Hansel dan Gretel

April 14, 2015


Judul : Hansel dan Gretel
Penulis : Grimm Bersaudara
Penerbit : Atria
Halaman : 183
Cetakan I : April 2011
ISBN : 9789790244610


GIGIT, GIGIT, TIKUS KECIL
SIAPA GIGIT RUMAHKU ?
ANAK-ANAK ITU MENJAWAB,
ANGIN-ANGIN,
ANAK-ANAK SURGAWI


Siapa tak kenal dengan dongeng Hansel dan Gretel. Banyak dongeng yang sudah diadaptasi ke dalam film layar lebar. Baik itu lakon manusia atau animasi. Namun, beberapa adaptasi sering menampilkan cerita yang sudah diubah agar sesuai dengan anak-anak. Memang dongeng asli yang disusun oleh bersaudara Grimm, terkesan kelam.


Sama seperti dongeng Hansel dan Gretel, dua anak yang dibuang oleh orang tuanya, atas permintaan dari Ibu tirinya karena kemiskinan membuat mereka tidak dapat makan. Awalnya, saat keduanya dibuang ke dalam hutan, Hansel meninggalkan jejak hingga mereka bisa pulang kembali. Tapi suatu saat, jejak yang ditinggalkan Hansel, dimakan oleh seekor burung, karena jejak itu berupa remahan roti, sehingga keduanya tak dapat pulang ke rumah.


Mungkin sudah banyak yang tahu kalau kemudian mereka menjadi pelayan seorang penyihir tua yang jahat. Karena memakan rumahnya. Kemudian, Gretel mengelabui sang penyihir yang rabun, sampai akhirnya sang penyihir berakhir di dalam oven panas.



Ada 19 dongeng dalam buku ini. Beberapa ada yang sudah diketahui dari kumpulan dongeng. Tapi beberapa baru saya ketahui seperti cerita Rapunzel yang ternyata bukan seorang anak Raja dan Ratu tapi anak dari petani biasa. Atau Aschenputtel yang merupakan kisah Cinderella. Ada juga dongeng yang baru saya kenal yaitu Pengantin Perampok. Dan penutup dari buku ini adalah dongeng snow white, yang ternyata bukan karena true love atau true kiss. Sampai kisah 12 putri yang menari yang pernah saya tonton dalam bentuk animasi tokoh Barbie. Memang kurang bijaksana jika membandingkan antara film dengan buku.

Tapi, justru dari film tersebut saya mendapat sedikit informasi tentang dongeng-dongeng tersebut. Dan membawa saya pada rasa penasaran akan dongeng versi bukunya. Tapi, ada juga dongeng-dongeng ini yang diubah sedikit dengan menghilangkan bagian kekejamannya.


Memang seperti apa kekejamannya? Seperti dalam dongeng Anak domba yang ditelan bulat-bulat oleh serigala. Kemudian sang induk domba merobek perut serigala dan menggantinya dengan tumpukan batu. Atau ketika hukuman yang dijatuhkan pada ibu tirinya snow white dengan menari menggunakan sepatu besi yang panas. Juga bagian sang Ibu tiri snow white yang ternyata memakan hati yang disangka milik snow white.


Berikut akan sedikit saya sertakan kata pengantar yang memuat informasi tentang dongeng dan kedua bersaudara Grimm.


Tahun 1806, kedua bersaudara ini mulai mengumpulkan dongeng rakyat Jerman. Kali ini mereka ingin melihat dongeng bukan dari sudut pandang pendengar, tapi dari sudut pandang seorang kritikus. Sehingga tahun 1810, Grimm menyusun manuskrip yang terdiri atas cerita-cerita yang dikumpulkan.


Setelah beberapa kali revisi hingga masuk volume ke tujuh pada tahun 1857 dengan total berisi 210 cerita. Awalnya keduanya memang tidak berniat untuk menyusun dongeng untuk anak-anak karena banyak dari cerita itu dinilai tidak cocok untuk anak-anak. Mereka menyusun semua dongeng itu demi merekam sejarah.

Dongeng-dongeng tersebut menangkap geliat kehidupan di Eropa pada awal tahun 1800-an yang selalu berubah-ubah, dan sering kali kejam. Kekejaman dalam dongeng Grimm bukanlah fantasi, melainkan penggambaran keadaan sesungguhnya pasa masa itu.


Jadi, tidak heran jika beberapa dalam dongeng di dalam buku ini terkesan sedikit kelam. Tapi, memang 210 cerita yang dikumpulkan memang sudah menjadi dongeng sepanjang masa yang abadi. Inilah mengapa saya tidak pernah bosan membaca karya sastra klasik dan sastra klasik anak, karena lebih terasa 'real' dalam mewakili latar pada masa itu.



  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.