Ghost Stories

June 13, 2015



Judul : Ghost Stories
Penulis : M.R. James
Halaman :  362
Publish in Penguin : 1994
Penerbit : Penguin Classic
ISBN : 13579108642



Sekilas, sebelum sedikit mengintip isi buku, mari berkenalan dengan M.R James. Untuk yang sudah tahu karyanya, mungkin tidak asing dengannya. Tapi, bagi orang seperti saya yang masih awam, namanya saja masih belum pernah saya tahu. :-D


M.R James atau nama lengkapnya Montague Rhodes James yang lahir di Goodnestone Parsonage di Kent pada tahun 1862. James, kita sebut saja begitu, pada usia 6 tahun pernah mengidap penyakit bronkitis. James sekolah di Eton, sebuah tempat bernama King's College Cambridge dimana dia menjadi asisten arkeolog di museum Fitzwilliam.


Mungkin karena apa yang dia kerjakan saat di museum itulah, dia mendapat pengalaman 'mengerikan' berkaitan dengan hantu. Ada yang diceritakan oleh orang lain, ada juga yang sepertinya pengalaman beliau pribadi.


Dalam buku terbitan Penguin Classic, terdapat 31 cerita pendek yang keseluruhannya menceritakan tentang kejadian mistis. Bukan ala-ala Ukauka yang musiknya saja menyeramkan. Tapi juga dari cara dia menceritakan kembali kisah misteri tersebut. Terlebih gaya penulisannya yang detil, seperti menggambarkan latar kejadian dimana tokoh berada. Misal, ada vas di depannya, jendela sebelah kiri, jendelanya menghadap ke tempat lain. Dan segala macamnya secara detil, hingga pembaca bisa membayangkan bagaimana kondisi tempat tersebut dan seperti apa keanehan serta penampakan itu dilihat oleh para tokohnya.



Apalagi latar waktu novel ini terjadi pada tahun 1800-an, dimana tempat-tempat angker masih merajalela. Belum lagi, seperti hotel Golden Line yang bahkan tidak terbakar pada tahun 1700-an padahal semua bangunan terbakar habis. James dapat membangun sebuah teror dengan baik dengan terus bercerita tanpa mengisahkan bagaimana rasa takut pada tokoh secara langsung. Hanya misalnya ketika Mr. Anderson melihat the lawyer yang mendekati pintu nomor 13, dia melihat sebuah tangan menjulur dari pintu yang terbuka. Tidak terdengar bahwa sang tokoh takut, tapi melalui penggambaran seperti keduanya saling bertatapan, menjauh dari pintu, sementara suasana masih hening.




Atau kejanggalan sebuah lukisan yang ada di museum. Kisah itu diceritakan oleh sahabatnya, pemilik museum pada suatu ketika. Tentang lukisan yang berubah-ubah gambarnya tanpa diketahui oleh si tokoh. Dan perubahan terjadi ketika orang lain melihatnya. Padahal, awalmulanya dia hendak menolak lukisan tersebut karena dipikirnya itu lukisan biasa.


Hingga pada akhirnya diketahui bahwa lokasi tempat rumah tersebut, nyata. Dan seluruh anak serta anggota keluarga di rumah itu menghilang secara misterius. Sementara sang pemilik rumah diketahui mati tanpa terlihat adanya pembunuhan dan penyiksaan namun mayatnya terlihat ketakutan.



Atau seperti sebuah kamar yang bisa membunuh ayah sampai cucunya. Dengan kondisi menghitam dan surat yang ditinggalkan korban. Hanya ada satu keanehan, yaitu pintu jendela yang terbuka.



Baiklah secara sedikit detil saya akan menceritakan tentang cerpen Number 13. Anderson yang menginap di Golden Line adalah seorang ilmuwan yang tertarik dengan sejarah gereja. Di hotel tersebut dia menginap di kamar nomor 12. Namun, saat baru tersadar, bahwa kamar di hotel itu tak tersedia kamar nomor 13. Anderson paham dengan sebuah mitos tentang nomor 13 dan segala halnya. Namun, saat dia baru saja kembali dari lantai dasar untuk mengambil berkas catatannya. Ketika hendak masuk ke kamarnya, dia kaget. Karena tiba-tiba kamar nomor 13 ada di kamar sebelahnya.


Dan ketika Anderson memasuki ruang kamarnya, keanehan terasa lagi, kini jendela kamarnya hanya terdiri dari dua jendela. Serta luas kamarnya mendadak terasa sempit. Tapi, karena dia merasa bahwa ini hanya ilusi yang terjadi di pikirannya, akhirnya dia tak begitu mempedulikannya.



Dan keesokan harinya, dia terkejut setelah melihat jendela kamarnya berjumlah 3. Lucunya, sang pemilik hotel justru mentertawainya tentang laporan kamar nomor 13 dan jendela yang berkurang. Akhirnya dengan undangan untuk minum, malam itu sang pemilik hotel menghabiskan waktu bersama Anderson.



Ketika jam mulai memasuki pukul 11 malam, terdengar suara jeritan perempuan dari ruangan sebelah kamar Anderson. Membuat sang pemilik hotel terkejut. Karena yang menginap di kamar sebelah, adalah seorang pria tua, sendirian. Lebih kaget lagi, seseorang mengetuk pintu kamarnya. Dan ternyata dia adalah penghuni kamar nomor 14. Dia mengatakan suara apa yang mengganggunya, yang menurutnya berasal dari kamar Anderson, nomor 12.



Karena penasaran akhirnya mereka bertiga keluar kamar bersamaan. Tiga pria dengan pistol dan pemukul serta pencahayaan, berjalan pelan menuju sumber suara. Di sanalah letak kamar nomor 13 berada. Dan pemilik hotel terkejut bukan main. Karena selama dia mengelola hotel, tidak pernah mengalami hal tersebut.


Mungkin, kisah ini rasanya biasa saja. Tapi, dengan sensasi membaca karyanya secara langsung, saya bisa tahu dan merasakan bagaimana James membangun sebuah koneksi pada pembacanya.


Kebetulan ada salah satu website yang menyediakan secara gratis beberapa cerpen miliknya. Silakan cek di link di bawah ini


https://ebooks.adelaide.edu.au/j/james/mr/antiquary/contents.html



Walaupun tidak semua cerita dalam buku ini berada di website tersebut. Tapi, sangat membantu bagi yang ingin tahu seperti apa penuturan dari James dan menilainya sendiri.



  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.