Sarelgaz

March 29, 2015



Judul : Sarelgaz
Penulis : Sungging Raga
Cetakan pertama : Oktober, 2014
Halaman : 144
Penerbit : Indie Book Corner
ISBN : 9786023090068


"Jika Anda tak percaya lagi pada Tuhan, lalu kepada siapa lagi Anda mengharapkan pertolongan?" ~ hal 15


Dirminto yang masih terjaga hingga sepertiga malam terakhir memikirkan perkataan anaknya, Nalea yang mengabari bahwasannya Tuhan hadir saat sepertiga malam terakhir. Ia bertanya-tanya apakah Tuhan tahu apa yang dirasakannya?!


Kehidupan di rumah Dirminto sudah dimulai bahkan sebelum azan subuh berkumandang. Istrinya merapikan pakaian dan barang yang bisa mereka bawa. Sementara anaknya sudah dibangunkan sepagi itu. Demi mencapai tempat yang belum diketahui tujuannya. Hanya karena tak ingin kedua anaknya, terutama Nalea, menghadapi peristiwa yang bisa saja membuatnya trauma.


Mereka berempat berjalan cukup jauh, meninggalkan Dusun Ensifera. Berteduh di sebuah Mall, kemudian diusir, sampai akhirnya pertemuan dengan seseorang lelaki di halte saat gelap mulai turun.

"Berdoa. Kalau Anda merasa dianiaya, Anda bisa berdoa keburukan untuk mereka. Itu pun kalau Anda mau." ~ hal 15


Tawaran itu tidak begitu digubris oleh Dirminto meski terjadi percakapan diantara keduanya. Dirminto memilih menyusul istrinya yang membeli roti untuk mengganjal perut mereka. Hingga ketika sepertiga malam, sesuatu terjadi di depan matanya.


Terdapat 17 cerita pendek yang ditulis Sungging Raga, pria yang berasal dari Situbondo ini, menceritakan kehidupan dari kota dan tempat yang asing namanya. Tempat yang telah dibangun oleh Sungging Raga. Meski beberapa ada juga yang nyata seperti London.

Selain cerpen Sepertiga Malam Terakhir dan 16 cerpen lainnya. Ada juga cerpen berjudul Alesia. Yang menceritakan seorang anak yang sangat baik hati. Ibunya menderita penyakit langka. Sementara bapaknya berlayar ke tempat yang jauh dan belum kembali. Hanya mengirimkan uang untuk mereka.

Suatu hari sang Ibu merasa bahwa waktunya tinggal sedikit lagi. Hingga dia berpamitan pada Alesia. Namun, karena tak ingin ditinggal sendiri. Alesia menyusun rencana. Yang membuahkan hasil baik juga buruk pada saat bersamaan. Jujur saja, bagi pribadi saya, endingnya tidak terduga. Dan bagian kalimat ini :


"Sama-sama. Sekarang cepatlah temui anakmu, sepertinya ada sedikit salah paham. Aku pamit dulu. Ada banyak kabar lain yang harus kusampaikan." ~ hal 39


Kalimat di atas sempat membuat saya benar-benar mengatakan ARE YOU CRAZY WAHAI MALAIKAT !! Iya, saya tidak menyangka ending pada bagian ini. Entah kebodohan atau keluguan yang bisa mewakili Alesia ini. Saya belum bisa menentukan.


Rasanya wajar jika dalam satu buku kumpulan kisah pendek, ada saja yang kurang saya suka. Wajar. Jadi ada beberapa cerita yang kesannya sedikit 'memaksa' sehingga membuat saya tidak begitu terkesan pada kisah itu.


Penamaan dalam buku ini juga sedikit berbeda. Seperti nama perempuan Isara, Naela, Nehaela, Kunnaila, dll. Atau tokoh lelaki dengan penamaan Oxymora, Dirminto, dll. Dari tokoh ini hanya Oxymora saja rasanya tokoh yang sedikit saya tangkap memiliki karakter. Atau mungkin karena porsi cerita untuknya sedikit lebih atau bagaimana saya kurang paham.


Bahkan untuk cerita berjudul Sarelgaz yang mewakili judul buku ini. Saya rasa masih kurang menyentuh hati saya. Juga kurang menarik ketimbang Kutukan Kurir Kematian atau Nehalenia. Cerita yang berbasis fiksi yang entah apa ini fantasi atau bukan, saya bingung menentukannya, karena rasanya seakan horor, tapi drama juga, terkadang entah. Campur aduk mungkin. Dan saya setidaknya mampu mencerna dengan baik.


"...kesedihan tetaplah kesediha. Bagaimanapun bentuknya. Bagaimanapun fermentasinya." ~ hal 110

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.