk melakukan pengakuan dosa di depan khalayak, terkait siapa yang menjadi ayah dari bayi tersebut. Penolakan ini membuatnya  didesak oleh Roger, sosok misterius yang menyembunyikan identitas aslinya karena takut dan malu. Kemudian menjadi asisten dari pendeta muda Arthur Dimmesdale yang ternyata tengah mengalami sakit.


Pearl, anak dari Hester, yang sering membuat Hester bertanya-tanya bagaimana suatu saat jika Pearl tumbuh remaja dan dewasa. Apa yang akan nanti dihadapinya dan bagaimana dia berani berdiri sendiri di atas sebuah sanksi yang akan terus melekat pada ibunya. Sering kali Hester melihat Pearl seakan seperti perwujudan roh jahat, karena ketika dalam kandungannya Hester mengalami masa yang berat dan tekanan hidup sehingga ini seakan menulari anaknya. Hester berpikir kalau Pearl menyimpan sesuatu yang membuatnya 'ngeri' , apalagi digambarkan bahwa Pearl ini sebagai anak yang nakal, berani dan memiliki sorot mata yang aneh.



Dalam novel ini juga sedikit disinggung tentang dosa dan hukuman. Tentang kesalahan dan hukumannya. Seperti Hester, yang menerima hukuman dengan berdiri di depan umum sambil menerima cacian serta hinaan, juga pengasingan. Dia masih menyembunyikan siapa orang yang menjadi Ayah dari Pearl, sebagai sebuah keyakinan bahwa dia tidak akan pernah memberi tahu siapapun, dan itu juga merupakan hukuman untuknya.


Berbeda dengan Hester, Dimmesdale, juga menjalani dosa yang sama, tapi dia mendapati banyak perbedaan dan tidak satupun perbedaan tersebut menjadikannya merasakan hal yang lebih baik. Dimmesdale sama dengan Hester, menyimpan segalanya dalam hati. Dan karena posisinya yang mewajibkannya harus menjadi seorang abdi Tuhan, di saat itulah dia merasa pikirannya berkecamuk, batinnya tertekan karena hati kecilnya berteriak tentang dosa-dosanya. Terlebih ketika dia harus menyaksikan Hester dipermalukan sebegitu kerasnya oleh masyarakat di New England.


"Tuhan tahu perbuatan dosa yang dilakukan dua orang, namun tidak berarti mereka harus kehilangan cinta. Anak ini berasal dari kesalahan Ayahnya dan juga kenistaan Ibunya, namun ia juga berasal dari Tuhan." ~ Arthur Dimmesdale


Siapa yang dapat menyangkal bahwa publik akan terus mengecap anak-anak dari hubungan yang tidak pada tempatnya sebagai anak haram? Bahkan dewasa ini, hal seperti ini masih berlaku. Hingga terbitlah banyak pembuangan bayi dan pembunuhan anak-anak yang diakibatkan oleh dosa yang dilakukan dua orang. Bahkan di masa New England, Pearl sempat hampir dipisahkan dari sang Ibu. Namun, berkat keteguhan Hester, Pearl masih bisa kembali padanya. Apakah masih ada sosok Ibu yang mau menanggung beban seberat itu seperti Hester pada masa kini? Selain harus mengurus anak sendiri, sambil menjual jasanya membuat sulaman yang ternyata sangat istimewa, dengan kondisi mendapat hukuman yang membuatnya diasingkan. Bahkan, Hester masih memiliki kepedulian pada orang lain yang tidak mampu.


Sosok Hester sebagai seorang wanita yang senantiasa membantu orang lain inilah, yang pada mulanya tertulis dalam laporan Mr. Pue yang tertulis dengan menggunakan tangan. Bahkan sosok Hester ini, ditulis sebagai seorang relawan. Kasih yang ada dalam diri Hester, tetap melekat dalam kisah di novel Scarlet Letter ini.

Sebelum saya tutup ulasan singkat yang sederhana ini, sedikit saya ingin mengomentari sampul novelnya. Karena menurut saya, simbol 'A' pada cover novelnya kurang wah, dan terkesan biasa saja. Padahal, hasil sulaman Hester ini sangat istimewa, lembut dan bahkan para petinggi di gereja mengenakannya! Mungkin, kalau diwakili dengan animasi, simbol 'A' tersebut akan memancarkan cipratan emas yang kelap-kelip bak tiara sang cinderela sepertinya. Jadi, jangan terkecoh dengan sampulnya......

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.