Novel horor anak-remaja

September 08, 2015

Novel horor anak-remaja - Mungkin ada yang senang dengan cerita-cerita seram? Atau punya kenangan dengan serial Ghosebump? Nah, pada mulanya saya tertarik membeli buku ini karena menjanjikan cerita horor, saya mau tahu, apakah kisahnya bisa membuat saya tertarik atau tidak? Karena sebelum membeli saya menyempatkan untuk berkunjung ke  http://pages.simonandschuster.com/spotlight-series/creepover . Coba cek saja, bagaimana tampilan websitenya yang justru membuat saya semakin penasaran.



Creepover series yang mau saya bahas, ada tiga buku yang akan saya ulas sedikit. Kenapa sampai tiga? Kenapa tidak satu buku satu ulasan? Jawabannya simple : karena buku ini ringan, jadi saya hanya akan bahas tidak terlalu banyak. Jadi, sayang kalau saya jadikan satu persatu, selain itu menghemat waktu juga, hehehe.


Saya baru tahu penerbit Simon spotlight justru dari buku series Creepover dan buku Cupcake. Dari segi cover? Tidak mengecewakan sama sekali. Dengan tata layout yang sesuai dan bahkan mengingatkan saya bahwa saya pernah muda #tsaelah.


Oke, sebelum saya mulai kehilangan fokus, saya akan bahas dulu satu persatu bukunya. Memang tidak berurutan antara volume sekian ke sekian. Karena setiap volume, ceritanya berbeda. Jadi, santai saja.


Its all downhill from here

Secara garis besar, dalam buku ini dikisahkan Maggie dan keluarganya mengujungi Mansion yang akan dibeli oleh kedua-orang tuanya. Mansion berhantu, yang hanya diketahui oleh Mag, saat pertama kali. Hantu tersebut tak menginginkan mereka membeli rumah tersebut. Jadilah, Mag kesulitan meyakinkan orang tuanya serta kakak dan sahabatnya untuk segera pergi dari rumah tersebut.


Baiklah, kalau ditanya bagaimana perasaan Mag? Kalau saya jadi Mag, pastinya susah dan sedih serta bingung. Bagaimana tidak? Hanya Mag yang bisa melihat hantunya. Dan Mag, yang bahkan banyak tahu tentang Hantu tersebut. Kemudian, kalau saya pikir kembali, apa yang terjadi pada Mag itu mendekati realita, saat orang tua tak mempercayai Hantu, saat isyarat dari sebuah firasat tak lagi dipercayai, akhirnya justru yang terjadi adalah sebuah cara yang sedikit keras dari Hantu tersebut untuk mengusir mereka.


Percayalah, menjadi orang yang beranjak tua itu tak mudah. Karena sering mengabaikan banyak sisi kekanak-kanakan. Hayahhhh ngetik apa sayah?




Dont drink the punch



Dalam buku ini, sebenarnya dari segi cerita sih menurut saya biasa saja. Tapi, ada beberapa hal yang memang benar adanya. Bahwa dendam itu adalah sebuah hal yang tidak akan pernah ada akhir. Dan dimana ada bullying di situ ada sosok yang menganggap dirinya super.


Kayla baru saja pindah, dari Texas. Dia berteman dengan Alice dan gangnya yang terkenal. Bisa disebut mereka ini anak-anak yang selalu ingin mencuri perhatian. Suatu ketika Kayla ditinggal oleh mereka yang ingin pergi ke Mall. Karena Kayla baru saja menolong seekor kucing yang terserempet mobil.


Bagian mana yang disajikan buku ini sebagai kisah horor? Bagian ketika saat pesta berlangsung, setelah Alice menuangkan cairan rahasia, semua yang ada di situ tiba-tiba terdiam kaku tak bergerak. Mereka tak mati, hanya saja seperti waktu berhenti begitu saja. Tapi, bukan waktu yang berhenti, hanya mereka yang menjadi patung seketika.


Ternyata, seseorang dari sebuah toko yang menjanjikan Love Potion pada Alice, hendak memberi pelajaran padanya. Karena dendam yang tak berakhir, namun dendam tersebut tidak pada tempatnya. Yah, kalau menurut saya memang tidak terlalu menakutkan. Hanya saja, ketika berteman dengan Alice, kayla merasakan bahwa hanya Alice yang boleh berbicara, hanya Alice yang boleh mencela dan segalanya hanya Alice. Mereka sendiri serta orang tuanya Alice, berbuat baik pada Kayla, hanya karena ibunya Kayla bekerja sebagai penerima mahasiswa baru di sebuah universitas ternama. Kebanyakan dari mereka memang mencari muka, agar anaknya diterima.


Nah, nah....hal ini pasti tidak asing, karena memang sering terjadi. Hati-hati, nanti ada yang memberi cairan rahasia yang salah hanya karena ingin mencari muka. Wakakakakaak, emang mukanya taruh di mana mba? Kok di cari? Hehe #abaikan.



Off the wall


Nah, awal membaca buku ini. Saya langsung sok-sok menebak, kalau buku ini akan sama persis seperti Night at the museum. Ya, sedikitnya memang sama seperti film. Tapi eh tapi, ini bukan kisah penjaga museum. Hanya anak-anak yang diberi kesempatan untuk menginap di Museum Templetown. Nah, nginep di museum yang konon, kata Jane, ada mummy yang sering berjalan-jalan saat malam hari. Nah ya, di film itu juga semuanya hidup, tapi kan filmnya lucu ya, kalau ini berbau misteri.


Sebelum saya bisikin apa aja yang dilakukan Jane dan tiga anak lain yang menyelinap tengah malam, saya mau kutip banyak-banyak dari tulisan di dalam buku in, ngutip kok banyak-banyak yah hehe. Yang mewakili dari buku lain juga, bagaimana cara penulisan dan cara bercerita P.J Night ini.


"A sarchopagus is a stone case that holds a coffin, inside a coffin, that's sometimes inside another coffin. That Sarchopagus belonged to Prince Amun, one of the pharaoh's seven sons."

"Ancient Egyptians believed bodies needed extra protection after death," said Katherine. "Since they were going on trip to the afterlife, they needed to be in good shape when they arrived."

~~ page 52



Entah kenapa mummynya Prince Amun selalu dipakai sebagai simbol mummy yang serem. Tapi, di sini justru ada informasi lagi yang baru saya tahu, ternyata selain tubuh mummy yang diawetkan, bagian tubuh lainnya seperti usus, ginjal dan bagian dalam lainnya juga diawetkan dalam toples berbeda. Huwaahh, enggak kebayang ya bentuknya seperti apa.


Nah, ada empat bocah perempuan yang menyelinap dari Great Hall, untuk berkeliling museum. Yaitu, Jane, Daria, Lucy dan Megan. Keempat anak tersebut ingin membuktikan, apakah benar ada mummy yang jalan-jalan tengah malam? Semoga saja mummynya enggak jalan-jalan pas Midnight sale ya, hufff apeu banget saya.


Apa yang kemudian saya ketahui adalah twistnya. Saya sempat menebak ini dan itu, ternyata saya salah. Tebakan saya bahkan meleset jauh. Dari situlah, saya bisa anggap untuk volume 14 dari seri Creepover, ini yang bagus dan oke punya.


Save the best for last, konon begitu kata lirik lagu. Sama seperti yang saya lakukan. Ini buku dari seri Creepover yang akan menutup ulasan yang sedikit dari saya. Untuk yang mau baca buku-buku ringan, boleh loh buku ini dibaca. Mungkin bisa juga untuk koleksi anak-anaknya nanti, biar enggak kekurangan bacaan, muehehehe. Ya biar anaknya enggak dijejali cerita galau, gitu. Apa sih ya saya ini. Yasudah, ulasannya demikian dulu, next saya sedang mikir-mikir mau baca apa lagi, secara tumpukan buku masih saja menggunung. #bukantulisansombong  #tapitulisanpasrah #akibatterlaluseringmenumpukbuku muehehehehehe.



See ya !




  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.