The Bell Jar

April 29, 2015

The Bell Jar

Judul : The Bell Jar
Penulis : Sylvia Plath
Cetakan I : Desember 2011
Copyright : 1966
Penerbit : Ufuk Fiction
ISBN : 9786029346183


Aku juga belum mencuci rambutku selama tiga minggu.
Aku belum tidur selama tujuh malam.
Aku tidak mencuci pakaian dan rambutku karena aku menganggapnya konyol.
~hal 205

Awal kisah novel ini dibuka dengan cerita seorang gadis penerima beasiswa yang bekerja di New York serta mendapat fasilitas yang memuaskan. Esther, itu nama aslinya, namun dia sering merasa nyaman dengan nama Elly. Kehidupan glamor di New York sering membawa Esther pada suatu keadaan yang membuatnya lelah. Tapi, Esther masih perawan. Bahkan, sampai ketika Buddy Willard mengencaninya dan telanjang di hadapannya. Esther masih menolak.

Tapi, suatu ketika, cerita yang disampaikan Buddy, membuat Esther tak lagi menginginkannya. Baginya, Buddy hanyalah lelaki munafik yang menginginkan perempuan hanya untuk nafsunya saja.

Ketika dia kembali ke Boston, sesuatu terjadi pada diri Esther. Dia ingin menulis novel, namun tak dapat melanjutkannya. Hingga akhirnya, Esther mengalami sesuatu. Kondisi dimana dia tak dapat tidur meski dipaksa sampai tidak dapat membaca. Teresa, dokter yang juga kerabatnya, menyarankan Esther untuk menemui Dokter Gordon.

Dokter Gordon memasang dua pelat logam di kedua sisi kepalaku. Dikancingkannya pelat itu dengan tali di keningku, dan dia memberiku kabel untuk kugigit.

Kupejamkan mataku.

Sejenak suasana hening, seperti napas tertahan.

Kemudian sesuatu membengkok dan mencengkramku, lalu mengguncangku amat keras. Benda itu menyentakku sampai aku merasa tulangku akan pecah dan cairan keluar dari tubuhku seperti tanaman yang rekah.

Aku bertanya-tanya, keburukan apa yang telah kuperbuat.
~ hal 230-231


Aku merasa dungu dan takluk. Setiap kali mencoba berkonsentrasi, otakku meluncur, seperti pemain skate, ke salam sebuah celah kosong yang besar dan berputar-putar di sana, tidak ingat apa-apa.
~ hal 234


Obat karena berpikir terlalu banyak tentang diri sendiri adalah membantu orang lain yang kondisinya lebih buruk...~ hal 259


Dari kutipan yang saya sertakan, mungkin bisa didapat gambaran dari Esther yang mengalami sesuatu, kondisi depresi. Hingga membuatnya berkali-kali mencoba untuk bunuh diri. Berkali-kali, dan tidak ada yang berhasil. Kalau dilihat dari tahun pertama kali diterbitkannya novel ini yaitu tahun 60an. Rasanya tidak heran jika mesin kejut yang digambarkan seperti itu. Entah untuk saat ini apakah masih menggunakan mesin kejut atau tidak.

Alur dari novel ini menggunakan dua alur yaitu maju saat Esther mengalami kehidupannya dan mundur saat Esther menceritakan segala hal yang berkaitan dengan tokoh lain.

Memang, banyak sekali nama tokoh yang diperkenalkan di dalam cerita ini. Tapi, hanya ada beberapa yang terus terjalin hingga cerita selesai.

Awalnya mungkin akan terasa ini seperti kisah seorang gadis di kota metropolitan. Dengan gaya hidup yang glamor dan kondisi sosial yang identik dengan kebebasan. Dan, mungkin ada sedikit kejenuhan, karena pada bab-bab awal sampai memasuki bab 10, semua masih berada pada tahap permulaan. Dan Bab selanjutnya barulah kita disajikan dengan kondisi depresi dari Esther. Bagaimana dia yang tanpa merasakan lelah meski tidak tidur selama sebulan. Dan segala hal hingga proses kesembuhannya.


Sylvia Plath sendiri, meninggal beberapa minggu setelah karyanya terbit. Berdasarkan riwayat, novel ini terbit pertama kali tahun 1963. Dan setelahnya Sylvia meninggal dunia dengan cara bunuh diri.

Sempat saya berpikir bahwa kondisi Esther seperti proyeksi dari kondisi Sylvia sendiri. Karena Esther juga berkeinginan untuk menulis novel. Juga mengalami beberapa kali percobaan bunuh diri. Sementara saya menulis ini, saya belum mencari tahu atau menggali informasi lebih terkait Sylvia Plath.

Namun, benar adanya bahwa bahasa atau gaya kepenulisan yang digunakan oleh Sylvia ini sangat sederhana. Detil sehingga penggarapan setting pada kisah ini terasa hidup. Seperti penggambaran ruang bangsalnya atau ruangan tempat mesin kejut berada. Setidaknya novel ini dilabeli sebagai 100 novel terbaik sepanjang massa.


Terlebih novel ini pemberian gratis dari teman saya di Klub Buku Indonesia. Terima kasih Pakde Sri aka Mas Eko untuk bukunya.



  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.